Aku anak kelas 5 SD yang ceria dan suka bermain di luar, tapi suatu hari aku harus pindah rumah karena suatu alasan pribadi suasana hatiku sedikit sedih karena harus berpisah dengan teman-teman lamaku.
Saat sampai ke rumah baru suasana sekitar sangat berbeda dari rumah lama. Dulu didekat rumahku banyak teman-teman jadi setiap aku bosan aku hanya perlu memanggil mereka dan bermain bersama dan karena kami tinggal di tempat yang ramai entah itu pagi, siang, atau malam pasti masih ada suara orang-orang yang sedang berbicara atau memutar musik.
Tapi sekarang suasananya berubah drastis.Di sebelah rumahku ada banyak anak-anak bahkan ada bayi jadi suasananya ramai saat siang dan saat malam sangat sepi ditambah aku tinggal di perumahan yang masih sepi bahkan di dekat rumahku masih ada banyak pohon-pohon yang tumbuh seperti hutan suasananya benar-benar sepi.
Tidak ada anak seumuran ku yang tinggal berdekatan jadi aku hanya bisa menghabiskan hari dengan bermain dengan adik laki-lakiku yang waktu itu berumur sekitar 4 atau 5 tahun waktu itu atau menonton televisi soalnya waktu itu aku belum mempunyai handphone sendiri.
Karena aku pindah rumah jadi tentu saja aku juga pindah sekolah tapi saat aku pindah itu masih waktu liburan semester baru, aku sedikit takut saat membayangkan akan bertemu teman-teman baru.
Akhirnya hari pertama masuk sekolah baru tiba di depan mata, aku bangun pagi-pagi sekali karena takut terlambat.
saat selesai menggurus surat-surat aku langsung masuk ke kelas semua murid-murid di sana melihat ke arahku tidak satupun orang di sana yang aku kenal jadi aku hanya berdiam diri di tempat duduk sambil menggigit bibir karena gugup.
akhirnya ada 2 siswi yang berkenalan dengan diriku. saat belajar aku tidak kesusahan karena pelajarannya tidak jauh berbeda dari sekolahku yang dulu tapi siswa-siswa yang lain nampaknya kesusahan termasuk kedua teman baruku.
Aku bertanya pada diriku sendiri kenapa mereka belum selesai menjawab soal padahal soalnya sangat mudah bagiku.
Saat aku maju ke meja guru untuk memberikan hasil tugasku guru sepertinya lumayan kaget melihat aku sudah selesai menjawab soal yang diberikan, guru bertanya bagaimana prestasiku di sekolah lama aku menjawab dengan jujur.
Aku bilang kalau aku sering juara 1 di sekolah guruku terlihat senang saat mendengarnya ternyata saat aku berbicara dengan guru siswa-siswa lainnya mendengar pembicaraan ku bersama guru, setelah mendengar perkataan ku mereka langsung berbisik-bisik sembari melihat ke arahku.
Setelah kembali ke tempat duduk aku didekati banyak siswa yang tidak kukenal mereka bertanya tentang jawaban soal-soal yang diberikan.
Bodohnya aku, aku malah memberikan jawaban ke pada mereka karena aku pikir itu bisa menjadi awal mula yang baik agar bisa menjalin pertemanan bersama mereka, guru sepertinya tidak peduli kalau mereka menyontek jadi mereka tidak dimarahin saat berkerumun di mejaku.
Yaa itu awal mula aku menjadi orang yang dimanfaatkan sebagai sumber jawaban mereka selama aku kelas 5 SD, waktu itu aku masih seorang anak kecil yang takut dibenci teman-temannya dan tidak ingin sendiri makanya aku selalu memberikan jawaban kepada mereka agar tidak dijauhi.
Saat memasuki kelas baru yaitu kelas 6 SD aku bertekad untuk tidak dimanfaatkan orang lain tapi ternyata rencana ku tidak bisa berjalan lancar.
baru beberapa bulan aku masuk kelas 6 aku malah sakit dan harus pergi ke rumah sakit, waktu itu keluargaku berpikir aku hanya sakit biasa saja aku juga sama.
tapi sudah seminggu aku diinfus di rumah sakit tapi aku tidak kunjung membaik, dokter menyuruhku pulang ke rumah tanpa tahu apa penyakit ku karena dokter tidak menemukan keanehan atau penyakit di dalam tubuhku.
Aku pulang ke rumah tapi kondisi ku tidak berbeda dengan keadaan sebelum pergi ke rumah sakit. saat pagi sampai sore aku menggigil kedinginan dan saat malam aku kepanasan sampai bajuku basah karena keringat, kepalaku terasa pusing dan sakit seperti ada yang menusuk-nusuk kepalaku dengan jarum, perut dan mulutku menolak makanan apapun itu bahkan saat melihat nasi saja aku sudah ingin muntah.
Setelah 2 hari beristirahat di rumah aku dipanggil lagi ke rumah sakit oleh seorang dokter yang berbeda, ternyata sebelum aku disuruh pulang darahku di ambil untuk mencari tahu sakitku sesampainya di rumah sakit kedua orang tuaku dipanggil ke suatu ruangan, aku di suruh menunggu di luar ruangan.
Rasanya sangat bosan bagiku yang berumur 11 tahun harus duduk diam sembari melihat orang lalu lalang di depanku.
Akhirnya orang tuaku keluar dari ruangan tapi raut wajah mereka terlihat sedih dan lesu padahal saat masuk raut wajah mereka masih biasa-biasa saja. Aku diminta untuk masuk ke suatu ruangan lain oleh orang tuaku, aku bingung saat masuk ke ruangan ternyata aku akan di pasang infus tentu saja aku ketakutan bayangkan saja seorang anak perempuan harus ditusuk tangganya menggunakan jarum dan harus tersambung dengan selang.
Padahal aku sudah bilang pada kedua orang tuaku untuk tidak diinfus tapi mereka malah ikut membujukku untuk dipasang infus, kenapa mereka tidak mau mendengarkan keinginanku? tegangnya mereka menusuk tangan anak kecil, itulah yang aku pikirkan waktu itu.
Setelah dipasang infus aku di suruh tidur di atas tempat tidur dan di dorong keluar rumah sakit lalu dimasukkan ke ambulance, sebelum masuk ke rumah sakit aku melihat adik laki-lakiku dan keluargaku yang lain sudah berkumpul di dekat mobil ambulance.
kata kedua orang tuaku aku harus pergi ke rumah sakit lain yang lebih besar untuk mengetahui pasti penyakitku. Tapi hanya aku dan kedua orang tuaku yang bisa pergi sedangkan adikku tidak boleh ikut.
Adikku menangis keras saat tahu kalau dia akan ditinggal oleh orang tua kami, aku merasa sangat bersalah karena diriku adikku juga kena imbasnya.
Aku berpikir kalau aku akan segera pulang dan adikku bisa bermain denganku lagi, adikku dititipkan ke saudari ayahku.
Saat aku berangkat dengan ambulance suasana masih sore tapi saat sampai waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, karena sudah malam jadi aku hanya beristirahat saat sampai di rumah sakit.
Keesokan harinya aku bersiap-siap untuk masuk ke ruangan operasi karena darahku akan di ambil tapi kali ini darah yang akan di ambil berada di tulang sumsumku.
kata dokter bukan darah atau tulang yang di ambil tapi hanya cairan yang berada di tulang sumsumku aku juga kurang tahu bagaimana jelasnya wajarlah aku bahkan belum lulus SD.
setelah selesai aku terbangun dari bius di sebuah ruangan khusus, itu pertama kalinya aku merasakan rasanya di bius setelah sadar sepenuhnya aku di bawa ke ruangan lain dengan posisi masih berbaring di atas tempat tidurku.
kau tahu walaupun aku sedang sakit tapi menyenangkan rasanya saat didorong berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit menggunakan tempat tidur.
aku diminta beristirahat sembari menunggu hasil pemeriksaan penyakitku, Begitulah aku melewati seminggu pertamaku di rumah sakit yang baru pertama kali aku datangi.
Aku mendengar dari ibuku katanya ada rumah untuk anak-anak sepertiku, rumah itu untuk orang tua yang menjaga anaknya dan tempat untuk tinggal untuk berobat secara rutin jadi tidak perlu bolak-balik pulang ke rumah karena pasti melelahkan.
Aku penasaran bagaimana anak-anak lainnya yang dirawat sepertiku tapi aku masih blm ada tenaga untuk berkenalan dengan orang lain.
Akhirnya hasil pemeriksaan penyakitku keluar aku sangat kaget dan tidak habis pikir saat mengetahui penyakit yang datang ke tubuhku, ternyata itu adalah penyakit kanker darah atau nama lainnya adalah leukimia.
kenapa aku mendapatkan penyakit ini? apa karena aku anak yang tidak mau pulang saat bermain? atau karena aku sering berkelahi dengan adikku?. padahal aku tidak pernah menggeluarkan kata-kata buruk, aku merasa tidak adil saat mengetahui penyakitku.
Aku mulai berpikir yang aneh-aneh seperti aku akan segera mati karena penyakitku, di dalam pikiranku kangker adalah penyakit yang pasti penderitanya akan mati seperti artis-artis di televisi yang meninggal karena kanker.
Aku mulai menjalani pengobatan kanker darah yaitu Kemoterapi tapi sebelum itu aku harus tahu efek samping kemoterapi yaitu rambut yang rontok sampai botak dan hal lainnya karena obat kangker darah bukanlah obat yang mudah diterima oleh tubuh manusia dewasa apalagi oleh anak-anak sepertiku.
tapi tiba-tiba ada yang terlewat di pikiranku seperti ada yang membisikkan nya kepadaku seperti ini
" Hei kau itu anak perempuan yang tomboy jadi kau pasti bisa menghadapi ini, percayalah!"
Aku menjalani pengobatan secara bertahap seminggu sekali jadi selama 4 hari aku aku harus menerima obat dengan cara diinfus dan minum obat juga dalam bentuk pil kalau tidak salah jumlah obat minumnya adalah 5 pil berwarna hijau muda, untungnya obatnya kecil jadi walaupun banyak aku tidak kesusahan saat meminumnya.
Sudah lewat 4 hari jadi pengobanku untuk minggu pertama berjalan dengan mulus aku tidak boleh kelelahan atau kurang darah untuk menerima obat Minggu ke dua jadi dari pada harus bolak-balik ke rumah dan kembali lagi ke rumah sakit jadi lebih baik aku tinggal di tempat penginapan khusus untuk anak-anak kangker selama aku menjalani pengobatan kanker.
Mulai saat itu rumah penginapan atau yang disebut rumah singgah telah menjadi rumah kedua ku bersama kedua orang tuaku dan menjadi keluarga bersama-sama dengan pasien lainnya dan keluarga pasien lainnya.
Jadi selama 4 hari aku menjalani pengobatan dan jika kondisi ku mendukung untuk diijinkan pulang ke rumah singgah aku bisa tinggal di rumah singgah selama 2 hari dan selama dua hari itu aku merasakan efek samping obat kemoterapi seperti muntah-muntah atau lainnya tapi setidaknya nafsu makanku membaik setelah mendapatkan pengobatan.
Saat hari minggu aku harus memeriksa darah dan lainnya karena hari Senin sudah harus menerima obat lagi dan bersiap menerima efek samping obat, jika darahku kurang tentunya aku harus transfusi darah tapi pasti aku akan diomeli ibu kata ibu saat mengetahui darahku kurang seperti ini:
" Tuh kamu kurang minum air makanya kurang darah"
"kamu kurang istirahat makanya kurang darah"
" makanya makan yang banyak supaya gak kurang darah"
ya aku tidak suka mendengarkan Omelan ibuku tapi aku juga tahu alasan ibu marah adalah untuk kebaikanku.
Ayah menuruti semua keinginanku entah itu soal makanan atau mainan, ayah juga lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku jika dibandingkan sebelum aku sakit.
"Sakit tidak terlalu buruk"
itulah pikiran bodohku karena saking senangnya menjadi pusat kasih sayang orang tua, aku teringat adikku yang menangis kencang karena ditinggal oleh orang tua dan harus tinggal bersama saudara ayah.
Bukankah aku sangat jahat? bagaimana bisa seorang kakak perempuan melakukan sesuatu sejahat ini kepada adik laki-laki satu-satunya, hanya karena diriku adikku harus ikut menderita.
Aku seperti menjadi sumber masalah di keluarga kecilku yang bahagia. kedua orang tuaku harus meluangkan waktu mereka mengurusi aku, adikku harus jauh dari orang tua padahal umurnya masih kecil, biaya pengobatan juga tidak sedikit walaupun sudah ditanggung oleh BPJS, aku tidak suka makanan rumah sakit yang rasanya hambar jadi aku selalu meminta dibelikan makanan dari luar.
Aku hampir menangis saat menulis ini.
Sudah lumayan lama aku menjalani pengobatan dan rambutku mulai rontok, ibuku mengusulkan untuk mencukur rambutku sampai habis dari pada rontok dan membuat petugas kebersihan kerepotan, aku menyetujuinya dengan berat hati.
saat dicukur habis di sebuah salon di dalam mall banyak orang yang bertanya kenapa aku mencukur rambut panjang yang sampai ke pinggang, orang tuaku menjelaskan alasannya.
Aku melihat rambutku jatuh ke lantai dari cermin di depanku, aku menangis melihatnya ibuku yang melihat aku menangis menenangkan diriku dengan berkata:
" Nanti bakal tumbuh yang baru kok"
Aku mulai tenang tapi tetap saja aku merasa sedih karena rambut adalah mahkota bagi seorang perempuan jadi semakin panjang rambutku semakin besar mahkotaku, tapi mahkotaku telah hancur karena penyakit yang tidak diundang.
sekarang aku sudah sehat dan rambutku sudah sampai di punggung aku bertekad memanjakan rambutku sampai ke lutut kakiku, sudah sekitar 2 tahun lebih aku bebas dari rumah sakit. Semoga hidup baruku kedepannya lebih terang sampai aku bisa menggapai cita-cita dan membalas jasa kedua orang tuaku dan menjaga adikku satu-satunya yang juga sudah menderita karena diriku..
Minta doanya ya semuanya, semoga ceritaku bisa dijadikan pelajaran dan aku minta maaf jika ada salah kata atau cara penulisan yang salah atau bahkan ada yang tersinggung.. Terimakasih sudah membaca.