Pagi itu sebelum berangkat kerja, Mawar menyempatkan diri berziarah ke makam ibunya. Sudah lama sekali ia tak kesana. Rasa rindu yang menggebu yang hanya bisa ia curahkan lewat doa, terkadang sesekali ia ingin mengunjungi makam ibunya langsung, karena mawar merasa pencurahan rasa rindunya itu terasa lebih nyata.
Mawar mengucap salam, kemudian melapalkan doa doa terbaik untuk almarhum ibunya yang sudah tenang disisi yang Maha Kuasa.
"Bu ... aku rindu ... aku sangat membutuhkan ibu ...." Air mata perlahan mengalir dari kedua sudut kelopak mata mawar. Tangisan tanpa suara yang begitu menyayat jiwa. Ibunya sudah hampir sepuluh tahun berpulang, tapi tetap masih menyisakan goresan luka yang cukup dalam dihatinya.
Ibunya adalah segalanya baginya. Orang yang menyayanginya setulus hati dan jiwa yang mungkin takan pernah bisa tergantikan posisinya oleh siapapun didunia ini.
"Aku lelah, Bu ... aku butuh Ibu untuk menguatkanku ...." Air mata semakin deras mengalir seiring kalimat pelan yang Mawar ucapkan sambil memegang batu nisan yang bertuliskan nama ibunya itu.
"Seandainya ibu masih ada, mungkin aku takan serapuh ini, Bu ... Aku rindu sekali sama Ibu ...." Kalimat itu terus berulang ulang Mawar ucapkan, seolah sengaja ia lampiaskan untuk mengurangi sedikit beban dan luka dihatinya.
"Maafkan aku yang tak pernah membahagiakan ibu sampa ahir hayat usiamu, Bu ... Maafkan, Mawar ...." Tubuh Mawar kini terguncang menahan isakan yang kini sudah tak bisa lagi ia tahan.
"Aku tetap mengurus Ayah, Bu. Aku tetap akan berbakti pada Ayah sesuai amanat Ibu, walaupun hati ini rasanya belum juga bisa memaafkan sikap Ayah kepada Ibu," ucap Mawar masih terisak. Ia terus menatap dan mengusap ngusap batu nisan itu seolah Mawar sedang berbicara langsung pada ibunya.
"Salahkah aku bila sesekali kesal kepada Ayah, Bu ... sulit sekali melepas rasa sakit ini walaupun aku juga menyayangi Ayah ... Ayah kini sudah menua, sifatnya memang sudah berubah walau terkadang sifat keras kepala dan kasarnya masih tetap mendarah daging sampai sekarang ... Aku ingin sesabar Ibu menghadapi Ayah ... semoga aku bisa melewati semua ini, Bu ... Semoga Ayah bisa benar benar berubah ...." keluh Mawar meluapkan isi hatinya.
Mawar selalu ingat pesan Ibunya sebelum meninggal dunia, agar ia mau merawat dan mengurus Ayahnya. Berbakti pada orang tua adalah salah satu jalan mendapat pahala dari Allah, walaupun sikap ayah selama ini sungguh sangat mengecewakan keluarga.
Mawar rasanya tak pernah sama sekali mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya. Ayahnya terlalu acuh cuek dan tak perduli pada keluarga. Dingin, kasar, galak itu yang terekam dalam memori Mawar sedari kecil tentang sosok Ayahnya.
Entah hati ayahnya terbuat dari apa. Benar benar sekeras batu. Ayahnya seperti sosok monster menyeramkan dimata Mawar, hanya bentakan, cacian, makian yang selalu ia lihat dari sosok Ayahnya. Dimana ia melihat teman teman seusianya saat anak anak, begitu manja pada ayah ayah mereka yang perhatian, begitu bahagia saat Ayah Ayah mereka membelikan sebuah hadiah mainan ataupun makanan enak, Mawar rasanya tak pernah mendapatkan hal itu. Ibunyalah yang penuh cinta memberikannya semua kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari ayahnya.
Ada tapi seakan tiada itu lebih menyakitkan rasanya. Ayah Mawar terlalu mementingkan hobi dan kesenangan dirinya daripada memikirkan keluarga. Ayah terlalu tak perduli. Sikapnya yang selalu kasar terhadap ibunya yang sering dilakukan di depan Mawar membuat Mawar selalu merasa ketakutan bila didekat ayahnya.
Mawar ingat saat Ayahnya sesekali bekerja diluar kota, itu seolah kabar kegembiraan untuknya. Rumah yang biasa mencekam, menjadi teduh dan penuh ketenangan. Beda saat Ayahnya berada dirumah, benar benar rumah itu seakan neraka yang begitu menakutkan baginya.
Mawar ingin seperti teman temannya yang merasakan hangatnya peluk dan cium seorang Ayah, tapi kenapa Ayahnya sangat berbeda.
Ibu adalah istri yang paling sabar dimata Mawar, menghadapi suami sekasar ayahnya itu. Ibu hanya bisa mengeluh lewat doa disetiap sujud malamnya yang sering tanpa sengaja Mawar lihat dan dengarkan saat ia terbangun dan terjaga ditengah malam.
Bahkan Mawar masih ingat, saat Ayahnya pernah selingkuh dengan perempuan yang masih tetangga desa. Uang selalu habis diberikan pada wanita selingkuhan ayahnya itu. Wanita yang tak tau malu, yang mau maunya menggoda laki laki yang sudah beristri.
Sikap Ayah Mawar semakin kasar terhadap Ibu. Bahkan tak segan menampar, mencaci maki didepan anak anaknya. Mawar semakin memendam kebencian terhadap Ayahnya. Sungguh Mawar kecil rasanya ingin teriak, mencaci maki Ayahnya demi membela Ibunya yang tak berdaya.
Hidup didalam keluarga yang semerawut membuat masa kecil Mawar rasanya kurang bahagia. Beranjak remajapun Mawar merasa penuh tekanan batin, menyaksikan adegan dan peristiwa yang benar benar menumbuhkan kebencian terhadap sosok Ayahnya. Bahkan ekonomi keluargapun Ibu tanggung semua dengan ibu berjualan dipasar, karena Ayah semakin pelit memberikan uang untuk semua kebutuhan keluarga.
Mawarpun ingin seperti keluarga lainnya yang harmonis dan bahagia walaupun dalam keadaan hidup yang pas pasan. Pernah Mawar mengeluh pada Ibunya, Kenapa sikap Ayah begitu? Kenapa Ibu diam saja?
Hanya satu jawaban Ibu, Ibu bertahan demi kalian. Semoga kamu mendapatkan suami yang baik, yang menyayangi kamu sepenuh hati. Cukup Ibu yang terluka, tidak dengan anak anak Ibu ...
Ibu tetap berbakti pada Ayah, karena Ayah suami Ibu, semoga jadi jalan pahala untuk ibu mendapatkan Syurga. Jawaban Ibu yang tulus semakin mengiris hati dan jiwaku.
Ibu ...
Airmata Mawar semakin deras mengalir mengingat itu semua. Mengingat betapa besar penderitaan Ibunya selama hidup dengan beban yang berat. Bahkan sampai meninggalpun rasanya Ibu tak pernah terlihat bahagia. Ayah Mawar tetap cuek dan acuh walaupun Ibu Mawar sudah sakit parah.
Mawar bahagia karena Ibunya meninggal dipangkuannya. Tanpa terlihat kesakitan dan hanya seperti orang tertidur. Mawar selalu ingat pesan Ibunya, agar Mawar mencintai dan berbakti pada suaminya. Alhamdulilah ia mendapatkan suami yang sangat sayang padanya, yang tak pernah sekalipun kasar. Pernah Mawar takutkan, ia mendapatkan suami seperti sosok ayahnya. Tapi Alhamdulilah doa ibu lebih kuat hingga ia mendapatkan sosok suami yang begitu amat menyayanginya.
Waktupun perlahan menjadi obat. Rasa sakit dan benci yang sudah tertanam didalam hati Mawar perlahan memudar. Ayahnyapun semakin menua. Mawarpun tetap ingin berbakti pada orangtua. Mengurus dan merawat Ayah yang kini sudah sendiri. Kewajiban seorang anak untuk merawatnya.
"Semoga Ibu selalu bahagia disana ...." ucap Mawar sambil menyeka air matanya kemudian menaburkan sisa bunga warna warni yang ia bawa diatas pusara Ibunya. Mawarpun beranjak bangkit. Ia menghela napas panjang. Sedikit lega akan semua beban dihatinya. Ia tersenyum dan sekali lagi mengusap batu nisan makam ibunya seolah mengucapkan salam perpisahan.
Ikhlas adalah obat terbaik, meski luka itu tetap ada. Dan biarlah waktu yang perlahan akan menyembuhkan setiap luka ...
💖💖💖💖💖💖💖
Terimakasih yang sudah bersedia membaca, tinggalkan jejak like dan koment sebagai bentuk dukungan. Untuk teman Author yang sudah mampir, saya usahakan untuk pasti mampir kembali. Terimakasih 😘💖