Dahulu, ada sebuah desa yang bernama 'Desa Sukamana' desa yang
terletak di dipinggir laut itu memiliki penduduk yang rata-rata yang bekerja sebagai nelayan.
Desa itu adalah desa nelayan yang dijuluki sebagai 'kota para sultan', mengapa? Itu karena hampir seluruh penduduk di desa Sukamana adalah orang yang berkecukupan.
Suatu hari, warga desa yang sedang bekerja tiba-tiba merasakan sebuah getaran yang besar, getaran itu berasal dari laut.
Ya, gelombang air laut yang sangat besar atau lebih tepatnya tsunami, ombak menggulung dengan sangat besar bagikan ingin menelan seluruh warga.
Warga panik, mereka berlarian, saling mendorong. Bahkan saking paniknya mereka tidak menghiraukan lagi tentang harta mereka masing-masing. Yang penting nyawa selamat itulah pikir mereka.
Tapi naas, gelombang dengan ukuran yang besar itu dengan cepat mengarah ke pemukiman dan…
Byuuurrrr…
Suara air laut yang mengenai rumah-rumah warga, semuanya hancur. Para warga yang banyak yang tak selamat. Mereka meninggal karena tak bisa mengimbangi derasnya air laut.
Tsunami itu tampaknya akan menjadi tsunami yang terbesar sepanjang sejarah. Tsunami yang menewaskan hampir semua warga desa Sukamana, desa yang dulu dijuluki desa para sultan kini telah berganti menjadi desa mati.
Yah, hampir satu tahun setelah kejadian itu. Kini desa itu tak berpenghuni lagi. Dan Konon katanya, dari desas-desus yang terdengar kini desa itu menjadi desa yang angker.
Dihuni oleh berbagai makhluk halus yang katanya makhluk itu adalah arwah arwah warga desa Sukamana.
*****
Aditya Ramadhan, seorang penulis novel horor. Laki-laki ini suka sekali mencari tempat-tempat yang angker untuk di jadikan sebagai ceria di novelnya.
Suatu hari ketika ia sedang bersantai dengan temannya, temannya yang bernama Joni itu memberitahu kan sesuatu.
"Dit!"
"Kenapa?"
Adit menoleh, dan melihat kearah Joni yang ingin mengatakan sesuatu.
"Lu tahu nggak soal rumor yang akhir-akhir ini jadi perbincangan orang-orang?"
"Emang rumor apaan, gue nggak tahu?"
"Itu rumor tentang desa mati yang katanya horor."
"Desa mati? Owh, gue inget. Ya gue juga denger rumor itu, kenapa?"
"Lu ada rencana nggak buat kesana, bahan untuk novel."
"Gue emang rencananya sih mau kesana, Minggu depan. Lu mau ikut nggak?"
"Ahh, sorry deh gue gak ikut ya dit. Gue harus keluar kota besok selama seminggu, biasalah kerjaan."
"Oke lah, lagian gue juga udah biasa pergi ketempat horor sendiri."
"Eh, dit gue balik duluan ya. Ada sedikit urusan. Bye."
SKIP…
Akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Adit tiba. Saat ini ia sudah berada di tempat tujuan. Ia pergi menggunakan mobil sendiri dan ia sampai di waktu malam hari, berbagai perlengkapan seperti senter dan tak lupa kamera, buku dan alat tulis tak lupa ia bawa.
Ketika disana Adit sudah merasakan sedikit hawa yang tak enak, tapi karena kami untuk bahan novelnya ia segera menghiraukannya. Ketika ia masuk terlihat beberapa rumah yang masih berdiri walaupun sudah rapuh, banyaknya rumah-rumah yang sudah tidak terbentuk, ia mengitari pandangannya. Banyak ilalang yang tumbuh dan itu membuat kesan angker. Suasana yang sangat sepi, hingga suar jangkrik ataupun hembusan angin terdengar. Sejujurnya Adit merasakan bulu kuduknya sedikit berdiri.
Tapi, ia segera menghiraukannya dan melangkah ke depan, sepanjang perjalanannya ia tidak menemukan hewan-hewan satupun.
Hawa yang mencekam ditambah suara bang amat sepi, begitu mengerikan. Tiba-tiba…
BRAKKK…
Ia terkejut, mengarahkan sinar senternya dilihatnya kayu yang terjatuh, lalu suara kucing uang mengarahkan senternya. Kucing hitam? Ia bingung bukankah tadi tak ada sama sekali hewan disini lalu mengapa ada kucing hitam disini.
Saat ia membalikan badannya ia merasa tertarik untuk memasuki rumah yang terlihat masih berdiri walaupun sudah reot, terlihat rumah itu adalah rumah yang paling besar dari semuanya.
Mungkin itu rumah dari kepala desanya dulu, pikirnya.
Ia memasukinya pelan-pelan, terdengar suara berderit ketika ia membuka pintunya. Suasana sangat gelap, bahkan ia tidak bisa melihat tangannya sendiri, untungnya ia membawa senter.
Cahaya diarahkan ke seluruh sisi. Tikus-tikus berlalu lalang, sungguh menjijikkan. Tiba-tiba ia mendengar suara wanita berteriak.
Ia terkejut, segera saja ia mengarahkan cahaya kesehatan penjuru, berniat mencari asal suara. Tapi tak kunjung ia temukan. Suara itu semakin keras bahkan menggema di ruangan, suara itu menjadi semakin keras bahkan sekarang suara itu seakan-akan suara itu menjadi begitu banyak, menggema dan itu membuat telinga Adit sakit, ia menutup telinganya berharap suara itu menghilang.
Setelah beberapa saat, suara itu menghilang, Ia segera berlari menghampiri pintu berniat keluar, tapi pintu itu tertutup sendiri.
Tiba-tiba sebuah getaran yang sangat hebat terjadi. Itu adalah gempa! Adit begitu panik, ia terus menggedor-gedor pintu.
"Tolooonggg, tolonggggg. Buka pintunya."
Ia melihat kearah lain ia menemukan kayu, ia segera mengambil dan memukulkan ke arah pintu, setelah beberapa usaha ia berhasil keluar. Ia tak memperdulikan apapun lagi, bahkan saat ini penampilan begitu berantakan.
Ia segera mencari pintu keluar, akhirnya ia menemukannya, tapi saat ia kan keluar, ada seseorang yang memanggil namanya, ia menoleh.
Betapa terkejutnya Adit, wajah yang amat mengerikan berdiri tepat didepan wajahnya. Wajahnya yang terlihat pucat, badannya yang begitu basah, matanya berwarna putih, bibir pucat. Bau amis menyeruak masuk hidung Adit. Seketika Adit lemas dan terjatuh, sepertinya Adit pingsan.
Seminggu kemudian…
"Eughhh, gue dimana ini."
"Adit, lho udah sadar. Gimana keadaan lo sekarang?"
"Masih agak sedikit pusing. Jon, gue ada dimana sekarang?"
"Lo sekarang ada dirumah sakit."
"Berapa hari gue pingsan?"
"Satu Minggu. Lo tahu nggak semua orang khawatir banget sama lo, untungnya ada yang telpon gue, kalo nggak lo nggak bakal di temuin sampe sekarang."
"Haahh, bentar-bentar satu Minggu, gue pingsan satu Minggu?"
"Iya, lo nggak percaya! Lo tanya aja sama orang-orang pasti sama jawabannya. Gue mau nanya sama lo, kenapa lo bisa sampe pingsan selama satu Minggu?"
"Gue, nggak ingat apa-apa, disitu gue ngerasa pusing dan bangun-bangun gue udah sini."
Suasana menjadi hening, Adit dan Joni terdiam. Adit berpikir keras kenapa ia nggak ingat apa-apa setelah kejadian itu. Tapi samar-samar, ia mengingatnya. Sebuah misteri.
…TAMAT…