Ini hanyalah sepenggal kisah dalam hidupku.
Aku pernah memiliki seorang teman. Yang entah bagaimana dahulu kami bertemu. Dia cantik, ramah dan sangat baik terhadapku.
Terhadapnya, aku bisa menceritakan segalanya tanpa malu dan ragu. Orangtuanya, sudah seperti orangtua bagiku. Aku sangat menyayanginya.
Pertemanan kami tak melulu saling jumpa dan saling komunikasi, hanya sesekali dalam beberapa bulan. Karena aku yang suka traveling, dan dia yang akhirnya menjadi ibu rumah tangga, membuat hubungan kami terlihat biasa saja.
Hingga suatu waktu, setelah sekian lama. Tanpa sengaja kami di pertemukna lagi sebagai tetangga kost tanpa sengaja.
Dia sudah memiliki seorang putra dari pernikahan keduanya dan aku tetap saja sendiri.
Kehidupanku masih sama dari semenjak kami awal berjumpa hingga saat kami dipertemukan lagi. Aku seperti jalan di tempat. Sementara dia, sudah menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi anak2nya.
Meski bertetangga, kami jarang berkomunikasi. Hampir tak pernah sama sekali malah. Dan itu berlangsung cukup lama. Tak ada masalah diantara kami. Aku tetap menyayanginya, menyayangi putranya. Diapun sama.
Suatu waktu, saat aku libur bekerja. Dia menghampiriku yang sedang menyapu teras.
"Cok, aku loro," ucapnya ramah padaku. Karena memang kami sedikit bar-bar dalam memanggil satu sama lain.
"Loro opo, ojo mati sek to, iwak pitek jek enak," jawab ku asal kala itu.
"Emboh, dokter gak iso prediksi. Di santet paling. Tapi aku meteng ki, doain penyakitku mari ya," ocehnya lagi.
"Heuh? Meteng tenan kah, berapa bulan?" hebohku saat tau kondisi nya.
"Udah 4 bulan ini," dia tersenyum padaku.
"Jangan lupa doain aku ya, biasanya doa orang tukang berbuat dosa itu di dengar Tuhan," lanjutnya sambil cekakakan.
"Ye.... Tenang aja, pasti aku doain." sungutku bercanda.
"Yah, pokoknya kalo aku mati duluan, jangan lupa doain aku juga," imbuh nya lagi masih cengengesan.
"Lah kalo aku yang duluan gimana?" selaku ngambek.
"Gak akan, orang banyak dosa matinya lama." jawabnya ngejek aku.
"Lambemu...." aku mengakhiri pembicaraan mengerikan itu.
Waktu berlalu sekitar 3 bulan lamanya. Aku yang doyan keluar kota di hari libur tak pernah menjumpainya lagi. Bahkan terakhir kudengar dia malah pindah rumah.
Hingga suatu hari, seorang teman lain yang tak memiliki nomor ponselku menghubungi ku lewat messenger FB.
Mengatakan bahwa sahabat ku telah berpulang.
Berpulang sesaat setelah dia melahirkan buah hatinya yang cantik.
Kematian yang baik untuk orang yang baik.
Maaf Karena tak mengetahui kondisi mu disaat terakhir. Maaf karena aku terlambat mengetahui nya.
Aku menyayangimu, mengingat mu selalu dalam doa.
Kau tau aku tak pernah berbohong kan...
Aku yakin kau sedang tersenyum padaku dari surga sana, karena mengetahui aku benar2 memanjakanmu dalam doa.
Iya kan... 😊
#Husnulkhotimah_sahabatku_Hanny