Bagunan kastil dengan dinding luar penuh tumbuhan merambat membuat hawa dingin bertambah menyeruak. Bau busuk sisa sampah makanan menguar diruangan itu. Hanya ada helaian baju yang Ia kenakan dan semangkok air tergeletak agak jauh darinya. Tak peduli apa yang hari ini terjadi, nanti malam adalah yang terakhir untuknya.
Mata biru itu terpejam, rambutnya berantakan dengan mata sembab yang membengkak. Kedua kaki dan tangannya terikat erat rantai besi. Badannya mati lemas, luka yang memenuhi tubuh itu sudah tak terasakan lagi.
Gaun pesta yang tadinya digunakan untuk menyambut pesta malah membawanya ke penjara bawah tanah. Wajah yang tadinya penuh dengan polesan riasan sekarang penuh dengan darah yang mengering. Rintihan rasa kesakitan semalaman sudah tak terdengar lagi.
Suara deritan pintu besi itu terbuka, nampak sipir penjara datang dengan seseorang dibelakangnya. Membawa seseorang masuk. Pemuda dengan jubah berajut emas dan sebuah pedang dipinggangnya. Gadis itu terbangun, melihat sepatu emas yang berdiri di depannya Ia tahu betul siapa gerangan.
“Mau apa?” katanya dengan suara menghina.
Tamparan keras mendarat dipipi kanannya, rasa sakit itu sudah tak terasa lagi. Ia tertawa kencang menatap pelaku yang menamparnya. Lekukan wajah tampan yang dulu membuatnya tergila-gila sekarang terlihat menjijikkan.
“Saya sudah tidak memiliki apapun sekarang, nyawa saya saja sudah anda pesan.”
“Kurang apalagi? Untuk mayat saya tunggu saya mati ya.” Tawa keras terdengar dari gadis itu.
Laki-lak iitu mengeraskan rahangnya menatap tajam gadis itu. Hak sepatunya yang keras menginjak telapak tangan gadis itu bertatapan dengan lantai penjara yang tidak rata, hingga timbul suara gemeletuk patahan tulang. Gadis itu tertunduk tambah tertawa keras menggantikan jeritan rasa sakit. Pergelangan tangannya yang sudah terikat rantai besi kini diinjak dengan alas kaki yang keras.
“Hidupmu hanya tinggal satu senja, Beatrice.” Laki-laki itu tak perlu berjongkok menatap gadis dibawahnya, Ia menarik rambut gadis itu agar menatapnya kembali. Melepas pedang disarungnya mengayunkan pedangnya tepat di mata gadis itu.
"Ini semua kesalahanmu sendiri." Beatrice mendengus mendengar pertanyaan William.
Segengam rambut yang tadi ditariknya terpotong, bagian kanan kepala gadis itu botak. Terasa kepala kanannya perih terkena angin, ayunan pedang yang tadi memotong rambutnya mengenai sebagian kulit kepalannya. Darah merembes melewati pelipisnya. Ia menatap tajam lelaki gila di hadapannya.
“Lihat, rambut emas yang dulu kamu banggakan sekarang berwarna merah.” Lelaki menghamburkan rambut yang ia pegang ke depan gadis itu.
Ia melangkahkan kakinya mengitari gadis itu. Sesekali kakinya menendang punggung gadis itu agar tetap menunduk.
“Orang yang sepantasnya mati adalah anda, William."
“Atau sekarang saya harus memanggil anda, Yang Mulia Raja?"
Mendengar ucapan itu William meraih mangkok air yang ada di sampingnya, mengguyur kulit kepala beatrice yang masih menganga darah dengan air. Denyutan hebat terasa di kepala gadis itu. Ia menggigit pipi dalamnya menahan sakit untuk tetap tersadar.
Lelaki itu mengangkat dagu gadis itu dengan ujung pedangnya. Melarang gadis itu tertunduk.
Suara pintu kembali terbuka aroma parfum menguar diruangan penuh darah itu. Menampakkan wanita anggun dengan setelan mewah, rambutnya tersemat tiara emas yang menandakan orang itu seorang putri mahkota.
Ia berjalan mendekati William, gaun mewahnya menyapu darah yang bergelimang di lantai penjara. Ia menggandeng manja lengan William. Lelaki itu menurunkan pedangnya menaruhnya kembali kesarung.
“Yang mulia, sebagai orang yang terhormat dan bijaksana kita harus memberi keringanan kepada orang yang akan segera mati.” Mata dengan riasan itu melirik kearah gadis yang duduk bersimpuh.
Ia berjalan mendekati Beatrice, menyelipkan anak rambut rambut kesisi kiri. Meniup-niup luka yang ada di pelipis Beatrice dan tersenyum.
“Sayang sekali wajah cantik yang dulu dikoar-koarkan kerajaan ini akan segera hangus.” Ia menepuk-nepuk pipi gadis itu dan berdiri.
Tangan yang tadi digunakan untuk menyentuh gadis itu diusapkan ke sapu tangan dengan bordiran sutra emas, membuangnya ke muka gadis itu.
“Pakailah untuk menutup matamu nanti barangkali ada dewa yang menolongmu.” Mereka berdua keluar. Pintu penjara kembali tertutup meninggalkannya Beatrice sendirian.
Ia meludahi sapu tangan yang di depannya, jelas-jelas itu sapu tangan milik William yang dulu Ia berikan sebagai hadiah. Persetan tentang putri mahkota, hidupnya sekarang tinggal satu senja. Tidak ada yang bisa Ia lakukakan.
Kepalanya kembali berdenyut hebat, matanya sudah tak tertahankan lagi untuk terpejam. Dirinya tertunduk pingsan dengan tangan yang masih terantai.
Ingatan tentangnya dulu kembali terputar, usaha kerasnya untuk menjadi putri mahkota. Para rakyat, keluarga, dan raja terdahulu yang selalu memberi Beatrice dukungan. Laki-laki yang menjadi mimpinya untuk masa depan menyambutnya dengan kedua tangan terbuka.
Reputasinya sebagai putri berkelas yang kecantikan dan kepintarannya sampai ke kerajaan tetangga. Koneksi kelas atas yang semakin banyak diumur masih mudah membuatnya bertambah populer. Cinta kasih yang tidak ada kurangnya yang Beatrice dapatkan dari kecil, membuatnya sadar untuk tetap rendah hati dan baik hati.
Lalu apa yang menghancurkannya? Seorang puteri dari anak Marquess, yang dikabarakan tidak mempunyai anak muncul. Wajah dan rambut hitam legam yang tergerai sangat persis dengan Marques, semua orang percaya bahwa Chaterine adalah anak Marquess yang dirahasiakan.
Beatrice juga menyambutnya dengan senang, mengajaknya berkunjung ke kastilnya. Mengunjungi istana putra mahkota dan mengikuti pesta minum teh bersamanya.
Namun setelah beberapa kali, Chaterine selalu membuat dirinya mencolok. Membuat semua orang tertarik. Bahkan putra mahkota yang sebelumnya tidak memerlukan penyeleksian calon putri mahkota sebagai calon ratu mendadak setuju melakukannya.
Beatrice bertanya kenapa? William selalu menjawab ratu adalah salah satu bagian orang yang paling penting untuk kerajaan ini, sebagai calon raja Ia harus mengesampingkan perasaannya demi negara.
Undangan pesta minum teh untuk Beatrice yang dulu menumpuk sekarang dapat dihitung jari, keluarganya tetap mendukungnya memberinya semangat.
Putra mahkota tidak pernah lagi mengujunginya, walau sekedar minum teh. Rumor semakin bertebaran mengatakan bahwa Beatrice tidak lagi menjadi kandidat putri mahkota lagi.
Hal itu semakin membuat Beatrice frustasi, teman-temannya menggunjingnya di belakang, membisikkan berita yang tidak mengenakkan dan tertawa meliriknya.
Putra mahkota sudah benar-benar mengabaikannya, keluarganya dan raja ratu yang masih memimpin sekarang nampak kecewa.
Kejadian penting yang terakhir kali adalah pesta pengumuman calon putri mahkota kemarin siang. Sebelum nama calon putri mahkota yang disebut Beatrice terfitnah sebagai pelaku pembunuh kandidat calon ratu Chaterine menggunakan racun. Hal itu yang membuat Beatrice terjerumus di penjara bawah tanah dengan hukuman fisik sebanjang malam.
Matanya terbuka, denyutan kepalannya agak mereda. Sebuah silauan cahaya bertebaran kesana kemari. Beatrice memicingkan matanya, memastikan apakah ia sudah bangun atau masih berhalusinasi. Cahaya itu dengan cepat terbang kesana kemari memutari tubuh gadis itu.
Lalu hinggap di atas hidung Beatrice, menatap sedih bola mata biru itu dengan kelopak mata yang membengkak. Gadis itu memfokuskan pandangannya, menatap cahaya yang duduk dipucuk hidungnya.
Seorang peri cantik dengan sayap biru muda tipis, rambutnya tergerai dengan hiasan bunga biru di kepalanya. Ia melotot kaget. Memundurkan kepalanya kebelakang.
“Tenang, tenang aku nggak akan makan kamu kok.” Peri itu terbang di depan Beatrice, berkata dengan suara kecilnya.
“Kamu bisa bicara?”
“Iyalah kamu sendiri bisa mendengarnya.” Beatrice menyenderkan tubuhnya kedinding dingin penjara bawah tanah, kedua telapak tangannya sudah tak bisa digerakkan.
Peri itu duduk di lututnya, kedua sayapnya berhenti mengepak. Ia mengelus lembut lutut gadis itu memberinya kehangatan dengan tangan kecilnya.
“Kamu kenapa enggak kabur aja waktu itu.” Peri itu menatap sendu Beatrice yang terkapar lemah.
“Kejadian kemarin tidak ada yang tahu, aku terlalu berusaha keras untuk mendekati hari kematianku mungkin.” Beatrice tertawa hangat menatap peri kecil itu. Sinar senja yang melewati jendela jeruji besi mengingatkan tentang akhir dari dirinya nanti malam.
“Aku selalu mengagumimu sebenarnya, kamu cantik sekali.”
“Kecantikan itu hanya sementara peri.”Jawaban Beatrice membuat peri itu bertambah sendu.
“Apa kamu ingin sesuatu?” Tanya peri itu antusias, ia terbang mengepakkan sayapnya di depan Beatrice.
“Semoga semua makhluk di kerajan ini dapat hidup berbahagia.” Peri itu lesu dan kembali terduduk di lutut Beatrice. Peri itu memikirkan harapan apa yang lebih indah untuk Beatrice.
“Aku akan membuatmu bebas dengan cara indah.” Beatrice menundukkan kepalanya mentap peri kecil itu, Ia menggelengkan kepalanya lemah dengan senyum hangat.
“Pokoknya nanti malam kamu tunggu aku datang, aku janji membutamu bebas dengan cara indah.” Peri itu terbang mendekati telinga Beatrice.
“Bangun heh.” Seorang pengawal menyeret tangannya untuk bangun, Ia membuka matanya tampak sinar jingga menembus jeruji jendela jeruji.
Beatrice mengrenyitkan dahinya, bukankah sudah saatnya malam tiba? Seingatnya tadi ia masih berbicara dengan peri biru kecil tadi. Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru. Tidak ada cahaya terbang yang bersinar, hanya ruang penjara yang kusam dan gelap.
Pengawal tadi kembali menyeretnya, membawanya ke halaman eksekusi. Menunggu malam tiba. Nampak sekumpulan orang sudah memenuhi halaman itu menunggu kepalanya terjatuh dari atas panggung. Beberapa orang meneriaki namanya, memaki dengan kata-kata kasar.
Keluargannya sudah dipenjara rumah, pihak istana tidak mengizinkan mereka keluar rumah sedikitpun. Beatrice melirik dua kursi megah yang berdiri jauh didepan sana, dua orang gila itu masih belum datang.
Terik matahari yang tepat menghadapnya membuat darah di kulit kepalnya perlahan mengering. Sorakan terdengar semakin keras ketika tubuhnya berkali-kali limbung terjatuh tidak dapat menompang diri.
Tangannya dan kakinya masih terikat rantai. Para penjaga yang dulu sering menyapanya tak tega melihatnya, mereka sedikit mengendurkan rantai yang mengikatnya.
Sang surya menenggalamkan dirinya, ratusan obor dipajang mengelilingi Beatrice, kedua orang yang dihormati mendudukan diri di kursi singgasana dengan jubah kebesaran. Senyum bijaksana terpampang dikeduanya.
Beatrice terseyum kecut, pangeran mahkota yang dulu ia cintai dan teman baiknya yang dulu selalu ia banggakan sekarang duduk berdampingan. Menatap dirinya yang segera binasa.
“Eksekusi kepada pelaku pembunuhan Ratu Chaterine akan segera dilaksanakan, beliau adalah puteri dari Duke Charlos, Beatrice.” William mengalihkan pandangannya.
Beatrice menundukkan kepalanya, sebuah bunga anemone kecil berwarna biru keunguan jatuh dari anak rambut di belakang telinganya. Ia tersenyum, menutup kedua mata birunya mengingat kata-kata peri kecil yang datang di mimipinya tadi. Bilah tajam itu jatuh mengenai lehernya, Ia merasakan sentuan dingin itu merembet cepat.
Bayangan kupu-kupu biru bertebaran di depannya, mereka mengepakkan sayapnya mengajak terbang bersama. Langit malam penuh bintang-bintang yang bertebaran dan bulan yang bersinar terang. Ia tersenyum, “Hadiah yang memang indah.” batinnya mengikuti para kupu-kupu biru itu.
Hati dan fisiknya tidak merasakan sakit lagi, pikirannya tenang tanpa pikiran. Jiwanya kini bebas menapaki langit terang malam itu.
"Tidak ada yang namanya sad ending, itu adalah ceritanya yang belum menemukan akhir yang pas."