❤❤❤❤❤❤
Sephia ..
Malam ini ku takan datang
Mencoba tuk berpaling sayang
Dari cintamu
Hei, Sephia
Malam ini ku takkan pulang
Tak usah kau mencari aku
Demi cintamu
Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi
Selamat tidur kekasih gelapku
Semoga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup
untuk melupakanmu
Selamat tinggal kasih tak terungkap
Semoga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu takan pernah sanggup
untuk meninggalkanmu ...
Lagu Sheila on 7, lagu lama yang entah kenapa aku sangat suka mendengarkannya. Seperti halnya sekarang, lagu itu terus ku putar berulang ulang diponsel milikku, lagu sedih yang menemani kesendirian dan kesepianku dikamarku malam ini. Berharap kata kata dari liryc lagu tersebut membuka mata hatikku, untuk tak berharap lagi pada seseorang. Seseorang yang tak seharusnya aku cintai.
Aku segera mematikan lagu itu, semakin lama semakin sedih yang ku rasakan saat mendengarnya. Seolah lagu itu di nyanyikan seseorang dan ia tujukan untukku.
Aku melihat sebuah pesan masuk. Aku membukanya. Dada ini berdebar saat melihat sebuah nama yang ku tunggu ternyata kini mengirimkan pesan untuku. Ivan, kakak kelas di sekolahku.
Via ... Maaf aku tak bisa menemuimu malam ini, aku ada janji dengan Maya. Tidurlah dengan nyenyak. Mimpi yang indah dan jangan terus mengingat kekecewaan yang aku berikan padamu dimalam ini.
Begitulah bunyi pesan yang Ivan kirimkan untuku.
Aku kecewa, sangat kecewa. Padahal aku berharap ia datang dan menemaniku pergi. Karena ini adalah hari istimewaku, hari ulang tahunku. Bahkan aku sudah bersiap dari tadi dengan memakai pakaian terbaik yang ku punya. Walaupun ka Ivan tak berjanji akan memenuhi permintaanku untuk menemaniku malam ini, untuk makan bersama di tempat Paforit kesukaanku. Tapi aku berharap permintaanku kali ini akan terwujud. Tapi ternyata tidak, harapanku tak sesuai kenyataan. Ka Ivan ternyata menolak, karena lebih memenuhi janjinya dengan Maya.
Setetes air mata jatuh dari sudut mataku. Aku meremas selimut yang terlipat rapih didepanku, berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit di hatiku. Akhirnya aku tak kuasa menahan isak tangisku, tubuhku terguncang. Kekecewaan yang ku rasa begitu besar. Sampai akhirnya aku merebahkan diri dan menyusupkan mukaku diatas bantal, menangis dan terus menangis, sampai aku merasa lelah dan tertidur.
"Via, aku minta maaf karena tidak bisa menenanimu tadi malam. Maya tiba tiba telpon dan minta aku mengantarnya ke rumah tantenya," jelas Ivan pagi itu di sekolah. Ia mencegatku di parkiran saat aku baru datang dan memarkirkan motor matic-ku.
Aku tak menjawab, aku berusaha acuh dan tak memperdulikannya. Aku cuma menoleh ke arah Ivan sekilas dengan muka masamku. Aku segera berlalu dan pura pura tak ada dia dihadapanku.
"Via, dengarkan aku! Kamu jangan marah gitu dong, aku juga tidak mungkin menolak permintaan Maya," jelas Ivan sambil mencekal pergelangan tanganku agar aku tak berlalu meninggalkannya.
"Aku tahu, aku memang bukan siapa siapa kamu, aku tak berhak apa apa atas dirimu," jawabku tanpa menatapnya.
"Bukan begitu, Via ... aku hanya-"
"Lupakan saja, Kak Ivan! Aku yang tak sadar diri, karena berharap banyak atas hubungan kita, hubungan yang tak seharusnya ada," aku menyela ucapan Ivan yang belum selesai berbicara. Dan kali ini, aku memberanikan diri menatapnya.
"Tapi aku menyayangimu, Via ...." jawab Ivan menatapku penuh arti
"Aku sudah memikirkannya semalaman, Kak ... lebih baik kita akhiri hubungan kita! Cinta kita tak seharusnya ada, karena kita menyakiti perasaan kak Maya," ucapku tersendat
"Tapi aku menyayangimu, Vhia ...." ucapan Ivan kini pelan dan melemah.
"Tapi kita salah, hubungan kita terjalin diatas pengkhianatan. Kakak sudah punya kekasih, kak Maya ... Kakak menghianatinya dan aku juga salah karena mencintai kekasih orang ...." ucapku pelan dan tertunduk. Aku menyadari kesalahanku.
Awalnya aku diam diam mengagumi kakak kelasku, dan rasa kagum itu berubah menjadi sebuah perasaan cinta. Ada rasa rindu bila sehari saja aku tak melihat wajahnya. Ada rasa berdebar saat mata kami bertemu dan saling menatap satu sama lainnya.
Mencintainya dalam diam, mencintai kekasih orang, karena aku tahu kak Ivan telah mempunyai kak Maya sebagai kekasih dan satu sekolahanpun mengetahuinya. Karena mereka berdua pasangan yang ideal.
Tapi entah bagaimana, kak Ivan seakan tahu perasaanku. Mungkin karena aku yang selalu diam diam memperhatikannya, mungkin karena aku yang selalu mencuri curi pandangan terhadapnya. Sampai suatu waktu, Ivan menanyakan hal itu kepadaku, dan tanpa ku duga, ternyata Ivan juga memendam perasaan yang sama. Antara bahagia dan tidak, akupun menyambut cintanya. Cinta yang mungkin hanya sebagian kecil untukku.
Kamipun menjalin hubungan secara diam diam, tak ada yang mengetahuinya. Aku diibaratkan hanya sebagai kekasih gelap, hanya sebagai Shepia.
Aku tak perduli, yang ku inginkan aku juga bisa merasakan kasih sayang kak Ivan, bisa sesekali bersamanya walau harus sembunyi sembunyi karena takut ketahuan. Tapi lama lama, akupun merasa lelah. Ivan bukan seutuhnya milikku, bahkan aku juga merasa cemburu melihat kebersamaan ka Ivan dan kak Maya disekolah. Tapi aku sadar, siapa aku ... Malah aku yang salah karena tak memikirkan perasaan wanita lain yang pasti akan terluka jika mengetahuinya.
"Mulai sekarang, kita akhiri hubungan kita. Aku sadar akan kesalahanku, aku juga lelah dengan hubungan ini ... lupakan semuanya," ucapku seolah tegar. Padahal hatiku teramat sakit.
"Ini yang terbaik ...." lanjutku lagi mencoba ikhlas dengan keadaan
"Ivan!" sebuah panggilan memecahkan ketegangan diantara aku dan kak Ivan. Dari sudut mataku ku lihat kak Maya berlari ke arah kami. Maya sempat menatap heran karena melihat Ivan masih memegang pergelangan tanganku. Akupun tersadar dan segera melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Eh, aku- aku tadi bermaksud memanggil Via, tapi dia tak mendengar panggilanku tadi, makanya aku menarik tangannya," jelas Ivan gugup dan mencoba mencari alasan.
"Iya, Kak Maya ... kak Ivan tadi memanggilku tapi aku tak mendengarnya," ucapku mempertegas ucapan Ivan agar Maya yakin akan ucapan Ivan. Senyum manisku tak lupa ku sertakan saat menyapa kak Maya.
"Saya mohon pamit," ucapku kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah agak jauh, aku hanya mendengar tawa manis kak Maya kini yang sedah berceloteh ria menceritakan aktifitasnya tadi pagi setelah bangun tidur. Aku lega mendengar mereka berdua tertawa bahagia. Aku menoleh lagi sekilas, ku lihat pancaran kebahagiaan dimata mereka berdua. Ivan sekilas menatapku penuh arti. Tapi aku segera membalikan badan dan berlalu pergi.
Seharusnya mereka memang bahagia, karena kehadiranku sebagai orang ketiga diantara mereka adalah sebuah kesalahan. Aku seharusnya dari dulu tak ada diantara hubungan mereka.
Selamat tinggal kekasih gelapku ... Liryc lagu itu benar benar menyadarkanku, agar aku tak berharap apapun padanya, karena dia bukan milikku. Aku hanya sekedar kekasih gelapnya.
❤❤❤❤❤❤❤❤