Aku bergerak kesana-kemari menunggu seseorang datang. Gelisah sebab keributan pasti terjadi setelah ini. Merapikan gaun ku lagi, aku melihat dari arah jendela kamar ku yang terbuka, datanglah seseorang dengan tergesa-gesa. Napasnya tidak teratur seperti habis berlari jauh, cepat.
"Ayo kita tidak punya banyak waktu, mereka menyadari kedatangan ku." Ucapnya. Ia mendekat ke arahku, menggendong ku dalam dekapannya, hangat. Ia akan membawaku terjun menuruni kastil ini.
"Panglima, kita akan baik-baik saja 'kan?" Dalam dekapannya aku terus memikirkan tentang kita, bagaimana nanti dan apa yang mungkin terjadi. Aku percaya padanya, sangat. Tapi di zaman ini mencintai yang bukan setara adalah sebuah kesalahan. Putri Duke seperti ku seharusnya tidak membantah keluarga dengan lari bersama panglima padahal sudah bertunangan dengan putra mahkota.
Aku menatap maniknya yang teduh, aku tahu dia lelah tapi mau berjuang sejauh ini untuk cinta kami. Taehyung Roosevelt, seorang panglima perang yang tersohor. Banyak yang menyanjungnya karena segudang prestasi yang ia berikan, namun mungkin setelah ini ia adalah orang yang paling dicari untuk dieksekusi sebab membawa lari tunangan putra mahkota.
"Percaya padaku, kita akan baik-baik saja. Tutup matamu, jangan buka sampai aku menyuruhnya." Ucapnya tegas namun dengan tatapan teduh menenangkan. Sejenak aku lupa jika diriku menyandang marga Maville, Salah satu keluarga Duke terbesar dari lima Duke yang ada. Aku menutup mata sesuai perintah panglima, aku percaya padanya, kini aku mencoba menjadi Hyuna yang ingin bahagia, bukan Hyuna Maville dengan segala kepalsuan yang ada.
Aku merasakan panglima Taehyung mulai bergerak, berlari lalu seperti terjun. Aku mengeratkan pelukan ku kepadanya. Hingga tak lama tubuh kami seperti mendarat dengan sempurna. Aku tidak merasakan tubuh ku jatuh, masih melayang dalam pelukan hangat Taehyung Roosevelt. "Sekarang kau boleh membuka mata." Aku menurutinya, membuka mata. Pemandangan yang pertama kali aku lihat adalah Taehyung yang tersenyum kepadaku. Kita sudah terjun dari lantai atas kastil tanpa terluka sama sekali. Aku tidak meragukan Taehyung sebab dirinya pasti sudah terlatih untuk hal seperti ini.
Lantas menurunkan ku. "Kita akan pergi kemana panglima? Jika mereka tau, mereka pasti akan membunuhmu." Ujar ku, terjebak dalam keluarga penuh ambisi dan putra mahkota yang terobsesi dengan ku bukan perkara mudah. Aku melihat bagaimana ayahku bersorak ketika mendapat lamaran dari kaisar. Padahal jelas-jelas ia tahu aku mencintai panglima. Aku dan panglima saling mencintai hingga nekat ingin lari.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, kau tenang saja. Cukup percaya padaku." Aku menatap Taehyung, sedikit tenang dengan suara bariton yang mengalun, menenangkan.
Perlahan ia menggenggam tangan ku, mengendap-endap dibalik tembok. Aku sebenarnya agak kesusahan dengan gaun ku. Tapi aku mencoba tidak membuat Taehyung kesusahan. Kita berdua hanya ingin bersama, memangnya apa salahnya dua hati ingin bersatu, saling ingin.
Tak lama kami telah sampai di luar kastil kediaman keluarga Maville. Taehyung membawaku menuju kuda nya. Kuda pacu yang cepat, kesayangan Taehyung katanya. Biasanya digunakan untuk perang, tapi kali ini kuda tersebut Taehyung gunakan untuk membawa lari cintanya.
Awalnya semua berjalan lancar sampai Taehyung sadar jika putra mahkota ternyata sama pintarnya dengan mereka. Jungkook Winterson, putra mahkota itu jelas tau segalanya dengan mudah. Dibelakang Taehyung Putra mahkota Jungkook Winterson tengah memacu kudanya tak kalah cepat, dibelakang Jungkook sederet pengawal juga turut mengejar ku dan Taehyung.
"Panglima, bagaimana ini?" Aku yang berada dalam dekapan Taehyung sebenarnya agak takut, terlebih putra mahkota sudah tau jika Taehyung membawa lari tunangannya. "Kita akan terus berlari, sampai putra mahkota tidak bisa mengejar kita, kita akan tetap bersama tenang saja." Taehyung masih memacu kudanya dengan cepat.
Adegan saling mengejar itu terus berlangsung hingga Jungkook menembakkan panah tepat mengenai kuda Taehyung membuat aku tak Taehyung terjatuh. Jungkook hampir mendekat, Taehyung mencoba bangkit, menggenggam tangan ku. Kami berlari sekuat tenaga.
Jungkook semakin mendekat, bahkan sudah mengarahkan panahnya ke arah Taehyung. Tinggal menunggu hitungan sampai Taehyung terjatuh sebab panah tepat menembus kakinya.
Aku duduk bersimpuh memandang Taehyung yang terlihat kesakitan tapi masih kukuh ingin lari bersamaku. "Ayo kita lari lagi."
"Panglima, kau terluka." Ia tersenyum. "Demi cinta kita, aku tidak mau putra mahkota memiliki mu." Aku mencoba membantu Taehyung berdiri, masuk ke dalam hutan hingga Jungkook tak bisa menemui keberadaan kami.
Tapi sial, sebab kami harus terhenti ketika melihat jurang di depan mata. Sementara Jungkook terus mendekat.
"Panglima bagaimana ini?" Aku benar-benar khawatir terlebih darah Taehyung tak berhenti mengalir.
"Nona Maville, aku perintahkan berhenti." Suara bariton Jungkook sudah terdengar, itu tandanya Jungkook sudah sangat dekat dengan keberadaan kami. Dan benar saja, tak lama Jungkook dan pasukannya tiba di depan kami. Ia tersenyum meremehkan.
"Panglima, Kau berani sekali membawa lari tunangan putra mahkota." Jungkook duduk gagah pada kuda nya. Tersenyum puas sebab melihat Taehyung terluka parah. Tak berdaya. Tapi Taehyung sepertinya tidak ingin menyerah, terbukti dari tangannya yang tak lepas menggenggam tangan ku.
"Kami saling mencintai, Bukan sebuah dosa mencintai seseorang." Ujar Taehyung menantang. Terlihat Jungkook kembali tersenyum sinis. "Yang kau bawa lari itu milikku, itu sama saja mencuri, Bukankah mencuri adalah sebuah dosa, panglima?" Taehyung menatapku, begitupun sebaliknya. Tatapannya sayu, ia pasti kesakitan sekali.
"Simpan cinta kalian, kalian tidak mungkin bersatu. Sebab nona Maville akan menikah dengan ku, dan kau panglima, kau akan dihukum sebab perbuatan mu." Aku melihat Jungkook mengarahkan pasukannya untuk menangkap Taehyung. Aku melihat anak panah di depan ku, mengambilnya lantas mengarahkan ke pergelangan tangan ku.
"Berhenti, atau aku akan melukai diriku sendiri." Ucap ku. Jungkook tertawa, mungkin menertawakan ku yang ia anggap bodoh. Tapi kemudian mengangkat tangan mengisyaratkan pasukannya untuk mundur.
"Wah apa ini? gadis yang aku cintai membela laki-laki lain di depan ku." Jungkook tersenyum miris.
Aku tak peduli, lantas menatap Taehyung. "Hyuna, kau harus selamat." Ucapnya dengan tertatih, Taehyung kehabisan banyak darah.
"Tidak panglima, kita lari untuk memperjuangkan cinta kita--- " Aku menjeda kalimat ku, mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali berucap. "Jika harus mati, kita harus mati bersama." Ucap ku penuh penekanan. Terlihat Taehyung ingin kembali protes tapi urung. Aku menatap jurang di belakang ku. "Panglima, ayo." Ucapku.
Taehyung terlihat tidak yakin, tapi kemudian mengangguk.
"Hyuna, maafkan aku, aku mencintaimu."
Aku menatapnya tersenyum. "Aku juga panglima, mari bertemu di kehidupan selanjutnya." Perlahan kami bangkit membuat Jungkook memicing ke arah kami. Aku dan Taehyung sama-sama tersenyum sebelum kami berbalik dan terjun bersama membuat Jungkook berteriak.
Aku masih mendengarnya sebelum tubuh kami perlahan mendarat, tergores apapun hingga ku rasakan tubuhku seakan remuk. Sakit, ku lihat Taehyung sudah terpejam sebab kepalanya terantuk batu, berdarah. Aku menangis di sisa kesadaran ku. Tangan kami masih menaut, hanya saja perlahan pegangan Taehyung melonggar, tidak seerat tadi. Bibirku Kelu, Memandang Taehyung sendu. Perlahan tapi pasti, memori ku bersama Taehyung berputar bagai sebuah film indah berlatar romansa. Aku kembali tersenyum sebelum akhirnya kesadaran ku perlahan terenggut.
Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya, panglima.