❤❤❤❤❤❤
JODOHKU💖
"Zahra, ayo keluar! Dzidan, Calon suamimu sudah datang," ucap Dhini temanku muncul di depan pintu. Akupun tersenyum, senyum terpaksa untuk menutupi kesedihan jiwaku yang sesungguhnya.
"Kamu cantik sekali, Ra. Aku ikut bahagia, akhirnya kamu menemukan jodohmu," ucap Dhini tulus dan terlihat dia ikut berbahagia atas pernikahanku. "Jangan berubah ya, walaupun kamu sudah menikah," lanjutnya sedih kemudian memeluku.
"Tidak mungkin aku berubah, Dhin. Kamu akan selalu tetap menjadi sahabatku sampai kapanpun," aku membalas memeluknya. Sedih, pelukan sahabatku membuat hatiku semakin sedih. Aku menangis sesenggukan. Dia adalah sahabat terbaikku selama ini, yang selalu bersama melewati suka duka kehidupanku.
"Eh jangan nangis dong, nanti dandanan kamu berantakan," ucap Dhini sambil melepas pelukannya. Akupun segera menyeka air mataku.
"Jadi pengantin itu harus berbahagia, ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupmu. Menikah itu sekali seumur hidup. Insya Allah semoga hanya sekali, Samawa selalu sampai maut memisahkan."
"Aamiin, doakan yang terbaik untukku ya, Dhin." jawabku terharu.
"Bagaimana, kamu pasti deg degan kan? Jangan lupa ya, nanti ceritakan bagaimana malam pertamamu sama aku," lanjut Dhini menggoda. Aku cuma membalas dengan menyikut perutnya dengan pipi yang bersemu merah.
Deg degan, tentu saja. Ini pertama kali untukku. Dadaku memang berdebar menunggu moment bersejarah dalam hidupku, sebuah pernikahan yang akan menggantikan status lajangku menjadi telah menikah. Menjadikan statusku sebagai seorang istri.
Ibuku muncul didepan pintu, beliau menyuruhku bersiap siap karena sebentar lagi àcara Akad akan dimulai. Ibu menatap wajahku, aku tak kuasa menatapnya. Aku menunduk untuk menyembunyikan kesedihanku. Ibuku seolah tahu perasaan yang kini berkecamuk dalam jiwaku. Dhini berlalu keluar dari kamar, karena ada seseorang yang memanggilnya.
"Ini yang terbaik ... Jodoh itu ditangan Allah, nak. Tidak selalu apa yang kita inginkan akan terlaksana. Dengan dipersatukannya kalian, itu tandanya Dzidan adalah jodohmu. Terimalah dengan ikhlas. Lapangkan hatimu ... Lupakan Roni ...." ucap ibuku sangat hati hati sambil menggengam punggung tanganku, ia seolah tau perasaan apa yang sebenarnya berkecamuk dalam hatiku. Air mataku begitu saja mengalir deras saat sebuah nama disebutkan oleh Ibuku, Roni. Hatiku seperti teriris perih oleh sembilu.
Roni ... laki laki yang pernah ku harapkan akan duduk bersanding dipelaminan bersamaku sebagai suamiku, nama yang pernah ada dan selalu bersemayam dalam hatiku, mengisi hari hari indahku bersamanya. Tapi semuanya hancur ... hancur karena keegoisan orang tuanya yang tak merestui hubungan kami. Menyisakan puing puing luka dihati kami berdua.
"Mulai sekarang, kamu akan jadi seorang istri. Setia dan berbaktilah pada suamimu. Jadilah istri yang baik, dan pesan ibu, lupakan Roni, ibu tahu walaupun kamu tidak mengatakannya, tapi sebagai seorang ibu ... ibu tahu kamu masih mencintai Roni, dengan terpisahnya kalian, itu tandanya kamu tidak berjodoh sama dia. Lupakan semua masa lalu, agar rumah tanggamu sekarang bahagia, ya ...." ucapan ibu serasa semakin menusuk nusuk jantungku. Aku kembali menangis terisak dalam pelukan ibu.
"Sekarang kamu menjadi tanggung jawab suamimu, Ibu bahagia akhirnya kamu menemukan jodohmu ... saling menerima dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain ... bersabarlah dalam menghadapi setiap ujian rumah tanggamu nanti, Ibu akan selalu berdoa untuk kebahagiaan
Terimakasih untuk yang sudah bersedia membaca dan memberi dukungan. Jika saya masih stay disini, pasti saya dukung kembali. Jika saya sudah offline, pasti saya tak akan lupa memberi dukungan kembali setelah saya online kembali. Saya sangat menghargai dukungan dan usaha seseorang untuk menghargai karya saya 🙏🤗