"Tolong menikahlah dengan Raiden!"
Pesan terkahir darinya benar-benar membuatku merasa bimbang, bagaimana tidak ... Raiden adalah salah satu pria yang paling aku benci semasa duduk di bangku sekolah.
Meski wajahnya tampan, hidupnya mapan, tidak bekerjapun harta kekayaannya tidak akan habis.
Beberapa teman sekolahku tentu saja tergila-gila dengannya. Bahkan hampir di setiap sudut sekolah nama Raiden lah yang terdengar.
"Astaga! Tidak adakah nama lain selain cowok menyebalkan itu?" gumamku dengan kesal.
"Hati-hati, nanti bisa berbalik dari sebal jadi cinta Har!" tegur temanku yang selalu tergila-gila dengan sosok pria menyebalkan itu.
"Cih! Amit-amit!"
Hingga sekolah selesai, aku masih konsisten untuk tidak menaruh rasa pada Raiden. Untunglah kami memilih universitas yang berbeda, setidaknya aku tidak akan lagi bertemu dengannya.
Hari-hariku berjalan dengan sangat menyenangkan, perlahan aku mulai bisa membuka diri untuk bercengkrama dengan siapapun yang ada di sekitarku.
Sampai pada suatu hari, sebuah kebenaran terungkap. Dimana Budhe yang tak lain adalah Kakak sepupu Mamah datang ke rumah dengan raut wajah yang sedih.
Aku yang tidak tau menau hanya diam saja, ikut duduk di ruang tamu menyimak kabar yang akan di sampaikan Budhe.
"Hara, kamu sudah besar Nak! Sebelumnya Budhe minta maaf, karena selama ini sudah egois!" ujarnya.
"Kenapa Budhe meminta maaf padaku?" gumamku kebingungan.
"Mbakyu, ada apa?" tanya Mamah dengan lembutnya.
"Hilma, maafkan aku ... aku tidak bisa menjaganya dengan baik, maafkan aku ...!" isaknya.
"Mbak, tarik nafas dulu. Ada apa ini?" ujar Mamah berusaha menenangkan Budhe.
"Hera Hil ... Hiks!"
"Ada dengan Hera Mbak?"
"Hera sedang sakit keras, aku tidak tau lagi harus meminta tolong kepada siapa. Kata Dokter usianya sudah tidak lama lagi, aku sudah berusaha semaksimal mungkin mencarikan Dokter terbaik untuknya, tapi ... kondisinya semakin melemah,"
Mamah dan Budhe saling berpelukan, menguatkan satu sama lain. Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya diam saja melihat keduanya menangis di depanku.
"Sayang, kita bersiap-siap ya ...!" ujar Mamah seraya menghapus air matanya.
"Kemana Mah?" tanyaku.
"Ikut saja, nanti kamu akan tau Nak!"
Aku menurutinya, berlalu ke kamar memakai cardigan berwarna hitam. Entah kenapa saat itu yang aku ambil cardigan berwarna hitam.
Mamah dan Budhe membawaku ke Rumah Sakit, aku mengikuti keduanya dari belakang yang sudah berjalan bak orang yang sedang melakukan marathon.
"Hera!" panggil Mamah seraya berlari memeluk seorang gadis yang terbaring lemah di atas bed.
"Jadi anak Budhe sakit?" batinku seraya berjalan mendekati bed tersebut untuk melihat wajahnya, karena selama ini aku tidak pernah bertemu dengannya.
Kata Budhe Hera susah untuk bertemu dengan orang lain, bahkan setiap ada pertemuan dengan keluarga besar ... anaknya tidak pernah ikut. Alasannya sibuk tugaslah, sibuk ekstra dan lain sebagainya.
"Hara Sayang, dia adalah Kakakmu. Saudara kembarmu," ucap Budhe dengan susah payah.
Jantungku langsung bergetar dengan cepat, apalagi saat aku melihat wajahnya yang 100% mirip denganku, aku seperti sedang bercermin.
Hanya saja dia terlihat begitu pucat, bibirnya putih, matanya sayu. Budhe menceritakan semuanya kenapa kami dipisahkan. Aku tidak langsung berkomentar apapun, aku masih terdiam disana.
"Sayang, Mamah dan Budhe keluar dulu ya. Temani Kakakmu," ucap Mamah seraya mencium pucuk kepalaku.
***
Hampir 30 menit kami berada di dalam satu ruangan, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut kami.
Namun saat kedua mata kami saling bertemu, disitulah moment yang paling mengharukan untuk kami. Tangisan kami pecah begitu saja, aku segera berhambur memeluknya.
"Kamu harus kuat!" bisikku.
"Aku lelah melawan sakit, mungkin usiaku sudah tidak akan lama lagi ... tapi, maukah kamu mengabulkan satu permintaan dariku?" ujarnya lirih.
"Apa?"
"Tolong menikahlah dengan Raiden!"
Aku hanya diam, mulutku seakan terkunci begitu saja.
"Ha ... Ra! berjanji ... lah!" ujarnya dengan lirih.
"Apakah jika aku berjanji kau akan sembuh?" tanyaku.
"Menikahlah dengannya, kamu akan ba ... hagia dengannya,"
"Bahagiaku adalah kamu Kak!" jawabku.
"Hara ... Adikku, berjanjilah, aku mohon ... ah ...!" pekiknya menahan sakit.
"Kak, kenapa? Mana yang sakit?"
"Berjanjilah,"
"Baiklah, aku berjanji demi Kakak, tapi Kakak harus sembuh ... ."
"Terimakasih Dek!"
Perlahan matanya yang sayu mulai meredup, genggaman tangannya semakin melemah, aku tidak mampu berkata apa-apa lagi selain menangis dan mengguncangkan tubuhnya.
"Kak ...!" teriakku memanggil namanya.
Sebuah pertemuan yang sangat singkat, lalu kami kembali terpisahkan oleh maut.
Kenapa kami harus dipertemukan jika akhirnya akan dipisahkan dengan hal yang menyakitkan.
Budhe memelukku dengan erat, Hinga tanpa ku sadari pandanganku semakin gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
***
Wewangian bunga tercium menusuk indera penciumanku, gundukan tanah merah yang masih basah berada tepat di depanku saat ini.
Tertulis nama Herahel Putri Anindya, separuh hidupku yang baru saja bertemu kini sudah tidur untuk selamanya.
Dia sudah menang dalam berjuang melawan sakit yang sudah dideritanya selama hampir 3 tahun belakangan.
"Kau memintaku untuk berjanji, tapi kau tidak mau berjanji untukku Kak! Apakah itu adil?"
====
Sepenggal cerita dari Novel yang berjudul "Sebuah Janji" yang masih dalam proses pembuatan 🥰🥰
Di tunggu koreksinya Kakak-kakak, terimakasih 🥰🙏