Kiara diajak Jack ke mall besar. Awalnya Kiara menolak dengan berbagai alasan. Karena ketelatenan Jack, Kiara menurutinya saja. Jack ingin membelikan baju baru dan lainnya untuk Kiara. Tidak lupa membelikan gaun pernikahan secara diam-diam.
Kiara masuk ke dalam mall dengan mata membelalak. Dia tidak pernah melihat toko baju sebesar ini. "Wah, besar sekali. Kayaknya, bukan baju dong yang dijual disini. "
Jack ikut senang mendengarnya. "Disini banyak sekali berbagai pakaian, gaun, peralatan rumah tangga, permainan, dan juga makanan. Kamu tidak pernah kesini kan?"
"Tidak pernah sama sekali. Aku mah sering ke supermarket. " Kiara mendekat ke salah satu toko baju. Dia melihat-lihat koleksi baju baru yang indah dan menarik.
Jack mengikuti langkah kaki Kiara agar tidak tersesat. Dia tidak mau mengulangi kehilangan wanitanya untuk yang kedua kali. Dia bisa tahu arah pandangan Kiara.
"Apakah kamu ingin baju itu?"tanya Jack.
Kiara melihat terlebih dahulu harganya. Ternyata harganya mahal sekali. Dia tidak sanggup untuk membayarnya. Apa Jack yang akan membayar semua belanjaannya?
"Tidak. Itu terlalu mahal. "
Jack mengambil baju yang berwarna merah muda yang cantik. "Tidak masalah. Aku akan membayar semuanya. "Dia kemudian mengambil beberapa baju lagi yang menurutnya bagus dan cukup untuk Kiara.
"Enggak usah banyak-banyak. Aku cuma butuh satu kok. "
Jack berdecak sebal dan dia menoel jidat Kiara. "Kamu cuma baju itu-itu saja. Kamu pasti bosan kan?"
"Em.. iya aku bosan. " Kiara tidak tahu apakah pria itu baik atau tidak. Dia tidak enak kalau dibelikan semuanya. Dia bukan wanita yang suka berbelanja yang mahal.
Kiara berjongkok di hadapan rak sepatu. Dia menyukai sepatu hak tinggi dengan kaos kakinya. Dia memilih sepatu yang berwarna hitam karena cocok untuknya. Selanjutnya, mengambil sepatu ballerina yang berwarna pink dan putih.
Jack hanya duduk menunggu barang yang ingin dibeli Kiara. "Apakah kamu suka ballet?"
Kiara menoleh kearah Jack lalu berdiri di depannya. Dia mengangguk kepala dengan senyuman lebar. "Aku sangat menyukai ballet. Aku tidak seharusnya membeli banyak barang. "
"Hey, kamu itu wanitaku. Kamu tidak perlu merasa tidak enakan seperti ini. Lagipula, aku bukan orang miskin dan suka boros. Aku tahu batas pengeluaran harian. "
"Oh baiklah."jawab Kiara singkat.
Seperempat jam kemudian, Jack merasa perutnya lapar. Dia tadi pagi cuma makan roti tawar dengan selai kacang. Dia juga terlalu bersemangat untuk membelikan Kiara jajan.
Terdengar suara perut milik Kiara. "Aku lapar sekali. Apa disini ada yang jualan nasi goreng? ". Dia kesini sama sekali tidak makan apapun dan benar-benar lupa karena jarang sarapan.
Jujur, Jack juga merasa lapar. Dia ingin membeli nasi goreng yang tidak jauh dari tempat duduknya. "Disitu aja gimana?". Jack menawarkan sambil menunjuk ke penjual makanan.
Kiara mengangguk dengan antusias dan semangat. Dia tidak pernah bertemu dengan seorang lelaki yang sebaik Jack. Kenapa dia pikir lelaki itu sama seperti luaran sana. Ternyata orang yang satu ini benar-benar berbeda.
Jack menuju ke penjual tersebut. Dia memesan nasi goreng dengan topping sosis dan es americano. Lalu kembali duduk di tempatnya semula.
"Aku tidak tahu kenapa kamu sangat berbeda dengan lelaki luaran sana. Mereka selalu mengataiku dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaanku. " Kiara berbicara sendiri dan Jack mendengarnya.
Kiara menghela nafas panjang dan berat. Dia tidak tahu seberapa jahat orang yang telah menyiksanya. Entah bagaimana kondisinya, dia sudah tidak perduli lagi. Mereka hanya memanfaatkanku saja. Batinnya.
"Jack, apa kamu mau membawaku ke rumah orang yang menyiksaku?". Kiara bertanya dengan takut-takut.
Jack berdecak sebal karena tidak suka mendengar orang itu lagi. Namun demi Kiara, dia menurutinya saja karena ingin bertemu dengan mereka. "Yes, honey. Tapi kamu jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. "
"Makasih...honey"
Apa? Dia memanggilku 'honey'? "Teruslah memanggilku seperti itu. Aku sangat menyukainya dan love you. "
Kiara tidak bermaksud mengucapkan hal itu. Entah kenapa mulutnya berbicara mengeluarkan kata ini. " Aku.. ingin mencoba mencintaimu walaupun aku tidak begitu mengenalmu. "
"Tidak masalah. Kamu makanlah nasi goreng sampai kenyang. " Ujar Jack. Dia melihat cara makan Kiara yang dirindukannya. Tidak menyangka bahwa bertemu lagi dengan orang yang dicintainya.
***
Jack sedang mengerjakan berkas-berkas yang harus dikerjakan. Kepalanya yang dulu pusing karena pekerjaan, sekarang sudah enakan. Itu mungkin karena kehadiran Kiara di dekatnya.
"Apa mungkin karena ada dia?" Telepon Jack yang berdering pertanda ada panggilan yang masuk. Dia membaca sang penelepon lalu mengangkatnya.
"Jack, kapan kamu akan menikah?"tanya orang diseberang sana.
"Aku akan menikah segera. Yah, aku sudah memiliki calon istri. " Dia tahu akan menikah dengan wanita lain kalau belum ada yang menjadi calon istrinya. Alias dia dijodohkan dengan wanita yang sangat menjengkelkan sekali.
Pria tua itu memegang pelipisnya yang terasa pusing. Dia adalah ayahnya Jack yang sudah berkepala dua. Dia ingin Jack segera menikah sebelum nafas terakhirnya.
"Apa calon istrimu bisa mengurus mu dengan baik?"tanya ayah Jack. Dia ingin memastikan bahwa Jack mendapatkan wanita yang tepat.
Jack tidak tahu bagaimana menjawabnya. Dia linglung dan bingung karena tidak bisa memastikannya. Namun, didalam lubuk hati yang paling dalam, dia yakin bisa.
"Maaf ayah. Aku tidak tahu jawabannya sekarang. "
"Apa maksudmu? Tapi, kamu yakin kan?"
Yakin tentu saja. Jack tidak begitu lama bersama dengan wanitanya. Jadi, ada sedikit keraguan yang mengganggunya. Sebelum pertanyaan itu, dia menarik nafas panjang dan membuangnya.
"Aku yakin pada wanitaku. Ah ya, ayah pasti tidak menyangka. "
Ayahnya tersenyum mendengarnya. Dia bahagia jika anaknya sudah punya wanita lain tanpa dia jodohkan.
"Baguslah kalau begitu. " Ayahnya mematikan ponsel secara sepihak. Dia kemudian menyesap kopinya yang mulai dingin.
Jack mengirim pesan singkat kepada seseorang. Dia ingin mengundang orang tersebut untuk perayaan ulang tahun perusahaan. Orang tersebut benar-benar penting untuknya setelah wanitanya.