#day16 Bebas🏃
Ia menghela napas panjang demi mengurangi gugup yang melanda. Keringat dingin bercucuran membasahi ciput dalam jilbabnya.
"Lu kenapa?" tanya Boy, cowo yang ia tahu wajahnya, bahkan disekolah bisa dihitung jari ia bertemu Boy.
"Di__ dipanggil BK," lirihnya terbata.
"Tumben lu berulah" lelaki itu tersenyum sinis kearahnya.
"Gak usah khawatir... gua tau kok anak kayak lu pasti punya alasan tersendiri," sambung Boy.
Ia tercenung menatap Boy.
Benar...
Ia memang mempunyai alasan teramat besar dalam hal ini, tetapi nyalinya tak sebesar cowo yang sering keluar masuk BK dihadapannya ini.
"Inget negara kita aja udah merdeka, bebas... masa lo sendiri masih terjajah sama diri lu sendiri!" Ia tercengang mendengar penuturan Boy.
Benar ungkapan 'Don't judge book from the cover' dulu ia menilai Boy sebagai anak badung yang tak berkelebihan. Dan ternyata ia salah, kelebihan Boy adalah memiliki kebebasan berekspresi, berbeda dengannya yang selalu memikirkan pendapat orang lain sebelum berbuat.
"Lu bebas beralasan, udeh gua masuk dulu, sampai jumpa didalam." cowo itu mengerling padanya.
Ia tersenyum, rupanya Boy tak seburuk yang ia pikirkan. Bahkan ia merasa teramat malu.
Memang atas dasar apa ia menilai Boy, kenal saja tidak, main nilai saja, rutuknya pada diri sendiri.
#Merdeka
Jangan lupa mampir ke novel aku Cinta dalam Duka🌧️
Happy reading 🌧️