Di hari yang begitu gelap tanpa adanya sedikitpun sinar matahari,Berdirilah seorang wanita berusia 23 tahun yang tengah menatap kosong ke arah jendela yang menampakkan pemandangan luar rumah sakit tempatnya berdiri.Seakan-seakan seperti orang yang putus asa dan tak tahu harus berbuat apa-apa lagi,Itulah yang dirasakan oleh wanita tersebut.
"Liv,Ayo duduk dulu sebentar.Kau sudah berdiri disini terlalu lama.Ayah juga tidak akan senang kalau salah satu putri yang dicintainya tidak menjaga tubuhnya sendiri disaat kondisinya sedang sakit begini"Bujuk kakaknya kepadanya karena sudah sekitar 3 jam lebih,Livia/adiknya terus menatap keluar jendela rumah sakit setelah mendengar kalau ayah mereka masuk ke ruang gawat darurat.
"Leah.."Ucapnya dengan suara kecil,"Katakan kepadaku,Kenapa ayah tiba-tiba masuk ke rumah sakit padahal sebelumnya baik-baik saja?!"Hati kecilnya masih begitu terpukul karena kenyataan di hadapannya.Apalagi di antara mereka bertiga,yaitu Leah,Livia,dan Libelle.Livia-lah yang paling dekat dengan ayah mereka itu.
Tubuhnya baik-baik saja tapi tidak dengan jiwanya.Ia takut akan terjadi apa-apa kepada ayahnya itu.
"Aku juga tidak tahu soal itu.Aku sempat bertanya kepada salah satu perawat di rumah sakit ini akan keadaan ayah sekarang,Tapi dia menjawab,"Kami masih melakukan pemeriksaan,Nona Elysian" begitu katanya"Jelas Leah kemudian menghela napas berat.
Livia menggertakkan giginya saking marahnya,"Lalu apa gunanya dirimu,Leah?!" Ucap Livia dengan nada lantang sampai semua orang yg ada di bagian koridor itu menatap dirinya.
Leah sendiri langsung tersentak mendengar perkataan Livia itu kepadanya.Dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Livia karena memang sudah watak Livia untuk terkadang kehilangan kendali akan emosinya."Maafkan aku,Leah.Aku benar-benar tidak bermaksud-!"
"Sudahlah aku tidak akan menyalahkanmu karena sikapmu kepadaku tadi.Aku mengerti perasaanmu kok"Leah memotong perkataan Livia sebelum dia benar-benar selesai berbicara.
Air mata Livia tiba-tiba saja mengalir dengan derasnya bagai hujan sambil menatap ke arah Leah.Sebagai seorang kakak yang bertanggung jawab atas adiknya,Leah langsung memeluk Livia dan berusaha menenangkannya dari kesedihan mendalamnya itu."Tenanglah,Liv.Kau tahu betul kan kalau ayah sedang berusaha melewati masa kritisnya?Karena itu aku mohon kepadamu atas nama ayah supaya kau tidak terus tenggelam dalam kesedihanmu begini"Leah menepuk-nepuk pundak Livia sampai ia merasa cukup tenang.
Semua orang yang memperhatikan mereka berdua langsung dibungkam mulutnya supaya tidak menyebarkan hal semacam ini ke publik melalui media.
Selagi berusaha menenangkan adiknya itu,Leah mengajak Livia untuk pergi ke ruang tunggu yg dipersiapkan untuk keluarga mereka.Disana..
Livia langsung berlutut di hadapan Leah atas perbuatannya sebelumnya.Dia menatap Leah yg kaget dengan kedua bola matanya yg mirip dengan batu safir berkilauan dan juga dipenuhi oleh air mata."Leah,Aku benar-benar tidak bermaksud karena telah menaikkan nada bicaraku kepadamu.Aku.."Perkataannya itu dipotong kembali oleh Leah.
"Bangunlah.Kau tak perlu meminta maaf lagi.Sekarang,Kita harus berdoa agar ayah bisa secepatnya sembuh ya?"Leah menarik Livia supaya berdiri kembali kemudian duduk di sofa bersama dengannya.
3 jam terlewati sudah tapi tidak ada tanda-tanda apapun dari ruang gawat darurat tempat ayah mereka sebelumnya dibawa masuk kemudian diperiksa.Bahkan suasananya terasa sangat hening sampai Livia khawatir sekaligus bingung akan apa yg terjadi di dalam sana.Kemungkinan terburuk yg saat ini Livia pikirkan adalah..Kematian.
*CKLEK*
Seorang dokter yg menangani ayah Leah,Livia,dan Libelle langsung berjalan memasuki ruangan tersebut dan membuat ketiga putri yg begitu cantik nan elegan itu menghampirinya dan menanyakan pertanyaan yg sama kepadanya.
"Apa yg terjadi dengan ayah kami?"Tanya Leah pada dokter itu dan berdiri membelakangi adik-adiknya.
"Keadaan beliau mulai membaik.Kondisinya perlahan-lahan pulih,Akan tetapi.."Ucapannya itu seketika membuat mata Leah terbuka lebar dan menatap tajam dirinya.
Leah menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya seraya menatap tajam dokter itu,"Akan tetapi..apa?!" Ucapnya dengan perasaan teramat marah.
"Akan tetapi,Setelah kondisi beliau perlahan membaik,Tiba-tiba saja kondisi beliau mulai memburuk kembali hingga akhirnya..wafat"Dokter tersebut menghela napas berat dan mengelap kacamatanya yg terkena air matanya yg sedikit keluar setelah menyampaikan berita menyedihkan itu.
Ruangan tersebut seketika menjadi sangat hening dibandingkan rumah kosong saking terkejutnya semua orang,Terkhususnya Livia.Kaki dan tubuhnya gemetaran dengan tangan yg menutup mulutnya berusaha menahan isak tangis yg akan keluar sekuat tenaganya.Tapi usahanya itu sia-sia karena akhirnya isak tangisnya pecah dan bersamaan itu dia berlutut di lantai sambil dipegangi oleh Libelle,Adiknya.
Ruang tunggu yg sebelumnya sangat hening,Kini dipenuhi dengan suara isak tangis Livia.Kesedihannya semakin tak terbendung kala melihat tubuh ayahnya yg sudah tak bernyawa dibawa pergi dari ruang gawat darurat.
Kabar kematian pengusaha tambang permata itu langsung tersebar luas ke seluruh penjuru dunia dan membuat dunia di selimuti kesedihan.Bagaimana tidak?Ayah ketiga wanita itu yg bernama lengkap Reeve Elysian sangat terkenal dengan citra sebagai pengusaha paling dermawan di dunia dan tidak segan-segan untuk datang langsung ke negara terdampak wabah untuk memberikan langsung dana bantuan.
Walaupun dia bisa mengirimkannya melalui salah satu bawahannya di negara tersebut,Tapi Reeve Elysian bersikeras untuk datang langsung kesana.Dan karena wabah yg ada di negara tersebut,Tubuh Reeve perlahan-lahan digerogoti penyakit itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya wafat di hari ini.
"Apa kau sudah siap untuk melepas kepergian ayah?"Tanya Leah seraya memegang 2 pundak Livia dengan kedua tangannya.
"Tentu saja jika itu bisa membuat ayah beristirahat dalam damai"Leah tahu betul kalau Livia sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengatakannya.Di dalam lubuk hati terdalamnya,sudah pasti Livia sangat-sangat tidak ingin melepaskan kepergian ayahnya walau menampakkan raut wajah sebaliknya.
Sebuah mobil hitam yg digunakan untuk mengangkut mayat Reeve kemudian dinyalakan dan bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Kediaman Elysian menuju ke Tempat Pemakaman Mortinta.Di saat itulah,Livia langsung menatap mobil tersebut dan berusaha sekuat mungkin untuk bisa melepaskan kepergian ayahnya.Tetapi..
"Tidak.."Gumam Livia dengan pupil mata bergetar, "Ya?" Tanya Leah sambil melirik adiknya itu.
"AYAHH!!"Livia langsung menghempaskan tangan Leah dan berlari ke arah mobil yg mengangkut mayat ayahnya,Tapi semuanya sudah terlambat karena mobil hitam itu sudah pergi jauh dari halaman depan Kediaman Elysian yg dipenuhi dengan kenalan Keluarga Elysian yg datang melayat.
*BRUK*
Ia berlutut di lantai dengan air mata yg terus mengalir.Livia menjadi sangat histeris,sampai-sampai kedua bibi mereka harus menarik pelan tangan Livia agar masuk ke dalam.Dibutuhkan usaha yg cukup kuat untuk membawa Livia masuk ke dalam saking histerisnya dia melihat mayat ayahnya sudah dibawa pergi dan akan dikuburkan.
"Bibi,Tolong lepaskan aku!-Biarkan aku ikut bersama ayah!!"Ucapnya sambil meronta-ronta dari pegangan kedua bibinya.
"Livia,Tabahkan hatimu.Ayahmu sekarang sudah meninggal dan sebentar lagi akan pergi menuju surga.Tapi kalau kau tak merelakan kepergiannya begini,Bagaimana ayahmu bisa hidup dengan tenang dan damai di surga sana?"Salah satu dari bibinya itu mengusap pelan kepala Livia agar dia bisa tenang.
"Bibi Anna..Aku hanya ingin bersama ayah.."Livia perlahan-lahan mulai tenang walau dia masih menangisi kepergian ayahnya tersebut.
"Shhh..Tenangkan dirimu ya,Livia.Relakan kepergian ayahmu sekarang.Seperti yg sudah ku katakan tadi,bisa-bisa ayahmu tidak akan bisa hidup dengan tenang dan damai di surga kalau kau bersikap seperti ini terus.Kau tak mau sampai terjadi hal itu kan?Kalau iya,sekarang tenangkan dirimu ya"Ia mendekap Livia ke dalam pelukannya dan mengusap-usap kepala Livia yg kemudian berakhir keponakannya itu pingsan di dalam pelukannya kala itu.
~~~
Livia perlahan membuka kedua matanya dan mendapati dirinya sedang terbaring di atas kasur empuk di kamarnya itu dengan mengenakan gaun tidur putih miliknya.Tepat di sampingnya tergeletak sebuah gaun hitam panjang sederhana tanpa hiasan sedikitpun.Padahal ia benar-benar berharap kalau semua kejadian di hari kematian ayahnya itu hanyalah sebuah mimpi buruk tapi ternyata itu adalah kenyataannya jika melihat dari gaun hitam yg dipersiapkan untuknya,yg tentunya oleh Leah.
"Haha,Aku pikir itu hanyalah sebuah mimpi buruk.Tapi ternyata aku salah"Nada bicara Livia benar-benar seperti orang putus asa setelah kehilangan sosok ayah yg paling berharga untuknya.
*TAP TAP TAP*
Ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan tempat semuanya biasanya berkumpul di pagi hari.Disana..
"Selamat pagi-"Libelle yg ingin menyapa kakaknya itu langsung ditutup mulutnya oleh Anna sambil menggelengkan kepalanya kepada Libelle,"Untuk sekarang diam dulu ya,Belle.Kakakmu sedang tidak baik-baik saja."Bisik Anna di telinga Libelle dan dibalas anggukkan pelan olehnya.
*DREK*
Livia kemudian duduk di salah satu kursi yg berada di tengah-tengah Leah dan Libelle.
"Kenapa semuanya diam saja?"Tanya Livia sambil tersenyum dengan wajah yg agak pucat kepada semua orang yg ada di meja makan.
Mereka semua hanya diam saja dan tak merespon perkataan Livia.Suasana kembali menjadi hening dan membuat Livia menjadi agak canggung dengan suasana itu yg kemungkinan karena tindakannya di hari kematian ayahnya.
"Soal tindakanku di hari itu,Maaf.Aku benar-benar tidak bisa mengontrol perasaanku sampai histeris seperti itu"Ucapnya kemudian menghela napas pelan.
"Kami tegaskan sekali lagi,Liv.Semuanya yg terjadi kemarin bukanlah salahmu yg tak bisa mengontrol perasaanmu"Tegas Rianna sambil menatap lekat Livia.
Ia merasa terharu mempunyai keluarga yg benar-benar suportif seperti itu.Tak pernah sekalipun terlintas dipikirannya kalau keluarga dimana ia termasuk ke dalamnya,bisa selembut itu padanya.Rasanya ia ingin sekali mengucapkan terima kasih dengan suara keras di saat itu juga.
Sesuai dengan tradisi turun temurun Keluarga Elysian,Semuanya (tanpa terkecuali) harus mengenakan pakaian berwarna hitam polos tanpa hiasan selama 2 minggu lamanya.Walaupun tradisi ini sudah dibuat sangat lama,tapi sampai sekarang di tahun 2021,tradisi ini tetap dilaksanakan oleh mereka.Sekaligus bentuk rasa hormat mereka kepada anggota keluarga yg telah meninggal dunia.
Tepat di depan sebuah pintu kamar dari kayu berukiran mawar,berdiri seorang wanita yg tidak lain adalah..
Livia Elysian.
Ia menarik napas dalam-dalam sambil mengepalkan tangannya kemudian mengetuk pelan pintu kamar adiknya tersebut.
"Libelle,kau di dalam?"Tanya Livia seraya mengetuk pintu kamar Libelle.
*KRIET*
"Kakak?"Ucap Libelle ketika membukakan pintu kamarnya untuk Livia.
"Apakah kau mau menemaniku keluar sebentar?"Tanyanya lagi kepada Libelle.
Dengan raut wajah kebingungan,Libelle berkata,"Tapi kemana?"Tanyanya balik.
"Aku hanya ingin keluar mencari udara segar.Sekalian membeli bunga."Jelasnya sambil tersenyum lebar.
"Mungkin saja dengan ini kakak bisa lebih tenang.Kalau begitu.."Batinnya,"Baiklah kalau itu yg kakak inginkan."
Livia kemudian mengangguk lalu tersenyum pada Libelle,Dan setelah itu berjalan pergi darisana meninggalkan adiknya yg masih termenung saja.
Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 14:00,Livia mendatangi Libelle lagi dan menariknya untuk pergi bersamanya.Di tengah jalan,Livia sempat mengajak bicara adiknya itu tapi kemudian keadaan menjadi hening lagi karena ia tak tahu harus membicarakan apa.
"Ngomong-ngomong Libelle,bagaimana pelajaranmu di kampus?Apakah semuanya berjalan baik-baik saja?"Tanya Livia mencari topik pembicaraan dengan Libelle.
Sekilas,Libelle tampak tersenyum tapi wajahnya kembali seperti sebelumnya..Datar."Semuanya baik-baik saja,Kak Livia.Bahkan,aku bisa dibilang adalah mahasiswi paling berbakat di jurusanku pada tahun ini.Tapi tetap saja,walau kak Leah dan kak Livia sudah lulus tahun lalu,prestasi yg kumiliki belum sebanding dengan kedua kakakku ini.Urutan mahasiswa/i paling berbakat di kampus pun masih menyertakan nama kak Leah dan kak Livia,sedangkan aku di urutan ketiga."Jelas Libelle secara rinci.
"Aku tak menyangka pihak kampus masih menyertakan nama mahasiswi yg sudah lulus"Ucap Livia kemudian memarkir mobil yg dikendarainya dengan Libelle di dekat sebuah toko bunga.
Livia dan Libelle melangkah masuk ke dalam sebuah toko bunga kecil nan sederhana yg terletak di sudut kota tempat mereka tinggal.Jarang sekali ada yg datang, padahal bunga-bunga yg dijual nampak sangat segar dan sesekali Livia meminta Calia (pelayannya) untuk membelikannya sebuket bunga.Bisa dibilang,ini adalah kali pertama Livia datang langsung ke toko bunga itu.
"Selamat datang di Toko Bunga Easter,apakah ada yg bisa kami-"Wajah pemilik Toko Bunga Easter itu seketika memucat ketika mendapati kalau yg masuk ke dalam toko bunganya adalah putri kedua dan ketiga pengusaha permata yg baru-baru ini dikabarkan meninggal dunia,yakni Livia Elysian dan Libelle Elysian.
Livia menatap pemilik toko bunga itu sambil tersenyum karena menyadari kalau dia merasa takut karena tindakannya yg dianggap olehnya adalah tindakan kurang ajar terhadap Livia dan Libelle.
"Nona Easter,anda tidak perlu merasa panik seperti itu.Kami hanya ingin membeli sebuket bunga lalu pergi"Ucap Livia sambil terkekeh.
"K-kalau begitu,bunga apa yg anda ingin beli?"Tanya Easter seraya berusaha menghindari kontak mata baik dengan Livia maupun dengan Libelle.
Ia menatap ke sekeliling toko bunga itu dan menatap ke wadah besar berisikan beberapa buket bunga lily berwarna putih yg tersusun dengan rapinya.Livia pun tersenyum kemudian mengambil salah satu buketnya dan menatap Easter,"Yg ini saja."
Setelah membayar sebuket bunga lily putih itu,Livia dan Libelle hendak berjalan pergi dari toko bunga itu.Tapi..
"Nona Elysian,apakah anda berdua mau duduk sebentar sambil minum teh?Berhubung anda berdua tiba saat teh yg saya seduh sudah siap"Ucap Easter menawarkan teh untuk kedua Elysian bersaudara itu.
"Akan menyenangkan untuk bisa meminum teh di hari ini,bagaimana menurutmu Libelle?"Tanya Livia padanya.
"Kalau kakak mau dan nona Easter tidak keberatan,aku juga akan bergabung"Jawab Libelle mengiyakan pertanyaan Livia.
Easter kemudian menuntun Livia dan Libelle ke sebuah tempat yg cukup indah setelah menyusuri lorong kecil yg merupakan bagian dari toko bunga sekaligus rumah dari Easter.Livia tidak terpikirkan sama sekali kalau toko bunga yg terletak di sudut kotanya itu memiliki tempat yg luas seperti itu sampai-sampai ia terkagum-kagum melihatnya.
"Silahkan duduk.Saya akan segera kembali membawakan teh yg saya buat tadi,Mohon tunggu sebentar"Ucapan Easter itu hanya dijawab dengan senyuman dan anggukkan dari Livia dan Libelle.
Livia menghirup wangi tempat itu kemudian menghembuskannya lagi,"Rumah kaca yg sangat indah"Gumam Livia sambil tersenyum dan sesaat lupa akan kesedihannya.Hal itu membuat Libelle menjadi agak senang karena kakaknya itu walau untuk sesaat bisa terlepas dari kesedihannya.
Selang beberapa menit,Easter datang kembali ke rumah kaca itu sambil membawa 1 set peralatan minum teh di atas sebuah nampan bermotif bunga tulip.Setelah itu,ia menuangkan teh buatannya ke 2 cangkir teh yg disediakannya untuk Livia dan Libelle.
"Maaf kalau teh ini tidak sesuai dengan selera anda berdua"Ucap Easter sambil berdiri setelah menuangkan teh untuk Livia dan Libelle.
Tampak di wajah Livia,sebuah senyuman manis mekar bagai bunga di musim semi.Baik Libelle ataupun Easter,mereka tahu kalau senyuman itu berarti kalau Livia menyukai teh buatan Easter.
"Teh ini benar-benar membuat pikiran saya jadi tenang.Apakah ini dibuat dari lavender?"Livia tersenyum kepada Easter dengan sangat lebar.
"Benar,nona Elysian.Teh itu dibuat dari bunga lavender yg dikeringkan lalu diseduh seperti teh pada umumnya.Saya senang anda menyukai teh sederhana buatan saya"Jelas Easter.
Livia menaruh cangkir teh miliknya di piring kecil yg terdapat di meja,"Terima kasih,nona Easter.Berkat anda,tekanan pikiran saya karena kejadian kemarin bisa sedikit menghilang walau tidak sepenuhnya."
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya tuan besar Reeve Elysian,nona.Saya benar-benar tidak menyangka Tuhan akan secepat ini mengambil nyawa pengusaha sedermawan mendiang tuan Elysian"Tanpa disadari olehnya,air matanya sedikit menetes ketika sudah menyelesaikan kalimatnya.
Livia hanya mengangguk kemudian melanjutkan obrolannya dengan Easter selama beberapa menit ke depan.Setelah itu ia beranjak pergi darisana membawa sebuket bunga lily putih yg sudah dibeli olehnya.
"Sampai jumpa di lain waktu,nona Easter.Saya harap jika di lain waktu saya datang kembali,anda bisa mengejutkan saya dengan beberapa hal menarik dari tempat tinggal anda ini.Khususnya teh buatan anda yg selanjutnya"Ucap Livia kepada Easter.
"Saya menantikan kedatangan anda,nona Elysian"Balas Easter sambil menundukkan kepalanya.
Keduanya lalu meninggalkan pintu depan toko bunga milik Easter menuju ke mobilnya dan pergi darisana.Di tengah jalan..
"Ini adalah hari yg paling menenangkan selama hidupku.Bukankah kau juga berpikir demikian,Libelle?"
Barulah disaat itu,Libelle menyadari alasan kenapa kakaknya terus tersenyum dengan bahagianya di hari itu..
"Kak..Livia?"Libelle berusaha sekuat tenaga dengan penglihatan yg agak kabur untuk bisa merangkak keluar dari mobilnya yg terkena tabrakan dari sebuah truk.Ia menatap ke sekeliling untuk mencadi keberadaan kakaknya tersebut.
Bukannya menemukan kakaknya,yg ia lihat hanyalah tubuh Livia yg sudah tak bernyawa dan berlumuran darah.Tampak di sekeliling mereka juga ada beberapa orang yg mengerumuni mereka yg terkena kecelakaan.Buket bunga lily putih yg sebelumnya dibeli oleh Livia pun terkena cipratan darah dan salah satu bunganya putus dari tangkainya.Keadaan yg benar-benar mengenaskan..
Hanya itu saja yg diingat oleh Libelle dan saat terbangun,ia sudah berada di sebuah ruangan di rumah sakit.Tubuhnya terasa agak sakit karena tabrakan sebelumnya yg diakibatkan oleh pengendara truk yg mabuk.Satu hal yg dipikirkannya sekarang adalah akan bagaimana kondisi kakaknya yg terakhir dilihatnya berlumuran darah segar.
Ia hendak ingin bangun dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan kakaknya tapi tubuhnya terlalu sakit.
"Tidak,aku tidak bisa terus terbaring disini.Aku harus..mencari kakak."
Karena tekad dan keinginannya yg begitu kuat,rasa sakit di tubuhnya seolah-olah menghilang dan Libelle langsung berjalan tertatih-tatih keluar dari ruangannya.Namun apa yg dilihatnya benar-benar seperti petir di siang bolong.Tubuh kakaknya yg sudah begitu pucat dibawa dengan ranjang yg biasanya ada di rumah sakit.Tangan dan kakinya gemetaran tak karuan melihat tubuh kakaknya tersebut.
"KAKAK KAN BILANG KALAU KAKAK HANYA INGIN KELUAR SEBENTAR BERSAMAKU,TAPI KENAPA KAKAK MALAH MENINGGALKANKU SENDIRIAN?!APAKAH KAKAK LUPA AKAN JANJI YG KAKAK BUAT KETIKA KITA MASIH KECIL DULU!?"Libelle berteriak dengan sangat kencang dan berusaha melangkahkan kakinya untuk mengejar ranjang yg membawa tubuh kakaknya itu tapi kakinya tidak mau bergerak dari tempatnya.
Dia sangat histeris sampai lorong rumah sakit yg sebelumnya hening,langsung penuh akan suara teriakan dan tangisannya.Ia bahkan tak menghiraukan perkataan bibi-bibinya yg berusaha menariknya pergi.Keadaannya jauh lebih parah dari Livia yg histeris saat kematian ayahnya.Sangat-sangat parah..
Semuanya sangat prihatin akan Keluarga Elysian.Bagaimana tidak?1 hari yg lalu,kepala keluarga mereka meninggal karena penyakit yg sudah lama tumbuh di tubuhnya dan hari ini?putri kedua mereka,Livia Elysian yg dikenal sebagai salah satu wanita paling berbakat di negaranya bahkan dunia pun meninggal dunia.
"Libelle,tidakkah kau mau makan malam dulu?Kau sudah melewatkan sarapan dan makan siang hari ini.Tidak baik bagi tubuhmu kalau kau terus melewatkan jam makan seperti ini.Kumohon dengarkan kakakmu ini ya,Libelle?"
Dari pagi sampai siang tadi,Leah terus memohon-mohon kepada Libelle untuk keluar dari kamarnya dan makan bersama dengan yg lainnya.Tapi permohonannya itu selalu ditolak oleh Libelle.Nafsu makannya seolah-olah hilang bersamaan dengan kepergian ayah dan Livia.
"Baiklah,kalau kau tidak mau keluar dari kamarmu dan turun ke ruang makan,aku akan menaruh makanan yg kubawa ini di depan pintu kamarmu.Makanlah tepat waktu..adikku sayang"Leah berjalan pergi dari depan kamar Libelle dengan perasaan sedih.
Ia berharap kalau adiknya itu setidaknya akan mencegatnya dan mengiyakan permohonannya tadi tapi tidak terdengar sedikitpun suara Libelle akan membuka pintunya.Hal itu membuat perasaan khawatir dalam diri Leah tumbuh dan langsung berbalik kembali ke arah pintu Libelle dan membuka paksa pintunya.
"LIBELLE!!"Teriak Leah ketika mendapati adiknya itu ingin meminum obat tidur dalam dosis yg sangat tinggi.
*KRATAK*
Botol kecil berisi obat tidur yg hendak diminum oleh Libelle jatuh berserakan di lantai.Leah memegang erat tangan Libelle dan menatapnya dengan tatapan sedih sekaligus kecewa karena adiknya itu berusaha melakukan tindakan bunuh diri.
"Haha..kenapa kakak menatapku begitu?Aku hanya ingin pergi dari dunia ini dan menyusul ayah dan kak Livia di surga.Lagipula tanpa ayah dan kak Livia,hidupku di dunia ini sudah tidak berarti.Jadi biarkan aku meminum pil-pil itu ya?"Libelle menatap Leah dengan tatapan kosong tanpa sedikitpun harapan hidup lagi.
"Maafkan aku,Libelle.Kumohon maafkan aku.."Leah mendekap Libelle ke dalam pelukannya.
"Hng?Kenapa kakak menangis?Kalau aku sudah tidak di dunia ini kan tidak ada lagi yg menjadi beban untuk kakak.Aku bisa bahagia di surga dengan ayah dan kak Livia lalu kak Leah bisa hidup dengan damai tanpa memikirkan seseorang yg hanya bisa menjadi beban sepertiku!"Ia tertawa terbahak-bahak sampai membuat hati Leah bagai ditusuk oleh banyak duri.
"Tidak ada cara lain selain memasukkan ke rumah sakit jiwa,Libelle.Aku tidak bisa mengambil risiko dengan tetap membuatmu tinggal di rumah ini tanpa penanganan khusus.Aku tidak ingin..kehilanganmu,Libelle"
Kejadian di malam itu kemudian Leah beritahukan kepada anggota keluarga lainnya dan juga memberitahukan keputusannya untuk memasukkan Libelle ke dalam rumah sakit jiwa dengan harapan mentalnya bisa pulih kembali.Terlalu berisiko kalau Libelle tetap dibiarkan di rumah itu,tidak ada yg tahu kapan lagi ia akan mencoba bunuh diri seperti sebelumnya.Keputusannya itu langsung disetujui oleh mereka demi keamanan Libelle.
2 tahun berlalu sudah setelah hari-hari menyedihkan yg menimpa Keluarga Elysian yg hidup tanpa kekurangan sedikitpun..
"Kalian semua mengkhianatiku.."Gumam Leah yg kini sudah meraih posisi presiden direktur di perusahaan milik Keluarga Elysian.
~THE END~