Wanita buta, kata yang pantas untukku sekarang. Setelah kecelakaan dua bulan lalu, aku dinyatakan buta oleh dokter.
"Sayang, jangan ngelamun!" Sebuah suara menyadarkanku.
Aku tersenyum saat merasakan tangan dingin itu, mengusap lembut surai coklatku yabg tergerai indah.
"Bun, Ayah sama Abang mana?" tanyaku.
"Ada, mereka lagi di kamer," jawabnya lembut.
Tak banyak yang aku tahu setelah kegelapan mendominasi penglihatanku. Setelah kecelakaan itu, aku hanya di antar pulang oleh pihak rumah sakit, sedangkan keluargaku tak ada yang menjemput.
Aku tidak sedih karena kehilangan pengelihatan, keluargaku selalu mengurus dan menjagaku dengam baik.
Namun, aku hanya merasa bosan. Setiap kali aku mengajak mereka keluar, mereka akan menolak dengan alasan sedang sibuk.
Bunda benar, tak ada untungnya juga aku keluar, semuanya tetap gelap.
"Sayang, Bunda udah nyuruh Kakek sama Nenek jemput kamu. Nanti kamu ikut mereka ya?"
Setelah mengatakan itu, terdengar suara langkah kaki menjauh.
Hei, aku ingin protes. Apa mereka tak meninginkanku lagi? Apa aku terlalu merepotkan sehingga mereka akan menempatkanku di rumah Kakek dan Nenek?
"Bunda?" panggilku.
Hening, tak ada sahutan.
"Bunda, Melisya nggak mau!" teriakku.
Namun tetap saja, hening mendominasi seluruh ruangan kamarku.
Karena kesal, aku memutuskan untuk berjalan keluar. Tanganku perlahan-lahan meraba benda dan tembok.
"Ahk!" ringisku.
Terasa cairan kental keluar dari ujung jari manisku, aku yakin itu darah. Tunggu, mengapa di sini terasa seperti benda yang pecah dan meninggalkan lubang?
Dengan ragu dan sedikit hati-hati, aku mengarahkan tanganku kembali kearah benda yang melukai tanganku.
"Angin?" tanyaku pada diri sendiri.
Dengan cepat dan hati-hati kutarik tanganku kembali. Itu benar-benar angin, lalu benda apa yang pecah dan di dalamnya terdapat semilir angin?
"Ahk!"
Sesuatu dengan keras membentur wajahku, kepalaku terasa sakit dan pusing seakan ada gempa.
****
Kesadaranku kembali, tapi tetap saja semu gelap. Samar-samar aku mendengar suara tangis dan pembicaraan yang terdengar serius.
Aku mencoba menajamkan pendengara.
"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘔𝘦𝘭𝘪𝘴𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢?" 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.
"𝘔𝘦𝘭𝘪𝘴𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘢, 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘣𝘨 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘬𝘦 𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶!" 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢.
"𝘎𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘔𝘦𝘭𝘪𝘴𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪? 𝘩𝘪𝘬𝘴." 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘴𝘢𝘬.
Deg!
Apa katanya? Keluargaku sudah mati? Dan lagi, suara mereka terdengar familiar seperti .... "Kakek, Nenek?"
Obrolan mereka terhenti, sebuah tangan mengusap lembut suraiku.
"Kalian bercanda, ya?" tanyaku saat merasa mereka kini berada tepat di sekitarku.
"Nggak sayang kamu harus kuat, ya?" ucap Nenek.
Aku menggeleng cepat. "Nggak, Nek. Mereka masih hidup, buktinya aku selama dua bulan ini di rawat mereka!" sangkalku.
Tangisan Nenek semakin kencang, Ia memelukku erat.
"Nggak sayang, mereka udah pergi ninggalin kita."
𝘛𝘢𝘮𝘢𝘵.