Senyum Dalam Luka.
Karena pandemi covid-19. Sekolahku terpaksa melakukan pembelajaran secara daring. Bukan hanya sekolahku saja, ternyata kebanyakan sekolah juga melaksanakan pembelajaran secara daring. Melelahkan memang. Sedikitnya materi tidak dapat dimengerti dengan baik. Kuota harus beli setiap bulannya, jika tidak.. maka tidak akan bisa mengikuti daring. Menghemat, adalah satu-satunya cara supaya kuota yang aku beli bisa bertahan selama satu bulan. Aku tidak ingin lebih memberatkan kedua orang tuaku, dengan membeli kuota satu bulan dua kali yang habis untuk hal-hal kurang penting disaat pandemi seperti ini. Tapi, aku sangat bersyukur. Alhamdulillah, tuhan masih memberikan kelancaran dalam urusan kuota.
Saat kenaikan kelas tiba, aku mempunyai teman baru. Namanya Kifa, ia baik. Mau membantuku saat aku menanyakan beberapa pelajaran yang belum aku mengerti. Awalnya, dia mengechatku lebih dulu. Beberapa hari kemudian, terjadi sedikit permasalahan dengan nomor urut. Aku sampai tanya dengan wali kelasku akan hal itu, karena aku bingung saat akan absen daring pelajaran. Beberapa hari berlalu, sebuah daftar nama kelas delapan dikirimkan oleh wali kelas kami. Permasalahan nomor urut pun selesai. Aku kini menduduki nomor urut dua puluh satu, sedangkan Kifa diatasku.
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Hubunganku sangat baik dengan Kifa. Hingga suatu hari, kelas delapan berangkat ke sekolah. Aku menaiki motor bapakku bersama ibu, bersamaan dengan itu. Kifa turun dari mobilnya bersama ibunya. Mereka menghampiriku. Kifa menyapaku, namun tidak dengan ibunya. Ia hanya menatapku seperti jijik, begitupun dengan tatapannya pada ibuku. Ia juga menatap kepergian bapakku.
"Hai, Let" sapa Kifa. Aku membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman kecut. Aku merasa ibu Kifa tidak suka dengan kehadiranku dan ibu.
"Siapa kalian? Dan kamu" ia menunjukku "anak macam kamu, dari keluarga miskin. Tidak pantas berteman dengan anak saya, jauhi anak saya, atau saya akan memperingatkan dengan cara kasar" ia kemudian menatap ibuku "ajari anak anda untuk tahu diri, bahwa dia tidak pantas berteman dengan anak saya" ia kemudian menggandeng Kifa masuk kelas. Hatiku terasa seperti tertusuk ribuan pisau. Walaupun aku belum pernah merasakannya, tapi aku tahu rasanya. Sakit...! Aku menatap ibuku yang terdiam. Ia membawaku masuk. Aku dan ibu duduk menjauh dari Kifa dan ibunya.
Sepulang keperluan disekolah, ibu Kifa menghampiri kami.
"Tolong diingat kata-kata saya tadi!" kecamnya.
"Anak miskin macam kamu... nggak level, bergaul sama anak saya. Kamu deket sama anak saya, palingan cuma buat dimanfaatin hartanya doang kan? Dasar!. Iuhhhh.... baunya, bau parfum aja nggak, nih.. cium wangi anak saya. Wangi... karena pakai parfum mahal" ia kemudian melenggang pergi.
"Saya sadar diri, saya bukan anak orang kaya seperti Kifa. Tapi, setidaknya saya tidak pernah menghina orang lain, sampai memisahkan hubungan persahabatan karena harta! Allah maha adil, dia bisa dengan mudah menurunkan posisi anda dan menaikkan posisi saya. Saya tak apa, dipisahlan dengan Kifa. Tapi! Jangan pernah sekali-kali menghina keluarga saya. Saya akan rela mati tanpa tangan, mata, dan anggota tubuh yang lain. Untuk melindungi keluarga saya!" ucapku menahan marah.
Ibu Kifa terdiam, ia menyelis lalu menggandeng anaknya pergi, memasuki minibus berwarna putih yang langsung melesat pergi. Aku dan ibu menaiki angkot pulang.
Sejak hari itu, hubunganku menjadi renggang dengan Kifa. Bukan aku yang menjauhi, tapi Kifa sendiri. Aku selalu tersenyum manis saat bertemu pandang dengannya, dan saat itu juga, air mata Kifa menetes. Hatiku ikut terasa sakit karena air mata itu.
Beberapa tahun berlalu. Aku sudah hampir melupakan kejadian dahulu. Aku kini menjadi pemilik sekaligus pemimpin sebuah bangunan tinggi dan megah disuatu kota. Aku beri nama gedung tersebut, namaku dan kedua orang tuaku yang digabungkan. Saat aku keluar dari kantor, aku melihat seorang perempuan tua dengan perempuan muda disampingnya yang tampak luyu. Kami menghampirinya dan membawanya ke restoran, membelikannya makanan lalu pergi ke salah satu toko baju kemudian pulang. Aku menyuruh mereka untuk mandi dan memakai baju yang barusan aku beli.
Alangkah terkejutnya aku, saat sadar.. bahwa Kifa dan ibunya lah dua manusia kaum hawa yang barusan kutolong.
"Maafin saya, Let.. maafin saya.. bu.. saya minta maaf, minta maaf yang sebesar-besarnya" ibu Kifa bersujud dikakiku dan kaki kedua orang tuaku. Ibuku memegang kedua pundak ibu Kifa dan menariknya untuk berdiri.
"Kami sudah memaafkan kamu" ujar ibu, aku dan bapak mengangguk.
"Terima kasih" ibu Kifa lantas terjatuh, setelah dicek. Nadi dan detak jantungnya, tak lagi terasa bergerak.
"Innalillahi.."
***
Teruntuk Kifa.. sahabatku..
Masa lalu kelam, tak membuatku berhenti menyayangimu. Aku berteman denganmu, bukan karena hartamu. Sungguh! Percayailah kata-kataku. Aku menyayangimu, lebih dari sayangku pada teman kelas yang lain. Kamu selalu ada disaat aku membutuhkan, dan satu-satunya anak kelas yang mau berteman denganku. Tak kamu pandang harta keluargaku, tak kamu pandang kekuranganku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Intinya, aku... menyayangimu... sangat.. menyayangimu.
End