𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘢𝘨𝘢, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘪𝘸𝘢, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘬𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶.
⭐Eouny Jeje 🌹
***
Tahun 2100
Asap hitam mengepul tinggi ke langit malam. Merah Jingga berpadu dengan hitamnya warna langit. Kembang api terciprat menyebar di udara. Sebuah mobil terlihat terbakar menyala, di lahap dengan cepat. Sementara seorang gadis dengan tubuh yang setengah terbakar, terlihat berjuang menyeret tubuhnya menjauh dan menjauh dengan berguling terus berguling ke sana kemari.
Gadis itu tampak berusaha memadamkan api yang membakar tubuhnya, air deras pun mengguyur ikut memadamkan api. Dia terlihat ngosh-ngosh dan kadang terbatuk menangis. Tiba- tiba, berapa petugas datang, menutupinya dengan handuk besar, menutupi tubuh polosnya. Hanya sedikit pakaian yang tersisa di badannya, sebagian pakaian besarnya terlahap api, dan mempertontonkan kulitnya yang melepuh dan terlihat mendidihkan lemak kulitnya. Dia terlihat mengerikan dengan tubuh terbakar hingga wajahnya.
Gadis itu nelangsa menatap bintang yang berkedip. Dia terlihat kecewa. Kala, salah satu matanya yang masih mampu terbuka lebar, dapat melihat betapa indahnya sejuta bintang di sana.
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱? 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘪𝘵𝘶.
"Nona, anda tidak apa-apa? masih bisa mendengar dan melihat kami dengan baik?" satu pertanyaan itu datang, dan dua pria berjongkok akan memeriksa. Namun, gadis itu segera menepisnya, "Tangan kalian kotor. Walau api telah membakarku. Namun, aku tetaplah Rose, sang ratu Iblis yang pantas di hormati."
Dua penjaga itu saling berpandangan. Bingung. Heran. Menganggap gadis itu gila. Lalu, hanya kesenyapan yang aneh di antara mereka kemudian.
Rose dengan wajah terbakar itu menoleh dan menatap dua pemuda itu. Dia pun seakan menyadari sesuatu. Terlihat sangat asing. Sekitarnya terlihat aneh. Apalagi setiap orang terlihat kontras, jauh berbeda dengan yang pernah dia lihat. Pakaiannya. Rambutnya. Sangat berbeda dengan penduduk langit.
Rose perlahan mengedarkan matanya acak, menatap sekelilingnya dengan sisa-sisa kekuatan tersisanya. Dia pun dikejutkan dengan segala sesuatu yang jauh berbeda dengan langit.
𝐼𝑛𝑖 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎𝒉 𝑑𝑢𝑛𝑖𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎!
"Apakah ini bumi?"
Dua penjaga itu saling bertatapan, dan salah satunya menjawab, "Iya."
Rose mengeryitkan keningnya. Seakan dia menyadari sesuatu. Dia melihat setiap daging tangan yang melepuh terbakar.
𝐴𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑑𝑎𝑔𝑖𝑛𝑔. 𝐴𝑘𝑢 𝑖𝑏𝑙𝑖𝑠 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑒𝑙𝑚𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎.
"Nona, biarkan kami merawat lukamu lebih dulu."
Rose mendekap dadanya. Dia terlihat mengabaikan dua petugas tersebut. Dia merasa konyol akan kesempatan kedua yang di berikan untuknya.
𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘔𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬!
Lalu, Rose menerima uluran tangan orang yang terlihat asing dan berpakaian aneh itu.Dia di angkat ke sebuah tandu. Sepasang matanya menyipit dan menatap ke setiap orang. Tanpa sadar dia tersenyum akan takdir baru yang dia terima.
𝐷𝑢𝑎𝑟𝑟𝑟!
Bunyi ledakan terdengar lagi. Mobil yang telah di tumpangi tadi telah meledak dengan dasyat. Untung, dia telah lolos dari bencana di bumi. Asap dan api merah jingga terlihat berkobar lebih rakus. Sepasang mata sipit itu menatap lekat dan mengawasi kobaran api dari tanah tempat sepasang kakinya berpijak.
𝐴𝑘𝑢 𝑝𝑖𝑘𝑖𝑟 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎𝒉 𝒉𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑛𝑖 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎𝒉 𝑎𝑘𝒉𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑔𝑎𝑙𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑇𝑒𝑟𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎, 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑝𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑛𝑔. 𝐵𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡? 𝐻𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟 𝑚𝑢𝑠𝑡𝑎𝒉𝑖𝑙 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑙. 𝑁𝑎𝑚𝑢𝑛, 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑎𝑠𝑖𝒉 𝒉𝑖𝑑𝑢𝑝. 𝐴𝑘𝑢 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎𝒉 𝑖𝑏𝑙𝑖𝑠 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑖𝒉 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑛𝑎𝑝𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝒉𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎.
Rose diam-diam menarik napas lega akan kesempatan kedua. Tangannya yang masih terlihat meletupkan lemak daging, merangkak ke dada kirinya perlahan. 𝐷𝑢𝑔-𝑑𝑢𝑔-𝑑𝑢𝑔!! Dia mampu merasakan sekaligus mendengar suara jantungnya berdetak lagi.
𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢.
Rose bersuka cita, memuja langit. Merasakan kehidupan masih berpihak padanya. Dia terlihat sedikit mampu bernapas. Air matanya jatuh seketika dari sudut matanya. Dia menangis. Bukan karena perih luka bakar yang mendera sebagian tubuh kanan dan wajah kanannya. Melainkan, karena dia teringat akan apa yang terjadi di langit.
Zeus, pria bersayap emas, yang terlihat berada di baris terdepan, telah menyalakan api untuknya. Membakarnya dengan sihir yang tak bisa ketahui.
𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑛𝑢𝒉𝑚𝑢 𝑑𝑖 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡. 𝑆𝑒𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎, 𝑎𝑘𝑢 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑛𝑢𝒉𝑚𝑢 𝑑𝑖 𝑏𝑢𝑚𝑖.
Tiba-tiba, Rose merasakan kepalanya pusing dan seakan ada batu yang di letakkan di atas kepalanya. Berat sekali rasanya. Dia jatuh lunglai, dan ada tangan besar menangkap tubuhnya dengan sigap.
Terlihat sosok berkabut dalam matanya. Perlahan sosok itu makin jelas. Kala, Rose menyipitkan matanya. Dia pun mengenal pria itu. Zeus, sang malaikat pembunuh, yang telah membakar dirinya.
Rose mengeryitkan keningnya. Seakan, jijik berada dalam dekapan sang pembunuh. Dia pun melompat dan bangkit berdiri dengan tegak.
"Rose, apa kau masih mengenalku? Aku Ares, kekasihmu. Apa kau masih mengingatnya?"
Rose menggelengkan kepalanya. Kepalanya begitu sakit. Banyak adegan manis melintas dalam kepalanya. Tampak sepasang manusia yang terlihat sama dengan dirinya dan Zeus. Namun, setiap adegan dalam otaknya. Terlihat sangat manis. Berpegangan tangan. Bercumbu. Berpelukan. Janji manis terucapkan.
"Hal itu mustahil! Kau adalah musuh besarku!"
𝘊𝘪𝘩! Rose meludah dan mundur melompat jauh dengan cepat.
Ares terkesiap. Seakan menebak setiap kulit yang terbakar menimpa kekasihnya, membuat gadis itu, malu dan ingin bersikap menjauhnya.
"Aku bukan musuhmu! Aku baik dari awal hingga akhir!" tepis Ares dengan nada tinggi.
"Apapun yang terjadi padamu. Hidupmu. Aku tidak akan pernah malu untuk mengakuimu!"
"Apa kau gila?" Rose sinis dan ironi, tidak mempercayai apapun yang di katakan oleh sosok pembakar dirinya.
Ares membisu. Memilih untuk diam. Namun, langkah kakinya kian mendekat dan dia pun terlihat mengulurkan tangannya. Seakan tidak ada kejijikan dalam setiap telapak tangan merah, melepuh, dan berair itu. Dia hanya ingin menjabat tangan itu, dan ingin segera membalut luka itu.
Namun ....
𝘊𝘪𝘩! Rose meludah pada tangan pria itu , dan sepasang matanya beredar, bergerak acak, dan terhenti pada sebuah pistol di pinggang seseorang di dekatnya. Dia pun merampasnya.
Ares mengangkat tangannya. Sang pemilik pistol terkejut akan pistol yang telah di regut. Dia akan protes. Namun, dia membisu kemudian. Sepasang mata merah Rose terlihat mengintimidasi.
Kini, setiap moncong pistol terlihat bergerak beredar acak dan bersiap membunuh!
"Rose, itu senjata! Berbahaya! Sebelumnya, kau tidak pernah menggunakannya. "
Rose mengarahkan sepasang mata bersamaan moncong pistol ke arah sang pemilik suara barusan.
"Kini, aku mampu menggunakannya! Untuk membu—"
𝘋𝘰𝘳𝘳! pelatuk tertekan ke dalam. Sebuah peluru tembaga bergerak sangat cepat dan tidak mampu di hindari sang target.
"nuh-mu," lanjut Rose lirih bersamaan dengan peluru tembaga itu menembus kulit, daging merah, dan tertancap mengenai jantung pria itu.
𝘋𝘶𝘱! Jantung Ares tertancap. Seperkian detik dia meringis sakit, meraba dada kirinya, dan dia mampu merasakan sebuah lubang tercipta menembus daging tebal yang membungkus tulangnya. Dia meringis sebentar, dan berkata tanpa suara, "Tak pernah ku sangka. Jika aku akan terbunuh oleh orang yang ku sayang!"
𝘗𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬! Pistol terjatuh ke lantai. Setiap pandangan mata orang menatap nanar dan benci pada sosok Rose, dan berganti kasihan pada sosok Ares.
𝘉𝘳𝘶𝘬! Raga pria itu terhuyung ke belakang dan jatuh ke tanah. Dari dada terlihat cairan merah menembus kain kaos yang dia kenakan.
"R.I.P Zeus, musuhku!" Rose meletakkan tangannya pada keningnya seakan memberi penghormatan terakhir.
Ares tersenyum kaku dan memejamkan mata, seraya udara terasa menipis dan akan hilang. Dia segera mengumpulkan sisa tenaga untuk terakhir kalinya, membuka mulutnya untuk melontarkan kalimat terakhirnya, "Aku bukan dia yang kau maksud. Aku tidak pernah menjadi musuhmu!"
Rose menyipitkan matanya dan berkata lantang, "Jika kau bukan musuhku. Kau harus memiliki bukti. Karena, ingatanku menyebutkan bahwa kau adalah musuhku, dan yang manis itu hanya ilusi! Sebuah kebohongan! Hanya Fatamorgana !"
Rose melangkah mundur dan pergi. Dia tidak perduli akan setiap pandangan mata yang berubah menjadi benci dan jijik padanya. Baginya, hanya raganya yang terbakar. Namun, ingatan dan hatinya masih utuh. Dia masih mampu mengingat dengan baik, siapa yang membakarnya dan menyakiti hatinya.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘢𝘨𝘢, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘪𝘸𝘢, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘬𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶.
Ares menutup matanya perlahan, dan napasnya berhembus panjang untuk terakhir kalinya dan hilang kemudian.
𝘒𝘳𝘪𝘪𝘪𝘪𝘪𝘪𝘪𝘪𝘯𝘨!
Suara dering alarm terdengar berisik dan pekak. Kelopak mata pria itu bergetar, dan terbuka lebar. Sepasang matanya melotot dan beredar memeriksa dimana dirinya. Kini, dia mengetahui dirinya telah berada di dalam kamarnya.
"Aku masih hidup!" Ares meraba dada kirinya. Tidak ada lubang. Tidak ada peluru menancap jantung.
"Rose!" Ares berusaha bangun. Namun, kepalanya terasa sangat pusing, dan berat sekali. Lalu, satu informasi datang padanya.
Terlihat Rose berjongkok di sisi mayatnya yang telah kaku, dan tangan itu menyentuh lembut dada kirinya, dan mengambil peluru itu kembali, keluar mundur dari jantungnya. Darah yang kering mulai terlihat cair menghangat dan masuk kembali ke dalam daging. Lubang luka terkatup rapat, dan jantungnya mampu berdetak kembali.
"Aku lelah mencari bukti. Namun, hati nurani manusiaku berkata, kau bukan dia. Namun, aku butuh waktu untuk percaya sepenuhnya. Biarkan aku tenang. Untuk memeriksa kehidupan manusiaku."
Gadis itu terlihat nyalang kemudian, "Jika kau terbukti bersalah. Aku akan membunuhmu dengan caraku! dan aku pastikan nerakamu datang lebih awal!"
***
Tamat!
Di harapkan meninggalkan komentar dan like setelah membacanya.
Zeus dan Rose adalah malaikat jatuh dari langit. Oleh itu, di sebut sebagai sosok iblis.
Ares adalah manusia biasa. Namun, dia berbeda dengan Zeus.
Cerita ini hanya menceritakan kesalahpahaman yang terjadi karena rasa curiga yang berlebihan! Usahakan Postitif Think.
Silahkan membaca karya lainnya .