Dirga, baru saja selesai mencuci beberapa perabot kotor ketika dirinya mendapati Hening yang terlihat terkantuk-kantuk di depan televisi.
Seperti biasa, Dirga baru bisa mencuci pakaian kotor atau perabotan makan kotor ketika malam hari. Karena sejak pagi buta sampai menjelang malam, waktunya ia habiskan untuk bekerja, lebih tepatnya mengamen. Ya, Dirga hanyalah seorang pengamen dari satu rumah ke rumah lain atau dari warung ke warung di sepanjang jalanan kota.
Dirga melirik jam yang tergantung di dinding tembok. Sudah pukul 20.00. Dirga segera menghampiri Hening. Untuk sesaat ini melihat wajah gadis kecilnya itu. Wajahnya sayu, matanya juga sudah nampak merah, mungkin karena saking mengantuknya.
"Sudah, Hening. Matikan TV nya dan segera pindah ke kamar. Ayah lihat kamu sudah sangat mengantuk." Ucap Dirga sembari membelai gadis kecil itu.
"Iya, ayah." Suara lembutnya terdengar nyaring di telinga Dirga.
Hening segera meraih remote TV nya dan mematikannya lalu menarik tangan Dirga untuk menemaninya tidur.
Begitulah setiap malam. Hening baru benar benar akan terlelap jika sudah dibelai-belai rambutnya oleh Dirga.
Dengan lembut, Dirga membelai rambut bocah polos berusia lima tahun itu. Tak lama Hening pun sudah terlelap, mungkin karena sudah saking mengantuknya.
Dirga menyelimuti tubuh mungil Hening. Lalu beranjak keluar kamar dan melangkah ke dapur untuk memasak air panas untuk kemudian dipakainya membuat secangkir kopi.
Tak lama air mendidih dan segera ia tuangkan pada cangkir yang sudah ia siapkan sebelumnya. Asap mengepul ke atas dan baru mengaduknya sebentar, aroma kopi yang harum sudah masuk ke indera penciumannya.
Tepat disaat itu, Dirga mendengar suara pintu di ketuk. Segera Dirga meletakkan cangkir kopinya di meja dan melangkah ke pintu untuk tahu siapa yang malam-malam datang bertamu.
Dirga segera membuka pintu. Saat pintu dibuka dibalik pintu yang sebelumnya tertutup itu nampak berdiri seorang lelaki bertopi dengan mengenakan sweater hitam.
"Kamu rupanya." Dirga yang sudah begitu hafal dengan siapa yang datang itu segera menyapanya datar.
Sebuah senyum mengembang dari seorang di luar pintu rumah Dirga.
"Apa aku mengganggu waktumu?" Tanya lelaki bertopi itu dengan suara perempuan yang keluar dari mulutnya dan terdengar begitu lembut.
"Tentu tidak. Aku baru saja selesai membuat kopi. Duduklah dulu. Akan aku buatkan kopi untukmu." Ucap Dirga sembari menunjuk kursi yang berjejer di samping pintu di teras rumahnya.
"Tidak usah! Aku tidak lama." Ucapnya masih dengan suara seorang perempuan yang terdengar lembut dan nyaring.
Ya, seorang bertopi yang nampak seperti lelaki itu, sejatinya memanglah seorang perempuan. Inggar namanya.
"Benar tidak mau dibuatkan kopi?" Tanya Dirga lagi memastikan.
"Iya, tidak usah." Sahut Inggar benar-benar menolak tawaran Dirga.
Dirga tak memaksa, lalu ikut duduk di kursi sebelah Inggar.
"Aku kesini karena..."
"Mau bertemu Hening?" Potong Dirga sudah bisa tahu maksud kedatangan Inggar.
"Dia baru saja aku tidurkan." Imbuhnya kemudian.
Inggar mengangguk ringan.
"Apa aku boleh menemuinya?" Tanya Inggar dengan nada sangat berharap.
Dirga tersenyum tipis, lalu terdengar menghela nafas, "Kamu tahu aku. Aku tentu tidak akan mempersulitmu untuk bertemu Hening. Bagaimana pun kamu ibunya. Dan lagi jika aku melarangmu menemuinya disini, kamu bisa leluasa bertemu dengannya kapan saja."
Inggar tersenyum. Meski dia berdandan seperti laki-laki, tapi tidak membuat kecantikannya tertutupi begitu saja oleh penampilannya itu.
"Masuklah! Biar aku tunggu disini saja. Meski kamu terlihat seperti seorang lelaki, dan Hening sedang terlelap tidur. Tapi tetap saja tidak baik berdua di dalam rumah." Ucap Dirga kemudian.
Inggar mengangguk. Setelah menghela nafas dia bangun dari duduknya dan segera melangkah masuk ke dalam rumah Dirga dan langsung menuju kamar tidur Hening.
Begitu membuka pintu kamar, Inggar segera melihat tatanan kamar yang begitu bersih dan rapi. Sepintas ia mengamati dinding kamar yang sengaja ditempel wallpaper bergambar Barbie, juga beberapa Boneka yang tertata di atas kepala Hening yang terlelap.
Melihat semua itu, Inggar tersenyum sendiri. Ia membayangkan betapa sayangnya Dirga pada Hening. Seolah apa yang Hening sukai selalu Dirga penuhi.
Inggar mendekat ke tempat tidur dimana Hening sedang terlelap. Hening tidur dengan berselimutkan selimut yang pernah ia belikan dan sengaja ia titipkan pada Dirga. Setidaknya selimut itu mampu menggantikan dirinya memeluk gadis kecil itu di setiap malam.
Perlahan dengan penuh kasih sayang, Inggar berjongkok dan mulai membelai rambut halus putri kecilnya itu. Bulir-bulir bening mulai merambah membasahi kedua kelopak matanya. Inggar mencoba menyekanya. Ia tak mau bulir-bulir bening itu jatuh dam menetesi Hening kemudian membangunkannya.
"Maafkan Mama, Hening." Suara lirih Inggar diantara isaknya yang tertahan, lalu kemudian mencium kening gadis kecil yang sedang terlelap tidur itu.
Inggar tak kuasa menahan kepedihan hatinya. Ia pun segera berdiri dan melangkah keluar dari kamar.
"Sudah?" Tanya Dirga begitu Inggar sudah kembali ke teras.
"Sudah. Terima kasih untuk waktunya." Sahut Inggar dengan suara tertahan dan terdengar begitu berat.
"Aku langsung pulang ya?" Ucapnya kemudian.
Dirga menganggukkan kepala beberapa kali.
"Baiklah. Berhati-hatilah." Sahut Dirga tak berusaha menahan Inggar.
Inggar segera berlalu dari rumah itu diantara remang-remang lampu lalu menghilang diantara kegelapan malam. Sementara Dirga masih berdiri mematung di teras rumahnya sampai Inggar benar-benar tak terlihat pandangannya.
Dirga kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya dan meraih secangkir kopi yang sudah agak sedikit dingin itu. Tak lama setelah itu ia melangkah ke kamar tidur Hening. Gadis itu sudah benar-benar terlelap tidur saat Dirga menengoknya.
Dirga kembali mengusap rambut gadis kecil itu. Tidak terasa lima tahun sudah kebersamaannya dengan hening. Sebelumnya Dirga hanya hidup sendiri di kotanya ini. Tapi sejak lima tahun ini, ia tak lagi sendiri. Ada Hening dalam hidupnya. Hening gadis kecilnya yang terus membuatnya berjuang mati-matian demi melihat gadis kecilnya itu tertawa bahagia.
Tapi diam-diam ada perasaan takut yang menyelinap dalam hatinya. Ia takut jika suatu saat Inggar akan mengambil Hening dari pelukannya. Membayangkan itu, hati Dirga rasanya tersayat.
Dalam keadaan seperti itu, ingatannya kembali pada kejadian lima tahun lalu.
Ya, malam itu. Malam yang tak pernah terbayangkan seumur hidupnya. Ketika pulang mengamen, dengan langkah gontai, Dirga menyusuri pinggiran pasar. Diantara pekat malam, samar-samar ia mendengar isak tangis seorang wanita.
Dirga memusatkan indera dengarnya lalu mencari sumber suara. Sejenak Dirga terpaku begitu melihat sosok yang menangis itu adalah seorang wanita yang sedang kesakitan akan melahirkan. Dengan kebingungan Dirga mencoba membantu wanita itu ke klinik terdekat.
Tak sampai dua jam setelah berada di klinik itu. Dirga pun mendengar suara jerit bayi yang menangis keras. Entah karena apa, tapi saat mendengar suara tangis bayi itu seketika Dirga merasa lega.
Setelah itu bidan memanggilnya dan menyuruhnya untuk menemui si wanita. Dengan bimbang Dirga pun segera menemui wanita yang baru ditolongnya itu.
"Terima kasih." Ucap suara wanita itu lirih dan terdengar lemah sembari mendekap bayi mungil di dadanya.
"Sama-sama." Balas Dirga melihat ekspresi kelelahan di wajah wanita itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Dirga kemudian. "Kata Bu bidan bayi kamu perempuan." Imbuhnya.
Wanita itu hanya tersenyum, tapi kemudian wajahnya terlihat murung. Dirga kebingungan dan tidak tahu kenapa wanita itu tiba-tiba murung. Tapi dia tida ingin tahu alasan perubahan ekspresi wajah wanita itu. Yang ingin dia tahu adalah alamat wanita itu dimana. Agar Dirga bisa segera mengabarkan ini kepada keluarga wanita itu.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Ucap Dirga kemudian.
"Katakan saja!" Sahut wanita itu dengan suara masih seperti sebelumnya.
"Nama kamu siapa dan juga tinggal dimana? Mungkin aku bisa membantu untuk memberi tahu suami atau keluarga kamu kalau kamu habis melahirkan disini." Tanya Dirga sekaligus memberi tahu alasan dari pertanyaannya itu.
Wanita itu terdiam, pandangannya kosong.
"Namaku Inggar." Jawab wanita itu masih dengan tatapan kosong.
Dirga mengangguk. "Lalu kamu tinggal dimana? Atau apakah ada nomor suami atau keluarga kamu yang bisa aku hubungi?" Tanya Dirga kemudian.
Entah kenapa sesaat setelah itu Inggar justru menangis, membuat Dirga kembali kebingungan.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Dirga begitu saja.
"Aku... aku... belum menikah dan keluargaku pun sama sekali tidak tahu tentang kehamilanku ini." Ucap Inggar kemudian.
Seketika Dirga tersentak, dalam pikirannya timbul berbagai pertanyaan pertanyaan yang berseliweran. Jangan-jangan Inggar ini...? Jangan-jangan dia hamil karena...? Jangan-jangan dia wanita yang...? Tapi seketika Dirga menepis semua pikirannya.
"Maaf." Ucap Dirga kemudian.
"Aku berasal dari Surabaya." Ucap Inggar setelahnya.
Dirga hanya mendengar setiap apa yang di ucapkan Inggar dengan suara lirihnya.
"Aku disini untuk kuliah. Disini aku tinggal bersama keluarga paman dan bibiku. Paman dan bibiku sibuk dengan pekerjaan mereka bahkan mereka sering keluar kota dan menginap berhari-hari. Mereka mempunyai anak lelaki lebih tua dariku tiga tahun. Hendra namanya. Dan suatu malam, Hendra memaksaku melakukan itu." Setelah bicara cukup panjang, Inggar pun tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tumpah.
"Biar aku membantu menggendong bayimu." Ucap Dirga yang melihat Inggar nampak melemah dan ditambah tangisnya yang menjadi. Dan tanpa menunggu persetujuannya aku segera menggendong bayi mungil dengan kulit yang masih merah itu.
"Boleh aku minta tolong padamu sekali lagi?" Ucap Inggar diantara Isak tangisnya.
Dirga menatap Inggar.
"Katakan saja! Apa yang bisa ku bantu?" Sahut Dirga kemudian.
"Bantu aku merawat bayiku! Aku tidak mungkin untuk merawatnya. Bukan karena aku tidak menginginkannya. Tapi aku hanya tidak ingin nama keluargaku dipermalukan orang jika mereka tahu aku hamil dengan kakak sepupuku." Ucap Inggar kemudian.
Seketika Dirga tersentak. Jantungnya bergetar. Tubuhnya terasa gemetaran.
"Tolonglah! Tolong bantu aku!" Ucap Inggar memohon.
Entah dorongan dari mana dan seperti apa yang pada akhirnya membuat Dirga mengiyakan saja tanpa berpikir panjang.
"Tapi tolong rahasiakan identitas ku. Katakan saja kamu menemukan bayi ku dimana terserah kamu. Apa kamu sanggup?" Tanya Inggar kemudian. Dan lagi-lagi Dirga hanya bisa mengangguk lemah.
Setelah itu, Dirga membawa bayi itu ke rumahnya. Sejujurnya ia sama sekali tidak tahu cara merawat bayi. Tapi dengan bantuan tetangganya, akhirnya dia pun tahu cara mengurus bayi.
Dirga seketika mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja, setelah terdengar suara lembut gadis kecil yang nampak terbangun dan mengagetkannya dari lamunan.
"Ayah menangis?"
____