"Kenalkan aku Bara, teman sekelas Rendra.” Aku mengulurkan tangan.
“Dita.” Dita membalas uluran tanganku lalu kami bersalaman. Kami saling melempar senyum.
“Kalau Rendra cari masalah lagi denganmu, kamu bisa mencariku,” ucapku.
“Terima kasih Kak, tetapi sepertinya tidak perlu,” sahutnya
Itu momen pertama kali aku bertemu dan bicara dengan Dita yang tanpa sengaja bertemu di koridor kampus. Saat itu, dia bertabrakan dengan sahabatku, Rendra. Aku membelanya karena aku tidak tega melihat sahabatku seperti ingin mencari ribut dengan dia.
Kesan pertama melihatnya, dia cukup menarik. Meski wajahnya terlihat polos tanpa polesan make up tapi tetap terlihat cantik. Karena penampilannya yang tomboi mungkin tidak banyak yang menyadari kecantikannya. Dan, satu lagi dia unik. Kalau biasanya cewek-cewek selalu ingin mendekati Rendra, dia justru bersikap cuek dan bermusuhan dengan sahabatku itu.
Awalnya aku mendukung sahabatku dengan Dita, karena menurutku Rendra suka sama Dita. Itu terlihat dari sikapnya yang beda setiap bicara tentang Dita, ya meski sikapnya seperti membenci begitu. Tapi dia bilang tidak ada niat mendekati Dita. Okelah, kalau begitu aku yang akan maju mendekati Dita karena sejak pertama aku melihatnya, aku sangat tertarik dengan keunikannya.
Pertemuan keduaku dengan Dita juga terjadi secara tak sengaja di sebuah acara kampus. Aku menyapa dia terlebih dahulu saat melihatnya. Sialnya, dia tidak ingat sama sekali denganku. Ya Tuhan, wanita ini memang unik. Meski aku tidak sekeren Rendra tapi banyak juga cewek-cewek yang mendekatiku. Selain yang katanya wajahku tampan, mereka juga mengaku suka mendengar suaraku saat menyanyi.
Aku mengajaknya ngobrol sebentar sampai teman-temannya datang. Aku bisa melihat dia kurang nyaman bicara berdua denganku. Ya, mungkin karena kami baru dua kali bertemu.
Malam itu aku dan band-ku mengisi acara di sana. Kesempatan ini tentu saja tidak akan aku sia-siakan begitu saja. Aku menyanyikan sebuah lagu cinta yang sangat populer sambil memandangnya dari atas panggung. Dan, semesta sepertinya mendukungku. Dia juga melihatku, membuat pandangan kami bertemu. Aku langsung saja memberikan senyum termanisku padanya.
Tapi kebahagiaanku hanya sesaat karena dia meninggalkan area penonton, sepertinya mau menerima telepon. Aku jadi bertanya dalam hati, telepon dari siapa? Mungkinkah pacarnya?
Tapi, aku tetap bersikap profesional, meski hatiku gundah, aku tetap menyelesaikan kewajibanku menyanyi sampai selesai. Begitu kami turun dari panggung, aku pamit pada teman-teman band-ku. Aku mendatangi Dita dengan teman-temannya.
Akhirnya aku berkenalan dengan Bella dan Baim, kedua teman Dita. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Tetapi dia menolak, katanya dia sudah dijemput. Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, dia dan teman-temannya sudah berpamitan padaku. Aku hanya bisa pasrah dan menatap kepergiannya.
Tak lama, kedua sahabatku menghampiri aku. Adelia yang peka dengan perubahan sikapku, bilang akan mendukungku untuk mendekati Dita. Sementara Rendra, hmmm entahlah, aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Yang jelas, Rendra sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku yang berkaitan dengan Dita.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri datang ke kelasnya, yang tentu saja membuat heboh mahasiswa jurusan arsitekstur. Banyak di antara mereka yang menyapa karena mengenalku sebagai vokalis Baja band. Tentu saja aku membalas sapaan mereka sambil tersenyum. Hmmm, anggap saja sebagai bentuk fans service.
Dita tampak terkejut saat melihatku di depan ruang kuliahnya.
“Hai, Dita,” sapaku sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis padanya.
“Eh ... Kak Bara.”
“Apa kabar?”
“Baik, Kak. Kok Kak Bara bisa sampai di sini?”
“Apa aku ganggu?”
“Oh ... enggak kok, tadi baru santai sambil nunggu jam selanjutnya.”
“Syukurlah kalau enggak ganggu," ucapku lega.
“Mmmhhh ... maaf, Kak Bara ada perlu apa ya?”
“Ada sesuatu yang mau aku tanyakan sama kamu. Apa nanti kamu ada waktu?” Aku menatapnya penuh harap.
“Soal apa ya Kak kalau boleh tahu?”
“Nanti kamu juga tahu, gimana? Bisa?” tanyaku lagi.
“Saya nanti selesai kuliah jam 3, Kak.”
“Di ruangan sini juga?”
“Iya, Kak.”
“Nanti jam 3 aku ke sini lagi. Aku pergi dulu.”
Aku tersenyum bahagia saat meninggalkan ruang kuliah Dita.
“Yesssss!!!!” Pekikku sambil mengepalkan tangan.
Aku tak peduli dengan pandangan orang-orang yang menganggapku aneh. Yang penting, aku bahagia nanti bisa bicara berdua dengannya.
Pukul 03.00 sore sesuai janjiku, aku kembali ke ruang kuliahnya. Aku menunggu sambil menyandarkan tubuhku di dinding. Dita masih belum ke luar, karena aku sudah berdiri di sini sejak dosen masih di kelas. Jadi aku tahu kalau Dita masih di dalam. Aku masih tetap sabar menunggunya. Seorang Bara Pradipta Aryaguna tidak akan mengeluh hanya karena lama menunggu.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya orang yang aku tunggu ke luar juga. Dita ke luar bersama dua temannya, Bella dan Baim. Setelah temannya pergi, tinggallah aku berdua dengannya.
“Enaknya kita ngobrol di mana ya?” tanyaku memecah keheningan di antara kami.
“Terserah Kak Bara saja, tetapi saya ke musala dulu ya Kak, takutnya nanti kesorean sampai rumah.”
“Kalau begitu kita ke musala dulu, aku juga belum Asar.”
Dita menganggukkan kepala, lalu kami pergi ke musala teknik.
“Ada yang marah enggak nih kita ngobrol gini?” pancingku.
“Maksudnya, Kak?”
“Pacarmu nanti marah atau enggak kamu ngobrol sama cowok lain."
“Oh ... saya enggak punya pacar kok, Kak.”
“Terus yang jemput kemarin pas di Gelex siapa kalau bukan pacarmu?”
“Kakak saya itu.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Yes, masih terbuka kesempatan buatku.
“Kirain itu pacarmu kemarin, membuatku hampir putus asa."
“Putus asa?” Kening Dita berkerut dengan raut wajah bingung.
“Ya, kalau kamu punya pacar kan jadi aku tidak punya kesempatan untuk dekat denganmu. Nah sudah sampai, kita mau salat berjemaah atau sendiri?” tanyaku.
“Berjemaah juga boleh kalau ada yang lain, pahalanya kan 27 kali lipat dari salat sendirian,” jawab Dita.
“Oke, nanti kita ketemu di atas ya."
Aku akhirnya salat berjemaah dengannya. Ya, meski tidak hanya berdua, setidaknya aku pernah menjadi imam salatnya. Dan semoga nanti aku akan menjadi imam hidupny. Aamiin.
“Mau pesan apa?” tawarku saat kami sudah duduk di kantin usai menjalankan salat Asar.
“Enggak usah Kak, saya masih kenyang.”
“Minum saja ya, sebentar aku ambilkan.” Aku menuju ke stan yang menjual minuman lalu membeli dua botol air mineral dingin.
“Minum dulu biar lebih segar.” Aku menyerahkan sebotol air mineral pada Dita, tak lupa aku putar dulu tutupnya agar Dita tidak kesulitan membukanya.
“Terima kasih, Kak.” Dita menerima botol air mineral itu.
“Jadi, gimana apa aku boleh dekat denganmu?” tanyaku tanpa basa basi.
“Maksudnya—dekat sebagai teman, Kak? Bo—boleh kok,” jawab Dita sedikit gagap.
“Aku penginnya lebih dari teman, Dit,” ucapku sambil menatap mata Dita.
Dita terkejut dengan penyataanku.
“Mmmaksud Kakak apa?” Dita terlihat kebingungan.
“Masa kamu enggak paham, Dit.”
Dita menggelengkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
“Aku ingin mendekatimu karena aku ingin kamu jadi pacarku."
Dita kembali terkejut mendengar penyataanku.
“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang kalau kamu belum siap,” ucapku saat Dita masih diam selama beberapa menit.
“Emm ... bukan begitu Kak, tetapi untuk saat ini saya hanya ingin fokus kuliah. Kalau Kak Bara ingin kita berteman, saya menerimanya dengan senang hati. Tetapi untuk lebih dari itu, mohon maaf Kak, saya tidak bisa.”
Kali ini aku yang dibuat terkejut dengan jawabannya. Kalau biasanya gadis lain bilang akan memikirkannya lebih dulu, gadis ini langsung menolakku. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihku. “Jadi, kamu ingin kita berteman saja?”
“Iya Kak, maaf.”
Aku menghela napas panjang. Mungkin aku yang terlalu terburu-buru menyatakan perasaanku, jadi dia langsung menolakku. Oke, Bara, kamu tidak boleh menyerah begitu saja, Dita pantas untuk diperjuangkan.
Dita langsung pamit pulang setelahnya. Saat aku menawarkan untuk mengantar, dia menolak karena katanya sudah dijemput. Aku menawarkan untuk mengantar sampai depan fakultas saja, dia tetap menolaknya. Padahal aku ingin tahu siapa yang menjemputnya, kalau kakaknya, sekalian aku juga ingin mengenalnya. Akhirnya aku hanya bisa memandang kepergiannya.
Beberapa hari kemudian, tanpa sengaja aku melihat Dita berjalan tergesa-gesa. Aku berniat menyapanya, tapi aku terkejut saat melihat ke arah datangnya Dita. Aku melihat Rendra berdiri di sana sambil tersenyum memandang Dita.
Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka berdua? Di depan orang-orang terlihat tidak akur, tetapi di belakang ternyata mereka bertemu diam-diam. Aku menggelengkan kepala berkali-kali, menepis pikiran negatif yang muncul di kepalaku.
Aku pura-pura tidak tahu apa yang terjadi saat Rendra melintas di depanku. Aku bersikap biasa saja padanya seolah tak terjadi apa-apa. Aku sangat yakin sahabatku itu tidak akan menikungku dari belakang setelah kemarin aku meminta bantuannya untuk membantuku dekat dengan Dita.
Aku akhirnya bisa mendapatkan nomor ponsel Dita dan juga line ID-nya. Setiap hari aku menyapa dan mencoba mengajaknya mengobrol meski hanya lewat pesan. Aku juga mengirim rekaman suaraku saat bernyanyi sambil bermain gitar, berharap dia bisa luluh setelah mendengar suaraku dan juga seluruh perhatianku. Gadis mana yang tidak akan luluh kalau dinyanyikan lagu cinta setiap hari, iya kan?
Tapi, usahaku sepertinya belum berhasil. Dita masih bersikap biasa saja. Setiap aku kirim pesan pasti lama sekali jawabnya, sekali menjawabpun hanya satu atau dua patah kata saja. Begitu pun tiap aku kirimi dia lagu coverku, dia hanya mengucapkan terima kasih tanpa bicara yang lain. Oh, man!!! Kenapa gadis ini sangat susah untuk didekati. Apa mungkin dia sudah mencintai pria lain, Rendra, sahabatnya.
Aku selalu merasa ada sesuatu di antara mereka, tapi aku tidak tahu apa itu. Kalau pacaran jelas tidak mungkin. Aku yakin itu. Tapi sikap dan perhatian Rendra pada Dita selalu mengusik hatiku. Apalagi setelah tanpa sengaja aku melihat mereka pulang bersama.
Ya, Rendra memboncengkan Dita dengan motor sport kesayangannya. Padahal selama dia kenal dengan Rendra, tidak pernah sekali pun dia tahu dan melihat Rendra berboncengan dengan seorang wanita. Bahkan, Adelia yang jelas dekat dengan mereka pun tidak pernah. Apa mungkin rumor Rendra berboncengan dengan cewek beberapa waktu lalu juga ada kaitannya dengan Dita?
Satu hari Rendra mengajakku bertemu di kafenya sepulang kuliah. Sejujurnya aku merasa penasaran dengan apa yang ingin dia bicarakan karena sepertinya hal yang cukup serius. Dan, entah kenapa perasaanku rasanya tidak tenang, tapi aku berusaha menutupinya.
Aku tidak menyangka, siang itu, Rendra membuat pengakuan kalau dia bertemu Dita beberapa kali di belakangku secara tidak sengaja. Dia juga mengaku kalau mereka bertetangga dan dua kali pulang bersama. Yang membuatku makin terkejut, Rendra mengakui perasaannya kalau dia juga cinta sama Dita.
Berengsek!!!!
Aku memukul dengan keras sofa yang aku duduki. Meski di dalam hati, aku ingin sekali menghajar sahabatku itu. Aku marah sekali dengan Rendra. Kenapa harus dia? Kenapa sekarang di saat aku benar-benar sudah mencintai Dita? Kenapa tidak dari dulu saat aku memberi dia kesempatan untuk mendekati Dita?
Shit!!! Aku berusaha menahan amarahku. Meski dia bilang dia rela aku pukul atau hajar tapi aku tidak mau. Semarah apa pun, logikaku masih berjalan. Aku mulai mengatur napas dan mengendalikan emosiku.
Setelah aku bisa berpikir jernih, aku juga mengaku kalau aku menunggu kejujurannya karena aku sudah curiga dengan mereka berdua. Selain itu aku juga mengungkapkan kalau awal aku mendekati Dita hanya untuk memanasi Rendra agar sahabatnya itu sadar dengan perasaannya. Tetapi ternyata aku justru jadi benar-benar jatuh cinta pada Dita.
Akhirnya kami sepakat untuk bersaing mendapatkan hati Dita tanpa menghancurkan persahabatan kami. Meski Rendra sempat menyatakan akan mundur, tetapi aku terus memintanya untuk maju. Dita adalah cinta pertama Rendra, jadi patut kan untuk diperjuangkan. Kami akan mundur dan saling mendukung kalau Dita sudah menjatuhkan pilihan pada salah satu dari kami.
Satu malam, saat libur semester, Rendra menelepon ingin mengajakku bertemu esok hari. Hhhmmm, perasaanku rasanya sudah tidak enak. Aku merasa seperti dejavu. Dan, ya tepat seperri feeling-ku, Rendra bercerita kalau dia sudah menembak Dita dan sudah datang ke rumahnya.
Meski terkejut, aku masih bisa menguasai diriku. Aku tertawa saat mendengar kalau Dita masih menggantung jawabannya. Meski katanya Dita juga memendam rasa pada Rendra. Kata Rendra, ayahnya Dita tidak mengizinkan mereka pacaran, tetapi malah menyuruh Rendra melamar Dita kalau dia benar-benar mencintai putrinya.
Rasanya bagai disambar petir saat mendengar semua cerita Rendra. Tawaku yang tadi mengejeknya seketika lenyap. Aku merasa sudah kalah melangkah dari sahabatku itu. Rendra bahkan tanpa melakukan pendekatan intens seperti yang aku lakukan, berhasil mencuri hati Dita. Aku berusaha mengendalikan diriku. Aku mau marah juga percuma, karena aku juga tidak tahu harus marah pada siapa.
Saat ini, Rendra sedang menunggu jawaban Dita apakah mereka mau menikah atau tidak. Mereka berdua sama-sama menjalankan salat Istikharah sebelum membuat keputusan. Sepertinya inilaha jawaban atas doa-doa di sepertiga malamku. Aku harus ikhlas dan menyerah.
Meski hatiku rasanya hancur lebur, tapi dengan tulus aku mendoakan kebahagiaan mereka berdua. Aku minta Rendra mengajakku saat melamar Dita agar aku bisa melihat sendiri kebahagiaan Dita saat bersama Rendra. Karena selama yang aku tahu, setiap bertemu mereka lebih sering saling bersikap dingin atau ketus.
Akhirnya hari lamaran Rendra tiba setelah Dita memberikan jawaban. Dita tampak terkejut saat melihatku ada di sana. Aku tetap tersenyum meski hatiku rasanya pedih.
Hari itu, aku menjadi saksi lamaran dan pernikahan mereka. Ya, mereka menikah. Rendra menikah dengan Dita karena keinginan ayahnya Dita yang tidak ingin putrinya berdua-duaan dengan Rendra tanpa ikatan yang halal. Orang tua yang patut diacungi jempol karena ingin menjaga putrinya dari perbuatan zina.
Aku menghampiri mereka, saat Rendra dan Dita duduk beristirahat usai menerima selamat dan foto bersama anggota keluarga mereka.
"Congrats, Bro. Now i can see with my eyes that you love each other. Please take care of her. I wish all the best for you two." (Selamat, Kawan. Sekarang aku bisa melihat sendiri kalau kalian saling mencintai. Jagalah dia. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.)
"Thank you for everything, Bro (Terima kasih untuk segalanya, Kawan)." Rendra menepuk punggungku saat kamu berpelukan.
"Selamat ya Dita, aku bahagia melihat kalian bahagia. Yang sabar ya kalau Rendra mulai bertingkah absurd," ucapku saat bersalaman dengan Dita.
"Terima kasih, Kak." Dita tersenyum padaku, senyum tertulus dan termanis yang pernah aku lihat.
Setelah itu kami foto bertiga, lalu aku bergabung dengan Bella dan Baim yang juga hadir saat itu.
Kata orang puncak tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan. Ya, saat ini aku mengikhlaskan gadis yang aku cintai bersanding dengan sahabatku. Meski aku tidak bisa begitu saja melupakan Dita, tapi aku bahagia melihat Dita bahagia dengan Rendra. Aku dengan tulus dan ikhlas mendoakan mereka berdua. Dan, kini mereka sangat berbahagia karena sedang menantikan kelahiran buah cinta mereka.
Jogja, 160821 15.45