***
Perlahan mata itu terbuka. Sesaat kemudian dahinya mengerenyit ketika mendapati suasana asing yang terlihat di depan matanya saat ini. Tangannya ia angkat untuk memijat pelipis yang terasa sakit.
"Apa ini? aku ada dimana?." gumam gadis itu. Elena.
Yang di ingatnya terakhir kali sebelum pingsan, ia berada di kamarnya sendiri. Kemudian...
Dia membuka sebuah kotak dengan bahan alumunium yang di berikan seorang nenek tua. Nenek yang ia antar pulang ke rumahnya karena tertinggal bus.
"Ah,, akhirnya kau sadar juga nek." kata seorang pria dengan hodie hitam yang saat ini tengah terduduk di depannya.
Sibuk dengan komputer yang menyala menampilkan berbagai tulisan yang entah Elen sendiri tidak tau. "S-siapa kau??? Kau mencoba memperk*sa ku ya." Elen yang panik langsung memeriksa pakaiannya yang syukurnya masih melekat di tubuhnya.
"Aku tidak gila. Sehingga akan menyetubuhi nenek ku sendiri." kata pria itu lagi masih belum mengalihkan pandangan dari komputer.
Mendapati pengakuan itu sontak Elen melotot dan menggeleng tidak percaya. Apa-apaan nenek, mana mungkin? punya suami dan anak saja belum apalagi cucu. "Hei, kau bocah bodoh jangan bicara sembarangan ya."
"Huh dasar manusia era-
"Kakak apa yang kau lakukan pada nenek itu tidak benar. Dia tentu saja bingung, karena dia baru saja tiba." suara seorang gadis kembali menggema di kamar itu.
What nenek buyut. Sebenarnya apa yang terjadi?.
Gadis yang baru saja mengomeli pria itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Elen dan tersenyum. Berjalan mendekat lalu duduk di sisi Elen yang kosong. Terus memperhatikan Elen lamat-lamat dari dekat sambil tersenyum. "Wah benar kata ayah. Nenek sangat cantik ketika masih muda."
Penuturan tersebut sontak membuat Elen menoleh. "A-apa maksudmu. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil ayah. Dia yang akan menjelaskan semuanya." gadis itu kemudian beranjak pergi dari sana.
"Elen-elen kehidupan remaja mu benar-benar mengenaskan ya." Setelah kepergian gadis tadi pria tadi kembali bersuara membuat Elen melotot bingung. "Hanya berdiam diri di kamar sambil memainkan sebuah benda pipih. Membaca sebuah cerita klise remaja tidak berguna. Menonton film romansa remaja. Menganggumi seorang pria yang bahkan tidak mengenalmu. Selain itu kau juga bodoh dalam pelajaran."
"Hei kau bilang. Kau cucuku, mana ada cucu yang mengatakan hal seperti itu pada nenek nya."
"Akhirnya kau mengakui ku juga," kata anak itu datar. "Coba kau buka tirai di jendela itu, kau pasti akan suka."
Meskipun sedikit kesal gadis itu tetap berdiri menuju jendela kamar untuk membuka tirai yang tadi di bicarakan anak laki-laki itu.
Srekk.
Tirai terbuka setelah Elen membukanya sesaat kemudian matanya melebar, otaknya berhenti berpikir. Kesadarannya juga seolah di tarik secara paksa.
Brukk.
Gadis itu pingsan setelah melihat berbagai kendaraan berlalu lalang di udara juga gedung-gedung tinggi yang berdiri di sekeliling rumah ini. Membuat dua orang yang baru saja datang bingung.
"Sudah ku bilang membawa manusia kuno ke masa depan tidak akan merubah apapun." Kata anak laki-laki tadi masih fokus pada layar komputer.
"Erik/kakak." teriak dua orang barusan berbarengan.
******
Ini sudah hampir sebulan lebih Elen tinggal di tahun 2062 dan dia menemukan banyak hal baru di sini. Tentu saja karena ini bukan eranya, 2021. Dia sudah tau semuanya, pria dewasa yang merupakan ayah dari dua anak di kamar saat itu adalah anaknya. Riko. Dua pasang anak lainnya adalah cucu darinya Erik dan Nana. Sementara ada seorang wanita lagi menantunya. Dian. Dia bersyukur keturunan nya hidup dengan baik dan normal di era globalisasi yang semakin kejam.
Soal seorang nenek yang membawanya ke era ini dia adalah dirinya sendiri. Ah Elen tidak pernah berfikir kalau dirinya sebodoh itu untuk mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk kembali ke masa lalu. Oh mungkin karena Elen muda sempat membuat keinginan untuk datang ke masa depan.
Ya jika orang masa depan bertemu dirinya
sendiri di masa lalu maka salah satunya akan mati.
"Nenek tidak bodoh." suara Erik membuyarkan lamunan Elen yang tengah memandang langit malam saat ini.
Keduanya kemudian terdiam. Masih sibuk melihat kendaraan yang berlalu lalang di udara, suasana bumi di era ini sangat ramai. Bukan ramai akan manusia karena sebagian besar penghuni bumi di tahun ini adalah robot/mesin.
"Dia lebih tau dari kau. Bisa kau bayangkan dia melihat orang yang ia sayangi pergi satu persatu, orang tua, kakak, teman-teman bahkan suami yang sangat ia cintai." ucap Erik. Membuat Elen tertegun.
Benar, betapa menyedihkan hidupnya. Disisi lain juga ia merasa bangga karena memiliki keturunan seperti Erik yang memiliki pemikiran dewasa di usia 14 tahun. Sudut bibirnya tertarik, sebuah senyum tulus terbit di sana.
"Ya ampun cucuku. pemikiran nya dewasa sekali."
"Karena nenek yang mengajari ku. Kau tau nek, meskipun kau bodoh tapi aku bangga menjadi cucu mu karena kau memiliki hati yang tulus. Setiap petuah yang kau berikan. Semuanya adalah benar-
-Era ini menyedihkan nek, orang-orang mulai bertindak semaunya. Bahkan Tuhan sudah bukan sesuatu yang di takuti di era ini." Erik terkekeh sambil menggenggam pagar besi di hadapannya kuat. "Jika aku bisa memilih. Aku ingin hidup di Era mu dimana orang-orang masih ber interaksi satu sama lain. Sekarang kita ber interaksi dengan robot yang bahkan kita sendirilah penciptanya. Era ini mesin lah pemimpin nya."
"Erik,"
Elen menarik anak itu ke hadapannya kemudian memeluknya erat dalam dekapan. "Nenek tau. Semakin hari dunia memang semakin kejam, manusia semakin rakus di setiap era. Kau kebanggaan ku tolong jangan kecewakan aku."
Tangan Elen terangkat ikut memeluk sang nenek perlahan air matanya turun. Jujur ini pertama kalinya Erik menangis di hadapan wanita ini. "Nek. aku tau pembicaraan ku sedikit melenceng. Tapi percaya atau tidak aku sering di sebut mirip kakek."
Suasana haru itu kemudian hilang. Elen berhenti menangis dan melepas pelukannya, telapak tangan itu ia bawa untuk menangkup wajah sang cucu. Di tatap lamat-lamat wajah itu. "Ya wajah mu memang familiar tapi aku lupa. Kau mirip siapa."
"Huh sudah lah ayo tidur. Sudah larut"
Erika pergi masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Elen yang masih berfikir di tempatnya berdiri.
"Ibu ayo masuk. Ini sudah larut malam." panggil Riko. anaknya dari dalam rumah.
Huh lucu sebenarnya Elen yang bahkan masih berusia 18 tahun sudah di panggil ibu dan nenek. Kemudian wanita itu masuk ke dalam dan tidur bersama Nana yang sudah tertidur sedari tadi.
*****
"Elen bangun, Elen ini sudah siang nak. apa kau tak akan ke sekolah?."
Gadis itu membuka mata dan mendapati ibunya yang melotot. "Cepet mandi dan berangkat sekolah." kemudian ibunya pergi.
"Ck, hanya mimpi. Tapi terlihat nyata. Semoga itu memang nyata. Karena jika anak dan cucu ku tampan berarti suamiku juga tampan." kata Elen sambil jalan tertatih ke kamar mandi.
Tak menyadari bocah berusia 14 tahun yang tersenyum kecil melihat tingkah sang nenek. Kemudian Pandangannya beralih ke arah poster yang menunjukkan wajah tampan seorang pria. Idola neneknya. Elen.
"Apa kabar kek?."
~END~
Terserahlah gaje juga yang penting ikut berpartisipasi dalam event mangatoon. Jangan lupa like weyyy, walaupun gaje gini pegel tau nulisnya.
Follow aku, ntar ku follback 🌚