"Orang yang aku kagumi selama ini ternyata adalah seorang alien?!"
=•=•=•=•=•=•=•
Namaku Ara Natsuhiko, usiaku lima belas tahun. Saat ini, aku masih kelas 1 SMA. Hari ini, sepertinya bukan hari baikku, aku sial sekali hari ini. Aku dituduh telah merusak buku milik sekolah, dan juga dituduh telah memecahkan kaca jendela kelas ini. Bukan hanya itu, aku juga seorang siswi yang tak begitu pintar, dan hidup dikeluarga yang pas-pasan. Itu yang menyebabkan aku selalu dirudung oleh mereka. 'Mereka' yang aku maksud adalah orang-orang satu kelasku. Aku tidak mau menganggap mereka sebagai teman. Memang tidak baik sih, apa yang perasaanku lakukan terhadap mereka, tapi lihatlah kelakuan mereka padaku di dunia nyata!
Sekarang sudah jam pulang sekolah, aku sedang dalam masa hukuman membersihkan kelas, siswa-siswi yang hari ini piket, mereka boleh pulang dan digantikan olehku. Hahh..
Aku menghela napas pelan, sambil memunguti sampah-sampah kertas yang tadi mereka buat. Ya, mereka sengaja. Mereka sengaja menumpahkan tempat sampah supaya hukumanku untuk membersihkan kelas jadi makin banyak.
Hah.. Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Melaporkannya pada guru pun tak ada gunanya. Mentang-mentang mereka berasal dari keluarga elit, aku jadi tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin sudah takdirku.
Saat ini, sudah jam setengah enam sore. Aku baru saja selesai membersihkan kelas, saat suasana sekolah sudah seperti kuburan, sangat sepi. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju rumahku.
Sekitar tiga ratus meter, aku sudah sampai ke rumah. Rumah yang tak terlalu besar tapi nyaman, dengan desain yang sederhana.
"Tadaima!" Ucapku, setelah itu, aku pun masuk ke dalam rumah. Disana, ibu dan ayahku sudah menungguku di ruang tamu.
"Ara, kenapa kau pulang terlambat?" Tanya ayahku sambil melipat lengannya di depan dada.
"Mereka.. Mereka melakukannya padaku lagi.." ucapku lirih, ayah dan ibuku memang sudah tau. Tapi, ya begitulah.
"Kamu yang sabar, Ara. Suatu saat, mereka pasti akan jera." Ucap ibuku menenangkan aku, sambil memelukku.
"Iya ibu, aku akan mandi saja." Ucapku, kemudian aku pun pergi ke belakang untuk mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku tetap di dalam kamar. Sudah menjadi kebiasaanku. Setelah mandi sore, aku mengerjakan PR-ku, lumayan menumpuk, ada dua tugas kemarin yang juga belum aku kerjakan.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•==•=•=•=•=•=•
Keesokan harinya, aku bangun pagi seperti biasa. Bangun jam lima pagi. Aku pergi ke dapur untuk membantu ibuku, sebelum bersiap berangkat ke sekolah. Di sana ada ayah dan ibu.
"Ohayou Otou-san, Okaa-san." Sapaku ketika aku baru bangun tidur.
"Ohayou, Ara-chan." Balas ayahku yang sedang duduk dimeja makan, sedang menikmati teh hangatnya.
"Oh iya, Ara. Ayah punya berita bagus untukmu." Ucap ayahku. Seketika aku langsung tertarik dengan 'berita bagus' yang barusan ayah beri tau.
"Berita bagus apa, ayah?" Tanyaku antusias.
"Mulai hari ini, kau tidak akan sekolah di sana lagi. Sekarang kau sekolah di SMA 3 Chiba." Ucap ayahku sambil tersenyum.
"Apa? Benarkah ayah?"
"Ya, sekarang ayah sudah mendapatkan pekerjaan yang hasilnya bisa lumayan. Jadi, bisa membiayai kamu untuk pindah sekolah. Kau sekolah yang sungguh-sungguh ya."
Seketika aku memeluk ayahku. Aku benar-benar senang. Sampai rasanya aku ingin berteriak, tapi sekarang masih terlalu pagi, bisa-bisa aku mengganggu tetangga kalau aku berteriak.
"Arigatou Gozhaimasu, Otou-san."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Saat yang aku tunggu-tunggu, berangkat ke sekolah. Meskipun jarak SMA 3 Chiba lebih jauh daripada sekolah-ku kemarin, tetapi aku tetap bersemangat.
Hari pertamaku sekolah, sangat berbeda dengan saat di sekolah yang kemarin. Belum apa-apa, aku sudah mendapatkan dua orang teman. Namanya Miku dan Vio. Dilihat dari perlakuan mereka padaku, sudah jelas mereka adalah orang baik-baik.
Mereka berdua sangat baik dan menyenangkan. Mereka mengajakku untuk berkeliling sekolah, ke perpustakaan, ke kantin. Dan.. mereka juga mengenalkan diriku dengan siswa yang paling terkenal di sekolah ini. Namanya Kay Ogura. Dia tampan dan juga sangat pintar. Dia teman sekelasku. Aku duduk tepat di belakangnya.
Beberapa bulan aku bersekolah di sini. Berjalan normal, aku tak lagi menjadi bahan bully-an. Siswa-siswi di sini sangat baik. Tapi, Kay selalu bersikap dingin padaku, tidak, semua orang. Dia sangat irit bicara, bahkan jumlah kata-kata yang dia ucapkan dalam sehari masih bisa dihitung. Meskipun begitu, dia sangat rajin. Dia selalu mengerjakan tugas tepat waktu, dan juga selalu mendapat nilai sempurna, saat ulangan harian pun juga begitu. Ada sedikit hal aneh darinya, menurutku. Selama aku sekolah di sini, aku belum pernah melihatnya makan di kantin sekolah, bahkan hanya sekedar berkunjung ke sana pun tidak pernah. Mungkin itu hal sepele, bisa saja dia sudah membawa bekal.
Hingga suatu hari, saat kami baru terbebas dari ujian akhir semester. Aku, Miku dan Vio sedang melihat kertas pengumuman yang ditempel di mading. Terdapat nama 'Kay Ogura' dibaris paling atas, dia mendapatkan peringkat pertama. Sedangkan namaku, 'Ara Natsuhiko' terdapat dibarisan ke delapan dari atas. Vio mendapat peringkat kedua, dan Miku kelima.
"Dia selalu saja dapat membuatku terkagum-kagum." Ucapku lirih, Miku dan Vio menatapku.
"Siapa?" Tanya mereka hampir bersamaan.
"Kay, dia selalu mendapat nilai yang baik, tak sepertiku." Balasku masih sambil menatap nama yang paling atas.
"Iya, tak seperti kami juga. Kira-kira, apa dia menggunakan cara rahasia?" Tanya Miku sambil juga memandang ke arah yang sama sepertiku.
"Vio, apa kau pernah mengalahkan dia?" Tanyaku pada Vio.
"Tidak, bahkan jika peringkat kami berdekatan seperti ini, selisih nilai kami saja sangat banyak." Balas Vio sambil menatapku.
"Apa, kalian tau di mana rumahnya?" Tanyaku dengan nada pelan.
"Tidak," balas Miku dan Vio bersamaan.
"Memangnya jika kau sudah tau alamat rumahnya, apa yang akan kau lakukan, Ara?" Tanya Miku.
"Haha.. tidak apa. Hanya ingin tau." Balasku sambil memegang tengkukku.
"Apa yang akan terjadi jika ada yang berhasil mengalahkan rekor Kay?" Tanyaku dalam hati. Tanpa sepengetahuanku, ada seseorang yang menatapku dengan tatapan aneh.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
"Kami pulang duluan ya," ucap Vio sambil mengambil tasnya. Begitupun dengan Miku.
"Haik! Hati-hati di jalan." Balasku sambil memasang senyuman. Hari ini, jatahku piket kelas. Jadi, aku akan pulang lebih lambat sedikit. Aku mulai membersihkan kelasku, kelas 1 C. Tidak terlalu kotor sih, tapi membersihkan kelas memang tanggung jawabku hari ini.
Saat aku hendak membersihkan tempat duduknya Kay, tiba-tiba..
"Jangan sentuh!" Ucap seseorang tepat dari arah belakangku. Dia juga memegang pergelangan tanganku yang hendak menggeser sedikit kursinya supaya jadi lebih mudah dibersihkan.
"Ogura-san, ada apa?" Tanyaku sambil berbalik. Perlahan-lahan, aku juga menarik tangan kananku yang tadi sempat dia genggam.
"Biar aku saja," ucapnya sambil memberiku tatapan dingin. Hal itu membuatku bergidik.
"H.. haik." Balasku singkat, kemudian aku segera menyingkir saja. Hari ini, memang tak hanya aku yang bertugas untuk piket. Ada dua orang lagi, yaitu Kay dan juga Shiika, tapi Shiika tidak berangkat hari ini.
Tanpa aku sadari, aku melamun. Pikiranku kosong. Hingga aku tersadar setelah Kay yang menyadarkan aku.
"Kenapa melamun?" Tanyanya dengan nada datarnya.
"Tidak apa-apa." Aku menggeleng pelan. Kemudian lanjut membersihkan tempat duduk yang lain.
Empat puluh menit kemudian, akhirnya kami selesai membersihkan kelas. Kelas sudah rapi dan bersih. Sekarang aku sudah boleh pulang, tapi aku teringat kalau tadi kami diberi tugas matematika, dan aku tak terlalu paham materinya. Kemudian..
"A.. Ano, Ogura-san." Ucapku dengan sedikit ragu. Dia menatapku tanpa bertanya.
"B.. boleh aku bertanya?" Ucapku lagi, kali ini aku tak berani menatapnya.
"Apa?" Balasnya.
"A.. aku ingin bertanya tentang tugas matematika yang tadi. Aku tidak mengerti." Ucapku sambil menunjukkan buku latihan milikku.
"Nomor berapa?"
"Semua." Setelah aku menjawab, dia kembali menatapku dengan tatapan tajamnya. Kemudian berbisik.
"Jangan beri tau siapa-siapa." Bisiknya. Aku langsung mengangguk.
"Oh iya, sampah di sana belum dibuang. Kau buang dulu sana," lanjutnya sambil mengedikkan dagunya ke arah tempat sampah disudut ruangan.
Ini untuk kebaikanku juga, jadi aku lakukan saja. Aku pun membuang sampah yang terdapat didalam tempat sampah itu. Setelah aku kembali, aku melihat Kay sudah tidak ada di kelas. Tasnya juga sudah tidak ada. Apakah dia pulang? Dia sudah mengelabui aku! Tapi, aku sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Pahami sendiri, aku sudah berikan caranya juga, aku pulang duluan karena aku buru-buru." Di atas bukuku, terdapat surat kecil yang bertuliskan seperti itu. Tugas matematika ku juga sudah dia kerjakan, cepat sekali. Padahal tidak sampai sepuluh menit aku meninggalkannya. Aku akan berterima kasih padanya. Malam ini, aku tak perlu mengerjakan pr lagi, yeey! Tapi, tunggu. Jangan bodoh, Ara! Cek lagi jawaban yang diberikan Kay tadi. Siapa tau ada yang salah.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Di tempat waktu yang sudah berbeda. Kay baru saja pulang ke rumahnya. Rumah yang interiornya cukup aneh bagi orang biasa. Interiornya banyak peralatan, benda-benda aneh, dan tampilannya seperti berada di dalam pesawat. Sedangkan eksteriornya sama seperti rumah pada umumnya.
"Kau sudah pulang?" Tanya seseorang (bukan orang) yang lain. Dia memang seperti manusia, tapi sedikit berbeda. Dia mempunyai sepasang sungut sebagai telinga, dan juga bola matanya berwarna oranye. Dia bernama Ziyyu.
"Ya," jawab Kay singkat. Kemudian, orang tadi menembakkan sesuatu pada Kay. Seketika, Kay berubah menjadi makhluk sepertinya.
"Tugas kita di Bumi sudah selesai. Saatnya kita kembali ke planet kita." Ucapnya sambil tersenyum, namun Kay menundukkan kepalanya.
"Bisakah kita pulang besok sore saja?" Ucap Kay pelan.
"Kenapa?"
"Aku masih ingin di sini."
"Apa kau ingin bersenang-senang dengan manusia Bumi?"
"Hmm, ya." Jawab Kay masih dengan ekspresinya yang sama.
"Hmm baiklah. Tapi, alat ini sedikit rusak, kau harus berhati-hati, jangan sampai identitas aslimu diketahui." Ucap Ziyyu memperingatkan, sambil menunjukkan alat yang dia gunakan untuk menembak Kay tadi.
"Apa yang akan terjadi jika identitasku sampai diketahui?" Tanya Kay sambil sedikit mendongakkan kepalanya.
"Kau tak akan bisa bertahan di planet ini."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Keesokan harinya, hari Rabu. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah sendiri, karena rumah Miku dan Vio berlawanan arah denganku dan cukup jauh juga.
Sesampainya di kelas, ternyata masih sepi. Tapi, sudah ada satu orang. Dia adalah Kay Ogura. Aku memberanikan diri untuk menyapanya.
"Ohayou, Ogura-san." Sapaku.
"Ohayou," balasnya, kali ini dia menjadi lebih ber-ekspresi dan juga tersenyum padaku. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Benar-benar tampan. Ah! Apa yang aku bicarakan?
"Panggilan saja aku Kay." Ucapnya lagi sambil beranjak dari tempat duduknya. Kemudian berdiri berhadapan denganku. Jantungku berdebar-debar.
"H.. haik." Balasku sambil memalingkan wajahku, sebab kurasa wajahku mulai memerah.
"Ara, apa kau tidak membawa baju olahraga?" Tanya Kay. Pertanyaannya benar-benar di luar dugaanku. Tapi, dia memang benar.
"Ah! Aku lupa. Bagaimana ini.." aku mulai bingung. Pertanyaannya berhasil mengingatkan aku bahwa hari ini ada pelajaran pendidikan jasmani.
"Kau bisa pakai punyaku,"
"Apa? Ah, tidak perlu, biarkan saja aku nanti dihukum."
Di depan pintu masuk, ada seseorang yang mengawasi mereka sejak tadi. Perasaan bercampur aduk. Tapi intinya, dia cemburu.
"Ara, Kay adalah milikku. Aku tak akan membiarkanmu!" Batinnya sambil memasang ekspresi kesal dan marah. Dia adalah Aika, dari kelas 1 B. Setelah itu, dia langsung saja pergi meninggalkan tempat itu.
"Hmm ah iya! Arigatou Gozhaimasu, buat yang kemarin. Setelah aku cek, ternyata benar semua." ucapku.
"Tentu saja, dan sama-sama." balas Kay sambil memegang bahu kananku. Haah.. akunya kan tambah berdebar-debar.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Dua jam kemudian, pelajaran penjas sedang berlangsung di kelasku. Tapi, aku tidak ikut olahraga, sebab aku lupa membawa baju olahraga. Aku hanya duduk di kursi taman sambil memandang mereka. Bukan hanya aku siih, yang tak membawa pakaian olahraga. Miku juga tak membawa, kami sudah seperti janjian saja, padahal tidak.
"Ara," Miku memanggilku.
"Iya? Kenapa?" tanyaku.
"Apa.. Kau menyukai Kay?"
"Hee, apa maksudmu?"
"Aku ulangi lagi, apa kau menyukai Kay?"
"E.. entahlah. Aku tidak tau."
"Hehe.. tak perlu malu. Aku sudah tau dari reaksimu. Wajahmu memerah. Imut sekali, haha.."
"A.. aku hanya merasa panas, aku akan pergi sebentar." ucapku kemudian segera berjalan cepat meninggalkan Miku.
Aku pergi untuk mencuci tangan. Akhir-akhir ini, aku sering sekali mencuci tangan. Menjaga kebersihan dan kesehatan. Ketika itu, aku merasakan ada seseorang di belakangku, tapi ketika aku menoleh, tak ada siapapun.
Tak lama kemudian, setelah aku selesai mencuci tangan, aku hendak pergi ke sana lagi. Tapi.. aku terpeleset di dekat pintu keluar. Pertamanya aku baik-baik saja, tapi saat aku mencoba untuk berdiri, aku kembali terpeleset untuk yang kedua kalinya.
Lantainya sangat licin, aku tau lantai ini memang sengaja diberi pelicin. Saat itu juga, punggung tangan kananku terbentur pinggiran wastafel. Ugh! Sakit sekali. Tapi untung saja kepalaku tidak ikut terbentur.
Kemudian, aku berdiam diri di sana untuk beberapa saat. Lima menit kemudian, tanpa kuduga, Kay datang dan menghampiriku.
"Ara, kau kenapa?" tanyanya panik sambil berjongkok dihadapan aku. Dia baik-baik saja saat menginjaknya.
"Hanya terpeleset." jawabku pelan.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Kay sambil membantuku berdiri.
"Aku baik-baik saja."
"Bohong, aku tau kau terluka 'KAN?"
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Di tempat lain dan waktu yang sama. Ziyyu sedang mengutak-atik komputernya. Hingga..
"Tunggu saja, Kay. Kau menolak kembali kemarin, maka kau tak akan bisa kembali dan mati di sini. Hahahaha!" Ziyyu tertawa psikopat. Apakah sebenarnya dia itu jahat?
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Kembali ke posisiku. Tiba-tiba, aku melihat seperti tanduk di atas kepala Kay.
"K.. Kay, itu apa?" tanyaku padanya sambil menatap atas kepala Kay. Tanduk tersebut masih tumbuh, dan akan menjadi sungut. Bola matanya juga perlahan berubah warna.
"Apa?" tanya Kay sambil mengusap atas kepalanya. Dia menyentuh tanduknya tersebut.
"Ziyyu, teganya dirimu.." gumam Kay, tapi aku masih dapat mendengarnya.
"Kay, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku khawatir. Dia memasang ekspresi serius.
"Ara, sekarang sudah jam istirahat. Jadi aku tak akan mengatakannya di sini. Kita akan pergi ke tempat sepi sebelum mulai ramai." ucap Kay sambil menggandeng tanganku menuju pintu keluar. Tapi, sebelum sampai di luar, keadaan sudah ramai. Banyak siswa-siswi berlalu-lalang disekitar sana.
"Kay, kita tak akan terjebak di sini." ucapku sambil melepas jas milikku. Saat itu, aku hanya tinggal memakai seragam pendek. Kemudian, aku memberikan jas tadi pada Kay. Dia menatapku dengan tatapan bertanya.
"Untuk menutupi kepalamu."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Akhirnya aku sampai di balkon sekolah yang sepi. Saat ini pula, tanduk kecil Kay sudah berubah menjadi sungut yang panjangnya sekitar dua puluh sentimeter.
"Sebenarnya, ada apa Kay?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kalau aku memberitahumu, apakah kau akan percaya?" Kay balik bertanya.
"Kenapa tidak? Yang kau katakan selalu benar dan masuk akal." jawabku.
"Sebenarnya, aku adalah alien yang menyamar sebagai anak SMA. Kay itu sebenarnya tidak ada, hanya karanganku. Aku sudah agak lama berada di sini. Aku mempelajari banyak hal. Terutama tentang manusia. Jadi, apakah kau percaya padaku?" tanya Kay setelah menjelaskan. Aku mengangguk pelan. Dia tersenyum. Kay versi alien tiga kali lipat lebih tampan daripada versi manusia!
"Terima kasih sudah percaya padaku. Tapi sayangnya, aku tak bisa lama-lama di sini dalam keadaan menjadi alien seperti ini. Hanya bisa bertahan sepuluh menit."
"Apa?" aku terkejut mendengarnya.
"Ya, hanya sepuluh menit. Jadi, sebagai rasa terima kasih ku padamu.." Kay menggenggam tangan kananku. Kemudian mengecup punggung tanganku yang memerah akibat terbentur tadi. Dan seketika, rasa sakitnya hilang.
"Sayonara, Ara-chan. Aishiteru.." ucapnya kemudian tubuhnya mulai lenyap dari pandanganku.
"Kay, jangan pergi Kay! Jangan tinggalkan aku! KAAAAAAAYYY!" Aku berteriak, meskipun aku yakin dia tak akan bisa mendengarnya.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
"KAAAAAAAYYY!!!" aku berteriak, dengan napas yang terengah-engah seperti orang yang habis lari maraton keliling kota. Keringat dingin membasahi wajah dan telapak tanganku. Ternyata hanya mimpi.
Aku kembali merebahkan tubuhku. Mataku berkaca-kaca. Mimpiku benar-benar terasa nyata. Aku memang tak bisa lari dari takdirku. Aku harap, aku bisa bertemu dengan Kay Ogura.
~ TAMAT ~
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Terima kasih sudah membaca cerpen yang nggak jelas ini. Nama 'Ara' terinspirasi dari namaku. Nama tokoh yang lainnya terinspirasi dari tokoh anime dan seseorang.
Oh iya, ini cerpen 'Alien in the School' yang aku bilangin di novel keduaku.
Jangan lupa like, dan komen ya!