"Leaaaaaa......" teriak seseorang dari luar kamarku.
"Leaaaaaa...... Ayo bangun." teriaknya lagi.
Cuit.... Cuit.... (Bunyi siulan yang tak jelas).
"Arghh... Kenapa sih alarm itu selalu ada si setiap pagi. Menyebalkan!! Mimpiku saja belum sampai ending dia sudah datang dengan suara yang berisik!" gumam ku yang kesal di sela mata yang masih terpejam.
"Leaa.. Ayo bangun atau akan ku mandikan kau!" teriaknya lagi.
Aku yang tidak tahan mendengarkan teriakan kaleng rombengan itu pun bangkit dari tempat tidur dengan mata yang masih tertutup. Namun sedetik kemudian suara itu tak lagi terdengar, membuat ku memilih untuk kembali berbaring di singgasana ternyaman sepanjang hidup ini. Dan berharap dapat kembali ke mimpi tadi dan menyelesaikan mimpi yang belum selesai itu.
Brakhh.....
Byuuuurrr......
"AKHHHHHH..... SIAPA SIH YANG GILA KAYAK GINI. GAK BISA APA BIARIN GW HIDUP TENANG!!!" teriakku yang sudah benar benar kesal.
Bagimana tidak, jika pagi ini mendapat hal hal yang begitu menyebalkan. Lagi enak enaknya tidur malah dibangunkan dengan suara teriakan kaleng rombengan, mimpiku bersama oppa belum selesai, pintu kamar yang di dobrak paksa dan bahkan sekarang malah di siram pakai air. Jika air itu bersih aku masih terima, tapi ini.....
'Akhhh.... ngeselin banget sih pagi ini' batinku.
"Hahaha... " tawanya yang menggelegar nan senang. Membuatku membuka mata dan menatap tajam dirinya. Ingin sekali ku lenyapkan manusia yang ada di depanku saat ini.
Aku mengambil paksa ember yang ada di tangannya dan....
Pukk....
Ku masukkan kepalanya dalam ember itu.
"Yak!! Lea!! Kurang ajar banget sih. Bau tau!!" kesalnya, yang dimana air ember itu masih tersisa sedikit dan malah mengenai bajunya.
Aku mengambil handuk yang ada di jemuran kecil dalam kamar ku dan beranjak pergi ke kamar mandi sambil meroceh.
"Yang kurang ajar itu kamu. Belum selesai mimpiku bersama oppa, malah kamu bangunin dan sekarang malah di siram pake air bekas rendeman cucian baju lagi."
"Ya salah sendiri, bangunnya lama."
"Terserah!! keluar sekarang. Aku mau mandi. Awas aja kalo aku keluar kamu masih ada di dalam kamar. Bakal ku potong tuh kepala!!" ancamku dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai bersiap aku pun pamit pada ibu dan langsung pergi sekolah.
"Akhh.... Tak bisa kah kau berikan satu pagi tertenang di kehidupanku hah?!" rocehku sambil berjalan.
"Aduh Neng Lea, kok pagi pagi dah dumel aja sih. Gak baik loh neng." ucap kang Ujang yang juga ada di sana berpapasan denganku.
"Itu tuh Kang. Biasa kaleng rombeng, kalo gak buat kesel orang pagi pagi gak sah banget hidupnya."
"Eh.... Jangan gitu atuh neng. Ntar kangen loh sama dia." Ucapnya sambil tersenyum kikuk. Setelah mengatakan itu aku menatap tajam kang Ujang, membuatnya yang sedang menintin sepeda dengan santai, langsung mendorongnya dengan cepat. Kang Ujang merupakan salah satu warga komplek di sana juga. Yang juga sudah biasa melihat adegan rocehku di pagi hari.
"Haduh....Lea.. Tungguin napa.?" ucapnya yang sedikit terengah-engah.
"Salah sendiri kenapa lama. Mau ngalah ngalahin cewek lamanya." cibirku.
"Ya kan aku lama gara gara bungkusin bekal buat kamu. Nih"
"Gak minta juga." cuek ku yang masih berjalan mendahuluinya.
"Iya tau. Tapi kan kamu tadi gak sarapan, makanya harus bawa bekal. Lagian sebagai seorang pelajar itu pagi pagi harus sarapan dulu. Biar nantinya semangat. Nih ambil." ucapnya yang berusaha mensejajarkan jalannya dengan ku dan menyodorkan kotak bekal itu.
Aku pun mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih ataupun menoleh ke arahnya. Ya, sebabnya sih cuma satu. Masih kesel aja sama dia. Setiap harus berdebat, bertengkar bahkan tiada hari yang tenang sekalipun itu hari Minggu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, namaku Azalea Mika. Biasa di panggil Lea. Merupakan siswi kelas satu SMA Nugraha. Anak tunggal dari ibu sama ayah. Sedangkan yang tadi membangunkanku dan yang saat ini sedang berada di sampingku adalah Alvarez Riki. Anak tetanggaku, yang dimana orang tuanya dan orang tuaku adalah sahabat lama dan memiliki tempat tinggal bersebelahan. Ia merupakan anak kedua dari keluarga itu, ia memiliki seorang kakak yang tampan dan pendiam berbanding terbalik dengan dirinya.
Karena kedua orang tua kami itulah kami juga merupakan sahabat. Bahkan sudah sedari zigot (kata orang tuaku) dan sampai sekarang. Mungkin bagi orang lain itu hal yang menyenangkan, tapi tidak bagiku. Bayangkan betapa membosankannya ada seseorang yang selalu mengikutimu kemana pun kamu pergi, menempel tak mau lepas seperti lem dan perangko. Arghh.... menyebalkan.
Kami selalu saja satu sekolahan, satu kelas, bahkan satu meja di kelas. Ditambah lagi dengan sikapnya yang selalu sok tau dengan diriku dan cerewet. Yang selalu saja membuatku hampir gila. Aku sering mengadu pada ibu namun ibu selalu membelanya. Dan aku pernah memarahinya karna sikapnya itu. Namun ia selalu bersembunyi di balik kata peduli. Ia peduli padaku dan tak ingin aku terluka. Itulah kalimat yang selalu ia lontarkan.
Bahkan ketika di sekolah ada siswa yang mendekatiku, hanya sekedar mengajak mengobrol ia selalu menimbrung. Membuat orang lain risih. Sungguh aku benar benar muak dengannya. Aku sering berkata yang terbilang kasar padanya namun ia tetap membalas hal itu dengan kata lemah lembutnya. Bahkan aku sering mengira ia akan mengadu akan hal itu pada orang tua ku, namun ternyata tak sama sekali.
Ntah apa yang di mau oleh manusia satu ini pikirku. Sampai ia benar benar sesabar itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku dan dia yang sudah sampai di sekolah, hendak pergi ke kelas namun ia malah menarikku pergi ke kantin. Disana ia menyuruhku untuk memakan bekal yang sudah ia berikan padaku. Aku hanya memandang malas padanya.
"Aaa... " ia yang hendak menyuapiku.
Aku yang risih melihat tingkahnya, memilih mengambil sendok yang ada di tangannya dan melahap seluruh bekal itu sampai habis.
Berlalu pergi dengan terburu buru dan mulut yang masih terisi penuh dengan makanan.
"Kenapa sih kamu selalu aja ngatur ngatur. Aku tau mana yang baik mana yang tidak. Tidak perlu seperti itu dan selalu membuatku seolah kecil dan tidak bisa apa apa." rocehku tak jelas sepanjang jalan dengan jalan yang terburu buru.
"Lea awas..." teriak seseorang yang membuatku menoleh ke samping dan malah ada sebuah bola basket yang mengarah ke wajah ku.
Hup...
Pukk.....
Seseorang hampir memelukku dan melindungiku dari bola itu. Hingga ia yang terkena bola itu. Aku mendongak dan dia menunduk melihatku.
"Kau baik baik saja?" tanya nya.
Sontak aku langsung mendorongnya agar lebih jauh, dan berlalu pergi.
"Hey!! Kalo main tuh harus hati hati jangan sampai melukai orang lain!" teriaknya dan melempar balik bola basket itu pada mereka. Mendengar dari teriakannya, sepertinya ia sedikit marah.
"Lea... kau baik baik saja?" tanya nya yang sudah duduk di sampingku di kelas. Aku hanya memandang sekilas ke arahnya.
"Nih, kotak bekalnya kenapa ditinggal hm?" lanjutnya lagi memberikan kotak itu padaku. Suara yang begitu lemah lembut membuatku tambah sebal pada dirinya. Aku tak menjawab hanya memandang cuek dirinya.
Tak lama ada krisya yang menghampiri kami,
"Lea... ini undangan untukmu. Jangan lupa datang ya malam ini." ucap krisya memberikan undangan itu. Aku pun mengangguk dan tersenyum menerima undangan itu.
"Lea.... Mending kamu gak usah pergi. Undangan nya juga sudah terlalu malam. Tidak baik untukmu." ujarnya ketika krisya sudah tak ada lagi di bangku kami.
"Arggh.... namanya aja undangan remaja. Ya pasti malam lah. Kalo siang tuh buat anak anak. Aku udah besar Rez. Aku tau mana yang baik dan mana yang enggak. Gak usah ngatur napa sih.!"
"Aku kan cuma gak mau kamu terluka Lea. Kamu liat ini masa harus jam sembilan malem. Itu jam berapa bakal selesainya. Besok juga harus sekolah. Demi kebaikan kamu Lea."
"Capek aku Rez, ngomong sama kamu.!"
Hal seperti itu selalu terjadi di antara kami. Bahkan orang akan menyangka kami seperti orang berpacaran yang kemana mana berdua. Sebenarnya itu kemauannya bukan kemauanku.
Dan hal ini berlangsung selama kehidupan dia. Dia selalu melindungiku di saat apapun. Aku sebenarnya sangat bersyukur dengan punya sahabat yang seperti itu. Namun tidak perlu sampai berlebihan.
Dan malam ini merupakan ulang tahun krisya. Aku nekat untuk pergi bahkan tanpa memberitahu pada Varez. Aku sudah izin pada ibu namun ibu tak membiarkan ku pergi sendirian. Hingga aku berbohong padanya akan pergi bersama Varez. Dan akhirnya ia mengizinkan ku pergi.
Dengan gaun warna biru muda selutut, tanpa lengan, rambut setengah di gulung dan setengahnya lagi di gerai sampai pinggang dengan sedikit bergelombang. Make up yang sederhana, lipstik baby pink dan tas kecil sandang serta high heels putih sederhana yang ku kenakan untuk menghadiri pesta itu. Tak lupa dengan kado di tangan. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri ku agar bisa selalu memantau waktu pukul berapa hingga nantinya tak terlalu malam untuk pulang.
Aku sudah sampai di sana dengan suasana yang begitu meriah. Banyak sekali teman temannya yang menghadiri pesta itu bahkan aku rasa tak hanya dari sekolah kami saja. Aku memang bukan siswi populer di sekolah namun ada juga beberapa orang yang tau dengan ku. Dan mengajak ku mengobrol di pesta itu.
Bahkan ada seorang laki laki yang mengajakku berdansa. Karna aku merasa tak pandai aku pun menolak. Namun ia begitu memaksa ku dan berjanji akan mengajariku saat itu juga.
Ia bahkan sudah memegang tanganku dan menarikku namun aku tetap saja menolak sampai seseorang datang dan....
Bukh....
Pukulan mengenai laki laki itu. Aku terkejut bahkan semua orang disana juga merasa begitu. Dan kalian tau siapa dia? siapa lagi kalau bukan Varez.
Dan terjadilah pertengkaran antara keduanya.
Aku menarik Varez untuk mundur agar tak lagi menghantam laki laki itu.
Acara itu sempat terhenti beberapa menit karna aksi dari Varez dan laki laki itu. Tak mau mengacaukan pesta orang lain aku mengajak Varez untuk keluar pesta itu dan mengajaknya pulang.
Aku terus menarik tangannya, sedangkan dia hanya menurut.
Hingga kami berdua sampai di taman dan aku menyuruhnya duduk di kursi panjang yang ada di sana. Aku memandang Varez dari atas sampai bawah. Begitu acak acakan. Bahkan kemeja yang ia kenakan, dua kancing teratas malah hilang. Serta sudut bibir yang terluka dan lebam di bagian sudut kiri atas matanya.
Dia diam tak berucap hanya memandang balik diriku. Bahkan karena malam ini aku merasa begitu bersalah padanya. Gara gara diriku ia sampai seperti ini. Aku duduk di sampingnya, namun ia tetap menatap ke arah depan tanpa menoleh ke samping yang ada diriku.
Aku tau saat ini mungkin ia benar benar marah padaku. Mungkin ingin sekali ia menyeretku pulang atau bahkan menggantungku saat ini juga. Tapi ia tetap memilih untuk diam. Aku meraih wajahnya agar menoleh ke arahku. Ia pun hanya menurut.
Aku mengeluarkan sapu tangan putih dari tasku dan mulai mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan hati hati. Ia sedikit meringis saat aku melakukan itu namun ku hentikan sebentar lalu ku lanjut lagi.
"Kenapa kau melakukan ini? ini hanya akan melukai mu Varez. Aku minta maaf karna semua ini salahku." ucapnya yang masih sibuk dengan sudut bibirnya.
"Kau tau berapa khawatirnya aku saat ibumu bilang kau datang ke pesta sendiri? Aku langsung bergegas pergi ke pesta itu tanpa pamit pada orang tua ku. Jika kau ingin pergi harusnya kau memberitahukan diriku Lea." ucapnya lembut.
"Kau tak menyukai pesta. Tapi aku ingin pergi. Aku tak mau selalu bergantung pada dirimu. Lagi pula aku sudah dewasa." ketusku.
"Kalau memang sudah dewasa, lalu bagaimana dengan tadi? Apa yang akan kau lakukan? menurutinya dengan menyentuh punggungmu? Kau tau betapa berharganya seorang perempuan?"
"Aku juga tak akan melakukan hal itu. Jika kau tak mau datang maka aku juga tak menyuruh kau datang. Dan tentu saja aku akan menolaknya. Lalu untuk apa kau memaksakan dirimu datang he?" kesalku.
"Karna kau sahabat ku Lea. Aku tak mau kau terluka bahkan di sentuh sedikit pun oleh laki laki lain. Kau paham?" tanya nya yang hendak menyentuh rambutku, namun kembali ia tarik tangannya.
Memang selama ini ia bahkan tak mau menyentuhku walaupun hanya sekedar rambut kalau tanpa seizinku. Bahkan jika ada seseorang yang berada di dekatku maka orang itu yang lebih baik ia seret menjauh dariku. Aku tak tau kenapa dengan ia yang begitu.
"Kau mau pulang?" tanya nya. Aku mengangguk. Ia hendak membuka bajunya kemejanya, sontak membuat ku berteriak.
"Yak!!! Varez apa yang kau lakukan he? Kau mau apa?!"
"Kenapa? aku hanya ingin memberinya padamu. Apa kau tidak kedinginan dengan baju yang terbuka seperti itu?"
"Ti...tidak. Aku baik baik saja. Pakai lagi baju itu, cepat!!!"
Ia pun hanya mengangguk dan memakai kembali baju itu. Namun tetap saja baju itu terlihat terbuka untuknya. Lengan kemeja panjang yang ia gulung sampai sikut dan dua kancing baju yang sudah hilang ntah kemana. Membuat dadanya terlihat.
Oh pemandangan apalagi ini, batinku.
Kami pun berjalan menyusuri jalanan malam yang sepi. Karna aku memakai high heels, membuatku berjalan sedikit lamban dan cepat letih. Berbeda dengan Varez yang biasa saja.
"Kau lelah?" tanya nya, yang hanya dijawab gelengan kepala oleh diriku.
"Buka saja sepatunya jika kau merasa kesakitan. Itu malah akan membuat kaki mu terluka nanti."
Aku berusaha tegar untuk berjalan dengan sudah membuka sepatu itu. Jalanan yang sepi membuat kami tidak bisa menaiki angkutan umum sebab tak ada yang lewat. Malam yang semakin larut namun kami harus tetap berjalan sampai rumah.
Hingga akhirnya kaki ku benar benar merasa pegal dan tak tahan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Aku terduduk di aspal jalan itu dengan masih menggenteng sepatu ku. Varez yang sudah berjalan lebih dulu dari ku awalnya tak menyadari hingga jaraknya beberapa jauh barulah ia tau.
Ia kembali menyuslku yang ada di belakang. Berjongkok di depanku.
"Kau lelah?" aku hanya mengangguk
"Ayo." ajaknya sambil menepuk bahunya.
"Kau tidak mau? Haruskah aku menelpon ayahmu hm?" Aku menggeleng cepat. Karna pasti nanti aku akan di marahi. Ini saja jika aku pulang akan langsung dimarahi tentunya. Lain cerita kalau Varez membantuku. Namun ntah lah, mau atau tidak dia membantuku nanti. Ku rasa tidak, sebab aku sudah membuatnya menjadi seperti ini.
Aku naik di punggungnya, mengalungkan kedua lenganku di lehernya. Sedangkan sepatuku sudah di ambil olehnya. Ia menggenteng sepatu itu dan kedua lengannya menahan perhelangan kaki ku agar tak jatuh.
Aku yang tak sengaja melihat baju Varez yang benar benar terbuka menampakkan dadanya. Aku pikir mungkin itu akan membuatnya dingin. Aku menarik kedua kerah baju itu dan menahannya dengan tanganku agar tak terlalu terbuka.
•
•
•
•
•
#Hanya karangan.
Bagi yang suka silahkan like😉 dan komen juga🤗