💖💖💖💖💖💖
Pov Syafkha
Aku duduk termenung seorang diri di sebuah gajebo di pinggiran danau. Angin semilir sesekali menyapa, sedikit menyejukan hatiku yang tengah gelisah. Suasana tempat wisata sore itu sama sekali tak terlihat ramai pengunjung. Hanya terlihat beberapa pasang muda mudi yang tengah bercengkrama. Sepertinya hanya aku yang duduk seorang diri tanpa ditemani siapapun.
Saat aku merasa sedang mempunyai masalah, aku lebih senang menyendiri, berharap mencari ketenangan dengan duduk menyepi di tempat ini. Sesungguhnya ketenangan dan kedamaian sejatinya hanya kita dapatkan saat bersujud dan menghadap yang Maha Kuasa, tapi ini hanya salah satu cara yang lainnya untuku dalam mencari sebuah ketenangan.
Dengan merenung, sambil memilah dan memilih juga memikirkan mana yang terbaik. Atau sekedar menghilangkan kepenatan, kejenuhan juga kelelahan fisik dan hati, aku terbiasa dengan cara ini melampiaskannya. Mencari ketenangan dengan melihat kesejukan panorama alam ciptaan Tuhan yang indah.
Melihat air yang beriak riak kecil membuat hatiku merasa nyaman. Aku menopang daguku dengan tanganku. Berharap kegelisahan hati ini hilang dengan berusaha berpikir dalam ketenangan.
Aku menghela napas berharap kesedihan dan rasa sesak ini sedikit berkurang. Sebuah lagu ku putar di ponsel milikku untuk menemani kesendirianku. Lagu lama yang lirycnya begitu menyentuh kalbu.
Air mata menetes begitu saja dari kedua sudut kelopak mataku. Tatapanku kosong, entah apa yang ku pikirkan. Lelah, itu yang ku rasakan. Aku merasa teramat lelah ... hatiku begitu lelah ...
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku ketika tangisku mulai tak bisa ku kendalikan lagi. Membuat tubuhku terguncang dan kini mengeluarkan isakan. Rasanya aku ingin berteriak seperti di film film atau cerita novel yang sering ku baca, dimana untuk mengeluarkan sedikit beban hati dengan berteriak keras untuk mengeluarkan sesak didada. Tapi aku bukan orang yang tak punya rasa malu, mungkin orang orang disekitar yang tak jauh dariku akan menganggap aku orang aneh. Malah malah mereka bisa mengira aku orang yang gak waras dan sedang depresi berat.
Ya Rabb ... Engkau maha tau isi hati setiap hambamu, mungkin hanya Engkaulah yang paling tahu isi hatiku.
Aku melihat Walpaper layar depan ponselku, terlihat photo-ku bersama dengan suami dan anak laki - laki-ku yang berusia lima tahun. Aku mengusap wajah keduanya dilayar ponselku, seakan aku sedang menyentuh wajah mereka secara langsung.
"Mamah kangen kalian," ucapku sambil mendekap ponselku didadaku seakan sedang mendekap tubuh keduanya secara nyata.
'Aku mencintai kalian sepenuh hati. Aku tak ingin kehilangan kalian' batinku pilu
Sudah tiga hari, aku tak bertemu dengan suami dan anakku. Mungkin aku pernah berjauhan dengan suamiku saat dia bekerja diluar kota. Tapi dengan anakku, seumur punya dia aku tak pernah semalampun tidur tanpa anaku disampingku.
Kemana mereka?
Aku tersenyum kecut. Aku menyuruh mereka berdua pergi dari rumah.
Mengusir ??
Seperti diusir, tapi bukan. Terdengar aneh, tapi itulah caraku meyakinkanku kalau aku begitu mencintai mereka. Aku begitu membutuhkan mereka, terutama suamiku. Aku ingin meyakinkanku kalau aku sangat mencintainya dan tak bisa hidup tanpanya.
- Flash back on -
"Jika kamu masih ingin rumah tangga kita baik baik saja, pergilah dulu ke rumah ayah. Tinggalah dulu disana beberapa hari. Tinggalkan aku sendiri dulu, Aku ingin membuat diri sendiriku yakin, kalau aku sangat mencintaimu ...." perlahan aku mengutarakan alasan alasanku terhadapnya melakukan semua ini, hal yang terlihat konyol tapi buatku ini akan sangat berarti untuk kehidupan kami kedepannya.
"Baiklah, akan ku lakukan apapun demi keutuhan rumah tangga kita. Aku percaya padamu, Sya ...." jawab suamiku pelan, walau ku lihat ada guratan kekecewaan dimatanya.
*************
Ini adalah hari pertama, suami dan anakku tak ada dirumah. Sore itu sepulangku bekerja sebagai seorang kasir disebuah Toserba Swalayan, aku mendapati rumah yang sepi. Aku membuka bungkusan nasi padang yang ku beli tadi sepulang bekerja. Rasa sepi seketika menyeruak dalam dada, dimana biasanya aku makan dengan suami dan anakku. Kali ini aku sendiri dan membuatku merasa sangat sepi dan sendiri. Hanya berapa suap nasi itu masuk ke mulutku, selera makan langsung hilang seketika. Akupun menyudahi makanku.
Mungkin seperti inilah jika aku hidup seorang diri?
Sendiri, sepi ...
Waktu beranjak malam, biasanya aku bersama suami dan anakku rebahan bersama sembari nonton tv. Bisingnya anakku, jahilnya suamiku biasanya mewarnai waktu malamku sebelum akhirnya aku terlelap tidur, kini yang ada hanya rasa kesepian seorang diri.
Beginikah yang akan aku rasakan jika aku hidup seorang diri, sanggupkah? Sungguh rasanya aku tak sanggup.
Semakin larut akupun beranjak ke tempat tidur, mulai ku rasa hawa mencekam karena aku tak terbiasa tidur sendiri. Aku teringat ucapan suamiku sebelum dia pergi ke rumah ayahnya yang kini kosong tak berpenghuni karena mertuaku telah meninggal.
"Bawa lampu Emergenci ke kamar, kamu penakut dan phobia gelap, jangan sampai kejadian mati lampu dan kamu bisa pingsan ketakutan," ucapnya kala itu membuatku kini merasa harus siaga, takut kejadian mati lampu tak terduga. Semakin larut mataku tak juga bisa terpejam. Biasa ada suami disampingku, memelukku walaupun aku terbiasa acuh padannya. Tapi saat kini ia tak ada disampingku, kini aku merasa sangat sepi dan kehilangan disela rasa ketakutanku yang mencekam.
Rasa lelah akhirnya membuatku terlelap tidur, namun tak lama kemudian aku terbangun. Rasa lapar kini kurasakan, karena hanya dua tiga suap nasi yang tadi sempat aku makan. Akupun jadi teringat, biasanya suamiku terkadang membangunkanku ditengah malam begini, dimana dia yang masih terbangun terkadang memasak mie instan atau nasi goreng untuknya sendiri, tanpa mengganggu atau membangunkanku yang sudah terlelap tidur. Tiba tiba aku rindu masakan mie instannya.
Pagi hari aku terbangun, hampa dan sepi yang ku rasa, mulutku yang biasa olahraga pagi, untuk mengoceh saat mereka berdua susah sekali untuk dibangunkan. Belum lagi omelan omelan kecilku untuk berbagi tugas rumah dengan suami akibat begitu terburu waktu. Dimana aku juga harus segera berangkat bekerja.
Ya Rabb, baru berapa hari dia tak disampingku, aku merasa begitu kehilangannya. Ternyata betapa berartinya dia untukku selama ini dan aku yang terlalu mengacuhkannya.
Pernikahan yang ku jalani hampir tujuh tahun ini bersamanya, kurasa semakin kesini semakin memudar. Rasa itu entah kenapa kurasa semakin menghilang. Rasa cinta yang sudah susah payah berusaha aku tumbuhkan dihatiku selama ini, karena pernikahanku bersama suamiku terikrar tanpa adanya cinta dihatiku sedikitpun saat itu.
Sulit memang rasanya menumbuhkan benih benih cinta dihatiku untuknya, butuh waktu lama untukku sampai hatiku benar benar ikhlas menerima takdirku hidup bersamanya.
Seiring waktu cinta itu tumbuh, namun kini semakin lama, kenapa rasa itupun begitu cepat kembali memudar. Bahkan ketika sebuah bisikan syetan seakan menguasai jiwaku agar menuruti hawa napsu dan memilih berpisah dengannya.
Suamiku terkaget saat tanpa hujan, tanpa angin aku mengutarakan niatku untuk berpisah, disaat rumahtangga kami yang sama sekali tak ada masalah berat. Tapi dia memahami sifatku yang belum sedewasa usiaku. Dia tak emosi dan membiarkanku dulu sekehendak hatiku untuk memutuskan.
Tapi akupun tak ingin menghancurkan rumahtangga yang sudah ku pertahankan selama ini, maka aku memberi pelajaran diriku sendiri dengan caraku sendiri.
Dan kini setelah cara konyol itu ku coba, betapa aku menyadari kalau aku ternyata sangat mencintai suamiku. Maka inilah salah satu caraku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sangat mencintai suamiku, dengan merasakan dulu bagaimana kalau aku hidup tanpa dia disisiku. Dan ternyata beginilah rasanya saat dia tak disampingku, aku benar benar kehilangan dan tak bisa hidup tanpa dia.
Aku tak ingin menyesal dikemudian hari dengan pikiran emosi sesaat yang menguasai jiwaku, hanya karena melihat kondisi orang orang disekitarku yang mempengaruhi pikiran dan hidupku.
Flash back off.
"Mamah! ...." satu teriakan membuyarkan lamunanku. Aku terkaget mendapati anakku sudah menghambur kearahku dan memeluku. Akupun segera memeluknya erat.
Kulihat suamiku tersenyum juga kearahku. Seakan dia berisyarat untuk diperlakukan hal yang sama. Aku memang menghubunginya untuk menjemputku didanau. Setelah berapa hari kami sengaja tak berkomunikasi.
"Kangen ...." satu kata itu meluncur begitu saja dari mulutku kemudian beralih memeluknya setelah melepas pelukan anakku.
"Udah nih, kita pisahannya, apa mau dilanjut?" goda suamiku. Akupun mencubit pinggangnya.
"Aku mencintaimu, aku tak ingin berpisah darimu," ucapan tulus tanpa kebohongan kuucapkan lagi. Tanpa ku tutupi apalagi harus merasa malu mengakuinya.
"Aku juga mencintaimu, maka janganlah berpikir lagi untuk berpisah. Kita arungi lagi biduk rumahtangga kita dari awal dengan segala sesuatu yang baru jika memang kehidupan rumahtangga kita selama ini membuatmu bosan. Maafkan aku yang mungkin tak mampu membahagiakan kalian ...." Ucapnya semakin memenangkan hati jiwaku.
Ya Rabb, ijinkan aku bersamanya hingga sampai maut memisahkan kami ...
💖💖💖💖💖💖💖