POV Putri Ayunda-
Aku selalu bersyukur dengan apa yang sudah ku lewati dalam hidupku, perjalanan hidup berliku yang ku jalani membuat aku berusaha tegar melewati semua hal yang terjadi. Takdir seakan terus mempermainkan perasaanku, cinta dan kasih sayang yang ku harapkan seolah terus berlari lari mempermainkan hati.
Tapi aku selalu bersyukur, Allah pasti memberikan yang terbaik. Tapi sebagai manusia biasa yang terlalu lemahnya imanku membuat aku terlalu kufur nikmat dan tak mensyukuri atas semua yang anugerah yang diberikan Tuhan untukku. Kisah cinta, pertemanan yang selalu tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Sikapku yang terlalu posesif terhadap pasangan juga teman sebenarnya hal itu bukan tanpa alasan. Aku terlalu takut kehilangan orang orang terdekatku ... Aku adalah perempuan yang haus akan kasih sayang sedari kecil. Karena aku hidup dalam keluarga yang berantakan. Luka yang menggunung sedari kecil yang terus ku pendam seakan menjadi beban yang menyiksa seumur hidup. Kepingan luka dari hati yang patah ini tercipta sedari kecil karena aku tumbuh dikeluarga Broken Home.
Angan putri pun seakan terbang kembali ke masa lalu, masa yang sebenarnya tak ingin ia kenang kembali karena hanya menguak kesedihan dan luka lama yang mungkin telah membusuk, yang terus berusaha aku sembuhkan agar mereda dan menghilang dengan sebuah obat yang tak bisa ku beli dimanapun, yakni sebuah keikhlasan ...
Apa yang terlintas dipikiranmu saat mendengar kata, Broken Home? Kondisi dimana sebuah keluarga mengalami perpecahan karena perpisahan dan terputusnya struktur peran anggota keluarga yang gagal menjalankan kewajiban dari peran mereka.
Adapun juga kondisi lainnya dimana orang tua tidak bercerai tapi struktur keluarga tidaklah utuh, karena salah satu orang tua tidak memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak anak dan juga pasangannya. Kedua orang tua sering bertengkar hingga struktur keluarga tidak sehat lagi secara psikologis.
Kondisi tersebut tentunya berdampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan mental anak. Anak cenderung lebih mudah stres dan depresi, kehilangan motivasi dan semangat. Merasa tak berharga dan merasa di dunia ini tak ada orang yang menyayanginya.
Iapun akan lebih posesif dalam lingkungan pertemanan dan percintaan. Akan selalu merasa takut jika ia tidak menahan orang terdekatnya, ia akan kehilangan perhatian dan kasih sayang yang sudah ia dapatkan. Dan akan lebih mudah down disaat ia kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi.
Itupun yang pernah dirasakan olehku, gadis kecil yang tumbuh dikeluarga utuh tanpa perceraian, namun sang ayah gagal menjalankan peran kewajibannya sebagai orang tua hingga aku tak pernah merasakan kasih sayang Ayah yang sangat ingin aku rasakan seperti halnya teman temannya yang terlihat mendapatkan limpahan kasih sayang keluarga.
Hidup dalam keluarga yang kesehariannya selalu dihiasi pertengkaran kedua orang tua, yang membuat aku tidak merasa bahagia dan selalu tertekan.
Mentalku yang terbilang lemah, membuat jiwaku semakin rapuh dan mudah sekali putus asa. Kepedihan yang aku lewati tak membuat aku tumbuh menjadi gadis yang kuat dan tegar, tapi justru sebaliknya. Aku tumbuh menjadi wanita yang lemah dan cengeng, selalu merasa terpuruk dalam masalah sekecil apapun, selalu merasa menjadi orang yang paling kesepian dan menderita ...
Masa kecil yang kurang bahagia, kurang kasih sayang membuatku merasa haus akan sebuah perhatian. Perhatian tulus dari keluarga, sahabat, dan orang orang yang ku cintai juga yang ku sayangi seolah menjadi mimpi besar dan harapan didalam hati. Tapi semua seolah sirna dengan realita yang tak semanis ekspektasi.
Masa remaja yang ku lewati juga tak semanis bayangan dan harapan. Cinta yang ku harapkan mewarnai hidupku yang selama ini terpenjara kesunyian, berharap menjadi pemicu semangat untuk aku mendapat kebahagiaan.
Tapi semuanya sirna, kisah cinta yang ku lalui malah selalu berakhir dengan luka yang menganga. Tak satupun cinta yang ku harapkan bisa aku dapatkan dan aku genggam, semua hancur seiring hatiku yang patah menjadi sebuah kepingan.
Teman dan Sabahat yang ku harapkanpun entah kenapa selalu saja mengecewakan. Mungkin aku yang terlalu berharap, hingga pada akhirnya malah aku yang selalu kecewa.
Luka yang selalu membawaku ingin pergi jauh berkelana, berharap hijrahnya tempat dan perubahan suasana membuatku lupa dengan perasaan yang merana.
Jakarta, kejamnya ibu kota yang menjadi tempat pelarianku. Disanalah aku sedikit terbuka dan lebih bisa mensyukuri apa yang ku punya dalam hidupku.
Keluarga yang berantakan, masih untung aku masih punya keluarga, dimana aku sering melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana anak anak gelandangan yang tertidur dikolong jembatan. Entah apakah mereka masih mempunyai orang tua atau tidak, adakah yang perduli atau tidak, bahkan mereka mungkin sama sekali tidak merasakan bagaimana itu bentuk sebuah kasih sayang ... Mereka hidup sebatang kara melewati kerasnya dunia untuk tetap bertahan hidup.
Masih pantaskah kau mengeluh dengan melihat semua itu, Putri? Nurani kecilku selalu berteriak demikian seolah mengingatkan dan menyadarkan aku dari sebuah kekeliruan tentang arti kehidupan.
Kekecewaanmu terhadap cinta, terhadap teman, seharusnya membukakan mata hatimu agar kamu tersadar, Put! janganlah kamu terlalu berharap pada manusia. Tapi berharaplah pada Allah, Tuhan pemilik semesta yang menciptakan hidup kita.
Waktu perlahan akan membuat perasaan cinta dan sayang akan terkikis dan memudar. Tapi tidak dengan kasih sayang dan nikmat Allah yang terus melimpah untuk kita. Sementara kita selalu kufur dan tak pernah mensyukurinya.
Tuhan merancang semua skenario kehidupan ini pasti semua yang terbaik untuk hidup kita. Adanya pertemuan dan perpisahan. Orang orang baik, orang orang jahat yang kita temuipun pasti semua memberi pelajaran hidup yang berharga untuk kita.
Sabar dan Syukur, Putri ... suara hati itu terus terdengar didalam hati sanubariku yang terdalam. Selain bisikan syetan, suara hati nuranipun tetap terasa mengingatkanku saat aku bimbang, kacau dan seolah tak punya arah tujuan.
Semangat, Putri !! suara yang tak bisa terdengar oleh telinga manusia itu seakan bersorak memberi suport dan semangat hingga wajah murungku kini tersungging senyuman manis yang pasrah.
Tak ada yang bisa menguatkanmu selain dirimu sendiri, Put! Dan Allah sebaik baiknya penolong dan tempatmu menaruh harapan.
Mulailah dari hatimu yang harus diperbaiki. Jangan mudah bersedih apalagi putus asa. Hidup hanya sekali, jadi berbahagialah. Nikmati hidup yang hanya sekali ini. Sabar, Tawakal. Allah takan pernah meninggalkanmu, selagi kamu juga tak pernah meninggalkanNYA.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖