Hai! Nama ku Ella, aku seorang dokter umum, di salah satu rumah sakit bergengsi di kota A.
Aku mempunyai pacar seorang CEO, ya keluarganya mempunyai usaha di bidang perhotelan.
Sudah 3 tahun kami menjalin cinta, dan selama itu pun kami sudah melalui berbagai masalah silih berganti dan bisa kami tangani, bahkan cinta kami semakin kuat. Seperti perangko.
Pagi hari datang, langit yang tadinya gelap berubah terang, seorang dokter cantik sudah bersiap-siap untuk pergi bertugas ke rumah sakit tempat ia bekerja.
Kring
Kring
Kring
Suara hp miliknya berbunyi tanda ada yang menghubungi nya.
Aku Pun langsung mengambil hp yang kuletakan di bawa bantalku semalam, ku raih hp lalui melihat siapa yang menelpon ku.
"My love" itu identitas si penelepon, aku pun menggeser warna hijau untuk mengangkat hp ku.
Ella: morning sayang,
Adam: morning too, aku udah didepan, sayang.
Ella: oke, aku segera keluar kataku
Adam: baiklah, dan dia pun mau mengakhiri
panggilannya, tapi belum sampai dia menekan tombol ganggang berwarna merah, dia mendengar suara sang kekasih, ia pun mendekat kan lagi hp ke telinganya "mmm" katanya
Ella: " jangan di tutup" kataku manja, dan kudengar kekehan dari pacarku di seberang sana,"kau menertawai ku". Kata ku lagi.
Adam: kamu itu ya kebiasaan, kilahnya
Ella: biarkan saja, namanya juga rindu,
Adam: kamu tuh ya ada-ada aja, bukannya tiap hari kita hampir ketemuan dan juga nelpon.
Akhirnya Ella pun mengakhiri telpnya tepat dia membuka pintu mobil Adam dan duduk di samping Adam.
"Ayo jalan pak sopir" kata ku sambil ketawa.
"Baik tuan putri" sahut Adam lalu keduanya tertawa barengan.
Mobil itu pun melaju di jalanan hingga tiba di rumah sakit tempatku bekerja.
"Sudah sampai, tuan putri" kata Adam
"Terima Kasih" kata ku, "nanti aku pulang agak telat, karena ada jadwal operasi" lanjut memberitahukan kepada kekasihku.
"Baiklah, nanti tlp aja pulang jam berapa, biar ku jemput" kata Adam.
"Mm" kata ku. " Bye, sayang jangan lupa makan siang." Kataku
"Kamu juga jangan lupa makan siang" balasnya
Ku raih gagang pintu mobil, untuk membuka pintu dan keluar. Sebelum aku turunkan kedua kaki ku dari mobil, Adam menahan tanganku, itu membuatku otomatis berbalik dan melihat padanya."ada apa?" tanya ku padanya.
"Kau melupakan bayarannya, sayang" katanya
Dan diapun menutup pintu itu kembali". Dan langsung menciumku dengan halus, lama ku terdiam karena dia mendadak membungkam bibirku dengan ciumannya, sehingga dia menggigit kecil b*b*r bawahku agar dia leluasa menciumku, ciuman yang penuh kehangatan dan penuh cinta, untuk beberapa saat sehingga ciuman itu lepas. Kami sama-sama mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
"Huft, kebiasaan deh sayang, mendadak." Kataku padanya.dia hanya tertawa kecil. Sambil mencium pucuk kepalaku.
"Semoga, harimu menyenangkan sayang" kataku, sambil mengecup sekilas bibirnya dan berelalu keluar.
Di dalam mobil, ku tunggu kekasih ku sampai masuk ke gedung rumah sakit tempat dia bekerja.
Huft
Ku pejamkan mata ku beberapa waktu, dan melajukan mobilku, menuju kantorku.
"Selamat pagi dok" sapa beberapa suster yang setim dengan ku. Dan beberapa sapaan pada dokter yang ku temui, sebelum aku sampai, di ruangan ku.
Ku buka pintu ruangan ku dan masuk, ku letakkan tasku di meja dan mengambil seragamku di lemari sambil memakainya, kemudian duduk di kursiku, sambil menyiapkan peralatan dokter.
Tok
Tok
Masuk kata ku
"Selamat pagi dok" sapa suster sambil masuk dan berdiri tepat di seberang mejaku.
"Selamat pagi Ani, apa jadwalku hari ini" kata ku padanya. Ani pun mulai membacakan agendaku hari ini.
"Jadwal anda, memeriksa pasien yang anda tangani dok, dan ada 2 operasi yang harus anda tangani hari ini dok." Katanya
Akupun langsung bangkit dari duduk ku,
"Ayo Ani kita mulai aktifitas kita." Ajakku pada Rani sambil melakukan aktifitas ku.
Jam Pun berlalu, akhirnya pekerjaan ku selesai. Ku pejamkan mataku sesaat dan bersandar di kursiku.
Huft
Kurai hp ku di kantong jas ku, dan menelpon pacarku.
Terhubung
"Halo, sayang, apa sudah selesai?" Tanya nya padaku.
"Ia, barusan selesai. Jemput aku ya." Kataku." Jangan di matikan telponnya." Kataku lagi
"Baiklah" katanya.
Ku dengar dia memasuki mobilnya dan melaju, menuju tempatku. Hingga waktu berlalu.
"Sudah sampai" katanya
"Baiklah, aku keluar." Aku Pun keluar dan langsung masuk dalam mobilnya. Ku kecup bibirnya, dan dia pun memakaikan sabuk pengaman ku.
"Lelah?" Tanya nya sambil memperbaiki duduknya.
"Sedikit" kataku sambil merebahkan tubuhku dan memejamkan mata ku. Dia pun mengusap pucuk kepala ku sebentar dengan lembut dan memundurkan tempat duduk ku agar nyaman. Dan menjalankan mobilnya.
Hingga kami pun sampai ke apartemenku. Kami pun masuk ke dalam apartemenku. Adam langsung ke dapur mengambil air, dan akupun langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diriku di kamar mandi. Setelah beberapa menit aku pun keluar dengan handuk yang melilit di kepalaku dan bathrobes untuk membungkus tubuhku.
Kulihat dia sudah duduk di sofa yang ada di kamarku, aku pun jalan mendekat ke meja riasku. Ku lihat dia datang menghampiriku melalui kaca.
"Mau dibantu, untuk keringkan rambut?" Tanyanya padaku.
"Boleh" jawabku sambil mengoles mu kaku dengan pelembab. Dia pun mengeringkan rambut dengan handuk, sangat lembut.
"Selesai" dia pun mencium kepalaku.
"Kita makan di luar ya" katanya "ganti bajumu, aku tunggu di bawah" sambungnya lagi. Dan akupun menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya..
Di sini kami sekarang, di sebuah restoran, kami pun masuk kedalam dan mencari tempat duduk.
Tempat duduk di pojok, menjadi pilihan kami. Kami pun menuju kesana bersama dengan pelayan yang akan melayani kami.
Dia menarikkan kursi untukku duduk. "Terimakasih" kataku. Kami pun langsung memesan makanan. Setelah makanan datang, Kami pun melahap nya dalam hening hingga habis.
"Ella, ayo jalan-jalan, kamu mau kemana? Nonton? Atau ke mana?" Tanyanya.
Aku merasa ada yang aneh, tapi cepat-cepat aku menepisnya dari pikiran ku.
"Nonton" kata ku. Akhirnya malam itu pun kami lalui dengan berbagai agenda kencan, aku merasa bahagia. Malam pun semakin larut, kami memutuskan pulang.
"Sudah sampai katanya." Aku pun menoleh padanya dan mengikis kedekatan kami, semakin dekat dan akhirnya aku mengecup bibirnya.
"Good night" kataku sambil membuka pintu mobil. Dia pun menahan ku.
" Ada yang ingin ku sampaikan" katanya
"Apa?" Tanyaku sambil tersenyum, ku lihat dia memejamkan matanya untuk beberapa detik dan mulai berbicara.
"Dengarkan aku" katanya sambil menatap mata ku, "kita akhiri sampai di sini saja" katanya lagi.
"Apa, a..apa.maksudmu?" Kata ku terbatah-batah. Jujur rasanya jantungku berdetak lebih cepat sehingga aku pun tak bisa mengontrol nafas ku.
"Apa aku berbuat kesalahan, atau kamu sudah bosan padaku?" Tanyaku padanya.
Dia Pun memejamkan matanya sebelum dia menjawab.
"Ya aku bosan, dan setiap kali kita bertemu aku sudah tidak merasakan debaran seperti pertama kali kita bertemu" katanya lagi.
"Apa kau yakin," kataku. Maksudku " selama ini kita bisa menyelesaikan masalah kita dan kenapa tidak ada angin dan hujan kau malah meminta putus." Kataku padanya.
"Seperti kataku tadi, bosan dan tidak ada debaran yang kurasakan padamu" katanya lagi.
"Ok!" Kata ku dan pergi untuk masuk, ke tempat tinggalku. Aku pun masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur diriku di air shower yang kunyalakan.
Aku menangis sejadi-jadinya. Air mataku turun bersamaan dengan guyuran air shower. Setelah puas. Akupun membersihkan diriku.
Aku menyimpan semua pemberiannya ke sebuah kardus dan menyimpannya di kamar bawah.
Lelah bersih-bersih aku pun tertidur.
Kring
Kring
Kring
Aku Pun bangun dan mengambil ponselku dari dalam tasku.
"Halo" kataku menjawab telepon
"Dok, anda di mana? Jam 10 anda ada operasi" katanya lagi.
Ku lihat jam di hpku, "sial" umpatku.
"Tunggu, 30 menit lagi aku sampai" kataku. Sambil bergegas kekamar mandi, setelah itu aku pun berganti dan langsung keluar. Kumasuki mobilku dan ku jalankan dengan sedikit agak laju. Setelah ku parkirkan mobilku segeralah aku berlari untuk masuk kedalam.
"Huft, hampir saja, ayo kita ke ruang operasi, sekarang" kataku pada suster, sesaat setelah ku sampai.
Hari pun berganti, ku sibukan diriku dengan bekerja, bahkan semenjak aku putus dari Adam, kebanyakan waktu, ku habiskan di rumah sakit, ya itu kulakukan untuk melupakan rasa sakit akibat putus cinta.
Bulan Pun berlalu, tak terasa sudah 3 bulan kami putus, hatiku pun berangsur membaik. Hari ini aku mulai hari ku dengan senyum yang cerah.
"Selamat pagi suster Ani," kataku bersemangat
"Pagi dok" balasnya
Bacakan agendaku hari ini,
"Hari ini seperti biasa dok, hanya keliling memeriksa pasien saja. Dok"
Oke ayo, akupun memeriksa satu-persatu pasienku.
Hingga tiba di sebuah kamar, VIP pintunya sedikit terbuka, dan kulihat, mama mantan pacarku keluar dari sana. Entah mengapa jantungku berdetak tak karuan, sesak itu yang kurasakan. Ku hentikan langkahku, aku pun berjongkok dan memegang dadaku yang terasa sesak, air mataku tanpa permisi jatuh.
Suster Ani yang menemaniku, terkejut dia pun panik."dok, anda kenapa?" Tanyanya "apa anda sakit?" Lanjutnya.
Aku menetralkan diriku. Aku buat serileks mungkin.
"Aku baik-baik saja" kataku sambil berdiri
Ku langkah kan kaki ku, mendekat dan semakin mendekat ke ruangan VVIP itu, entah mengapa kaki ku menuntunku ke sana, ku pegang gagang pintu dan kubuka. Dan betapa terkejutnya aku dengan apa yang kulihat. Ku kedipkan mata ku untuk memperjelas kan mataku, nihil ternyata ini nyata.
Ku langkah-kan kaki ku ke dalam, semakin dekat dan semakin dekat, hingga terlihat dengan jelas. Infus dan selang oksigen yang melekat pada tubuhnya. Tak bisa ku kondisikan lagi perasaanku. Sakit. Itu yang kurasa.
Dia pun menoleh karena isakan tangisku. Dia terkejut melihatku
"Sayang," itu kata pertama yang keluar dari mulutnya.
Aku Pun melangkah mendekat dan merebahkan tubuhku di atasnya dan menangis itu yang ku lakukan. Setelah puas menangis kuangkat wajahku dan melihat nya. Ku pegang pipinya dengan kedua tanganku.
"Kenapa?" Tanyaku
"Karena aku mencintaimu, aku memutuskanmu, karena aku memahamimu, aku memutuskanmu"
" Ini yang kau bilang cinta dan memahamiku? Apa begini cintamu? Apa kau pikir cinta ku padamu hanya cinta monyet? Yang hanya menerima senangnya saja?" Kataku padanya. Dan jangan lupa air mataku masih terus turun.
" Kalau kau jadi aku, apakah yang akan kau lakukan?hmm" katanya padaku " kalau kau berada di posisiku aku yakin kau akan melakukan hal yang sama" katanya lagi.
Akupun langsung membungkam mulutnya dengan ciuman ku untuk beberapa saat. Hanya menempel bibir saja. Hingga ku sudahi dan ku tatap matanya.
"Cukup, kita tidak pernah putus, dan sekarang kita masih sepasang kekasih, ayo kita lewati bersama."
"Apa kau tidak menyesal?"
"Tidak!" Jawabku.
Kami Pun terdiam dalam pikiran kami masing-masing" sehingga seorang dokter mendatangi kami.
"Permisi" katanya "saya akan memeriksa, Tuan Adam" katanya lagi, aku pun beranjak dan membiarkan dia memeriksa.
Aku melihat dokter Lisa bingung melihatku berada di ruangan Adam. Tapi aku hanya diam sampai ada
" Dia Ella dok, kekasihku," kata Adam pada dokter Lisa. Dan dijawab dengan sebuah anggukan.
"Sudah selesai" kata dokter lisa
"Bagaimana keadaan nya dok" tanyaku
Ku lihat dokter Lisa melihat Adam untuk meminta persetujuan
" Katakan saja dok, jangan ada yang disembunyikan" kata adam
" Kita bicara di ruangan saya saja dok" kata dokter Lisa sekaligus mengajakku ke ruangannya, untuk menjelaskan penyakit nya Adam.
"Baiklah," kataku, sambil melirik ke arah Adam, dia pun tersenyum. Aku Pun meninggalkannya dan mengikuti dokter Lisa ke ruangannya. Sesampai nya di ruangan dokter Lisa, dia pun mempersilahkan aku duduk, dan mulai menjelaskannya dan akhirnya akupun keluar dari ruangan dokter Lisa dengan hati yang kacau, entahlah rasanya dunia ku berhenti berputar saat ini juga. Ku langkah kan kaki ku, keluar dari rumah sakit menuju ke mobilku yang terparkir, kubuka dan masuk kedalamnya.
Kutundukkan kepalaku ke setir mobilku, " kanker otak stadium akhir." ku pejamkan mataku dan menetralkan perasaanku dan pikiranku, butuh beberapa waktu sehingga aku pun menyalakan mesin mobilku dan melaju tanpa tau kemana arahku, yang kupikirkan saat ini adalah" aku perlu mencari angin untuk menenangkan diriku". Kata-kata dokter Lisa berputar-putar di kepalaku, "hidupnya tinggal 6 bulan lagi" katanya.
Lampu lalu lintas berubah berwarna merah, untuk sesaat ku hentikan mobilku dan terasa sesak sehingga ku buka jendela mobilku untuk menghirup udara, dan tanpa sengaja ku lihat gereja di sebelah kanan jalan. Kutatap gedung gereja itu entah mengapa rasa sesak ku berangsur-angsur rendah.
Lampu Pun berwarna hijau ku putar balik mobilku dan masuk di pangkalan parkir gereja. Aku Pun keluar dengan langka pasti aku masuk dalam gedung gereja itu. Aku buka pintunya dan pertama ku lihat adalah salib yang ada di depan.
Ku langkah kan kaki ku, mendekat dan lebih mendekat hingga tiba di tangga altar nya, ku jatuhkan diriku dan berlutut. Ku pandang salib itu, untuk beberapa saat mulutku masih diam membisu tapi tidak dengan mata ini yang mengeluarkan air nya.
"Tuhan pencipta langit dan bumi serta isinya, ini aku anakmu yang berdosa datang meminta sesuatu padamu" ku tarik nafasku dan mengusap air mataku, "aku tau, Kau pasti sudah mengetahui apa yang ku inginkan" kataku lagi "ku mohon berikan dia waktu, berikan kami waktu, sembuhkan dia jika engkau berkenan" kata ku lagi. Bukan kehendakku yang terjadi tapi kehendakMulah yang terjadi" jika memang itu terjadi mampukan hati anakmu menerima apapun keputusanmu. Amin
Setelah keluar dari sana, entah mengapa hatiku sedikit tenang. Aku Pun kembali dan menjaga kekasih ku. Hari hari kami lalui dengan senyuman. Ya itu yang kami sepakati, "kita harus memakai waktu kita dengan hal-hal yang bahagia."
Hari berganti minggu pun berganti, semua usaha telah kami lakukan, hingga suatu saat aku berkata padanya. "Aku ingin menikah denganmu Adam" kataku. Dia terdiam "aku mohon, setidaknya jika Tuhan lebih menyayangimu, setidaknya dia memberikanku pengganti untuk menjagaku, seorang anak" "yah, aku ingin mengandung anakmu" sambungku lagi.
"Apa kau tau, apa yang kau katakan?" Konsekuensinya tanya ya padaku.
"Ya" jawabku
"Tapi" tidak ada tapi sanggah ku, "aku mohon" kataku.
"Baiklah" dia pun menarikku ke dalam pelukannya. "Terimakasih, aku sangat mencintaimu Ella, kau wanita hebat, kalau seandainya kita terpisah, kau harus ingat aku mencintaimu apapun keputusanmu nanti nya, aku tetap mencintaimu" sambungnya lagi.
Beberapa hari ini, keluarga ku dan Adam sibuk menyiapkan pernikahan kami, meskipun hanya sebuah pemberkatan saja, ya itu yang kami sepakati. Hingga hari yang kami tunggu pun datang.
Pagi hari, semua sudah bersiap, aku pun sudah selesai di rias, ku tatap wajah di cermin terukir senyum yang begitu indah sekaligus rasa gugup yang melanda ku. Hingga ku dengar ketukan pintu. "Masuk" kata ku, kulihat ibu ku masuk dan menghampiriku.
"Pagi sayang, kamu sangat cantik" kata ibu
"Karena aku anak ibu" sambungku menjawab kata ibu. "Bu, aku gugup". Sambungku.
Ibu tertawa kecil mendengarkan kata yang baru saja ku lontarkan. "Ibu, kok malah di ketawain sih" kataku sambil cemberut.
"Maaf sayang, gugup itu wajar, karena hari ini hari yang bersejara untuk mu" kata ibu. "Ayo, berangkat"
Kami pun melangkah kan kaki kami untuk keluar dan menuju ke gereja untuk melaksanakan pemberkatan.
Setibanya di lokasi kami pun melaksanakan sumpah pernikahan di hadapan pastor keluarga dan tentunya Tuhan.
Acara pun selesai, sekarang kami pun sudah sah menjadi suami secara agama dan negara.
Di sinilah kami sekarang di kediaman keluarga pratama, yah sekarang aku harus ikut suamiku untuk tinggal bersama orang tuanya dan mulai saat ini akulah yang menjadi dokternya.
Hari pun berlalu bulan pun berlalu, dan sekarang usia pernikahan kami sudah 4 bulan, dan sekarang juga Ella sudah mengandung buah cintanya dengan Adam, usia kandungannya baru 2 bulan. Dan semakin hari pasangan suami istri itu semakin mesra, seakan tidak terpisahkan.
"sayang kita lakukan operasinya ya" bujuk Ella pada sang suami.
"Apakah dengan melakukan itu kamu bahagia?" Tanya Adam
"Aku tidak tahu? Tapi setidaknya kita mencoba, meskipun tingkat keberhasilannya hanya 10%. Kamu sudah melakukan kemoterapi selama ini, sayang, apa salahnya kita mencoba" kataku padanya.
"Baiklah, sesuai seperti yang kau inginkan." Katanya "dan berjanjilah padaku apapun hasilnya kamu harus bisa menerimanya dan melanjutkan hidupmu. Karena aku akan selalu ada di hatimu dan menemanimu dan anak kita" katanya.
Aku pun langsung memeluknya dan menangis. "Tuhan apapun itu aku akan menerima ya" batinku. Dan masih betah memeluk suamiku dan mencium aroma tubuh ini. Setelah itu kami pun tidur
Waktu operasi hari ini, dan sekarang Adam lagi di ruang operasi, aku, orangtuaku dan orangtua Adam menunggu di luar, kami diam dengan pikiran kami saat ini hingga pintu itu terbuka.
5 tahun sudah aku lewati bersama anak Perempuanku. Aku menyayanginya dengan hatiku. Dan disinilah kami saat ini.
Berziarah di makam Adam.
"Mam, apa Daddy bisa melihat dan mendengarkan" tanya anakku padaku
"Tentu sayang karna Dafdy ada di hati kita." Jawabku sambil tersenyum.
"Daddy i love you, aku Stefani, sekarang usiaku sudah 5 tahun, apa Dady tau? Aku sangat cantik, kata ibu wajahku mirip daddy, jadi setiap aku merindukanmu aku selalu bercermin. Dan melihat Daddy di sana."
Ku, dengar kata-kata anakku. Hati ku tersentuh, "sekarang aku baik-baik saja, sayang. Apa kamu tahu? Anak kita sangat mirip denganmu, jadi apabila aku rindu padamu, aku akan melihatmu melalui anak kita." Terima Kasih I love you forever.
END