“Hey lelaki yang termenung, ampunan Tuhan maha luas. Bertobatlah engkau” kata seorang perempuan.
“Apakah Tuhan ingin menerima taubat pendosa sepertiku?” tanyanya.
“Bagi-Nya kita ini sama, dia tak pandang bulu terhadap siapa pun mahluk-Nya. Biarpun itu ulama, raja, priayi, ataupun Pendosa, mereka semua sama dimata-Nya” setelah perempuan itu mengatakan hal tersebut, lelaki itu langsung terbangun.
**
Dalam satu bulan terakhir, lelaki yang akrab di panggil dengan Batara selalu di hantui oleh perempuan yang sama dalam tidurnya. seorang Perempuan masuk ke dalam mimpinya dan mengetuk dunia fiksinya. Dalam mimpinya, perempuan itu mengingatkan batara untuk bertobat atas tindak kriminal yang pernah dia lakukan selama ini.
Keluarganya telah membuangnya, bukan tanpa sebab, melainkan karena banyaknya rentetan kasus kriminal yang telah dia perbuat. keluarganya geram dan mengusirnya dari rumah. Tak ada teman, ataupun sahabat. Dia hanya seorang diri, Tidur di taman dan mencari sesuap nasi di jalan.
Sedari remaja hingga dewasa jeruji besi sangat akrab dengannya, dia selalu keluar masuk penjara dengan kasus yang berbeda-beda. Mulai dari narkoba, mencuri, dan baru-baru ini dia masuk kembali atas kasus pembunuhan. Depan hakim Batara mengatakan hal yang melatarbelakanginya dalam melakukan tindak krimanal adalah atas hasrat dan kesenangannya belaka, dia telah terperangkap dalam lingkaran setan yang baginya mustahil bisa keluar.
***
“Perempuan itu lagi” pikir Batara. Batara mulai berdiri dari tempat tidurnya, dia pergi ke wastafel yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Dalam penjara yang menahannya tidak ada hal yang mewah, hanya ada wastafel dan tempat tidur yang hanya beralaskan papan. Batara menghidupkan kran lalu membasuh mukanya dengan air, Setelahnya ia menatap cermin yang tergantung dari atas wastafel, dari balik cermin terlihat rambutnya yang gondrong, lusuh, muka yang oval dengan balutan brewok, hidung mancung, mata yang tajam bak mata elang, dan kulit yang sawo matang. Tubuhnya dibalut dengan baju hitam bertuliskan tahanan. Dari balik cermin itu hatinya bertanya “siapa aku?, Kenapa aku sperti ini?, apakah surga akan menjadi tempat ku nantinya?”. Tidak lama pertanyaan berlangsung, sipir pun membukakan jeruji besi yang mengurungnya.
Setiap pagi sipir selalu membukakan pintu penjara dari para tahanan. Bukan tanpa sebab, Para tahanan di paksa untuk bekerja sebagai pemecah batu alam. Batu-batu yang mereka pecah berasal dari gunung selatan Athenan(provinsi yang menjadi tempat batara tinggal). Batu itu nantinya akan dikirim ke pusat kota untuk di jual. jika seorang penghuni penjara tidak mau bekerja, maka mereka tidak akan mendapatkan jatah makan untuk hari ini. Saat matahari terbit, mobil truk mulai berdatangan ke penjara-penjara di Athenan. Semua truk membawa batu alam besar yang nantinya akan di pecahkan secara manual oleh para tahanan penjara.
Batara mulai mengambil godam panjang, ia berjalan menuju lapangan tempat para tahanan lain berkumpul. Di lapangan itu semua orang tampak lesu, energi yang keluar tidak sesuai dengan energi yang masuk, mereka berkeja dari fajar sampai senja dan di beri makan hanya pada malam hari saja. Banyak juga para tahanan yang tidak berkerja. Mereka tidak sanggup, dengan sipir yang selalu memecut mereka seperti binatang. Sipir pikir, mereka hanyalah kriminal yang layak dilakukan dengan cara kriminal. Sipir tidak melihat di balik sisi kriminal mereka sama, sama-sama perlu makan, sama-sama perlu minum, dan sama-sama memiliki batas dalam bekerja. Para tahanan yang tidak bekerja, mereka hanya berdiam diri di penjara, tanpa ada sedikit makanan yang di bagi dari pihak penjara. Mereka hanya menunggu sampai izrail sang pencabut nyawa menjemput.
***
Pada hari ini Batara begitu tidak bertenaga, dia sangat letih, matanya terasa berat, pandangan nya pun nanar. Hal itu terjadi karena beberapa bulan terakhir dia selalu terjaga dalam tidurnya. Perempuan aneh itu masuk ke dalam mimpinya, Dia merenggut tidurnya dengan menjelma sebagai sosok wanita yang cantik. Dalam mimpinya, Wanita itu selalu membawa Batara ke tempat-tempat indah yang belum pernah dia jumpai. Batara tak mengenali siapa sosok perempuan aneh itu. Dalam hidupnya, hanya dalam mimpi saja dia melihatnya.
“kerja yang becus” teriak sipir ke pada Batara. Sipir lalu memecut Batara dengan cambuk panjang, Batara pun terduduk, tubuhnya yang hampir jatuh dia topangkan sekuat tenaga di godam panjang. “Tuhan hanya Kau yang mengetahui segala isi hati. Aku membunuh bukan atas naluri. Di depan hakim Aku berkata ‘Aku membunuh karena hasrat dan kesenangan belaka’. Depan hakim memang demikian ceritanya, tetapi di depan Mu, bukan demikian adanya. Biarlah kau yang mengetahui segala kebenaran ini.” Dua bulan lalu Batara membunuh seorang anak kongmolerat. Batara melakukan hal itu karena sebuah urgensi, dia melihat anak kongmolerat memperkosa seorang wanita dari balik gang. Terlihat dua bodygurd dari anak kongmolerat hanya berjaga-jaga di depan gang. Melihat hal yang tidak manusiawi, Batarapun langsung membela perempuan itu. Berbekal ilmu bela diri, dua bodygurd itu tumbang. Melihat anak buahnya yang tumbang, dari dalam jas hitam, anak kongmolerat itu mengeluarkan belati. Pertarungan tidak imbang pun terjadi, anak kongmolerat terus mengayunkan belatinya ke arah Batara. Batara yang tersudut langsung mengambil kayu besar yang berada di dekatnya. Dengan sekuat tenaga dipukulkannya kayu itu ke kepala anak kongmolerat. Anak kongmolerat itu pun mati dengan satu ayunan yang kuat dari Batara. Setelah anak kongmolerat itu mati keluarganya mengancam. “tutup kebenaran, jika keluarga mu mau selamat”. Batara pasrah, keluarga nya memang membuangnya, tetapi rasa kekeluargaannya masih ada. Dia rela berkorban asal keluarganya jangan di usik oleh kapitalis itu.
Dari balik penjara, ratapan doa selalu dia haturkan kepada Sang Esa. Tetangga tahanan yang mendengar selalu berkata "Doa mu tak akan di dengar oleh Nya wahai anak muda". Batara percaya, doanya pasti akan di dengar oleh Tuhan, dia teringat dengan perkataan dari wanita itu yang mengatakan "jika engkau belum mampu berdoa dengan khusuk, tetaplah persembahkan doamu yang kering munafik tanpa keyakinan itu. karena Tuhan dengan rahmatnya akan tetap menerima mata uang palsumu".
“Ya tuhan, jika kasih mu hanya bagi yang berhati suci. Kemanakah para pendosa mencari perlindungan. Ya tuhan, Apakah salah aku membunuh karena membela kehormatan perempuan?, Ya tuhan, jangan campakkan aku kenerakamu, karena aku tidak sanggup menahan pedihnya siksa Mu. Ya tuhan, dengarlah ratapan dari pendosa yang hina ini." doa yang selalu batara haturkan kepada sang Esa.
***
Matahari telah tenggelam, semua orang yang bekerja di lapangan telah kembali ke penjaranya masing-masing, kecuali Dia, terbaring tak berdaya di lapangan, badannya penuh darah, napasnya tak beraturan, pandangannya menghitam. Dalam pandangnya dia melihat secercah cahaya kecil. cahaya itu semakin lama semakin besar, suasana pun berubah menjadi sel tahanannya(penjara). Di dalam penjaranya, Dia melihat ada dirinya yang tengah menatap cermin depan wastafel. Batara merasa heran “bukankah itu adalah aku, kenapa aku bisa melihat diriku sendiri?, apakah aku sudah mati?” begitulah pikirnya.
Batara depan wastafel berkata “siapa aku?”. Mendengar itu, dia langsung teringat “bukankah itu pertanyaanku pagi tadi” pikirnya. Tiba-tiba dari belakang batara depan wastafel, muncul sosok perempuan yang tidak asing seraya berkata “pendosa”. Batara depan wastafel melanjutkan kembali perkataan nya “kenapa aku seperti ini?”. lalu perempuan yang tidak asing itu menjawab “karena ketakutan mu bukan terhadap Tuhan, melainkan terhadap mahluk-Nya.”. Batara depan wastafel melanjutkan kembali perkataannya “apakah surga akan menjadi tempatku nantinya?”. perempuan itu pun terdiam. Batara terbangun dari pingsannya, tampak hari telah gelap, bulan telah bersinar dengan indah, cahayanya menerangi semua pelosok penjara. Hanya Dia seorang yang tersisa di lapangan, Para sipir tampak tidak ada yang membantunya, para sipir beraganggapan Dia telah mati, sipir pun mebiarkan saja jasad itu tergeletak sampai menyatu dengan tanah. Merasa pulih, batara pun membagunkan badannya, dia berjalan masuk ke penjara yang menahannya. Di depan ruang penjaranya tampak sipir terkejut melihat kedatangan dari lelaki itu “bukankah kau sudah mati?” tanya sipir yang berjaga di depan penjara. Batara tidak menghiraukan perkataan dari sipir itu, Dia masuk begitu saja ke dalam ruang penjaranya. Sipir yang berjaga pun mengunci penjaranya seraya berkata lagi “semua sipir di penjara menganggap engkau mati, kalo aku jadi kamu, pasti sedari tadi aku telah melarikan diri dari penjara ini” kata sipir tersebut.
Batara membasuh mukanya dengan air yang mengalir dari wastafel, terlihat jelas wajah lusuh dari balik cermin retak yang tergantung atas wastafel “jika aku lari dari penjara ini, pasti kalian akan dapat mencari ku, walau aku bersembunyi di dalam goa sekali pun suatu saat jasadku pasti akan di temukan. Lebih baik aku membusuk di penjara ini. Di luar pun tak ada gunanya bagiku. keluargaku telah membuangku. Dalam hukaman penjara ini aku hanya berharap sang Esa akan mengapunkan semua kesalahanku dahulu.” kata batara. Sipir yang mendengar pun membalas “pendosa sepertimu, jangan berharap akan ampunan Tuhan”.
Setelah lama melamun melihat bayangannya dari balik cermin, Batara memberbaringkan tubuhnya di atas papan panjang yang biasa menjadi tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit penjara, matanya terasa berat, akhirnya mata itu pun terpejam.
“wahai lelaki yang hina dalam dunia, bukalah matamu, dan lihatlah apa yang sedang berada di depanmu”. Suara tidak asing menyuru, Batara pun membuka mata, betapa terkejutnya dia melihat taman yang begitu indah terhampar dihadapannya. “dimanakah ini?” tanya batara. “surga” suara yang tidak asing itu terdengar lagi.
Di sekelilingnya, tak ada seorang pun selain dia. “lihat di belakangmu”. Suara yang tidak asing itu terdengar lagi. Batara memutar balik badannya, terlihat sosok wanita nan cantik di hadapannya. Wanita itu memakai abaya hijau yang sangat pas dengan warna kulitnya, putih bersinar. Rambutnya pirang sebahu, matanya bulat indah bak rembulan dengan alis yang selaras dengan warna rambutnya, hidungnya mancung. Begitu cantik, hingga semua kata terbungkam saat Batara memandangnya. Wanita itu adalah wanita yang selalu hadir dalam mimpinya. “kenapa kau membawaku kesini?” tanya batara.
“di dunia hidup mu terlalu sengsara, aku akan melihatkan sedikit apa yang akan menjadi tempatmu nantinya” kata wanita itu. Wanita itu mengajak batara berjalan mengelilingi taman yang indah itu, Setiap mata memandang, Batara selalu takjub akan keindahan dari taman itu. Danau yang jernih bak cermin, sungai susu yang mengalir dari balik gunung, istana emas, begitu banyak keindahan yang tidak dapat di tuturkan lagi olehnya.
Di taman itu, batara melihat pohon apel dengan buahnya yang merah segar bergantungan, Melihat itu, perutnya terasa lapar, dia pun memanjat pohon apel itu lalu mengambil buahnya. wanita itu tersenyum, melihat batara yang bergantungan di atas pohon. "burgh.." dahan pohon tidak kuat menahan badannya, Dia pun terjatuh dari pohon apel yang di panjatnya. Wanita itu mendekat "kamu tidak apa-apa?" tanyanya cemas. Batara tersenyum seraya berkata "aku tidak apa-apa".
Wanita itu lalu mengetuk jari telunjuknya ke batang pohon, seketika, buah dari pohon berjatuhan. Batara takjub akan hal itu, dia baru mengetahui bahwa di taman itu segala sesuatu di permudah, jika ingin makan, tinggal katakan saja, maka makanan yang kita ingin akan muncul dengan sendirinya. Batara tidak ingin keluar dari taman indah itu, dia ingin abadi selamanya dalam taman itu.
Tak terhitung berapa buah apel yang telah dimakannya, perutnya membuncit saking banyaknya apel yang masuk ke dalam lambung yang biasa menerima sedikit makanan itu. Merasa kenyang, Batara pun menyenderkan badannya ke pohon apel. Dari kejauhan, dia melihat sebuah permata yang sedang asyik duduk di atas jerambah kayu, kakinya menpuk-nepuk air danau hingga terbentuklah gelombang kecil oleh hentakannya yang menawan itu. Batara pun menghampirinya, lalu duduk di sampingnya, seraya bertanya “surgakah tempatku?” tanya Batara
Wanita itu tersenyum, lalu di jentikkan jarinya. taman indah tadi pun berubah menjadi tempat yang gelap. Batara tidak dapat melihat apa-apa, dia begitu takut, terdengar begitu banyak jeritan dari tempat yang gelap itu. Tiba-tiba api kecil pelita menari di hadapannya, dari cahaya pelita, terelihatlah wajah yang menawan itu.
“kenapa kau membawaku ketempat yang mengerikan ini?” tanya batara.
“ini adalah tempatmu dan taman indah tadi adalah tempatmu. tinggal kau sendiri yang memilih akan kemana tempat labuhan akhirmu nanti” kata wanita itu. Wanita itu pun menjentikkan lagi jarinya dan suasana pun berubah, Batara dan wanita itu berada di atas bukit dengan hamparan sabana yang begitu luas di hadapannya. Bunyi hewan saling berbisik, gemerlap langitpun menampakkan keindahannya dengan memunculkan gugusan bintang dan rembulan. Hatinya begitu tenang, dia menarik napas nya dengan panjang “tak pernah aku merasakan setenang ini dalam hidupku” kata Batara. Batara duduk di samping wanita itu dengan pelita di tengah mereka. batara menoleh ke arah wanita itu “siapa kau?” tanya Batara. Wanita itu masih diam, pandangannya masih terpaku akan cakrawala yang begitu luas. “jangan tanya siapa aku” kata wanita itu tiba. Batara mengajukan lagi pertanyaan kepada wanita itu “kalo aku tidak boleh tahu siapa kau, Aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja kepadamu, kenapa setiap malam kau selalu merampas tidur ku”.
“apakah itu menganganggumu?” tanya perempuan itu.
“sangat” lanjut batara.
Wanita itu pun menoleh ke arahnya, redup cahaya pelita menyinari wajah dari wanita itu. indah wajah Nya mengalakan sinar rembulan, Meruntuhkan taman surga, dan jika para penghuni neraka menengoknya, maka penderitaan mereka pasti akan hilang dalam sekejap. “Kalau kehendakmu seperti itu, aku tak akan menganggumu lagi” lanjut perempuan itu tersenyum.
BERSAMBUNG...
Jika teman suka silahkan coment, nanti part akhir akan saya lanjutkan.
TERIMAKASIH.