Lonceng berbunyi pada tengah hari di pusat kota. Beberapa orang tengah berkumpul di area pusat kota yang berupa taman besar. Merida melihat ke arah lonceng yang berdentang itu. Tengah hari di musim semi. Ia melangkah mendekati lonceng tersebut, lalu berbalik badan. Orang-orang sedang lalu lalang di hadapannya. Merida masih memantau keadaan sekitarnya itu. Kemudian dia mulai melakukan sesuatu.
Mengambil sebuah gitar dari tas yang dibawanya sedari tadi. Setelah itu Merida segera memainkan alat musik tersebut. Petikan senar terdengar, dan menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar pusat kota. Permainan musik gitar itu dilanjutkan dengan suara vokal milik Merida sendiri. Kini tatapan mata bertambah ke arahnya. Petikan gitar serta nyanyian dari Merida mampu menarik perhatian. Dalam waktu sekejap, Merida di kelilingi oleh para orang yang menonton aksinya. Mereka semua tampak menikmati penampilan dari Merida. Dari mengambil foto sampai nyanyi secara bersama-sama. Suasana pusat kota begitu ramai dengan alunan musik yang dimainkan.
Merida bernyanyi untuk beberapa lagu yang sudah di siapkannya. Setelah itu penampilannya selesai dan Merida mengucapkan salam terimakasih nya pada para penonton.
Usai tampil di pusat kota, Merida pergi membeli minuman. Kemudian dia lanjut berjalan menuju suatu tempat. Langkah kakinya terhenti di sebuah arena skateboard. Merida menatap seseorang lalu memanggilnya. Orang yang dipanggilnya adalah Felix. Dia adalah teman dekatnya selama ini. Lelaki itu menghampiri Merida. Mereka berhadapan dan mulai berbicara tentang aktivitas hari ini.
Setelah berbicara singkat di tepian arena skateboard, Felix mengajaknya pergi ke tempat lain.
Sepanjang jalan mereka berdua asik mengobrol.
Dan obrolan itu terhenti setelah mereka berdua sampai di tempat tujuan.
Merida dan Felix menghampiri seseorang yang ada di tempat itu. Lalu berbicara setelahnya. Felix melirik perempuan yang ada di sampingnya itu. Sedangkan Merida melihatnya balik dengan tidak tahu apa yang ingin dilakukan temannya itu.
Merida disuruh untuk menutup mata terlebih dahulu. Ia melakukannya. Tetapi Felix tidak yakin dan menutup mata Merida dengan sebuah kain.
Merida jadi heran dan ingin tahu apa yang akan dilakukan temannya itu. Pandangan tertutup untuk beberapa menit. Setelah itu kain yang melekat di matanya di lepas.
Merida memandang ke arah depan dan melihat sesuatu. Itu adalah Felix dengan sebuah benda yang terkesan sangat baru dan cantik. Lelaki itu tengah memegang sebuah gitar yang terkesan cantik bagi Merida. Matanya hanya fokus pada gitar tersebut.
Perempuan itu bertanya pada Felix perihal gitar yang di pegangnya. Felix pun menjawabnya dengan senyuman lebar.
"Aku tahu gitarmu mengalami kerusakan pada beberapa bagian. Jadi dengan adanya gitar ini, semoga bisa membantumu untuk kedepannya. Spesial untuk dirimu, Merida."
Felix mempersembahkan gitar itu untuk perempuan yang ada di hadapannya. Merida tak kuasa menahan haru dan berterima kasih banyak atas kebaikan teman dekatnya tersebut. Berpindah tangan dan menatap cukup lama seraya tak menyangka. Tampak pula sebuah ukiran nama dari seorang Merida. Mencoba memetikkan senar beberapa kali. Suaranya terdengar elok hingga membuat perempuan itu semakin senang.
Mengangkat pandangan dan mendekat. Ucapan terimakasih kembali di sampaikan pada sang teman dekat. Kemudian Felix membalasnya ucapan terimakasih itu dan mengelus kepala Merida.
"Capailah impianmu. Aku yakin kamu bisa menjadi musisi hebat suatu saat nanti. Jadi berjuanglah !"
Merida bahagia mendengar ucapan yang menjadi penyemangatnya itu. Dalam sekejap Merida memeluk Felix. Namun...
Felix berhasil menahannya. Pelukan itu tidak terjadi dan laki-laki itu malah membalikkan badan Merida.
"Saatnya melangkah untuk menggapai impianmu."
Merida yang tadinya terdiam karena pelukannya gagal, sekarang malah balik tertawa kecil.
"Baiklah. Aku akan berjuang. Doakan aku ya!"
Kata Merida pada teman dekatnya, Felix.
Mereka berdua pun akhirnya pergi dari tempat tersebut dan lanjut berjalan pulang.
-----SELESAI-----