~Happy Reading~
Dalam hidup, kita melewati telah banyak hal. Contohnya saja tentang pertemuan dan perpisahan. Terkadang, kedua hal tadi diikuti dengan sebuah perasaan yang membuat keadaan jadi makin teringat jelas dalam ingatan.
Kali ini, mungkin bisa dibilang sebuah pertemuan yang diikuti dengan perasaan senang sekaligus sedih dalam satu waktu.
Toko buku itu, menjadi salah satu saksi bisu pertemuan kami. Lorong dimana berbagai buku fiksi berjejer dan bersih, menjadi tempat yang akan selalu aku ingat.
Malam itu, aku hendak meminjam sebuah buku yang sudah kuincar sejak dia hari lalu. Dari sekian banyaknya antrian pinjaman, kini tiba saatnya giliranku.
"Lorong 14, susunan ke 5" Aku menoleh, mencari dimana letak buku itu. "Nah, ini dia lorong 14"
Senyumku mengembang ketika berhasil menemukan lorong yang dimaksud. Hey, ini seperti game detektif yang biasa kumainkan dirumah. Jika dalam dunia nyata, agak sulit juga rupanya.
"Susunan ke lim-" Menghitung satu persatu susunan rak itu dari bawah ke atas, "Yah, tinggi.. gimana dong?" Aku menghela napas pelan.
Jujur, aku ini tidak terlalu tinggi. Hanya sekitar 162 cm saja. Dan lihat, rak ini begitu tinggi dihadapanku. Mana tidak ada tangga pula.
Kecewa, aku berbalik.
"?!!"
Tiba-tiba saja ada seorang remaja laki-laki yang berdiri tepat dibelakangku. Remaja ini lebih tinggi dariku, aku hanya setinggi pundaknya saja. Tapi, kelihatannya dia seumuran denganku.
"K-kamu mengagetkanku saja.." Menggeser langkah ke kiri, lantas berkedip mengalihkan pandangan.
Laki-laki itu tersenyum. Hey, dia cukup tampan.
"Rupanya kamu hanya bertambah 20 cm saja dari terakhir kali kita bertemu, Li"
Aku mengerutkan kening. Dia mengenalku?
"Kamu mengenalku?" tanyaku.
"Kamu melupakanku? kamu tidak ingat siapa aku?" jawabnya dengan wajah penuh tanya.
"Maaf, tapi aku tidak mengenalmu" ucapku dengan jujur.
"Astaga, Lia" laki-laki itu tertawa kecil "Aku Salim, teman sekelasmu saat SMP dulu"
"Salim?" Aku mencoba mengingatnya.
"OH?! SALIM?? ASTAGA MAAF" Ya, aku baru ingat. Dulu, aku dan dia berteman akrab. Namun karena Salim harus pindah ke Luar Kota, kami jadi jarang bertukar kabar. "Salim? k-kamu terlihat sangat berbeda.. "
"Benarkah?" Dia tersenyum lembut menatapku.
Ya, dia tambah tampan.
"Lihat, kamu sangat tinggi sekarang" Aku tertawa kecil melihatnya. "Semakin mirip dengan tiang listrik"
"Hey, enak saja!" Densus Salim sembari ikut tertawa "Kamu semakin cantik saja, Li" Ucapnya kemudian.
Hey astaga aku jadi malu.
"Tidak juga, tapi terimakasih atas pujiannya" Aku tersenyum kecil "Kenapa kamu tidak mengabari sebelum kemari?"
"Sengaja, aku inginya langsung menemuimu tanpa harus bertukar kabar lewat handphone, lagipula aku sangat merindukanmu"
Lagi lagi, aku tertawa kecil mendengar ucapannya. Anak ini tidak berubah rupanya, masih terlalu jujur "Kamu ini to the poin sekali, Salim.."
"Kamu senang aku datang?"
"Tentu, siapa yang tidak senang bertemu teman lama?" Aku menatapnya.
"Hey, ayo pergi bersamaku.. aku tahu kamu sudah satu jam yang lalu ditempat ini, kan? kali ini kamu harus ikut denganku" Salim tersenyum lebar, menarik pelan pergelangan tanganku bersamanya.
"Eh? kemana kamu akan membawaku pergi? Salim aku-"
"Sudah diam saja dan ikut aku, nona" Salim tersenyum lebar, merangkulku.
Kami tertawa bersama.
Salim membawaku pergi menuju cafe yang berada di sekitar taman kota. Cafe yang baru pertama kali aku kunjungi.
"Kamu pasti jarang ke tempat seperti ini, kan?" Kini kami sudah duduk di salah satu set tempat duduk untuk dua orang.
Aku mengangguk, tersenyum. Dia benar, aku hanya akan keluar rumah jika ada perlu saja. Satu satunya tempat yang sering aku kunjungi adalah perpustakaan. Hanya itu.
"Ngomong ngomong, bagaimana kamu tahu aku ada di perpustakaan?" tanyaku.
"Memangnya kemana lagi tempat keduamu selain rumah?" Salim terkekeh pelan "Tadi aku sudah ke rumahmu, tante bilang kamu sedang pergi ke luar"
"Oh, begitu.. " Aku mengangguk pelan, tersenyum.
Aku senang, Salim akhirnya pulang menemuiku. Anak ini selalu membuat kejutan yang bisa membuatku langsung tersenyum. Dia tidak berubah selama dua tahun terakhir, dia masih Salim yang selalu kurindukan kehadirannya setiap saat.
Kami berbincang panjang lebar. Hingga sampai pada suatu kata yang membuatku terdiam seribu bahasa.
"Aku akan pergi ke Korea Selatan untuk studi selama lima tahun, Li.. do'akan ya"
Kini, aku dan Salim harus berpisah dalam jarak yang semakin jauh. Juga dalam waktu yang lebih lama. Berpisah antar kota saja sudah harus menanggung rindu yang berat, apalagi harus berpisah antar negara?
Aku tidak melarangnya untuk pergi, toh itu adalah hal yang bagus bukan? Salim memang anak yang pandai.
Meskipun aku harus melepaskannya, juga harus menahan rindu lebih berat lagi kedepannya.
"Pasti, Salim.." jawabku.