Malam itu aku dan Varez pulang ke rumah. Dan ntah kenapa dia tak mau pulang ke rumahnya. Ia malah menemaniku malam itu. Aku yang dimarah oleh ayah dan ibu tentunya karena kejadian pergi ke pesta, dan Varez tetap di sampingku saat itu. Bahkan ia juga ikut menyalahkan dirinya sendiri karna kesalahan yang ku buat.
Kadang aku heran, apakah dia tak merasa tersinggung atau marah balik ketika dimarahi oleh orang tua ku. Ia hanya menunduk mengakui kesalahannya. Dan kalian tau hal ini bukan pertama kalinya. Bahkan sering terjadi, ia menyalahkan dirinya.
Aku benar benar tak habis pikir dengan manusia yang selalu mengikuti ku ini. Ntah sampai kapan dia akan mengalah seperti ini. Bahkan aku benar benar belum pernah melihat orang sebodohnya. Atau jangan jangan otaknya memiliki sedikit gangguan ya?
Aku terkadang sengaja membuat kesalahan bukan untuk mengetes dirinya namun karna memang benar benar mau melakukan kesalahan itu dan tentunya sudah siap dengan hukuman ataupun resikonya. Tapi dia? Dia dengan segala caranya selalu membuat diriku seolah melakukan sesuatu secara tidak sengaja. Dia selalu bersikap seolah sebagai seorang pahlawan. Membuat ku risih saja.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi itu seperti biasa aku dan dia pergi sekolah bersama. Ia menatap lurus jalanan itu sedangkan aku menatap dirinya yang juga sambil berjalan.
"Lea... Perhatikan langkahmu. Jika tidak kau akan terjatuh nanti, dan berhentilah melihatku seperti itu. Aku bahkan tidak akan meninggalkanmu." Ucapnya dengan suara seperti biasa tanpa melihatku.
Dan aku sungguh benar benar kesal dan muak dengan apa yang dia lakukan. Seolah semuanya baik baik saja. Seolah semuanya bisa ia tangani. Selalu menyelesaikan masalahku. Lalu apa gunanya diriku jika hanya menjalani kehidupan seperti itu itu saja. Bahkan tak memiliki satu kesalahan pun. Semuanya ia yang menanggung.
"Kau tidak merasa sakit hati karna semalam ayah memaki mu?" tanya ku heran
"Kenapa? Yang ayahmu katakan benar. Aku benar benar sudah teledor menjaganmu."
"Memangnya kau siapa yang bertugas selalu menjaga ku he?"
"Sahabatmu."
"Huh.... (Ku membuang napas kasar) Apa rencanamu?"
"Tidak ada. Hanya ingin selalu melindungi mu." Jawabnya santai.
"Oh ayolah Arez. Aku sudah muak dengan alasan mu itu. Sampai sejauh ini kau masih beralasan yang sama. Apa kau tak ada niat lain hm?"
"Tidak. Apa salahnya?" Tanya santai.
"Arggh... Aku benar benar muak denganmu. Berhentilah mendekatiku. Karna aku sudah menyukai seseorang." Geramku.
"Ohh.... Baiklah. Kau bisa bersama nya tapi aku tidak akan pernah menjauhimu."
"Dia tidak akan suka jika ada seorang laki laki yang mendekatiku. Aku bosan mengatakan padanya kau adalah sahabatku. Sebab ia tak akan pernah percaya itu.!"
"Baiklah. Aku akan mengatakannya."
"Argghh.... Arezzzzzz. Katakan apa mau mu!!"
Aku sudah benar benar frustasi menghadapi Varez yang seperti ini. Aku menunggu setiap harinya, dimana ia merasa bosan. Namun sampai hari ini hal itu pun belum terjadi.
Aku bertanya padanya, karna benar benar ingin tau alasan yang sebenarnya. Karna ku rasa selama ini ia selalu menyembunyikan sesuatu dari ku tapi aku tidak tau apa itu. Namun seperti yang kalian tau dia akan menjawab hal konyol itu.
Hari ini di sekolah seperti yang ku katakan bahwa aku menyukai seseorang. Aku dan dia mengobrol bersama di tangga sekolah.
Aku bukanlah anak famous ataupun cantik di sekolah. Namun untuk masalah teman laki laki, ada juga yang ingin berteman denganku. Bahkan kakak kelas pun pernah memberikan ku kado yang padahal bukan hari ulang tahun ku. Aku senang menerimanya, tapi tidak dengan Varez. Ia mengambil dan membuang kado itu.
Hingga aku menangis dan mengadu pada orang tuaku. Namun mereka lagi lagi membela anak itu.
"Kau ingin jalan bersama ku malam ini?" Tanya nya sambil menggenggam tanganku.
Sebenarnya aku agak risih karna tak pernah di buat seperti ini oleh laki laki lain.
Aku ingin menolaknya, namun tak lama Varez berjalan ke arah kami. Tentu saja penolakan itu tak terjadi. Aku menerima ajakannya. Bahkan wajahku kubuat terlihat begitu senang dengan ajakan itu.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu malam ini. Kau harus dandan yang cantik ya." Ucapannya yang ku angguki.
Tapi sepertinya ada seseorang yang tidak suka dengan hal itu. Ia langsung menarik tangan laki laki yang menggenggamku. Dan terjadilah pertengkaran antara mereka.
"Apa apaan kau!" Ucap laki laki itu.
"Harusnya kau merasa malu. Kenapa kau menggenggam tangannya?!"
"Kenapa? Apa itu masalah untuk mu? Lea saja tak marah."
Bukh....
"Yah... itu masalah untukku.!" Ucapnya setelah melayangkan satu pukulan ke wajah laki laki itu.
"Heyyy! Sudah cukup kalian berdua. Berhentilah Varez!! Arzen!!!" Teriakku berusaha memisahkan mereka berdua.
"Memang kau siapa nya hah?" Tanya Arzen.
"Hanya sahabatnya kan? hahaha.... Sudahlah Varez. Aku yang akan menjadi pacarnya nanti."
Bukh...
Satu pukulan mengenai Arzen lagi.
"Varezzzz!! Bisa kau hentikan hal konyol ini. Pergilah." Usirku padanya.
Yah disini yang paling banyak terluka adalah Arzen. Hingga aku lebih memilih menolongnya dan membawanya ke UKS.
Setelah luka Arzen ku obati, aku pun mengantarnya ke kelas. Dan kembali lagi ke kelasku.
Pulang sekolah ini aku memilih untuk tidak pulang bersama Varez karena masih kesal dengan apa yang dilakukannya tadi. Namun cuaca begitu mendukung hari ini. Di waktu pulang sekolah malah hujan dan aku pun tak membawa payung untuk pulang.
Aku memilih untuk menunggu hujan itu reda sambil berdiri di pojokan. Melihat sepatu ku yang basah karena percikan air hujan. Aku terus menduduk melihat sepatu ku. Dengan pikiran kosong.
Hingga ada seseorang muncul di sana. Langsung berjongkok dan hendak membuka sepatu ku. Aku yang terkejut langsung memundurkan kakiku. Namun karna di pojok aku tak bisa pergi jauh jauh.
"Jika kau pulang dengan sepatu, maka sepatumu akan basah nanti. Ini pakailah sandalmu." Ucapnya yang menaruh sepasang sandal biru di samping kaki ku.
Aku benar tak habis pikir bagaimana sandal saja mau ia bawa untukku. Bahkan aku tak terlalu peduli akan hal itu.
"Pergilah. Aku tak memerlukan itu." Ketusku.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Ini ambillah payungmu. Tidak baik jika berhujan hujanan. Kau bisa sakit nanti."
Aku melirik ke arahnya, melihat wajahnya yang terdapat sedikit luka karna pertengkarannya tadi. Dan aku juga menyetujui apa yang ia katakan. Tapi tangan ini rasanya berat untuk menerima.
"Tidak terima kasih. Aku akan menunggu sampai hujan reda. Kau bisa pulang terlebih dahulu."
"Baiklah. Aku akan ikut menunggu juga."
"Kau punya payung. Untuk apa kau menunggu di sini."
"Kau juga."
Aku diam begitu pun dengan dia. Saat ini aku begitu malas berdebat dengan manusia ini. Benar benar keras kepala pikir ku. Satu hal yang ku tau sampai saat ini. Bahwa Varez akan melakukan apa yang ia ucapkan.
"Lea, jangan pergi." Ucapnya lirih.
"Apa yang kau maksud? Pergi kemana?" ucapku yang bingung.
"Jangan pergi bersama laki laki tadi. Tidak baik jika...."
"STOP VAREZ. AKU BAHKAN TIDAK MEMINTA PENDAPATMU MAU KAU SETUJU ATAU TIDAK AKU PERGI BERSAMA ARZEN. LEBIH BAIK KAU DIAM DAN URUS SAJA URUSANMU. ATAU KAU BISA PERGI."
"Aku hanya...."
Belum selesai Ia bicara aku sudah meninggalkannya. Berjalan di bawah hujan yang begitu deras. Aku begitu malas mendengarkan ocehannya yang selalu saja sok tau itu. Namun Varez malah mengejarku. Aku pun berlari secepat mungkin agar ia tak bisa menyusulku.
"Lea... Jangan berlari nanti kau bisa terjatuh!" Teriaknya.
Bahkan di tengah hal seperti ini dia masih mengkhawatirkan aku seperti bocah. Sungguh tak habis pikirku. Hujan yang deras membuat jalanan begitu sepi bahkan tak terlihat satu pun kendaraan. Aku berjalan seenaku bahkan menyeberang dengan santainya.
"Pergilah Varez. Jangan ikut campur!!"
"Kau tau laki laki itu tidak lah baik untuk jadi pacar mu. Dia menginginkan sesuatu. Lebih baik kau jangan ikut bersamanya malam ini." Teriaknya yang memang tak jauh dari ku.
"Lalu, laki laki yang baik dan tak menginginkan sesuatu dari ku, seperti apa yang bisa jadi pacarku ha? Kau? Bahkan kau saja hanya sahabatku."
"Aku... Aku..."
"Apa kau tidak lelah selalu bicara kalau kau adalah sahabat ku?" tanyaku namun tak ada jawaban darinya.
"Huh... Baiklah. Terima kasih sudah menjaga ku selama ini. Kedepannya kau tak lagi harus melakukan itu." Ucapku yang berada di tengah jalan memandang ke arahnya.
Dia yang ada di seberang melihatku dengan tatapan ntah bagaimana itu. Hujan yang deras membuat ku tak bisa melihatnya dengan jelas.
Brumm... Brumm .....
Brukhhh.... Seseorang tertabrak dan terpental jauh.
Aku yang berada di tengah jalan melihat kejadian itu langsung lemas. Varez yang berada di seberang hendak berjalan ke arahku. Namun saat ia berjalan tiba tiba ada sebuah mobil yang begitu ngebut melaju ke arahnya. Hingga membuat ia tertabrak dan terpental.
"Varezzzzz...." Teriakku yang langsung berlari ke arahnya.
Darah yang sudah keluar dari mulut, hidung dan kepalanya membuat jalan itu sudah bersimbah darah. Aku menjerit meminta tolong. Orang yang menabraknya itu malah pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab. Aku berteriak minta tolong namun keadaan begitu sepi.
Bau amis menyerebak di hidungku karna darah Varez yang keluar sangat banyak.
"Tolong..... Tolong......" Teriakku.
Yang tak lama kemudian ada seorang pengemudi motor yang berhenti hendak menolong kami. Aku pun meminta tolong untuk menghubungi ambulance.
"Varezzz... tetep buka mata kamu ya. Sebentar lagi ambulance akan datang."
Aku memangku kepalanya di pangkuanku bahkan ku peluk dirinya. Aku benar benar terasa bermimpi melihat kejadian ini. Seluruh tubuhku gemetar melihat Varez yang bersimbah darah.
Aku mengelap darah yang ada di wajahnya di tambah dengan air hujan yang ikut membantu.
"Bersabarlah sedikit. Ku mohon... Kau harus bertahan untukku Varez. Jangan tinggalkan aku.... hiks.....hiks....."
Wajahnya yang sudah pucat bahkan matanya yang terlihat sudah susah untuk terus terbuka. Ia hendak meraih wajahku namun terlihat begitu susah, aku pun membantunya hingga ia menyentuh wajah ini.
"Kau..tau. Dengan kehadiranmu dan mengenalmu, aku merasa benar benar beruntung. Kau adalah wanita tercantik yang pernah ku temui. Kau juga terlihat begitu lucu saat sedang marah. Aku selalu ingin menjagamu walaupun kau selalu menyuruhku untuk pergi." Ucapnya yang sudah ternyata bata dan diiringi senyuman khas nya.
Aku menangis tersedu melihat keadaannya.
"Maaf. Tapi aku tidak akan menyuruhmu untuk pergi lagi. Bahkan tetaplah di sampingku. Jangan tinggalkan aku." Mohon ku.
"Tapi aku tak bisa bertahan lagi. Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Aku memang selama ini menyembunyikan sesuatu darimu."
"Aku tidak peduli dengan apa pun yang kau sembunyikan. Tetaplah bertahan dan jangan pergi. Pakkk dimana ambulance nya??!" Teriakku
"Masih dalam perjalanan nak." Ucapnya
"Hey... Jangan panik, Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucapnya sambil memberikan isyarat agar aku lebih mendekat ke wajahnya.
Aku pun menurutinya.
"A... Aku menyukaimu Azalea Mika." Ucapnya yang Kian melemah.
Tangis ku tambah pecah ketika ia mengucapkan satu kalimat yang selama ini tak pernah ku sangka.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang Varezzz.... Kenapa? Maaf selama ini aku tak pernah menghargainya keberadaan mu." Ucapku lalu mencium dahinya.
"Aku terlalu bodoh dan takut. Sudahlah semua sudah berlalu. Setelah ini kau harus menjaga dirimu dengan baik jangan mudah tertipu dengan laki laki.... Aku ingin tidur Lea..."
Aku yang menggenggam tangannya tersentak kaget saat tangan itu tak lagi membalas genggaman ku. Dan hembusan napasnya tak lagi dapat ku rasakan. Serta matanya sudah tertutup sempurna.
Aku membisikkan satu hal ditelinganya. Pernyataan yang belum sempat ku balas itu.
"Aku juga menyukaimu Alvarez Riki. Pulang lah dengan tenang dan damai."
Cup...
Satu kecupan perpisahan itu mendarat di dahinya.
'Selamat Jalan Kawan'
••••●•••••●•••••●••••••●•••••●•••••●•••••●•••••
Keterlambatan ku yang mengetahui sebuah rasa membuatku kehilangan seseorang yang benar benar berarti.
Hargailah seseorang yang masih peduli padamu walaupun kau sudah menyuruhnya untuk pergi namun ia masih stay di sampingmu.
Percayalah dia adalah orang yang benar benar tulus dan benar benar mencintaimu.
Genggam balik dia sebelum terlambat.
Kehilangan sesosok yang seperti itu bukanlah hal yang mudah apalagi dia hadir di setiap kau melakukan sesuatu.
Hingga akhirnya dari hari itu, aku tak lagi peduli dengan seorang laki laki dan terus memperbaiki diri. Hingga suatu hari nanti aku di pertemukan oleh seseorang yang bisa menjagaku sama sepertinya.
.
.
.
.
Lea ❤ Arez
🌼🌹🥀
.
.
.
.
.
Terima Kasih yang sudah mau baca🙏🙏🙏