Ada pepatah Jawa mengatakan, "Witing tresno jalaran soko kulino" artinya kurang lebih adalah "Cinta akan ada karena terbiasa".
Lalu bagaimana kalau cinta itu ada setelah dia yang biasa ada sudah tak ada?
Namaku Evelyn, mahasiswi semester 2 program studi Teknik Kimia Universitas A di kota Jakarta.
Aku anak tunggal dari seorang duda tua, pengusaha yang tergolong sukses di bidangnya. Wajahku yang cantik dan didukung body yang apik dengan harta yang berlimpah membuat banyak laki-laki mengantri untuk sekedar berkenalan atau bila beruntung ingin berkencan denganku.
Sayangnya hatiku sudah ada yang punya, Keenan Abimanyu. Kakak tingkat ku yang saat ini sedang dalam proses penyelesaian skripsinya.
"Eve, kenalkan ini nak Arkhan..." Papa menghentikan langkah kakiku sore itu setelah pulang kuliah.
Seorang laki-laki muda dengan celana kain berwarna hitam senada dengan sepatu pantofel nya dan jaket kulit membungkus badannya yang tinggi tegap sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Eve..." ku ulurkan tanganku sebagai bentuk sopan santun untuk menghormati papa.
"Arkhan.." dia berdiri dengan sigap dan menjulurkan tangannya yang menggenggam tanganku dengan mantap.
Tampangnya lumayan menurut ku, tapi sayang cenderung terlihat seperti bapak-bapak di usianya yang masih tergolong sangat muda.
Singkat kata, satu bulan kemudian aku kembali melihatnya di ruang kerja papa.
"Eve, kamu masih ingat Arkhan?" papa yang saat itu dalam kondisi lemah karena serangan jantungnya yang datang menyerang berulang melambaikan tangannya supaya aku mendekat.
"Dia akan menggantikan papa menjagamu."
Sekalipun aku anak yang cenderung manja dan banyak ingin ini itu sesuka hatiku, tapi aku tidak pernah membantah apa yang di perintahkan papa ku.
"Saya terima nikah dan kawinnya Evelyn Hamzah Binti Hamzah dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"
Aku resmi menyandang status sebagai istri seorang prajurit yang pernah menyelamatkan nyawa papa dari perampokan di bank beberapa bulan yang lalu setelah kata "Sah" diucapkan secara serempak oleh para saksi dan tamu yang hadir di ruang tamu rumah ku pagi itu.
Keputusan papa kali ini membuat ku membencinya untuk yang pertama kali seumur hidup ku. Seharusnya aku menikah dengan Keenan yang selalu berkata lembut dan merayu bahkan memuja ku, bukan laki-laki kaku seperti robot yang seumur hidupnya akan mengabdi pada negara dan bergerak berdasarkan perintah komandannya.
"Jangan tidur di atas ranjang ku...!" ku tolak dia di malam pertama saat dia akan naik ke atas ranjang sekedar untuk memejamkan matanya.
Laki-laki itu tidak marah, justru dia tersenyum dan menggeser tubuhnya meringkuk di sofa yang hanya sanggup menopang setengah panjang tubuhnya.
Keesokan harinya dia selalu menyiapkan sarapan untukku dan menolak bantuan pembantu. Bahkan dialah yang merapikan kamar juga mengatur baju yang sudah disetrika rapi oleh pembantu.
"Aku dikirim tugas ke Aceh tiga bulan ke depan. Jaga diri baik-baik ya." laki-laki itu untuk pertama kalinya mengusap pucuk kepala dan mengecup keningku.
Aku tak bisa mengelak karena papa sedang bersama kami melepasnya pergi.
"Yes...." hatiku bersorak sorai kegirangan. Aku bisa menghabiskan waktu 3 bulan penuh dengan Keenan tanpa ada penghalang.
dug....jedag...jedug.... jedag.... jedug
Hingar bingar suara musik yang memekakkan telinga mengiringi liukan tubuhku yang terus menari mengikuti iramanya.
"Ayolah Eve, aku menginginkanmu..." Keenan sedang asyik menyusuri lekuk tubuhku sambil ikut menari.
Bibirnya tak berhenti terus membujukku, mencium, menyesap dan berbisik menggodaku.
"Belum waktunya Keenan..." tolakku. Sekalipun aku bukan gadis taat, tapi aku masih bisa menjaga mahkota yang akan ku berikan pada orang yang akan ku cintai seumur hidupku, yaitu suamiku.
"Jangan bilang kamu jatuh cinta pada tentara itu!" sepertinya Keenan kecewa dan meninggalkanku duduk di meja bar meneguk habis minumannya.
"Jangan merajuk..." rayuku sambil memeluknya dengan manja. Selalu berhasil, karena dia adalah pemujaku yang paling setia. Apalagi kalau sudah ku transfer dana berjuta-juta ke rekeningnya, maka senyum manis tak pernah lekang dari wajahnya.
Sampai genap 3 bulan ku nikmati setiap waktuku dengan Keenan di sela-sela padatnya kegiatan di kampus.
Malam ini harusnya suamiku pulang, tapi aku tak peduli. Bahkan aku tak pulang malam ini.
"Minumlah Eve, jangan menolak karena ini hari ulang tahunku." bisik Keenan sambil menyodorkan segelas kecil minuman beralkohol yang tak pernah ku sentuh.
Aku sama sekali tak menaruh curiga sampai akhirnya aku merasakan tubuhku panas dan merasakan sensasi aneh saat Keenan menyentuhnya.
Braakkkk....tubuhku yang lunglai hanya bisa menangkap bayang-bayang dua orang lelaki yang terlibat baku hantam di depanku.
Setelahnya aku tak sadar lagi apa yang terjadi.
Aku terbangun di pelukan suamiku Arkhan dalam kondisi tanpa busana sama sekali.
"Kurang ajar, sialan, b*jingan...!!!!" ku maki dia dengan segala sumpah serapah karena telah berani mengambil keuntungan saat aku tak sadarkan diri.
Laki-laki itu diam tak bergeming. Tidak protes atau sekedar membela diri. Bahkan saat aku melemparkan asbak ke kepalanya, dia hanya menyeka darah yang mengalir tanpa marah padaku sama sekali.
Tujuh bulan kemudian aku jadi gumpalan lemak yang bulat seperti bola. Tinggal ditendang maka aku akan menggelinding kemana-mana.
"Hati-hati..." Arkhan memapahku keluar dari ruang periksa.
"Jangan sentuh aku...!" entah mengapa segala kebaikannya tak dapat ku lihat. Dalam hatiku hanya ada satu kata, benci. Iya aku membencinya.
Menikahi Arkhan adalah suatu kesialan bagiku. Dia memenjarakan orang yang ku cintai, Keenan dengan dakwaan telah menaruh obat perangsang di minumanku malam itu, tapi aku tak percaya.
"Jadilah istri dan ibu yang baik Eve. Arkhan suami yang sangat sabar menghadapi segala tingkah laku mu." pesan papa di saat-saat terakhirnya.
Keenan bebas bersyarat dengan bantuan seseorang. Dia melakukan kerjasama bisnis yang mana membuat papa ku terjebak dalam kebangkrutan. Tekanan dan kondisi yang papa hadapi membuatnya tidak bisa bertahan hingga membuatnya meninggalkan aku untuk selamanya.
"Papaaaa....." tangisku pilu, mengabaikan Arkhan yang berusaha menghiburku.
Arkhan membawaku tinggal di rumah sederhana, tempat tinggal lamanya. Sangat jauh berbeda dengan rumah mewah yang biasa ku tempati, bahkan luas seluruh rumah hampir sama besar dengan kamar ku dulu.
Tapi Arkhan tidak pernah menolak apapun yang aku inginkan. Kemewahan apapun tetap aku dapatkan selama tinggal bersamanya.
"Ini tas branded seri terbaru, belikan atau anak mu akan ileran kalau sudah lahir nanti..!" titahku tanpa sopan santun.
Arkhan hanya tersenyum sambil mengelus perutku yang semakin membusung.
"Nanti pulang kerja Ayah belikan ya sayang..." dikecupnya perut gembul itu dengan penuh kasih sayang.
Aku membuang muka, sekalipun dia suami yang baik. Tapi dia sudah membuatku kehilangan kebahagiaan ku semuanya.
"Kamu suka?" wajahnya sangat berseri saat menyodorkan paper bag yang berisi tas G*cci limited edition yang ku mau.
Walau aku tak tahu gaji tentara itu berapa, tapi menurutku orang kaya pun pasti akan berpikir berkali-kali untuk membeli tas yang berharga ratusan juta ini.
Arkhan bergerak menuju kamar dan mengeluarkan ransel besarnya. Sudah lama dia tidak pergi bertugas. Entah kenapa ada rasa tidak terima kalau dia harus berangkat saat ini.
"Kamu jangan pergi...." rasanya aku baru saja kehilangan harga diriku saat mengucapkannya.
Arkhan mendekatiku, meraih dagu yang selama ini disentuhnya pun aku tak mau.
"Maafkan aku tak bisa menemanimu saat melahirkan anak kita nanti. Aku mohon jaga dia sampai aku kembali."
Tugas adalah tugas. Arkhan adalah seorang prajurit yang harus menjalankan apa yang sudah diperintahkan padanya tanpa ada opsi membantah.
2 bulan kemudian,
menjelang hari kelahiran anakku.
Sebuah mobil kesatuan tempat Arkhan bergabung berhenti tepat di depan rumah. Aku berlari kecil dengan perut gendut yang bergoyang.
"Sersan Abdul meminta ijin menghadap.."
Ternyata bukan Arkhan, hatiku mencelos kecewa.
Dia menyerahkan sepucuk surat dalam amplop putih panjang. Di depannya tertulis namaku yang diukir dengan tulisan tangan suamiku Arkhan.
"Apa ini?" dan sersan Abdul tak sanggup menjawabnya sekalipun wajahku sudah berurai air mata.
"Arkhaaaaaaannnnnn...!!!!"
Tubuhku merosot ke lantai, memeluk selembar kertas dengan barisan tulisan pesan terakhir dari Arkhan.
✨Apa kabar Eve, istriku...?
Saat surat ini sampai di tangan mu artinya jasad ku mungkin sudah terbujur kaku di dalam peti atau malah tidak ditemukan lagi.
Maafkan aku harus mengucapkan perpisahan dengan cara seperti ini.
Eve, sekali pun tak ada secuil cinta di hatimu untukku, terimakasih sudah mengijinkan ku menemani hari mu, mendampingi mu walau tak lama, menepati janjiku pada almarhum papa meski hanya sebentar saja.
Eve, mulai hari ini kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Tak banyak harta yang aku tinggalkan, mungkin kamu harus sedikit berjuang untuk membesarkan anak kita. Aku harap kamu berkenan menjaganya...
Aku selalu mencintaimu...
Arkhan✨
Aku menerima penghormatan terakhir untuk kepergiannya dari satuan tempatnya bertugas. Wajahku tertunduk dalam diam, dengan perutku yang menyembul tak bergerak seolah bayi di perut ku ini juga turut berduka untuk kepergian ayahnya.
Sejumlah deret angka masuk ke rekeningku sebagai kompensasi tunjangan atas kepergiannya. Mataku terbelalak, ternyata hanya segini nominal gaji Arkhan setiap bulannya. Jauh dari tuntutan rupiah yang aku minta sebagai jatah belanjaku setiap bulan, belum lagi memenuhi permintaan ku ini dan itu. Aku tersenyum getir membayangkan bagaimana usahanya harus menyenangkan hatiku dalam keterbatasan kemampuannya.
Aku melahirkan seorang putra tampan 1 Minggu sesudah kepergian Arkhan. Aku berikan nama yang sama Arkhan.
Arkhan kecil tumbuh dengan cepat. Pertengahan Agustus nanti dia akan berulangtahun yang ke-5. Wajahnya sangat rupawan, sempurna seperti ayahnya. Rambutnya, matanya, hidungnya tiada berbeda walau aku tak pernah serius melihat ke arah suamiku semasa hidupnya.
Haaaahhhhhh, getir di hatiku semakin terasa. Baru aku tahu setelah sekian lama kenapa aku merindukan laki-laki yang selama ini aku abaikan. Baru aku sadari aku mencintainya setelah dia tak dapat ku cintai lagi. Arkhan.....
__________________________________________________
Satu hari setelah ulang tahun putraku, perusahaan ku bekerja mengirimku ke pedalaman Papua untuk melakukan research lapangan tambang baru mereka. Papua? mengingatkan ku akan tugas terakhir Arkhan di sana. Tempat yang tidak mengijinkannya untuk kembali padaku lagi.
Aku terduduk di atas batu besar bersama team ku untuk beristirahat. Menikmati alunan gemericik air sungai yang mengalir di sela jemari kakiku yang letih karena perjalanan harus kita tempuh dengan berjalan kaki puluhan kilometer jauhnya.
Tak sengaja, netraku memandang lurus di kejauhan, sosok tegap yang tak asing dalam ingatanku. Hatiku tergerak untuk membawa tubuhku mendekat.
Air mataku mengalir, jauh lebih deras dari aliran anak sungai dimana aku berdiri. Laki-laki itu sedang menikmati segarnya air yang membasuh tubuhnya. Tubuh yang sama, walau aku hanya melihatnya sesekali saja, itupun sambil ku maki dan menyuruhnya cepat-cepat pergi.
"Arkhan...." ku panggil namanya perlahan.
Tidak ada reaksi, mungkin suara air menyamarkan suaraku.
"Arkhan, ini aku...." Ku naik kan suaraku sedikit lebih nyaring.
Sepertinya berhasil, dia keluar dari air, mengibaskan rambutnya yang lebih panjang dari potongan yang biasa. Wajah Arkhan sedikit berbeda, mungkin karena carut marut luka di pelipis juga pipi dan dagunya.
Tak ku sangka, dia melewati ku begitu saja. Mungkinkah dia marah??
"Arkhaaaannnn....." ku teriaki laki-laki yang penuh bekas luka disepanjang punggungnya.
"Dia buta, tuli dan bisu..." seseorang menepuk pundak ku dan mengatakan kenyataan yang membuat ku merosot ke dalam air saat itu juga.
Semuanya melayang, tubuhku entah sudah di mana. Apa aku mati? atau hanya berhalusinasi?
"Arkhaaaaaaannnnnn...." teriakku sambil terengah.
"Tenang nak..." suara yang sama. Dia yang menepuk pundak ku di sungai tadi.
Rupanya aku pingsan dan rombonganku menerima tawaran warga setempat untuk beristirahat sejenak sampai kondisiku pulih lagi.
"Di mana dia?" ku edarkan pandangan mataku mencari sosok laki-laki yang menghantuiku 5 tahun belakangan ini.
"Dia di sana, apa kamu mengenalnya?"
"Aku istrinya...." ucapku tanpa ragu. Status yang sangat ku benci dulu, tapi membuatku sangat yakin untuk diucapkan saat ini.
"Arkhan....." Ku gapai wajahnya dengan menangkupkan kedua telapak tanganku di pipinya.
Tak ku sangka, dia menipis tanganku, dia menolakku. Hatiku sangat pedih, tapi aku segera sadar diri ini belum seberapa jika dibandingkan kekejaman sikap ku padanya.
Aku mengundurkan diri dari team. Sudah ku putuskan untuk memenangkan hati Arkhan sebagaimana dia berjuang untuk mempertahankan aku dulu.
Tetua kampung menceritakan bagaimana menemukan Arkhan dalam kondisi yang mengenaskan mengapung di aliran sungai 5 tahun yang lalu. Badannya penuh luka, bahkan Arkhan kehilangan sebelah bola matanya.
"Sepertinya dia punya semangat hidup yang tinggi. Membuatnya bertahan walau tanpa perawatan medis apapun."
Aku terus menangis membayangkan betapa sakit luka yang di deritanya waktu itu.
"Setelah kesadarannya pulih, kami baru menyadari dia kehilangan tiga indera terpentingnya. Dia tidak bisa melihat, mendengar bahkan berbicara. Entah siksaan apa yang dia terima selama di sandera oleh para pemberontak."
Haaahhhh, ku hembuskan nafas ku yang terasa sesak. Pantas saja satuan angkatannya menyimpulkan dia tewas di tangan pemberontak karena tak dapat menemukan jasadnya maupun raganya yang masih hidup.
Tetua suku yang sedikit banyak mengenyam pendidikan membantu Arkhan mendapatkan panduan untuk mempelajari huruf braille, satu-satunya media bahasa supaya dia dapat berkomunikasi.
Kemampuannya cukup mahir sampai saat ini. Dari sanalah tetua suku tahu nama laki-laki yang ditolongnya adalah Arkhan, seorang prajurit perang berpangkat Kapten satuan TNI Angkatan Darat.
Ku pandang wajah Arkhan yang teduh dalam diam. Keterbatasannya tidak membuatnya bergantung pada siapapun. Dia bisa mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan, bahkan membantu memasak di dapur atau membereskan rumah juga beberapa kegiatan dia bisa melakukannya walau dengan meraba.
"Arkhan, ini aku.." ku coba berbicara dengan duduk di sebelahnya.
Dia sibuk menuliskan sesuatu dalam lembaran buku khusus huruf braille nya. Tak mengacuhkan keberadaan ku walau sangat dekat dengannya.
Sekali lagi aku hanya bisa menangis dan berharap waktu bisa ku putar kembali, tak akan ku biarkan Arkhan ku menderita seperti ini.
1 bulan ku lalui hari terus berada di sisi Arkhan yang tak memperdulikan kehadiranku. Mungkin sama persis seperti dulu waktu aku tak memperdulikan dia walaupun dia selalu ada.
"Saya pamit ke kota.." pagi-pagi tanpa pemandu ku langkahkan kaki ku menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki menuju kota terdekat.
"Arkhaaannn...." putra kecilku berlari menyongsong tubuhku yang tak terasa letih lagi setelah 1 bulan lebih tak melihatnya.
"Terimakasih letnan Abdul..." ucapku pada rekan seperjuangan Arkhan suamiku.
Dia begitu antusias saat ku kirimkan kabar melalui pesan saluran militer radio amatir bahwa Arkhan masih hidup dan sedang bersamaku.
Keesokan paginya, beberapa anggota satuan angkatan mereka menemani ku kembali ke desa.
"Letnan Abdul melapor untuk menghadap...!" sederet kalimat yang membuat pasukan yang dibawanya berbaris rapi memberi hormat pada suami ku Kapten Arkhan.
Walaupun jabatannya saat ini sudah di atasnya, tapi Letnan Abdul tetap memberikan hormat pada rekan lamanya seolah dia tetap atasannya.
Arkhan diam tak bergeming, karena memang dia tak melihat maupun mendengarnya.
"Siapa dia Bu?" Arkhan kecil berbisik di telingaku.
"Laki-laki hebat itu Ayahmu..."
Arkhan kecil bergerak mendekati wajah Arkhan ayahnya yang selalu dingin dan datar sejak pertama aku kembali menemukannya.
"Ayah...." tangan mungilnya meraba wajah yang penuh carut marut luka yang tak akan pernah hilang itu.
Mungkin inilah yang disebut ikatan darah, jemari suamiku bergerak perlahan menyusuri wajah putranya. Meraba dengan antusias mengikuti naluri dan jiwanya sebagai seorang Ayah. Entah insting mungkin yang mendorongnya untuk memeluk Arkhan kecil dan menciumi seluruh wajahnya.
"Arkhan...." ku dekati dia sambil ku sodorkan selembar kertas berisi selembar utuh tulisan huruf braille yang ku pelajari dengan susah payah selama satu bulan ini.
✨Arkhan.
Ini aku, maaf sangat terlambat untuk menemukanmu di sini, membuat mu merasakan ketakutan dan sendiri.
Arkhan, 1 bulan ini aku di sini, di dekatmu tapi aku belum mampu mengetuk hatimu sampai aku bisa menemukan cara bagaimana mengungkapkan perasaan ku dengan bahasa mu...
Kamu tahu? laki-laki kecil ini putra kita. Aku menjaganya dengan baik seperti yang kamu minta.
Aku mencintaimu,
Evelyn ✨
Air mata Arkhan terurai bebas membasahi pipinya. Tangannya yang gemetar meraba wajahku yang juga basah bergelimang air mata.
"Eve...." ucapnya dengan suara yang tak jelas karena lidahnya yang tak utuh lagi.
"Aku mencintaimu...aku mencintaimu Arkhan...." dan semua kebencian ku padanya dulu berakhir di sini. Pelukan kami bertiga akan mengawali hari baru dengan mencintai Arkhan ku dengan segala kekurangan dan keterbatasannya.
🌹TAMAT🌹
________________________________________________
Hiiiii, its me "nine june",
bantu like dan dukungannya yaa...
jangan lupa di share sama tetangga sebelah biar lebih rame untuk supportnya bagi tulisanku yang antah berantah ini😁🙏
boleh juga mampir diintip cerita di novel karya halu pertamaku "main hati"
thank you semuanya
salam hangat dari author
sehat selalu semua yaaa😇