Pov Putri
Aku baru saja bermaksud mengganti pakaianku dengan baju rumahan sepulang kondangan ke beberapa tetangga yang masih satu RT denganku. Sebuah panggilan telpon mengurungkan niatku membuka baju gamis yang ku kenakan.
Terlihat nama Sofi dilayar ponselku.
"Asalamualaikum, kenapa Sov?" sapaku mendahului ucapan Sovi disebarang sana. Sovi adalah salah satu teman dekatku yang rumahnya masih tetangga desa.
"Walaikumsalam Kak Putri, bisa kesini gak sekarang. Ada perlu penting?" ucap Sofi seperti tergesa membuatku sedikit penasaran.
"Ada apa sih? Kakak baru dateng kondangan inih," tanyaku penasaran.
"Udah, kesini aja dulu! Sekarang juga, ditunggu" titahnya kemudian menutup sambungan telponnya.
Aku berdecak kesal, menyuruh tapi tak pasti penjelasan apa tujuannya menyuruhku kesana.
Akupun segera pergi menuju rumah Sofi. Ditemani anakku Fuji yang berusia lima tahun.
-
-
Setelah 15 menit diperjalanan, akupun sampai ke rumah Sofi. Sofi menyambutku dengan wajah polosnya yang cungar cengir tak jelas, membuatku menaruh rasa curiga. Dia segera menarik tanganku ke ruang tamu rumahnya.
Aku terhenjak melihat seorang laki laki yang terduduk dikursi sofa ruang tamu setelah kami berdua berada didalam rumah Sovi. Ia menatapku, hatiku campur aduk seketika. Namun kesal campur marah yang paling mendominasi perasaanku. Terutama pada Sofi yang seakan menjebakku.
"Apa maksudmu Sofi, apa apaan ini?!" tanyaku diiringi tatapan elangku.
"Maaf Kak, aku membohongimu. Kak Amar ingin bicara denganmu ...," jawabnya dengan wajah memelas seolah minta pengampunan.
"Put, jangan marah pada Sofi. Aku yang memaksa memintamu untuk kesini," ucap laki laki itu kini berdiri. Aku tak menoleh, malas untuk menatap wajah itu. Wajah laki laki yang pernah ada di masa laluku. Laki laki yang rasanya ingin kumusnahkan dari dalam hati dan hidupku.
"Kak Put, aku pergi dulu ke warung ya beli jajanan buat anak anak dulu. Ayok fuji, ikut tante beli jajanan," ucap Sofi lalu menarik tangan anakku, kemudian Sofi menggendong anak perempuannya yang masih berusia dua tahun.
"Kamu mau ninggalin kita berdua, Sofi kamu tuh ya," ucapku kesal bercampur marah.
"Bicaralah, aku rasa kalian butuh bicara," ucap Sofi kemudian berlalu mengacuhkanku, meninggalkanku yang kini berdiri terpatung. Ingin aku pergi menyusul Sofi, tapi Sofi benar sepertinya aku dan Amar perlu bicara.
"Put ...," Amar memanggil pelan. Aku tak menoleh,aku tetap menbuang muka dan menatap kearah jendela. Akupun teringatkan, salah satu orang yang menggelar hajatan tadi adalah saudara dekatnya Amar. Pantas kalau Amar sekarang ada dikampung, karena kebetulan dia memang tinggal diluar kota bersama istrinya.
"Katakan apa maumu, Amar! Pertemuan ini tidakkah kau pikir sangat terlalu beresiko untuk kita! Kamu gak mikir kalau ada orang yang lihat! Bagaimana kalau ada orang yang tahu, apa nanti kata Orang! Tau sendiri mulut orang orang disini tajam dan pedas!" ucapku dengan nada meninggi. Kali ini aku memberanikan diri menatapnya, dengan sorot mata yang menahan kemarahan.
"Aku hanya ingin bicara denganmu, bisakah sekali saja kita ketemuan setelah ini, biar kita bisa leluasa untuk bicara, banyak hal yang ingin aku katakan," ucap Amar dengan tatapannya yang masih ku rasa terlihat seperti dulu. Tatapan teduhnya yang membuatku dulu jatuh cinta kepadanya.
"Amar, mau kamu tuh apa? Kamu ingin rumah tanggaku berantakan dengan kehadiranmu!" ketusku penuh emosi.
"Aku hanya ingin tau perasaanmu padaku yang sesungguhnya, apa perasaanmu juga sama sepertiku yang sampai saat ini belum juga bisa melupakanmu," tanya Amar sendu. Pertanyaan yang sama seperti waktu itu saat dia berani mendatangiku ke tempatku bekerja.
Aku menghela napas berat, membuang segala beban yang tiba tiba rasanya menghimpit dada. Entah bagaimana aku harus menjawabnya. Sudah berulang kali aku memberi penjelasan padanya tentang posisi kita yang sudah sama sama berumah tangga dengan pasangan kita masing masing. Dan untuk apa hal itu dipertanyakan kembali.
"Jawaban seperti apa yang kamu inginkan?! Aku sudah bilang, buat apa dipertanyakan lagi karena itu semua masa lalu! Kita sudah sama sama menikah, terus untuk apa kamu terus terusan bertanya tentang perasaanku! Sudah ku bilang, aku sangat mencintai suamiku. Kamu juga mencintai istrimu. Terus untuk apa mempertanyakan hal yang sudah tak ada gunanya untuk kita!" jawabku dengan emosi.
"Aku tahu kamu juga pasti masih mencintaiku, iya kan? seperti aku yang sampai saat ini belum bisa melupakanmu, Put" tanya Amar yang membuat aku tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya dia inginkan dariku.
"Amar, please! Jangan buat aku stres dengan semua ini! Aku memang masih mengingatmu karena aku tidak amnesia ... Tapi bukan berarti juga aku masih mencintaimu! Hatiku, hidupku hanya untuk suamiku seorang sekarang," jelasku masih emosi. Kini aku terduduk di sofa tentu saja berjarak dengan tempat Amar kini berdiri. Rasa emosi membuat tubuhku seakan melemah tak berdaya.
"Aku tahu kamu, Put! Sorot matamu tidak bisa membohongiku!" ucapan Amar membuatku kembali ke posisi berdiri. Aku sedikit mendekat. Menatapnya dengan tajam.
"Aku tak mengerti inginmu, apa kamu sedang mengolok olok perasaanku dengan pertanyaan pertanyaan konyolmu itu?! Jawaban apa sebenarnya yang kamu inginkan, hah?!"
"Amar aku mencintaimu, sampai saat ini aku tidak bisa melupakanmu, aku masih berharap bisa hidup bersamamu ... apa itu jawaban itu yang kamu inginkan?!" emosi yang bercampur dengan rasa yang sulit untuk dijelaskan membuatku marah tapi malah bercampur tangis. Mataku kini mulai berkaca.
"Rasa ini masih utuh tersimpan, tapi ini bukan rasa cinta masa lalu kita yang masih tersisa, tapi ini hanya sekedar rasa sakit dan juga luka ... luka yang pernah kamu torehkan dulu saat kamu memutuskan meninggalkanku! rasa sakit kehilanganmu karena begitu bodohnya aku terlalu dalam mencintaimu saat itu ...," lirihku.
"Aku janji setelah ini tidak akan pernah mengganggumu lagi, asal kamu jujur tentang sesungguhnya perasaanmu padaku saat ini, apakah sama denganku? Aku juga sangat mencintai istriku, tapi entah kenapa selalu ada rasa sesak bila mengingatmu, ada beban dan penyesalan kenapa kita tidak bisa hidup bersama ... Aku belum bisa melupakanmu, Put ...," jawaban Amar membuatku terdiam. Entah apa yang harus aku katakan tentang perasaanku yang sesungguhnya.
"Amar, kalau kamu ingin aku jujur ... aku sendiri tidak mengerti sebenarnya apa yang aku rasakan sesungguhnya dihatiku terhadapmu ... rasa ini seakan terus menjadi beban seumur hidup dalam hati dan hidupku ... yang pasti, aku selalu merasa sakit dan terluka bila tiba tiba bayanganmu muncul dalam ingatanku, aku tidak pernah ingin mengingatmu, tapi entah kenapa selalu banyak hal yang mengingatkanku terhadapmu, aku tak ingin terus terusan seperti ini. Aku harus ingat dengan statusku sebagai seorang istri, tidak sepatutnya aku masih menyimpan perasaan ini terhadapmu ...," jelasku kelu, mataku mulai berkaca kaca melepas beban yang selama ini terus menyiksa.
"Aku tidak ingin terus merasa berdosa dengan perasaan ini, walaupun aku tidak pernah melakukan apapun hingga mengkhianati ikatan suci pernikahanku bersama suamiku, tapi aku tetap merasa semua ini menjadi beban dalam hidupku ...," sebuah isakan kini menyertai penjelasanku kali ini.
Amar mendekat menghampiriku yang kini berdiri menunduk. Ia memegang kedua bahuku. Aku memberanikan diri menatapnya. Tatapan kami bertemu, sejenak kami beradu pandang ....
Bersambung ya, Cerpen part ini dibagi dua bagian karena lumayan panjang. Terimakasih yang sudah bersedia membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak dukunggannya. Terimakasih All 😘😘