Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan dia di sesi pemotretan, dengan sabar dia memotret kami di tengah panas terik matahari, tampak senyuman indah yang terukir dari matanya, tubuhnya yang suci tertutup rapat dengan balutan kain, wajah cantik yang biasa wanita lain tampilkan rambut indah yang biasa wanita lain gerai ia tutup rapat dalam balutan jilbab.
Hanya dalam sekejap melihat nya jantungku berdebub kencang, dalam sekali tatap aku langsung jatuh cinta kepadanya, apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, sesi pemotretan berakhir dia langsung pergi meninggalkan tempat pemotretan, aku pikir kami tidak akan bertemu lagi tapi Tuhan berkehendak lain.
Beberapa Minggu kemudian aku kembali bertemu dengan nya secara tidak sengaja, masih dengan dandanan yang sama kamera yang sama, aku bertemu dengannya di tepi pelabuhan tempat ia mengambil gambar pemandangan laut senja, hatiku kembali berdebub kencang saat melihat nya, aku perlahan mendekati nya, lalu dia menoleh kearah ku dan tersenyum ramah.
" Hai apa kau juga menyukai pemandangan langit senja?" Tanyaku
" Bukan aku yang menyukai nya, tapi seorang lelaki yang aku sayangi " katanya dengan nada lembut
" Lelaki apa dia pacarmu?" Tanya ku
" Hhmm,, bukan, dia ayahku yang telah tiada setahun yang lalu" jawab nya
Percakapan pun berhenti selama beberapa saat, kami berdua berdiri di tepi pelabuhan angin laut yang menyegarkan berhembus ke arah kami.
"Nona apa aku mau menjadi temanku?" Tanya ku secara tiba tiba kepadanya
" Boleh aku tidak masalah " lagi lagi dia menjawab dengan senyum yang ramah
Sebelum aku menanyakan namanya ia telah pergi dengan seorang lelaki tampan, hatiku merasa sakit ketika melihat nya.
Dua hari berlalu aku kembali bertemu dengannya di sebuah cafe, aku melihat dia duduk di samping kaca, terlihat sebuah buku novel di tangannya dan secangkir kopi di hadapannya, tanpa ragu aku menghampiri nya.
" Nona kita bertemu lagi ya " sapa ku
" Eh ternyata kamu, maaf aku meninggalkan mu begitu saja kemarin waktu di pelabuhan,,,," kayanya
" Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan apa kau sudah punya pacar? " Tanyaku
" Belum dalam Islam tidak di perbolehkan berpacaran" katanya
" Lalu sispa laki laki yang menjemput mu waktu itu?" Tanya ku
"dia Abang ku, dia selalu menjemput ku dan mengantarku kemana saja" katanya.
" Nona besok sore apa kau bisa datang kemari?" Tanya ku
" Mungkin bisa kita lihat saja besok "
Dia lalu berjalan pergi meninggalkan ku, diluar cafe Abang nya sudah menunggu, keesokan harinya tepat pada waktu yang kami janjikan aku menemuinya kembali di cafe itu, hari ini akan aku nyatakan perasaan ini kepada nya, saat memasuki pintu aku sudah melihat dia duduk disana sambil memandangi kaca cafe, perlahan aku berjalan mendekati nya terlihat senyuman yang terukir dari tatapan matanya.
" Maaf membuat mu menunggu lama,,,," kataku
" Tidak apa aku juga baru saja tiba lima menit lebih awal dari mu,,," katanya
" Sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepada mu,,," kata ku
" Hhmm apa itu?" Tanya nya
Sambil memegang tangan nya aku mengatakan isi hati ku selama ini.
" Sebenarnya dari pertama kali kita bertemu aku langsung jatuh cinta kepada mu hati ini selalu risau memikirkan mu, jadi maukah kamu menjadi istri ku, kita bisa mengenal lebih dekat dengan cara ta'aruf sesuai dengan ajaran Islam" kataku dengan penuh keyakinan dan harapan, dia memberikan ku sebuah alamat rumah
" Tanyakan hal itu pada orang yang lebih berhak" dia tersenyum ke arah ku dan berjalan pergi meninggalkan cafe
Seminggu kemudian aku menguatkan tekatku untuk melamar nya aku datangi alamat itu bersama kedua orang tuaky, tok tok tok pintu rumah nya ku ketuk dan seorang lelaki keluar dari sana, lelaki itu memperbolehkan aku masuk kedalam.
" Jadi apa kamu lah lelaki yang akan melamar Zahra adik ku?" Tanya nya, aku pun mengangguk saja
" Jadi apa pekerjaan mu?" Itu adalah hal pertama yang Abang Zahra tanyakan
" Saya bekerja sebagai dosen di universitas xx" jawabku
" Apa aku siap diberi tanggung jawab untuk menjaga dan menyayangi adikku selama sisa hidup mu nantinya?" Tanya Abang Zahra
" Insyaallah,,, aku akan siap" jawabku dengan penuh keyakinan
" Zahra kemarilah,,,,"
Zahra pun keluar dari kamar nya, dia sudah berdandan rapi dan cantik Dengan baju coklat dan cadar nya
"Zahra apa kamu mau menerima lamaran ini" tanya Abang Zahra, Zahra hanya mengangguk
Sepekan kemudian pernikahan kami dilaksanakan upacara ijab Kabul yang sakral kami lakukan, akhir nya Zahra sah menjadi istri ku.
jangan lupa like dan komen ya#