Misya, gadis berambut hijau, sedang mengelap kaca jendela kelas dengan cepat. Ia teringat Randi yang sedang menunggunya di depan gerbang sekolah. Jadi Misya harus segera menyelesaikan tugas piketnya.
Gadis itu tersentak kaget ketika namanya dipanggil oleh teman yang sama-sama piket pada hari Jum'at ini.
"Misya, gotongan yuk bawa tong sampahnya! Parah berat banget," ajak Ivy kurang lebih memaksa.
Merasa tidak enak hati tuk menolak, Misya berhenti mengelap kaca jendela kelas kemudian membantu temannya mengangkat tempat sampah.
"Nah, kan. Berdua mah lebih enteng," ujar Ivy merasa lega dan dibalas anggukan oleh Misya.
Mereka berdua menuruni tangga satu persatu dengan hati-hati. Sesekali percakapan mengalir di antara mereka walau Misya hanya merespon anggukan ataupun gelengan.
Sinar jingga memasuki indera penglihatan ketika anak tangga terakhir mereka lewati. Koridor terasa sepi tanpa siswa-siswi yang berkeliaran. Wajar saja karena jam pelajaran sudah berakhir satu jam yang lalu.
Untuk menyelesaikan tugas piket mereka, Misya dan Ivy hanya perlu menuju lorong di belakang gedung ini kemudian meletakkan plastik sampah di tempat yang sudah disediakan di sana. Lalu kembali ke kelas untuk menaruh tempat sampah dan mereka bisa pulang dengan damai.
Namun, tiba-tiba Misya berhenti melangkah sehingga Ivy pun tertarik mundur bersama tempat sampah di tangannya.
"Anj--umph!"
Belum sempat Ivy menyelesaikan umpatan, Misya sudah membekap mulutnya terlebih dahulu. Dengan tatapan bertanya-tanya, Ivy menunggu penjelasan Misya. Tetapi gadis itu malah menariknya kembali ke kelas tanpa melepaskan bekapannya.
Tetapi, tanpa penjelasan pun Ivy sudah tahu jawabannya.
'Brakk!'
Suara benturan sesuatu dengan tumpukan barang terdengar jelas dari lorong belakang gedung.
Lagi-lagi perkelahian terjadi di tempat itu.
Inilah alasan Misya mau membantu Ivy membuang sampah. Lorong di belakang gedung selalu menjadi tempat orang-orang berkelahi. Bukan pembullyan, tetapi mereka benar-benar berkelahi untuk sekedar unjuk kekuatan atau saling menantang. Itu bukanlah tempat yang aman untuk seorang gadis pergi sendirian ke sana.
Bagi diri Misya, dia tidak akan mau pergi ke sana sendirian.
Tetapi, Ivy malah pergi menuju lorong.
"Ivy," bisik Misya pelan. Dia benar-benar tidak ingin ikut campur apapun masalah orang-orang itu.
Mungkin tidak untuk Ivy.
Gadis itu malah melempar tempat sampah di tangannya ke arah dua orang yang sedang berkelahi itu.
Sontak kedua laki-laki yang sudah lebam disana-sini menoleh ke arah Ivy secara bersamaan, masih dalam keadaan saling menarik kerah seragam. Bahkan salah satu dari mereka masih terperangkap di antara tumpukan kursi.
Bukannya takut dengan tatapan mereka, Ivy malah berkata dengan lantang. "Kalo mau berantem sampe mati jangan di lorong sepi gini. Di lapangan sana sekalian ditonton orang-orang biar puas!"
Merasa tersinggung dengan ucapan Ivy, salah satu dari mereka melepaskan cengkramannya lalu melangkah mendekati gadis itu.
Misya yang mengintip dari balik tembok merasa akan terjadi hal yang tidak beres, jadi ia keluar dari tempat persembunyiannya.
Melihat kehadiran Misya, langkah laki-laki itu terhenti. Ekspresi terkejut muncul di wajahnya, "Misya... kenapa kamu..?"
Misya pun terkejut ketika menyadari siapa laki-laki di hadapannya. Ia menghela napas mencoba menenangkan diri.
Gadis itu mengamati penampilan kedua laki-laki itu yang berantakan. Laki-laki di hadapannya memiliki darah yang keluar di sudut alis dan bibirnya sedangkan sisanya mengeluarkan darah dari hidungnya. Belum lagi beberapa lebam yang mulai terbentuk di wajah mereka.
"Randi, ikut aku."
Misya menatap Ivy dengan tatapan meminta maaf. Gadis itu langsung mengerti dan melangkah mendekati laki-laki yang masih terperangkap, berniat untuk membantu.
Sementara laki-laki berambut hitam, Randi, mengikuti langkah Misya menuju kelas.
Hening.
Tidak ada percakapan di antara mereka.
Randi ingin mengatakan sesuatu, tetapi Misya terlihat sangat marah sehingga bibirnya tak sanggup melontarkan kata-kata.
Misya membawa Randi menuju ruang klub pidato tanpa sepatah katapun. Lalu mengobati luka-lukanya dengan P3K yang selalu ia simpan di ruangan itu.
Dari awal melihatnya sampai saat ini, tatapan Randi terpaku pada Misya, gadis pujaan hatinya. "Misya..."
Proses pengobatan Randi terhenti.
Misya yang sejak tadi tidak menatap mata Randi, mau tidak mau ia menatap mata heterochromia itu.
"Randi, aku udah bilang sama kamu. Ini salah aku," hatinya kembali terasa sakit apabila mengingat kejadian tadi pagi. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa sesak yang mulai mengalir keluar.
"Jangan ganggu Vero karena aku."
Mendengar kalimat itu untuk ke sekian kalinya dari mulut Misya membuat Randi semakin ingin mematahkan tangan dan kaki laki-laki licik itu. "Kamu masih sempet-sempetnya ngelindungin cowok nggak ngotak itu? Dia ngga pantes, Misya."
Gadis itu menggeleng, "Bukan dia, tapi kamu Randi."
Laki-laki itu tertegun. Matanya masih terpaku pada wajah gadis di hadapannya.
Misya tahu, ia harus menjelaskan lebih detail supaya Randi mengerti.
"Kamu selalu meledak-ledak tiap aku kena masalah. Ceroboh, ngelakuin hal-hal semaunya." Misya menunduk, "kalo kamu pindah sekolah gara-gara aku, gimana aku bisa ngejagain kamu nanti?"
Tanpa basa-basi, Randi memeluk Misya erat kemudian melepaskannya. Tatapannya menjadi lembut. Pikiran seperti ingin segera lulus, memiliki pekerjaan dengan gaji besar, kemudian menikahinya terlintas di benak Randi begitu saja.
Sejenak, laki-laki itu menutup mata untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu. Lalu ia kembali menatap Misya yang terkejut karena baru saja dipeluk.
"Misya, aku ngerti. Tapi Misya, aku ngga bisa diem aja kamu diperlakuin kek gitu. Aku blo'on soal tulisan ilmiah. Tapi aku tahu perjuangan kamu beberapa bulan ini sampe begadang buat nyelesaiin tulisan itu," Randi memegang kedua tangan Misya dengan penuh perhatian, "waktu istirahat buat ke perpus, ngerevisi tulisan berkali-kali, belum lagi kegiatan klub."
Tatapan Randi menjadi tajam. Kobaran api kebencian sangat terlihat di matanya.
"Tapi seenaknya si gila itu nyuri tulisan kamu dan jadi perwakilan sekolah? Apa aku bisa diem? Engga Misya!"
Urat-urat di wajahnya mulai muncul seiring dengan rasa kekesalan Randi yang memuncak. Ia masih belum puas memukuli Vero, laki-laki itu belum pingsan di tangannya.
"Randi. Kamu... cinta aku, kan?"
Terkejut dengan pertanyaan Misya, guratan merah muda tercetak di pipi laki-laki itu. "K-kenapa tiba-tiba.. ak-u i-ttu..."
Misya terlihat sangat serius. Hal itu membuat Randi mengangguk dengan gugup.
"Jawab," ujar Misya meminta penegasan.
"Aku mencintamu!" ucap Randi dengan lantang.
Misya tersenyum lembut, "Makasih, Randi. Kamu udah nemenin aku buat tulisan, cari referensi di perpus, ngingetin makan, dan jagain aku."
"Ada di deket kamu ngebuat aku seneng, Misya. Itu bukan apa-apa."
Kedua alis Misya terangkat, "Saking senengnya sampe ketiduran, gitu?"
"B-bukan gitu!" Randi menjadi panik karena saat itu saking nyamannya ia berada di samping Misya, ditambah suasana perpustakaan yang hening membuatnya tidur nyenyak.
"Iya, aku tahu."
Randi menghela napas merasa lega.
Kali ini Misya yang memegang kedua tangan Randi.
"Kamu tau ini hari yang berat buat aku. Jadi Randi," Misya terdiam sejenak, mencoba mengalahkan egonya untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
"Tolong abaikan orang lain, fokus padaku saja. Okay?"
Randi terdiam. Benar-benar terdiam. Melihat mata Misya yang mulai berkaca-kaca, alat P3K tergeletak tak beraturan karena tingkahnya, suasana ruangan yang hening, membuat Randi tertampar.
Dia memang bodoh, ceroboh dan mudah terbawa emosi hingga melupakan hal yang penting.
Misya. Dan hanya Misya.
Jarinya terulur ke pipi gadis itu, mencoba menghapus air mata yang mulai jatuh.
"Maaf, Misya." Ucapan selanjutnya, Randi sudah tau jawabannya tanpa bertanya. Tetapi ia tetap melontarkannya.
"Kamu engga papa, Misya?"
Hari itu, untuk pertama kalinya, Randi melihat gadisnya menangis begitu kencang. Misya menangis seharian dan Randi terus berada disisinya.
-TAMAT-