Hari ini tak nampak berbeda dengan kemarin. Mentari yang baru saja muncul di ufuk timur, masih membawa seberkas sinarnya untuk menghangatkan bumi.
Suara ayam yang menjadi alarm alam, tak mampu menarik seorang gadis untuk keluar dari dalam dunia mimpi.
Anehnya, ia selalu terbangun ketika rongga penciumannya dipenuhi oleh aroma masakan. Aroma tak asing yang selalu dihirupnya kala pagi menjelang.
Gadis itu menggeliat di atas peraduannya. Berdiam diri sejenak dengan menyandarkan tubuh di besi ranjang yang telah berkarat.
Tanpa merapikan tempat tidur yang berantakan, langkahnya yang gontai membawa dia keluar kamar menuju kamar mandi. Melintasi dapur kecil dan sederhana, tempat sang ibu memasak.
Sang ibu menatapnya bangga, karena sudah beberapa hari si gadis tak perlu lagi dibangunkan.
Setelah menyegarkan badan, gadis itu kembali ke kamar kecilnya. Ternyata, sprei cokelat yang telah usang itu kembali rapi seperti semula.
"Nduk ... ayo cepat makan, selagi masih hangat." Sang ibu yang masih menyiapkan makanan untuk putrinya, memanggil dari arah dapur.
Seketika, manik mata hitam si gadis berputar jengah. Dengan penampilan yang telah rapi, ia melangkah malas menuju dapur yang juga berfungsi sebagai tempat makan. Ya, dirumah berukuran kecil ini, tak mungkin ada banyak ruang terpisah. Bahkan kamar mandi yang berukuran kecil pun masih harus berdiri diluar rumah, namun masih bisa diakses melalui pintu belakang dapur.
Dengan mimik wajah buruk, tatapannya terfokus pada makanan yang terhidang di atas amben bambu. Sayur bayam, tahu, tempe, dan cabai ulek, selalu menjadi menu pendamping sehari-hari.
"Kok cuma diliatin aja, cepet makan. Nanti kamu terlambat, Nduk." Sang ibu beranjak menuju sumur membawa alat dapur kotor, yang baru saja digunakan memasak.
Dengan kesal, tangan mungilnya menyendok kasar nasi putih di dalam bakul plastik. Ia menatap dengan tatapan tak berminat pada pilihan menu sederhana yang tersaji di depannya.
"Kok belum makan juga?" ucap sang ibu yang berjalan kembali ke dapur, dengan membawa peralatan masak yang baru saja dicuci. Ia menatap putrinya yang hanya mengaduk-aduk sayur bayam dalam mangkuk. "Cepet makannya, Nduk, nanti kamu telat loh," sambung wanita paruh baya itu.
Tak!
Gadis itu langsung melempar sendok sayur, hingga menimbulkan bunyi pada mangkuk beling berisi sayur bayam. Percikan kuah sayur terciprat seketika pada rok seragam birunya.
"Tiap hari makannya ini terus! Aku bosen! Tahu tempe tahu tempe, sekali-kali daging dong buk!" Perutnya tak lagi lapar, melihat menu yang tak menggugah seleranya. Bahkan hanya sekedar mencium aromanya pun, ia sudah tak berminat.
"Ibu gak punya uang buat beli daging. Tapi nanti kalau uangnya sudah ad ...."
"Hallah, dari dulu jawabannya gak punya uang terus!" umpatnya ketus memotong ucapan sang ibu.
"Bersyukurlah, Nak, selagi masih ada yang bisa kita makan. Diluar sana bahkan banyak orang yang gak punya makanan sedikitpun."
"Udahlah buk, aku tetep gak mau makan!" Gadis itu mengambil langkah besar meninggalkan dapur, bahkan sebelum mencicipi masakan sang ibu yang telah disiapkan untuknya.
Kedua netra tua itu mulai basah ketika melihat langkah gusar putrinya. Ia khawatir anaknya akan sakit jika pergi dengan perut kosong. Disamping itu, dadanya mulai sesak, mendapati kenyataan bahwa ia tak bisa membahagiakan anak semata wayang yang menjadi pelepas rindu akan mendiang sang suami.
•••
Tap! Tap! Tap!
Derap langkah kakinya mulai melemah. Tubuh yang tak terisi energi itu sedikit limbung. Namun beruntung hal itu masih tak membuatnya kehilangan kesadaran.
Priiitttt!
Suara peluit yang ditiup menandakan telah ada siswa yang mencapai garis finish. Ia yang masih tertinggal jauh di tengah lintasan, memilih semakin memelankan langkahnya. Menyerah dan pasrah.
Kali ini dia harus rela tak bisa memperoleh nilai maksimal dalam penilaian olahraga lari.
•••
Matahari semakin tinggi, tepat berada di atas ketika jam menunjukkan pukul duabelas siang. Panas yang semakin menyengat, menambah rasa dahaga di tenggorokannya yang sudah semakin kering.
Di perjalanan pulang, suara penggiling es batu membuatnya tergoda. Ia sangat kehausan. Namun karena kemarahannya pagi tadi, gadis itu sampai lupa meminta uang saku pada sang ibu. Alhasil, dia harus menahan lapar dan dahaga, apalagi setelah pelajaran olahraga. Sehingga mengakibatkan sekujur tubuhnya terasa semakin lemas.
Di saat-saat seperti inilah, penyesalannya muncul. Gadis itu kembali membayangkan masakan sang ibu pagi tadi. Makanan yang telah mendapat hinaan dari lisannya, ternyata malah membuatnya lapar hanya dengan membayangkannya saja.
Akhirnya, dengan rasa tak sabar untuk segera mengisi perutnya yang kosong, gadis itu berusaha mengayuh sepedanya lebih cepat.
Dengan napas terengah dan keringat yang menetes, ia menuntun sepedanya ketika tiba di depan rumahnya yang reot dan jauh dari kata layak. Gadis itu menatap bingung ke arah rumah kecil miliknya yang dipenuhi oleh para tetangga.
Isak tangis samar terdengar, bersamaan dengan keluar masuknya orang-orang yang menggunakan peci dan kerudung.
Seketika semua orang memandang ke arahnya. Menatap iba dengan lelehan cairan bening yang masih membasahi pipi mereka.
"Nduk, yang sabar ya, Nduk." Seorang wanita paruh baya menghampirinya, mengusap-usap pundak gadis itu sembari menahan tangis.
Gadis itu bergeming. Diam seperti batu. Namun pikirannya melayang, menerawang ke situasi terburuk dalam hidup.
Seketika, sendi-sendinya yang semula kaku seolah bergerak dengan sendirinya. Gadis itu menjatuhkan sepedanya begitu saja dan berlari masuk. Tak peduli pada orang-orang yang dia hantam, ia hanya ingin masuk dan memastikan.
Dilihatnya jasad yang sudah ditutupi oleh kain jarik coklat. Jasad itu diletakkan di atas amben bambu satu-satunya, yang biasa digunakan sang ibu untuk meletakkan makanan.
"IBUUUUUUKK!" Gadis itu langsung berlari dan bersimpuh ditanah. Disingkapnya kain jarik coklat yang menutupi wajah pucat sang ibu.
"Buk ... bangun ... Ibuk bangun. Hiks ... hiks." Diciumnya wajah sang ibu yang tadi pagi dibentaknya. Seketika membuat para tetangga yang ada berusaha menenangkan si gadis. "Ibuk bangun ... hiks. Aku g-gak mau se-sendirian." Suaranya tersenggal kala tangisnya semakin nyaring terdengar.
Seketika, ingatannya kembali berputar pada pagi tadi. Dia mengingat saat dirinya tak peduli pada raut sedih sang ibu, ketika ia menghina makanan yang dimasak untuknya.
Gadis itu menyesal, amat sangat menyesal hingga membuatnya melupakan rasa lapar yang sudah dideritanya sajak tadi.
•••
Kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa, membuatnya hidup sebatang kara. Seluruh keterbatasan yang dulu sang ibu rasakan, kini langsung dirasakannya sendiri. Tak ada lagi sapaan hangat dari wajah lesu surganya. Dia harus mandiri!
Ia rindu sayur bayam, ia rindu tempe dan tahu buatan sang ibu. Namun, sejak sang ibu tiada, gadis kecil itu harus bisa makan seadanya.
"Buk, aku kangen ibuk." Air matanya jatuh, menetesi piring plastik berisi nasi yang telah diberi kecap. Tak ada lagi makanan pendamping yang terlihat di piring yang dipegangnya. Bahkan nasi yang dimakannya hari ini, adalah nasi sisa yang diberikan oleh tetangganya.
Tok! Tok! Tok!
Atensi gadis kecil itu tersita, ketika pintu rumahnya diketuk kencang. Ia yang tengah berada di dapur seorang diri dan duduk bersila di amben, seketika menghentikan makannya.
Tok! Tok! Tok!
"Nduk ...."
Netra gadis itu membulat sempurna. Ia kenal dengan suara yang berasal dari pintu rumahnya.
Seketika tubuhnya membeku. Bahkan piring plastik di pangkuannya tak lagi ia genggam.
Tok! Tok! Tok!
"Nduk!"
Tok! Tok! Tok!
"Nduk ... Nduk bangun! Sudah siang loh ini!"
Suara nyaring pintu membuat netranya yang basah seketika terbuka. Ia memandang langit-langit rumah yang langsung memperlihatkan barisan genteng yang berlumut
"Hah ... ternyata aku mimpi." Gadis itu menegakkan tubuh dan bersandar pada besi ranjang yang telah berkarat. Ia lalu menyeka matanya yang terasa lembab, karena bermimpi hingga menangis.
"Nduk, sudah siang. Nanti kamu terlambat ke sekolah!"
"Ia buk! Aku bangun." Dia berteriak dari dalam kamarnya.
Gadis itu beranjak dari atas tempat tidur, berniat langsung keluar. Namun, langkahnya terhenti. Ia lantas merapikan tempat tidurnya. Walau tak serapi saat sang ibu yang merapikannya, setidaknya ia berusaha berubah.
Setelah mandi dan berseragam rapi, ia langsung menuju dapur untuk makan. Di atas amben telah tersedia sayur bayam, tahu, dan tempe, serta cabai ulek.
"Nduk, maaf ya ibu cuma bisa masak ini. Hari ini tempenya ibuk masak mendoan, biar agak beda. Nanti kalau ibu sudah punya uang, ibu akan masakin kamu makanan yang enak."
Gadis itu berdiri tegak, memandang wajah bersalah sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Mimpi yang selamam kembali terlintas di benaknya. Ia tak ingin menyesal seperti dalam mimpinya. Ia harus bersyukur.
"Gak papa buk. Yang penting masih ada yang bisa dimakan," ucap gadis itu seraya menahan matanya yang mulai berair.
Sang ibu lega mendengar keihlasan putrinya. Wanita itu berharap anak gadisnya akan selalu bersyukur seperti ini. "Oh, iya. Ya sudah cepetan makan biar gak gak telat ke sekolah," ujarnya.
"Buk, kita makan sama-sama ya," pinta gadis itu tak biasa. "Ayolah buk, temenin aku makan. Ya!" Ia menarik tangan sang ibu dan menyuruhnya duduk di amben bambu.
"Ya sudah, iya ibuk temenin."
Mereka berdua bersila di atas amben bambu. Mengisi masing-masing piring dan bersiap menyantap hidangan sederhana yang tersaji.
"Nduk, makannya jangan sedikit-sedikit. Nih, ambil lagi tempenya." Seraya meletakkan sepotong lagi tempe mendoan ke atas piring putrinya.
"Hehe ... iya, Buk. Makasih." Gadis itu menyantap makanan di piringnya dengan lahap. Sesekali ia mencoba memuju masakan buatan ibunya.
Meski lidah mereka sudah sangat terbiasa menyantap menu yang sama setiap hari, namun hari ini rasanya sungguh berbeda. Ada sensasi yang tak bisa digambarkan.
Mungkin inilah wujud ikhlas dan bersyukur, selalu terasa nikmat walau yang mereka punya saat ini tidak seberapa.
🍥🍥🍥
Terkadang, apa yang kita pandang tak seberapa justru sangat berharga bagi orang lain. Disaat kita hanya bisa menyantap makanan seadanya, justru diluar sana masih banyak orang-orang yang tak bisa menyantap apapun untuk mengisi perut mereka. Mereka terlunta-lunta, mengais rejeki hanya demi sesuap nasi. Menyambung hidup yang kian kejam mendera.
Potret mereka adalah pelajaran, bahwa kita beruntung masih memiliki hidup yang lebih baik. Walau tak seberapa, ucapan syukur harus tetap bergema ketika kita masih bisa menikmati makanan yang ada.
So, love your food everyday. ❤