Ting.. ting.. ting.. terdengar suara ponsel yang sedang berbunyi. Dinda yang lagi asik duduk di ruang depan seketika bangkit dari duduknya dan segera mengangkat panggilan itu.
"Ari?" Ucap Dinda yang sedang menatap layar ponsel lalu mengangkat panggilan itu.
"Hallo kenapa Ri?" Tanya Dinda dengan nada yang agak meninggi.
"Assalamualaikum Din, kamu lagi apa?" Tanya Ari.
"Waalaikumsalam, lagi duduk aja nih eh tiba-tiba di ganggu samamu."
"Astaga Din, kamu tuh ya. Eh kamu udah tau belum kalau lusa kampus kita ngadain acara 17an dan kamu harus datang?" Jelas Ari.
"Hah? Emang harus ya? Aku lagi di luar kota nih."
"Lah emang dirimu dimana? Kata Pak Gilang semua mahasiswa yang dapat beasiswa harus hadir terutama pas upacara. Kalau tidak, beasiswa mu dicabut loh."
"Seriusan? Jangan bohong kamu Ri." Tanya Dinda yang sudah mulai gugup.
"Iya Din, kalau kamu gak mau beasiswamu dicabut mau tak mau kamu harus datang."
*Telpon berakhir*
Dinda sudah pulang ke kotanya selama dua bulan karena libur akhir semester dan sekarang dia sedang menikmati masa liburnya ini. Tapi karena mendapat info dari teman sekelasnya barusan dia kebingungan dengan situasinya saat ini. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang. Cukup lama Dinda mondar mandir dari ruang tamu depan hingga ke dapur namun masih belum juga menemukan titik terangnya.
"Lah kenapa kamu mondar mandir terus Din?" Tanya Ibu Dinda yang barusan masuk.
"I..Ini Bu, Dinda bingung harus gimana?" Jawab Dinda.
"Bingung kenapa?" Tanya Ibu Dinda dengan heran.
"Dinda harus datang ke kampus lusa Bu, kalau gak beasiswa Dinda dicabut Bu."
"Hah? Yaudah kamu harus siapkan barang-barang kamu sekarang."
Tanpa pikir panjang Dinda pun langsung ke kamar dan mengemas barang yang akan di bawanya. Setelah menyelesaikan barang-barang dengan cepat tangannya menyambar ponsel dan segera memesan tiket pesawat untuk keberangkatan besok pagi.
Hari sudah malam, setelah melewati sore yang kudu gercep untuk persiapan keberangkatan besok akhirnya Dinda bisa membaringkan tubuhnya ke atas kasur kesayangan.
"Bu, Dinda berangkat ya." Ucap Dinda yang sudah menggenggam tangkai tarikan koper di tangan kirinya dan tangan kanannya sedang menyalami Ibunya.
"Hati-hati nak." Ucap Ibunya sambil melambaikan tangannya.
*Di Jambi*
Dinda tiba di kosannya, dengan napas yang tersengal ia memasukan kopernya lalu membaringkan tubuhnya ke kasur.
"Ah dasar, kenapa coba harus datang? Tahun kemarin aja kagak." Keluh Dinda dengan kesal.
*Tgl 17 Agustus*
Dinda sudah berdiri di depan kampus sambil memperhatikan orang-orang yang tengah berjalan mengenakan pakaian hitam putih semua termasuk dia. Ia melangkahkan kakinya menuju ke lapangan untuk ikut upacara.
"Eh Din bukannya kamu balik ke Palembang kemarin? Kenapa bisa ada di sini sekarang?" Tanya Sinta heran saat melihat sahabatnya tiba-tiba nongol.
"Lah bukannya kalau aku gak datang bakal dicabut beasiswaku?" Tanya Dinda dengan polosnya.
"Kata siapa?"
Kebetulan saat itu mata Dinda menangkap Ari yang sedang berdiri di antara teman-temannya. Ia pun mengacungkan telunjuknya ke arah Ari.
Sinta menoleh dan mendapati Ari yang sedang di tunjuk oleh jari telunjuk milik Dinda.
"Ari?" Tanya Sinta lagi dan terheran.
Dinda hanya menganggukan kepalanya.
"Dinda.. Dinda percuma kamu dapat beasiswa kalau gampang banget dikibulin gini. Kenapa gak tanya dulu ke aku?" Guman Sinta yang kesal melihat sahabatnya dikibulin.
Benar juga apa yang dikatakan Sinta tapi karena emosi Dinda pun tanpa berkata lagi berjalan menghampiri Ari dengan muka kesalnya. Dia menghelahkan napasnya dan..
"Eh Ri, Ini semua gara-gara kamu." Ucap Dinda kesal sambil melototkan matanya.
Ari kaget dengan kedatangan Dinda yang tiba-tiba marah gak jelas. Ia pun menyuruh temannya untuk agak menjauh darinya.
"Eh Dinda? Kenapa marah-marah gitu. Duh mukanya pake acara cemberut segala lagi." Ucap Ari sambil senyam senyum.
Dinda mengkernyitkan dahinya.
"Kamu harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa? Emang kamu hamil?" Tanya Ari sambil tertawa.
"Ari.. Gara-gara kamu waktu liburku terganggu dan harus balik lagi kesini. Libur kita masih ada satu bulan lagi, gak seharusnya aku di sini."
Ari berjalan mendekati Dinda, lalu menundukkan sedikit kepalanya untuk memandangi wajah Dinda dari dekat. Ia pun menatap dalam mata kecoklatan milik Dinda.
Deg! jantung Dinda berdegup kencang saat Ari menatap matanya.
"Yaudah, ayo kita ke KUA sekarang." Bisik Ari sambil tersenyum mengejek.
"Ri.."
Belum sempat Dinda mengoceh lagi, panggilan untuk segera berkumpul dilapangan dan merapikan barisan sudah berbunyi. "Mahasiswa sekalian silahkan atur barisan sesuai dengan jurusan masing-masing." Ucap panitia.
Dinda pun menghentikan kata-kata yang barusan ingin dilontarkannya tapi Ia menunjukan kepalan tangan ke arah Ari sebagai tanda kubunuh kau nanti tunggu aja setelah upacara selesai.
*Usai Upacara*
Dinda mencari-cari keberadaan Ari yang tiba-tiba hilang begitu saja.
"Din, cari siapa?" Tanya Mei sahabatnya.
"Paling cariin Ari." Ucap Sinta sambil tersenyum ngejek.
"Bukannya bantuin kek eh mala asik aja ngejek orang terus." Sahut Dinda keras yang masih dengan keadaan emosi.
"Lah emang kenapa si Din?" Tanya lagi Mei sambil ketawa ketiwi.
"Dih.. Gak ada yang bener nih temen-temenku. Mala pada ketawa gak jelas." Ucap Dinda lalu berlalu dari pandangan Sinta dan Mei.
"Kenapa si Dia?" Tanya Mei yang masih dengan penasaran.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Sinta menyeret tangan Mei untuk membuntuti Dinda dari belakang.
"Eh disini rupanya dirimu Ri?" Ucap Dinda dengan nada yang agak tinggi.
Ari pun menoleh dan didapatinya Dinda dengan muka kesalnya.
Ari mendekati Dinda dan menyeret tangannya untuk ke depan.
"Aku mainnya sama Dinda." Ucap Ari pada panitia lomba tari balon.
Dinda planga-plongo melihat kanan kiri, semua berpasang pasangan sambil memegang satu balon.
"Bagus, sekarang kita bisa mulai lomba tari balonnya. Ucap seorang pria sambil memberikan satu balon pada Ari.
"Musik.." Ucap pria tadi.
Musik pun berbunyi dengan kencang dan peserta yang ikut dalam lomba pun mulai menari dengan menempelkan wajah ke balon itu.
"Ayo tempelkan wajahmu ke balon ini?" Ucap Ari yang sudah menempelkan wajahnya pada balon yang ia pegang.
Dinda melihat kiri kanan dan tak enak jika pergi begitu saja, Ia pun menurut saja. Dengan malu ia mulai menempelkan wajahnya pada balon itu dan sedikit menari-nari. Sementara Ari sedikit agak menjokok karena tinggi mereka yang berbeda namun ia tetap menari dengan bahagia.
Beberapa menit kemudian para peserta mulai menjatuhkan balonnya dan yang tersisa tinggallah Dinda dan Ari. Mereka berdua menjadi juara dalam lomba tari balon ini. Tanpa sadar Dinda merasa sangat senang karena kemenangannya dengan Ari. Ia tersenyum lalu menatap Ari, Ari pun sedang tersenyum menatap Dinda sedari tadi.
"Gimana menang kan kita?"
"Hadiahnya nanti buat kamu aja kok."
"Gak marah lagi kan?" Ucap Ari lagi.
Ari sengaja menelpon Dinda dengan waktu terdesak supaya Dinda bisa balik ke kota ini segera.Ia tau kalau Dinda orangnya panikan. Itu semua Ia lakukan karena dia sudah sangat merindukan Dinda yang sudah dua bulan tidak bertemu. Kini rasa rindu yang menggebu itu akhirnya terobati.
"Apaan? Gak marah katamu? Gak ada. Kamu harus menangin semua lomba dan hadiahnya buatku semua lalu setelahnya traktir aku makan. Gak mau tau harus." Ucap Dinda dengan manja tanpa sadar.
"Eh satu lagi traktir time zone sama capit boneka di depan mall XXX." Ucap Dinda lagi.
Ari tertawa lalu memalingkan mukanya karena saking ngakaknya melihat tingkah Dinda.
"Ok Dindaku sayang." Jawab Ari.
"Heh! Kamu siapa? Panggil sayang-sayang. Dah cepet sana mainkan semua perlombaan itu." Balas Dinda.
Hahaha.. Ari makin tertawa dan kembali menyeret tangan Dinda dan mengajaknya ke berbagai perlombaan lainnya.
Mereka berdua tiba di lokasi lomba makan kerupuk. Tanpa mendapat persetujuan dari Dinda, Ari pun mendaftarkan nama Dinda untuk ikut sebagai peserta lomba. Tak lama kemudian nama mereka berdua di panggil. Ari nyengir dan langsung mengajak Dinda untuk ikut andil dalam perlombaan adu makan kerupuk.
"Huh! Dasar.. Tapi yaudahlah, lumayan makan kerupuk." Celetuk Dinda lalu mengikuti arahan panitia untuk segera memakan kerupuk yang menggantung dihadapannya.
Ala hasil Dinda pun berhasil mendapatkan juara satu di perlombaan ini sementara Ari mendapat juara tiga.
"Duh, jago juga ya dirimu Din." Ejek Ari.
Akhirnya mereka berdua mengikuti berbagai macam lomba walau ada yang menang dan ada yang kalah.
Sinta dan Mei yang tadinya membuntuti mereka dari belakang pun sudah mengikuti berbagai perlombaan karena tak ada yang menarik untuk diperhatikan dari mereka berdua.
*Semua perlombaan selesai*
*Hari sudah mulai sore*
"Seratus, dua ratus, tiga ratus.. Wah lumayan." Ucap Dinda yang tengah menghitung uang hadiah hasil dari perlombaan tadi.
Ari yang berdiri di sampingnya hanya memperhatikan Dinda.
"Cih, punyaku juga pun itu?" Ucap Ari sambil manyun-manyun.
Dinda pun dengan segera memasukkan uang itu ke dalam sakunya dan mendongakkan kepalanya agar bisa menghadap ke wajah Ari.
"Heh! Ayo traktir aku makan lapar nih." Ucap Dinda.
"Ok! tapi kamu gak boleh marah lagi ya sama aku?"
Deg! "kenapa si Ari gini terus ya sama aku? selalu saja menuruti keinginanku dan lagi kenapa pula ya kemarin aku percaya padanya secepat itu?" Gumam Dinda dalam hati.
"Ok." Jawab Dinda spontan.
Sebenarnya Dinda merasa sangat bahagia karena telah menghabiskan waktunya dengan mengikuti berbagai lomba yang diadakan oleh pihak kampus dan juga sangat nyaman saat bersama dengan Ari.
"Akhirnya tahun ini aku melewati kemerdekaan NKRI dengan sangat indah karena aku bisa bersama dengan Dinda." Gumam Ari dalam hati.
Keduanya pun melanjutkan aktivitasnya untuk segera pergi ke angkringan untuk makan dan pergi lagi ke mall XXX.