💖💖💖💖💖
Ku lipat mukena putih dan sajadah seusai melaksanakan solat tahajud di sepertiga malam ini. Hanya kepada-Nya lah ku pasrahkan segala rasa yang terpendam. Memohon ampunan serta berharap selalu di beri kekuatan dan ketetapan iman. Dia yang maha mengetahui segalanya, tak ada tempat yang paling nyaman bercerita kecuali di atas hamparan sajadah saat menghadap-Nya.
Aku berdiri, sambil menyeka sisa buliran air mata yang tersisa. Ada sebuah ketenangan yang ku rasakan sekarang, di iringi hilangnya sesak yang sebelumnya aku rasakan.
Aku membuka lemari yang terletak di sudut kamar, kamar kosong yang tidak ditempati yang sengaja ku pakai sehari hari setiap aku melaksanakan sholat. Hanya ada sebuah lemari kayu dan sebuah meja belajar kayu yang masih awet dari semenjak sekolah SMP dulu.
Aku mengambil sebuah buku diary tebal berwarna pink dan bergambar, yang ku selipkan diantara tumpukan baju baju yang sudah tak terpakai. Entah kenapa, aku tiba tiba teringatkan dengan buku itu yang sudah lama tak pernah aku buka kembali.
Buku Diary yang ku punya sejak Sekolah SMP dulu. Sudah terlihat sedikit usang dan sedikit bau apek, karena memang aku jarang membukanya. Ku simpan ditempat yang sekiranya orang lain tak akan menemukannya, termasuk suamiku sendiri. Bagaimanapun juga, di buku itu tertulis semua kisah perjalanan kehidupanku. Terutama kisah kasih percintaanku saat aku mulai menginjak remaja.
Aku menyeret kursi dan duduk tepat di depan meja belajarku. Aku mulai membuka buku diary itu kemudian membacanya secara perlahan.
Salsabila Ramadhani. Tertulis namaku disana beserta tanggal lahir dan alamat lengkap serta biodata lengkap, dari mulai hoby cita cita dan lain sebagainya.
Aku mulai membuka dan membaca kisahku dulu di mulai dari tulisan di lembaran yang pertama. Aku tersenyum, isinya berisi curahan hati yang gak jelas saat aku mulai duduk di sekolah menengah pertama. Nama teman teman dekatku semua tertulis disana, kisah sedih konyol lucu ternyata ku tuliskan semua disana. Aku tersenyum sembari pikiranku membayangkan masa masa itu.
Aku gadis yang ramah dan sedikit cerewet. Membuatku lebih cepat akrab dengan teman teman baru di kelasku. Tapi meski begitu, selalu ada saja teman teman lelaki di kelasku yang jahil terhadapku. Fahri dan Iman, sehari saja tak membuat ulah padaku, tangan mereka seperti gatal.
Kursiku selalu diganti dengan yang reyot. Belum lagi alat tulis di tasku sering diganti dengan milik mereka yang jelek. Bolpointku yang masih penuh ditukar dengan bolpoin mereka yang hampir habis. Kadang bekal camilanku selalu di ambil dan di makan oleh mereka.
Sering kali aku yang pulang terburu buru, gak nyadar tasku berat ternyata diisi batu bata ataupun batu. Padahal aku tipe wanita pemberontak walaupun cengeng, tapi mereka terus terusan saja usil menjahiliku. Entah aku dianggap apa oleh mereka, bahan leluconkah atau bahan bullyan? Entah apa maunya dua cowok iseng yang duduk di belakang meja ku itu.
Ditengah kisah kejahilan mereka, ada seorang lelaki yang selalu membelaku. Dia Arif, ketua murid di kelasku. Dia selalu datang sebagai pembela untuk melindungiku.
Saat kursiku ditukar dengan yang jelek, dia akan bawa ke gudang dan menukarnya dengan yang lebih bagus. Saat terdengar kegaduhan karena aku ngomel ngomel Bopointku di tukar dengan yang kosong, dia langsung menghampiri dan memberiku Bolpoint baru. Perhatiannya entah kenapa membuat hatiku terasa berbunga bunga. Aku hanya berucap terimakasih sambil tersenyum setiap kali dia hadir sebagai penolongku.
Dan setelah lama akhirnya Fahri mengakui kalau ia menyukaiku, makanya selalu iseng menjahiliku. Cari masalah agar setiap hari bisa bertengkar denganku katanya sesuatu yang membahagiakan. Sungguh aneh, aku mati matian selalu di buat kesal. Dan ternyata dia justru menyimpan perasaan suka.
Aku tersenyum mengingat kisah cinta monyet pertamaku itu. Cinta yang memang bukan sebenarnya cinta. Lembar demi lembar terus ku buka, banyak tertulis kesedihan disana, dimana aku berada di lingkungan keluarga yang bisa di bilang Broken Home ... Aku tak ingin membacanya. Sebuah rasa perih kini menyeruak dalam dada. Aku skip tulisan tentang semua itu, aku sama sekali tak ingin bayangan bayangan kepahitan itu muncul lagi di kepalaku 😔
Sampai akhirnya aku berada dilembaran itu, dimana sebuah photo ku bersama dengan seorang lelaki melekat tertempel di kertas buku diary itu. Photo ku yang sedang tersenyum bahagia bersender dipundak lelaki itu. Photo itu sudah terlihat sedikit usang. Salsa love Angga.
Setitik air mata berhasil meluncur dari sudut mataku. Ada rasa sesak dan sakit yang terasa. Tertulis semua kisah perjalanan cintaku dengannya. Hanya cerita awal saja yang ku baca, karena lembaran demi lembaran selanjutnya sudah tak sanggup lagi aku membacanya. Air mata semakin deras mengalir tak terasa. Akupun langsung menutup buku diary ku, luka lama seolah terkuak kembali saat aku membacanya. Luka karena cinta pertamaku, karena kisah cinta kami berakhir dengan sangat tidak bahagia.
Akupun teringat pertemuan tak sengaja kami kemarin sore diujung jalan desa. Kami hanya terpaku saling menatap dari kejauhan. Sorot matanya sayu, memancarkan cahaya kerinduan yang terpendam. Bertahun tahun kami tak bertemu, tapi rasa yang tertinggal seakan masih utuh tersimpan. Rasa rindu yang kini sudah terlarang.
💔💔💔💔
Sekian lama sudah kita telah berpisah
Kurasa kini engkau tak sendiri lagi
Akupun kini juga seperti dirimu
Satu hati telah mengisi hidupku
Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini
Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia
Namun andai kau dengar syair lagu ini
Jujur saja aku sangat merindukanmu
Memang tak pantas mengkhayal tentang dirimu
Sebab kau tak lagi seperti yang dulu
Kendati berat rasa rinduku padamu
Biarkan ku hadang rinduku terlarang
Biar ku simpan saja
Biar ku pendam sudah
Terlarang sudah rinduku padamu
Lagu Rindu yang terlarang yang dinyanyikan Broery marantika feat Dewi yul seolah mengiringi pertemuan kami yang tak sengaja itu. Aku langsung berlalu pergi di iringi tatapannya yang terus mengekori langkahku.
Aku menghela napas panjang. Berharap kegelisahan hatiku hilang seiring desahan napas yang ku buang.
Aku berdiri, menghampiri Bingkai photo besar di dinding yang berisi Photo pengantinku bersama suamiku. Tak terlihat pancaran kebahagiaan dimataku pada photo itu. Aku memang tersenyum, tapi terlihat sangat terpaksa. Menikah karena perjodohan, tentu saja setengah hati aku menerimanya. Apalagi saat itu aku sedang dalam masa sangat cinta cintanya kepada kekasihku itu.
Entah permasalahan apa antara orang tuaku dan orang tua kekasihku di masa dulu, yang membuat keduanya bersikeras tak meresetui hubunganku dengan kekasihku. Orang tuaku malah menjodohkan aku dengan lelaki yang tidak aku cintai.
Aku hanya bisa pasrah demi kebahagiaan orang tuaku. Sangat sulit di awal, aku menerima pernikahan ini. Tapi ternyata kasih sayang dan kebaikan suamiku akhirnya membuatku luluh dan jatuh dalam pelukan cintanya, walaupun bayang bayang masa lalu masih berputar putar seakan membelengguku.
Tapi tidak ...
Aku hanya mencintai suamiku ...
Aku bahagia hidup bersamanya ...
Apalagi saat ini aku sedang mengandung anak kedua ...
Aku mengambil buku diary ku lagi ku masukan lagi ke dalam lemari dan menguncinya. Aku tak ingin membukanya lagi. Semua yang ada di buku itu hanya kenangan, dan aku tak perlu mengingatnya lagi. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang, tanpa ingin lagi menoleh kebelakang
💖💖💖💖💖💖💖💖
Budayakan like dan koment setelah membaca ya. Insya Allah aku pasti mampir kembali ke karya hebat teman teman semua yang sudah ada meninggalkan jejak disini.