💖💖💖💖
Pov Gita
Selepas magrib sepulang kerja, aku sengaja tak langsung pulang ke rumah. Aku memutuskan main dulu ditaman kota yang kebetulan saat ini tidak begitu ramai dengan orang orang. Aku memilih duduk disebuah kursi kayu panjang yang berada dibawah pohon yang rindang.
Pandanganku tertuju pada air mancur dikolam taman yang berada di tengah taman. Ada beberapa muda mudi yang terlihat asyik bercanda didekat kolam taman tersebut. Aku tersenyum melihat betapa terlihat bahagianya mereka berdua. Sebagai sepasang kekasih yang sangat bahagia ketika bisa bersama.
Ada sedikit kegelisahan dalam hatiku, makanya aku memutuskan bermain dulu ditempat ini. Setidaknya pikiranku lebih fresh nantinya. Mataku kini tertuju pada pedagang ketoprak di ujung taman. Akupun tiba tiba menginginkan makan ketoprak itu. Maka akupun berjalan menuju ke arah sana.
Hanya ada seorang perempuan cantik berbaju gamis berwarna kuning dengan hijab yang senada. Perempuan itu terlihat anggun dengan wajahnya yang teduh dan kini tersenyum ke arahku. Ia tengah menggendong bayi perempuan yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Tukang jualannya kemana ya, Kak? Saya mau beli?" tanyaku kepada perempuan itu yang ku kira sebagai pembeli juga
"Saya sendiri yang jualan, mau beli ketopraknya ya?" jawab wanita itu ramah dan tersenyum manis.
"Oh, kirain Kakak pembeli juga. Iya, bikinin saya satu porsi ya, Kak. Dimakan disini saja," jawabku seramah mungkin. Aku tak menyangka wanita cantik itu penjualnya. Dilihat sekilas dari kecantikan dan dadanannya dia malah terlihat seperti orang kaya.
"Biasanya suami saya yang disini, kalau mau magrib saya gantikan dulu, karena suami saya biasa solat dulu dimesjid depan sana,"
"Dedek bobo dulu ya, mamah buat ketoprak dulu, jangan nangis ya," ucap wanita itu sambil mengajak bayinya tersenyum. Dia bermaksud menidurkan anaknya dikereta bayi.
"Kalau boleh, sini saya gendong saja Kak," ucapku menawarkan diri. Aku juga gemas rasanya melihat bayi mungil itu yang tersenyum senyum ke arahku. Ingin rasanya menggendongnya.
"Oh, boleh Kak, kalau tidak merepotkan," jawabnya sambil mengurungkan niatnya menaruh bayinya dikereta bayi. Diapun memberikan bayinya kepadaku. Akupun dengan senang hati menggendongnya. Akupun mengajak bayi itu bercanda, dia tertawa merespon candaanku.
"Berapa bulan, Kak? Cantik sekali mirip Mamanya," ucapku memuji.
"Miripkah? Padahal sejujurnya, dia bukan anak kandung saya," ucapnya menjelaskan. Akupun terdiam bingung untuk berkata apa.
"Saya adopsi dia, sebulan yang lalu. Ibunya meninggal dunia karena penyakit asma, hanya ada neneknya yang sudah tua dan sakit sakitan sehingga tak mampu untuk merawatnya. Sementara ayah sibayi sudah meninggal sebelum dia lahir. Kebetulan saya belum memiliki anak setelah hampir 7 tahun menikah. Akhirnya saya meminta untuk mengadopsi bayi ini. Dan alhamdulilah keluarganya menyetujuinya. Dan suamiku mendukung juga. Alhamdulilah, dia seperti anugerah dari Allah untuk kami," Aku terdiam mendengar penjelasan wanita itu. Entah kata katanya seperti menusuk kedalam relung hatiku yang terdalam.
"Kakak sudah menikah, sudah punya anak?" tanyanya kemudian.
"Saya sudah menikah, dan alhamdulilah saya sudah punya anak laki laki berusia lima tahun," jelasku.
"Kakak sepertinya habis pulang kerja ya? Kalau kerja anaknya sama siapa, apa sama neneknya?" tanya wanita itu lagi kini meneruskan membuat pesanan ketoprakku yang tadi sempat terhenti.
"Iya, saya bekerja. Anak saya kadang sama Uwaknya atau kakeknya."
"Gak apa apa bekerja, asal anak terurus dan suami meridhoi pekerjaan kita," jawaban itu serasa semakin menampar jiwaku. Aku terdiam, wajahku berubah sedikit murung. Teringat dengan keadaanku sendiri, dimana memang suamiku menyuruhku untuk berhenti bekerja. Selain alasan anak agar terurus, banyak lagi alasan yang sangat tidak ku mengerti.
Banyak wanita yang bekerja di Zaman sekarang, dan para suaminya sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi kenapa aku sendiri kini malah dilarang, padahal pekerjaan ini adalah impianku.
Susah di Zaman sekarang untuk mencari sebuah pekerjaan. Selama dua tahun aku bekerja, aku bisa sedikit demi sedikit mewujudkan mimpi mimpi kecilku. Demi membantu perekonomian keluarga kami yang memang pas pasan. Tapi kenapa aku selalu dipinta untuk berhenti bekerja dan tinggal saja dirumah.
Kami sempat bersitegang akan hal itu, karena aku tidak mau menuruti apa kata suamiku. Aku masih tetap ingin bekerja. Walaupun suamiku menafkahi aku dan cukup untuk kebutuhan kami semua, tapi dengan aku bekerja dan bisa mendapatkan uang sendiri, aku bisa membeli kebutuhanku sendiri dari uang yang ku dapatkan tanpa harus selalu bergantung pada suami. Aku juga merasa sedikit punya harga dimata keluarga suami, karena aku juga bekerja dan tidak melulu mengandalkan uang dari suami.
Tapi kini, kenapa dia memaksa aku untuk berhenti bekerja. Ketidak sepahaman itu membuatku sedikit kesal pada suamiku yang entah maunya apa. Tapi, tidak patut juga seorang istri membantah perintah suaminya. Dan itu membuatku akhirnya berpikir untuk mengalah, walaupun hati ini rasanya sangat tidak rela.
"Ini ketopraknya, Kak" ucap wanita itu sambil menyodorkan sepiring ketoprak yang terlihat menggiurkan lidah. Wanita itu mengambil alih bayinya untuk digendongnya biar aku segera memakan ketoprak buatannya. Akupun duduk diatas tikar plastik yang digelar disana.
"Setahun yang lalu, akupun bekerja. Aku bekerja disebuah kantor pemasaran dikota C yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Gajiku lumayan tinggi karena aku memang lulusan sarjana, jauh berbeda dari penghasilan suamiku yang sedari dulu memang jualan ketoprak ini," wanita itu mulai bercerita. Dan aku mendengarkannya dengan seksama sambil sesuap demi sesuap memakan ketoprak buatannya yang menurutku sangat enak.
"Aku terus berambisi mengejar karirku meskipun telah menikah. Aku berpikir semua demi masa depanku nanti. Aku sempat berpikir dimana gajiku yang berlipat lipat lebih besar dari pendapatan suamiku, tidak dinapkahipun aku bisa mencukupi kebutuhanku sendiri," dia melanjutkan ceritanya. Seolah menasihatiku yang kini tengah dilema. Padahal dia sama sekali tak tahu menahu permasalahanku.
"Tiap hari suamiku memberikan pendapatan jualannya kepadaku, yang terkadang tidak seberapa. Keluargu jujur sempat mencemooh pekerjaan suamiku, yang mereka bilang tidak seimbang denganku. Tapi aku tidak menyesal, karena aku yang memilihnya dan begitu mencintainya karena ahlaknya yang baik,"
"Aku kadang pulang larut malam, dan pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh suamiku. Lelahnya aku bekerja terkadang membuatku tidak sepenuhnya mengurus kebutuhan suamiku sendiri. Sampai suatu saat, dia sakit demam dan aku tetap bekerja. Sampai dia masuk rumah sakit dibawa oleh teman sesama pedagang lain, akupun tak tahu," sebuah isakan terdengar diujung kalimat ceritanya. Dia seakan benar benar merasa berdosa.
Akupun terenyuh. Ucapan demi ucapan wanita itu seakan menggetarkan kalbuku.
"Aku benar benar merasa berdosa. Sudah tau suamiku demam, tapi aku tetap berangkat bekerja. Dari situ aku tiba tiba tersadar, betapa selama ini aku terlalu berambisi mengejar karirku tapi melupakan tugasku sebagai seorang istri,"
"suamiku akhirnya menyuruhku berhenti bekerja. Dia selalu bilang, jangan khawatir akan rejeki asal kita mau berusaha dan berdoa semoga Allah selalu mencukupi kebutuhan kita. Sedikit yang penting berkah. Akupun berhenti bekerja dan melepaskan karirku, walau sempat keluargaku tak setuju dan malah menghina pendapatan suamiku yang tak mungkin bisa mencukupi kebutuhanku,"
"Dan Alhamdulilah, setelah tidak bekerja aku lebih bisa menghargai setiap napkah yang diberikan suamiku. Dan walaupun sedikit, alhamdulilah kami tidak pernah sampai kekurangan, malah aku lebih bisa bersyukur dengan keadaanku yang sekarang. Setelah mengadopsi Alira pun yang mengharuskan kami beli susu formula, alhamdulilah kami tetap merasa cukup."
Kalimat demi kalimat yang wanita itu ucapkan semakin menusuk nusuk hatiku. Seperti pencerahan untuk jiwaku yang tengah bimbang untuk mengambil sebuah keputusan.
Sebuah ketulusan dan keikhlasan terdengar dari setiap kata ucapannya. Entah kenapa kini sudut kelopak mataku tiba tiba mengalirkan air mata. Rasanya aku ingin menangis. Tapi akupun berusaha menahan gejolak perasaanku, aku segera menyekanya dengan punggung tanganku.
Sebuah motor keluaran tahun lama berhenti didepan kami. Turun seorang lelaki tampan yang wajahnya memiliki aura bersih yang terlihat bercahaya. Wanita itu menyambut dan mencium punggung tangan laki laki itu yang ku tebak dia adalah suaminya. Terlihat senyuman istri yang ridho dan tulus kepada suaminya. Air mataku kembali meronta ingin keluar dari kelopak mataku yang kini mulai berkaca dan aku berusaha menahannya.
"Giliran umi yang solat ...." titah lelaki itu lembut. Wanita itu yang sampai kami berpisahpun tak sempat aku ketahui namanya. Dia berpamitan untuk segera menunaikan solat di masjid di depan sana. Akupun sama memutuskan untuk segera pulang.
"Terimakasih untuk cerita Kakak, semoga aku bisa mengambil hikmah dan pelajaran didalamnya," ucapku sebelum dia beranjak pergi. Diapun tersenyum.
"Kapan kapan, kembali lagi kesini ya. Biar kita bisa saling bertukar cerita."
Akupun berjalan meninggakan taman itu menuju tempat motorku terpakrir.
'Ya Rabb, terimakasih kau telah mempertemukan aku dengan orang orang baik yang kisah hidupnya bisa aku ambil hikmah dan pelajaran. Semoga aku ikhlas sepertinya, untuk melepas pekerjaanku demi keluarga' batinku bergumam.
Air mataku kembali menetes mengingat setiap kalimat ucapan perempuan tadi. Tiba tiba hatiku merasa lega. Merasa ada titik terang untuk masalahku yang beberapa pekan ini membuatku bimbang.
Terimakasih untuk pertemuan singkat ini dengan bidadari cantik yang mampu membukakan mata hatiku.
💖💖💖💖💖💖💖