Ada yang bilang persahabatan pria dan wanita kalau nggak berakhir pacaran pasti di tinggal nikah duluan.
Harusnya gue tau itu beneran terjadi. Ketika Alvaro bilang dia mau nikah sama perempuan yang buat dia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Falling in love at first sight katanya.
" Kenapa jadi ngelamun sihhh.? " Tanya Alvaro
" Lo yakin mau ngelamar Vika, nggak pacaran dulu, Lo kan belum tau sikapnya dia kaya gimana, nikah itu kan sekali seumur hidup Al, tapi...."
" Please dehhh cerewet Lo keluar lagi. Dengerin gue key ."
Bagaimana bisa gue dengerin Lo Al, cowo yang gue suka mau tiba - tiba mau nikah, perasaan gue gimana jadinya ?
" Untuk kali ini gue yakin dia cewe yang tepat buat jadi pendamping hidup gue."
" Kenapa Lo yakin banget kalau Vika cewe yang tepat."
" Insting gue bilang gitu."
Pembicaraan kita selesai sampai 2 Minggu kemudian kami sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Gue sibuk ngurus toko bunga gue dan dia jadi dosen di salah satu kampus terkenal di kota ini.
Alvaro salah satu sahabat gue dari jaman kuliah, cowok playboy dengan gue yang pendiam. Tidak cocok sepertinya.
Gue Keyra Annastasia suka sama sahabat gue sendiri Alvaro Bastian dari jaman masih kuliah samapai sekarang. Karena besok gue memutuskan untuk berhenti menyukainya.
Sampai pertahanan gue runtuh lagi....
" Keyra sayang temenin gue ke mall besok jam 10 pagi, gue jemput di rumah Lo."
Dengan satu pesan dari nya gue kembali suka sama tuhh cowo.
Alvaro benar - benar datang dan ngajak gue milih cincin lamaran buat Vika.
" Menurut Lo bagus yang mana ?."
Dengan malas gue nunjuk ke salah satu cincin dengan bunga mawar , gue suka cincin itu kalau boleh jujur.
" Pilihan Lo memang yang terbaik. "
Bisa nggak gue juga jadi pilihan di hidup Lo Alvaro, ucap gue dalam hati.
" Kapan Lo ngelamar Vika ?" Tanya gue.
" Minggu depan, gue juga masih harus nyiapin beberapa hal, Lo bantu gue ya."
Dengan pasrah gue meng iyaka. Sabar Key cuma sampai Minggu depan , setelah itu gue nggak akan ketemu Alvaro lagi selamanya.
Vika Rianti, dia merupakan cewe populer di kampus dulu, mana mungkin gue lupa.
Besoknya kita lebih sering ketemu buat bahas persiapan lamaran nya, mulai dari dekor tempat, hadiah dan yang lainnya. Sebelumnya dia sudah izin sama kedua orangtuanya Vika dan mereka setuju. Hati gue jadi makin hancur.
" Al, besok gue nggak bisa hadir di acara lamaran Lo, sorry ."
" Kenapa ? Lo salah satu orang terpenting di hidup gue jadi Lo harus hadir."
Gue masih aja baper denger dia ngomong gitu dasar gue, bucin banget.
" Sorry nggak bisa , besok gue harus pergi ke suatu tempat soalnya, penting banget nggak bisa di tunda."
Semoga alasan gue bisa meyakinkan dia, atau gue malah berharap dia bujuk gue buat bisa hadir. Nyatanya dia hanya mengiyakan aja tanpa protes.
Gue melamun memandang koper yang selesai gue packing, besok gue mau pergi ke Jerman. Sebenarnya gue mau bilang ke Alvaro kalau gue udah dapet tempat buat buka toko di sana, kenapa harus di sana, karena itu salah satu mimpi gue. Punya toko kue dengan pemandangan indah.
Waktu gue untuk Alvaro udah habis.
Di hari lamaran nya Alvaro gue pergi, rasa cinta dan sayang gue buat Alvaro gue tinggal di sini biar dikenang bahwa ada seorang cewe pendiam tanpa malunya malah jatuh cinta sama sahabatnya sendiri.
Gue akan memulai hidup gue yang baru di sana.
Setahun kemuadian ....
Cafe Green Rose dengan tema taman bunga ramai dikunjungi. Walaupun masih baru tapi sudah cukup terkenal. Kalau ada yang tanya apa gue masih mikirin Alvaro jawab nya gue masih mengingat dia. Tentang kabarnya gue nggak tahu karena gue udah menghapus semua media komunikasi samanya.
Terkadang gue kesepian, suka inget Alvaro yang selalu hibur gue kadang nginep di rumah gue karena dia tau gue hidup sebatang kara.
Sudah Key , lupain kenapa masih aja di inget.
Matahari kini sudah kembali ke peraduannya, hari sudah gelap, Cafe sudah tutup beberapa jam yang lalu. Para pegawai sudah selesai bersih - bersih. Tinggal gue yang memilih diam di sini.
Alvaro pasti udah nikah dan punya anak sama Vika sedangkan gue masih di sini meratapi penyesalan, harusnya gue dulu lebih berani buat ngungkapin perasaan gue sama dia.
Seandainya dan seandainya gak bisa di putar ulang.
Tanpa disadari kristal bening jatuh di kedua pipi gue. Isakan kecil terdengar, air mata gue makin tak terbendung. Gue terduduk menyembunyikan wajah ku dalam kedua lutut ku.
" Al.... Gue suka sama Lo.... Gue suka sama Lo..."
" Al....."
" Gue juga suka sama Lo Key..."
" Gue kesepian...."
" Gue juga ."
" Gue kangen sama Lo ."
" Gue lebih kangen sama Lo Key."
" Gue pengen Lo ada di sini Al."
" Gue udah disini..."
Seketika gue mengangkat wajah gue, menatap ke arah depan. Masih kosong dan sepi. Gue makin gila berharap Alvaro nyusul gue, nyari gue kesini. Air mata gue kembali mengalir.
" Gue sekarang udah gila karena denger suara Lo ."
" Lo nggak gila."
Tangisan gue makin kenceng, halusinasi yang seperti kenyataan.
" Gue halu.."
" Gue disini Key."
Kini tampak seseorang yang berdiri di hadapan gue. Dia mensejajarkan wajah nya dengan gue.
Alvaro dia disini.
Alvaro mendekap gue dalam pelukannya terasa hangat dan lebih nyata. Gue memeluknya dengan erat, untuk kali ini saja jangan bangunin gue dari mimpi indah ini.
" Jangan bangunin gue dari mimpi kali ini aja."
" Lo nggak mimpi, gue beneran ada bukan sekedar halusinasi Lo ."
Sebuah kecupan di bibir menyadarkan gue bahwa Alvaro Rizky ada di hadapan Keyra Annastasia.
Seperti di tarik gravitasi gue langsung sadar.
" Kenapa Lo ada di sini." Tanya gue, tangisan gue juga udah reda.
" Karena Lo ada disini."
" Nggak, maksud gue Lo harusnya sama Vika...."
" Jadi Vika alasan Lo pergi dari gue."
Ada hal yang gue gak ngerti di sini
" Bukan Vika yang gue lamar hari itu, tapi salah satu cewe yang malah kabur ke jerman. Dan gue butuh waktu lama buat bisa nemu in dia lagi."
" Kalau bukan Vika siapa ?."
Alvaro tersenyum manis, tangan nya terulur menghapus jejak air mata di pipi gue.
" Seorang cewe bernama Keyra Annastasia, sahabat gue sendiri."
Alvaro memasangkan cincin di jari manis gue, cincin yang gue pilih bareng sama dia.
" Bagaimana bisa ?."
" Gue suka sama Lo Key , Gue Alvaro Rizky meminta Keyra Annastasia menjadi istri gue dan Lo harus mau nggak boleh nolak, gue udah nunggu satu tahun plus nyari on Lo kek orang gila jadi kali ini gue maksa."
Gue tertawa kini Al terlihat cerewet. Entahlah nanti gue bakal nagih penjelasan ke dia tentang bagaimana dia disini. Kali ini gue harus kasih jawaban.
" Iya gue mau."
Tamat