“Bu’e anak kita kok makin hari makin aneh ya?” tanya Pak Mukhlis pada istrinya suatu hari.
“Bapak baru sadar toh? Ibu sudah dari kemarin-kemarin sadar Pak, sejak punya hape baru. Ibu sering ngeliat dia senyum-senyum sendiri, pas ditanya lagi apa, dia bilang lagi fesbukan.”
“Fesbukan itu apa sih Bu’e?”
“Ya mana Ibu tahu, orang Bapak kok yang beliin dia hape.”
“Tapi Bapak kan nggak mudeng[1] kalau ada fesbuknya, Bapak taunya harganya murah sama bentuknya bagus, kayak yang di TV.”
“Akh Bapak ini, ndak bisa pake hape saja kok gaya-gayaan beli hape bagus, sekarang kita sendiri tho yang bingung.”
Malam itu di depan pesawat televisi, pertengkaran kecil suami istri Mukhlis terjadi. Baru berhenti ketika seorang wanita cantik nan rapi mewartakan berita kehilangan seorang anak perempuan setelah berkenalan dengan lelaki lewat jejaring sosial facebook, ketika ditemukan anak itu hampir saja dijual keluar negeri untuk menjadi penjaja seks komersil.
“Bapak’e liat itu, beritanya kok serem banget.”
“Iya Bu, fesbuk itu loh.”
***
Sejak saat itu pasangan Mukhlis sepakat untuk mengawasi gerak-gerik anaknya secara intens, bahkan Pak Mukhlis rela bolak-balik ke rumah Prawito, keponakan laki-lakinya, untuk mendapatkan kursus singkat Facebook.
Namun karena faktor usia dan minimnya pendidikan yang dikecap Pak Mukhlis, semua pelajaran yang diberikan mental. Saking kesal dan putus asa akhirnya Prawito berjanji untuk membantu mengawasi facebook milik Marwah.
Semakin mengawasi putrinya, pasangan Mukhlis semakin menemukan banyak keanehan, puncaknya ialah ketika Marwah menyatakan ingin bertunangan.
“Kamu itu kesambet apa toh nduk[2] tiba-tiba minta tunangan? tanya Pak Mukhlis sambil menatap anak gadisnya yang sibuk memijit layar handphone.
“Nggak kesambet apa-apa, pacar Marwah sudah kepengen tunangan, dia khawatir karena Marwah banyak yang suka.”
“Kamu punya pacar?”
“Punya dong Pak, Marwah kan sudah delapan belas tahun.”
“Oalah, kepiye[3] toh? Dulu kamu bilang kepengen fokus sekolah, nda mau kawin muda, masih kepengen ngejar cita-cita, lha kok sekarang ngaku udah punya pacar, pengen tunangan pula, bilang sama Bapak siapa laki-lakinya?”
“Akh Marwah nggak mau cerita sekarang, yang penting dia itu memenuhi syarat suami yang baik.”
“Loh gimana kamu ini, kalau Bapak nda tahu orangnya mana bisa Bapak kasih izin.”
“Pokoknya Bapak harus ngijinin karena laki-laki yang ini tidak akan mengecewakan.”
“Yakin?”
“Yakin seratus persen. Nanti Bapak juga tahu sendiri, yang terpenting Marwah udah bilang kalau bebrapa hari lagi pacar Marwah mau ngelamar.”
“Bapak nggak akan ngasih izin, titik.”
“Tapi Pak?”
“Itu keputusan Bapak.”
“Bapak jahat!!” jerit Marwah keki lalu masuk ke kamar dengan dua tanduk di kepala.
“Anakmu itu Bu, kelakuannya bikin pusing.”
“Kita bikinnya barengan loh Pak.” Bu Mukhlis tidak terima disudutkan suaminya.
Pak Mukhlis mengusap wajah gusar kemudian beranjak keluar.
“Ke mana?”
“Ke rumah si Prawito.”
Dengan langkah selebar langkah Marwah, Pak Mukhlis mendatangi rumah keponakannya yang tengah anteng ngaso.
“Wito, gawat ... gawat .. gawat.”
Pak Mukhlis membuat gerakan berputar dengan dua tangan terkembang di depan wajah. Prawito yang kaget langsung tegak berdiri.
“Gawat kenapa Pak Le?”
“Si Marwah mau dilamar.”
“Wah bagus dong, kok gawat sih? Si Marwah nya nda mau?”
“Justru kali ini si Marwahnya mau tapi Pak Le yang nda mau.”
“Lho?”
“Ya jelas Pak Le nda setuju, masa si Marwah mau dilamar sama laki-laki dari fesbuk, nda jelas.”
“Serius Pak Le?”
Pak Mukhlis mengangguk tegas. “Makanya Pak Le ke sini buat nyari tau siapa laki-laki itu.”
“Ohh ... ya sudah, Wito ambil hape dulu.”
Dua laki-laki beda usia itu anteng memeriksa dinding facebook Marwah, mengamati setiap laki-laki yang berkomentar pada setiap statusnya.
Setelah sekian lama akhirnya mereka menyimpulkan jika laki-laki yang sedang dekat dengan Marwah adalah laki-laki bernama Bandit Busuk. Tidak banyak informasi yang mereka peroleh tentang lelaki itu karena pengaturan privasinya super duper ketat.
“Tuh kan Wito kamu lihat sendiri, masa Marwah mau dilamar sama bandit?”
“Itu nama samaran Pak Le.”
“Bandit kok dijadiin nama samaran, kalau tidak sesuai dengan kelakuannya mana ada orang yang mau disebut bandit toh.”
Prawito hanya tersenyum pasrah, ia enggan berdebat dengan pamannya yang luar biasa kekeuh.
Sadar kepenasarannya tidak akan terjawab, Pak Mukhlis memutuskan pulang. Tidak seperti saat datang, kali ini langkahnya gontai dan otaknya mengembara sampai ke titik penyalahan diri akut.
Andai ia dulu sekolah, andai ia bisa mendidik Marwah dengan lebih baik, andai ia secerdas Habibi dan andai-andai lain yang membuatnya merasa gagal.
Dan perasaan gagal itu semakin menebal tatkala istrinya dengan wajah panik melapor Marwah hilang, hari sudah menjelang magrib tapi dia belum pulang juga. Dengan sisa kewarasannya Pak Mukhlis berusaha menenangkan.
“Jangan khawatir Bu’e, si Marwah paling lagi di rumah temennya, dia kan tadi ngambek sama Bapak.”
“Nda ada Pak, tadi Ibu sudah nyari dia ke rumah si Marhamah, si Wati, si Sundary, si Marni semuanya nda ada yang tahu kemana anak kita.”
“Akh mosok sih Bu’e? Sudahlah nanti juga kalau sudah lapar dia pulang juga.”
“Bapak ini bagaimana sih, tidak ada khawatir-khawatirnya, Marwah itu anak perempuan, kalau sampai kenapa-kenapa bagaimana. Ini semua gara-gara Bapak, coba tadi Bapak pura-pura setuju, dia nda akan kabur kayak gini.”
Meski tak terima disalahkan, tak urung Pak Mukhlis keluar juga untuk mencari putrinya.
Namun sayang upayanya tidak membuahkan hasil, sampai bedug Isya lewat beberapa jam pun Marwah belum ditemukan juga.
Karena tidak tahu harus mencari ke mana lagi Pak Mukhlis meminta bantuan para tetangga. Bersama mereka mengitari kampung bahkan sampai ke pinggir hutan tapi sosok Marwah seperti hilang disembunyikan demit.
“Pak’e gimana ini Pak?” Tanya Bu Mukhlis ketakutan.
“Bapak juga nda tahu Bu.”
“Kita lapor polisi saja.”
“Jangan dulu Bu, belum satu kali dua puluh empat jam.”
“Gimana sih mau laporin anak hilang aja harus nunggu satu kali dua puluh empat jam.”
“Bukannya begitu, kalau kita lapor polisi trus nggak lama kemudian si Marwah pulang kita yang malu toh?”
“Tapi Pak .…”
“Kita lapor Pak Lurah saja,” Pak Muhlis menukas.
Jadilah diterangi sinar rembulan tiga belas hari mereka mendatangi rumah Pak Lurah.
“Asallamualaikum … Pak Lurah ... Pak Lurah!!!!!!”
Pak Lurah dan istrinya keluar dengan kening berkerut karena terkejut.
“Ada apa ini ribut-ribut?”
Pak Mukhlis sebagai ketua rombongan berinisiatif maju.
“Saya mau melapor.”
“Melapor apa?”
“Anak saya hilang Pak, kami sudah mencari kemana-mana tapi tidak berhasil, saya takut dia diculik sama si Bandit Busuk.”
“Bandit Busuk???” hampir semua orang bergumam demikian termasuk Pak Lurah karena dari sekian lama pencarian baru sekali ini Pak Mukhlis menyebut nama itu.
“Bandit Busuk? Siapa itu? Coba ceritakan jelasnya bagaimana?” Tanya Pak Lurah menengahi keributan yang mulai terjadi.
“Anak saya Marwah kabur karena saya tidak setuju dia dilamar laki-laki yang baru dikenalnya di fesbuk, nama laki-laki itu Bandit Busuk, tolong saya Pak Lurah, saya takut anak saya kenapa-kenapa.”
Nada-nada kekhawatiran terdengar dari setiap mulut warga yang hadir, hal tersebut semakin membuat pasangan Mukhlis bingung.
“Tenang ... tenang ... saudara-saudara!!!” Pak Lurah mengangkat dua tangan ke atas.
“Ini hanya salah paham saja, si Marwah tidak kabur”
“Tidak kabur bagaimana Pak Lurah, dia tidak ada di rumah, di cari juga tidak ketemu,” Bu Mukhlis yang tidak sabaran menyela Pak Lurah sengit.
“Si Marwah memang tidak kabur, dia ada di rumah saya sejak tadi siang.”
Untuk kesekian kalinya keributan kembali terjadi, karena sudah tidak teratasi Pak Lurah masuk ke dalam rumah dan beberapa saat kemudian muncul kembali bersama Marwah dan seorang pemuda tegap nan tampan.
“Bandit Busuk!!!!” seketika Pak Mukhlis berteriak sambil menerjang, Pak Lurah yang sigap langsung menahan tubuhnya.
“Sabar Pak, sabar, jangan main pukul, itu anak saya, Dhanang, dia baru pulang dari Bandung.”
“Dhanang?” Alis Pak Mukhlis bertemu, beberapa warga mulai ber- ah oh.
“Iya Pak, ini saya,” pemuda tampan anak Pak Lurah itu maju ke depan dan menyalami Pak Mukhlis. “Maaf kalau saya sudah membuat Bapak marah dan bingung.”
Pak Mukhlis takjub, tidak menyangka sedikit pun kalau Bandit Busuk itu adalah Dhanang Senggoro anak Pak Lurah yang bekerja di Bandung. Dhanang yang ada diingatannya masih ceking, dekil, umbelan plus bau matahari. Pokoknya belum separipurna ini.
Seketika ia malu, kalau tahu dari awal, Pak Mukhlis pasti langsung merestui, siapa tidak mau berbesan dengan seorang Lurah.
Diam-diam ia melirik jengkel Marwah yang bersembunyi di belakang punggung Dhanang.
Kerumunan pun bubar satu persatu, Marwah dibawa pulang setelah beramah tamah sebentar. Sepanjang perjalanan pertengkaran kecil antara ayah dan anak tidak terelakan.
“Bapak itu malu-maluin saja.”
“Ya habis kamu itu nduk, pake rahasia-rahasiaan segala, lagian kenapa juga si Dhanang pake nama samaran Bandit Busuk, kenapa ndak make namanya sendiri, Dhanang Senggoro kan lebih bagus, kenapa ndak percaya diri begitu.”
“Ikh Bapak itu kuno, Mas Dhanang bukannya nggak percaya diri tapi kepengen berekspresi saja.”
“Ah gaya-gayaan anak zaman sekarang, nama bagus-bagus diganti jadi Bandit, yo wis lah sing penting wong’e apik[4], nanti ndak usah pake tunangan-tunangan segala, langsung saja nikah kamu Nduk.”
“Ah emoh Pak, sebentar lagi aku ujian, nikahnya ntar saja kalau aku udah lulus kuliah.”
“Oalah nduk punya uang dari mana Bapak nguliahin kamu?”
“Ya aku bisa kerja sambil kuliah, lagian Mas Dhanang juga kepengen aku nerusin kuliah kok, dia mau bantuin biayanya Pak.”
“Bapak nggak setuju nduk kalau dia bantu-bantu gitu, muka Bapak mau ditaruh di mana? Sudah lulus SMA kamu nikah dulu sama dia baru kuliah, kalau begitu kan Bapak nggak malu karena kamu sudah jadi tanggung jawabnya dia.”
“Ah, emoh aku Pak.”
Bu Mukhlis yang mendengar perdebatan anak dan suaminya hanya menghela napas panjang, otaknya berpikir lain, tidak bersama mereka lagi.
Seandainya saja facebook itu ada di zaman saat dirinya masih muda. Mungkin ia akan mendapat suami yang tampan dan terpelajar seperti Dhanang.
“Astagfirullah Al’adzim .…” Bu Mukhlis mengusap wajah.
***
[1] Mengerti
[2] Panggilan untuk anak perempuan suku Jawa
[3] Bagaimana
[4] Ya sudah yang penting orangnya bagus