Bulan Juli adalah bulan yang nongol setelah Juni dan sebelum Agustus, masih sama dari tahun-tahun sebelumnya. Juga tidak lepas dari hingar bingar tahun ajaran baru.
Terdengar celotehan siswa-siswi saling bersahutan meningkahi teriakan-teriakan kakak kelas yang berusaha mengatur barisan. Memang sih peloncoan sudah di hapuskan dari kurikulum penerimaan siswa baru dan sekarang berubah menjadi penegakan kedisiplinan. Padahal mah sami wae alias sama saja.
Selama 2 minggu ini Aku pun harus ikut serta menjadi siswa dan siswi baru yang menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa).
“Ayo lari!” teriak kakak senior padaku di saat aku tak sengaja melihat orang yang kukenal sedang menjalani hukuman.
Tapi tak lama, dia langsung menghilang bagai ditelan bumi meski aku sudah mencarinya ke berbagai penjuru sekolah selama istirahat berlangsung. Padahal jelas sekali kedua mata ini melihatnya sedang jalan sambil jongkok sembari menyanyikan lagu potong bebek angsa. Mungkin ini adalah halusinasiku yang terlalu menginginkannya satu sekolah denganku.
"Ayo lari, cepat!" teriak Kakak senior meninta kami segera berkumpul kembali karena jam istirahat telah usai.
“Kalau jalan saja bisa, kenapa harus lari.” jawabku dengan gumaman.
“Ngomong apa kamu tadi?” bentaknya tepat di depan wajahku dengan sangar.
Kakak senior itu mengelilingi tubuhku, bahkan ia menelisik tubuhku dari atas sampai bawah membuatku merinding.
“Siapa namamu?” tanyanya dengan wajah penuh kebencian, sangat terlihat jelas dia sedang merencanakan sesuatu.
“Bagas.” jawabku tegas.
“Oke Bagas, kamu di hukum.” ucapnya sambil menyeret bajuku untuk mengikutinya ke tengah lapangan.
jeng jeng jeng..
Semua orang berbaris menatapku, benar kan? padahal aku hanya bergumam tapi pendengaran kakak senior ini sungguh luar biasa tajam.
“AKU MENCINTAIMU ANJANI.” Teriakku berulang kali sampai tenggorokanku kering rasanya mau putus saja dari leherku.
Semua yang menyaksikan hanya ketawa-ketiwi menertawakanku termasuk si kakak senior yang berdiri di depanku. Dan inilah hukumanku di mana aku harus berteriak memanggil nama orang yang kucintai.
Hari pertama masuk kelas pun tiba, drama MOS telah berakhir. Aku sudah kehabisan tempat duduk strategis. Dan karena jumlah murid di kelas ganjil, aku mendapatkan berkah bisa duduk sendirian. Namun sayangnya juga mendapat musibah yang begitu fatal karena bangku kosong itu tepat di depan meja guru.
“Lu di sini rupanya.”
Di saat aku meratapi nasib sial, aku terlonjak kaget mendapati Anjani duduk di sebelahku. Dia ada di sini, di sekolah ini, jadi yang waktu MOS benar dia..
Astaga dragon fly?? Dia pasti mendengar aku di hukum. Sudah di pastikan kupingku pasti memerah sekarang.
Anjani adalah teman atau sahabatku dari SMP, dan tentunya orang yang selama ini aku cintai dalam diam. Dan kini kami satu sekolah kembali.
“Katanya gak mau satu sekolah bareng gua.” jawabku pura-pura acuh.
“Kan biar kejutan bodoh.” Dia mencubit hidungku yang teramat mancung ke dalam ini. Sudah kebiasaan jika dia jengkel terhadapku.
"Kok gua gak liat lu waktu MOS?" tanyaku lagi.
"Gua gak ikutan karena waktu itu mendadak sakit perut, makanya belum selesai acara gua pulang duluan."
Aku mengelus dada lega, pasti dia tak mendengarkan perkataanku waktu itu. Semoga saja.
"Kok lu gak nengokin gua?"
“Sakit Jani. lu sakit karena lagi PMS pasti, masa gua mesti nengok juga” ucapku sambil merengek karena dia tak juga melepaskan cubitannya.
“Utututu kacian sahabatnya aku.” Ledeknya so manja menepuk kasar hidungku, bukannya mancung ke depan bisa makin mancung ke dalam kena timpukan tangannya.
Aku tersenyum sambil mengelus nasib hidungku, apa pun yang dia lakukan aku selalu menyukainya, aku begitu menyukainya lebih dari apa pun, dia merupakan wanita kedua setelah ibuku yang begitu berharga untuk hidupku. Entah apa jadinya jika dia sudah mendapatkan lelaki yang berharga selain ayahnya.
“Jan.. Gua mau ngomong.”
Dan sialnya, bel berbunyi tandanya masuk kelas telah tiba membuat perbincangan kita harus berakhir.
“Gua ke kelas dulu ya.” Ujar Anjani meninggalkanku.
“Iya sana..” Usirku padanya dengan menatap tubuhnya pergi.
Terkadang aku selalu berpikir kenapa ia mau berteman denganku yang hanya lelaki biasa ini, padahal dia adalah wanita sempurna, itu menurutku. Dari wajahnya yang bagaikan titisan dewi teramat cantik hingga banyak lelaki yang memujanya. Materi dan kemampuannya yang sangatlah berkecukupan dibandingkan aku yang hanya pas-pasan dari segi apa pun.
Dari dulu banyak sekali lelaki yang iri terhadapku karena aku bisa dekat dengannya, meski hanya sebagai teman. Dan sekarang pun sama, banyak sekali lelaki yang berusaha mendekatinya, bahkan seniorku yang famous saja hampir melabrakku karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh Anjani. Entah aku harus sedih ataukah bahagia.
Bahagia karena hanya aku lelaki satu-satunya yang bisa dekat dengannya dan sedih karena aku terlalu takut dia menginginkan lelaki sempurna, dan itu membuat nyaliku semakin menciut untuk mengungkapkan rasa yang kupendam selama ini.
Hari-hari kami sama seperti hari-hari sebelumnya, masih bersahabat meski kami mendapatkan teman baru. Aku masih tetap ingin bersamanya hingga aku memutuskan untuk terus memendam rasa ini.
“Gas, lu gak ke kantin? Tadi gue liat si Anjani bareng si Davin.” kata teman sekelasku sepulang dari kantin.
Dan tibalah apa yang selalu kutakutkan, Anjani sedang dekat dengan teman sekelasnya, yang kudengar Davin adalah lelaki sempurna. Banyak yang bilang jika ia cocok dengan Anjani.
Helaan nafas keluar begitu saja dari mulutku, apa yang harus kuperbuat? Apakah aku harus menyatakan perasaanku? Namun konsekuensinya bisa saja persahabatan kita menjadi canggung bahkan bisa renggang. Atau kah harus merelakan Anjani dengan lelaki bernama Davin? Dan sudah pasti kami akan tetap bersahabat.
Sudah beberapa hari ini Anjani pulang sekolah bersama Davin, dan hal itu membuat hatiku terbakar cemburu.
“Bagas…”
Aku hanya mematung di depannya masih dengan berbagai pertanyaan yang terus saja berputar di pikiranku.
“Bagas oiii.” Anjani mengguncang tubuhku, dari gerak geriknya dia begitu risau seperti ada janji lain, apakah ia akan pergi bersama Davin?
“Tumben lu ngajak kesini, biasanya mesti gua minta baru dateng..” Anjani duduk di kursi besi memandang danau yang begitu bening dengan riakan air yang terbawa angin
“Pengen aja, emang gak boleh?” ucapku ketus tak menyukai pertanyaannya.
“Ya boleh aja, cuman…”
“Lu mau jalan bareng si Davin Jan?” tanyaku penuh selidik. Jika Anjani peka ia pasti dapat melihat kecemburuanku saat ini.
“Kenapa emang? Gak boleh.”
“Ohh…”
“Gua sayang sama lo Jan.” Dengan jantung yang berdegup kencang aku mencoba mengutarakan rasaku padanya.
“Gua tau, kan lu sering bilang. Aneh lu mah.” ucapnya dengan cengengesan.
“Gua suka sama lu.”
“Gua tau juga, kalo gak suka kita gak bakal sahabatan dari SMP.” jawabnya langsung berdiri.
“Udah ah, gua ada janji. Cabut dulu ya…”
“GUA CINTA SAMA LO ANJANI.” Dengan lantang aku mengucapkan kata keramat itu.
Anjani menghentikan langkahnya, ia berdiri membelakangiku.
“Dari pertama kita kenal, gua udah suka sama lu dan setelah kita dekat gua sayang sama lu, dan rasa itu semakin menjadi Jani, rasa itu berubah menjadi cinta. Gua udah berusaha untuk menyangkalnya tapi ternyata gua bener-bener cinta sama lu. Bukan karena gua takut jauh dari lu..”
“Kenapa baru sekarang?” Anjani berbalik dan menatapku hingga membuatku tak bisa menjawab pertanyaannya.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Apa aku terlambat? Apa Anjani sudah bersama Davin? Jika iya.. aku hanya bisa merelakan dia bahagia bersamanya.
“Kenapa enggak dari dulu?” hanya itu saja pertanyaannya.
“Apa lu udah bersama Davin?”
Aku berharap Anjani menggeleng, tapi ternyata ia hanya diam saja dengan menunduk dalam.
“Gak pa-pa Jani, gua hanya ingin mengutarakan perasaan gua, jika lu emang bahagia bareng Davin gue support lu.” Aku tak ingin rasa ini membebaninya dan aku kan mendukung apa pun keputusannya. Untuk pertama kalinya aku berani memeluknya.
“Bodoh..”
“Aakhh…” Dengan kuat dia menginjak kakiku.
“Gua juga sama.”
Aku kembali mematung, sedang mencerna perkataan Anjani. Apa arti dari perkataannya? Aku hanya bisa mengelus punggungnya dengan pikiran kosongku.
“Maksud lu?” Tanyaku karena tak juga menemukan jawaban.
“Ishhh..” Dia melepaskan pelukannya.
“Otak lu di pake buat apa sih? Gak peka.”
“Buat mikir lah.” Sewotku.
“Gua juga sama, CINTA sama lu bodoh.” Ucapnya berlari meninggalkanku begitu saja.
Aku kira kata SAMA tadi adalah dia akan bahagia juga aku bersama yang lain, tapi ternyata kita mempunyai rasa yang sama.
SELESAI.
🍃Tidak ada yang salah dengan rasa suka, sayang bahkan cinta dalam persahabatan. Itu semua hanya sebuah rasa yang tak bisa terhindar dari hati. Jika kita merasakan lebih baik utarakan atau pendam selamanya, namun kita harus siap menanggung semua konsekuensinya yaitu MENYESAL.
Menyesal karena memendam padahal sahabat kita pun merasakan yang sama, atau menyesal mengutarakan hingga persahabatan kita renggang.