Setiap manusia memiliki jalan kehidupannya yang berbeda-beda. Ada yang mudah dalam mencapai setiap keinginannya, ada yang perlu sedikit perjuangan, ada pula yang harus melewati banyak rintangan dalam setiap langkahnya.
Dia tidak sebatang kara, hanya saja banyak sekali masalah dalam hidupnya yang harus ia hadapi.
Sampai pada suatu hari ia mengenal sebuah aplikasi berbasis online, dimana ia bisa bertemu dan mengenal banyak orang tanpa harus bertatap wajah.
Dimana ide jahilnya muncul untuk memalsukan identintasnya, karena baginya itu hanya dunia halu. Dimana semua orang berhak untuk menggambarkan dirinya seperti yang ada dalam angannya.
Namanya Joe, ia mengakui usianya 24 tahun. Bekerja di salah satu bengkel mobil yang lumayan besar di kotanya.
Untuk mengisi masa senggang, Joe selalu aktif dalam bermedia sosial. Bahkan bisa dikatakan 18 dari 24 jam waktunya ia habiskan dengan bermain di media sosial.
Banyak teman? Sudah pasti, bukan hanya satu atau dua orang saja. Melainkan beberapa teman online yang sudah mengenal lama dengannya semakin dekat dan sudah menganggapnya seperti keluarga.
Sebut saja namanya Ayu, seorang wanita yang juga mengaku usianya 22 tahun saat itu. Mereka kenal di aplikasi tersebut dan hubungannya semakin dekat, hingga mereka melakukan private message untu bertukar nomor telepon.
Dengan alasan supaya saling mengenal satu sama lain. Rayuan dan kata-kata manis menjadi hal biasa dalam keseharian mereka.
"Sayang lagi apa?" tanyanya.
"Lagi duduk saja, kamu lagi apa?" tanyanya balik.
"Sama, sudah makan?" tanya Joe.
"Sudah! Sibukkah? Seharian ini tidak ada kabar," ujarnya dengan suara yang manja.
"Iya Sayang! Hari ini pekerjaan lumayan sibuk, banyak yang datang untuk service. Maaf Sayang,"
"Hmm, begitu! Ya sudah tidak apa ...!"
Mereka berbincang banyak hal, menceritakan keseharian mereka masing-masing. Selayaknya dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara.
"Sayang! Sudah malam, kamu tidak tidur?"
"Iya, ini mau tidur. Kamu juga tidur ya, kan seharian kamu lelah bekerja,"
"Iya Sayang, selamat istirahat ... Semoga mimpi indah ya! Nice dream, ummach!" suara khas kecupan.
"Heheh! Iya Sayang,"
Telepon pun terputus, Joe yang masih belum mengantuk memilih untuk bermain audio room. Mendengarkan musik dan berbincang apapun dengan teman-temannya yang lain.
Lambat laut, seiring berjalannya waktu. Joe menjalin hubungan baru dengan wanita lain setelah mengakhiri hubungan yang lama.
Joe bergabung dalam beberapa family di aplikasi tersebut, dimana ia mendapatkan lebih banyak lagi teman dan keluarga online di grup chat.
Sampai pada akhirnya, dia mengenal teman wanita yang lain, namanya Tere yang juga seorang member dalam family tokoh chat story yang sangat terkenal. Sebut saja Family Wasabi, dimana memiliki member yang kompak, seru, dan bisa disebut dengan somplak.
Selain Family Wasabi, Joe juga ikut dalam family yang lain. Namun kedekatannya dengan Tere, membuatnya lebih lama berbincang di Grup Chat Wasabi.
Hingga pada suatu hari kabar duka datang dari orang yang mengaku sebagai sahabatnya. Yang mengabarkan jika Joe sudah meninggal karena sakit gagal jantung di sebuah Rumah Sakit.
"Innalilahi wainnailaihi roji'un, telah meninggal dunia sahabat kita Joe baru saja jam 14.35 WIB di Rumah Sakit dengan riwayat gagal jantung. Saya mewakili almarhum memohon maaf apabila selama hidupnya banyak salah yang disengaja maupun tidak di sengaja, semoga almarhum Husnul khotimah, dan amal ibadahnya diterima di sisi-Nya ... Aamiin. (emote nangis)"
Kabar masih simpang siur, percaya? Tentu saja tidak sepenuhnya percaya, kenapa? Karena sehari sebelum kabar tersebut beredar Joe sempat berada di salah satu audio room, mereka bercanda bersama, membahas banyak hal yang membuatnya tertawa selama mereka di sana.
Dan bahkan, ada juga yang mengatakan jika sehari sebelumnya Joe dirawat di Rumah Sakit ruang ICU dengan riwayat jantung. Namun malamnya sebelum ada kabar tersebut, ada yang mengatakan jika ia 'nongkrong' bersama di room sampai pagi sekitar jam 6.
Entah harus percaya atau tidak, tapi owner di salah satu GC juga membenarkan jika Joe katanya memiliki sakit jantung, bahkan sudah dipasang ring di organ jantungnya, kemudian beberapa waktu yang lalu, Joe juga mengatakan akan melakukan operasi besar di kepalanya.
Katanya ada keretakan di area kepala, entah itu di tengkorak, atau organ bagian dalamnya setelah mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu.
Disitulah, semua member mulai percaya, beberapa grup chat bahkan menutup grup untuk menghormati kepergian Joe, sebagai bentuk penghormatannya atau rasa kehilangan sosok teman, sahabat, bahkan keluarga online.
Malam itu semua member mengadakan doa untuknya, baik masing-masing maupun doa bersama yang diadakan di salah satu audio room yang mengadakan acara tahlil untuknya.
Selain itu, Joe juga memiliki 'anak online' entah siapa ibu dari anak onlinenya tersebut. Si anak online pun sampai 3x membacakan surat Yasin untuknya, menangis, kehilangan sudah pasti.
Kebersamaan yang sudah mereka lalui selama hampir 2 tahun tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja.
***
Di sisi lain,
Beberapa teman dekatnya berusaha melakukan private message dengan akun Joe yang masih aktif yang katanya dipegang oleh sahabatnya.
Namun mereka mengatakan hal yang sama, akun mereka di blok selama sehari.
Dan sempat ada yang bilang, salah satu teman online mengikuti akun Joe yang sudah berganti nama sedang online dan berada di sebuah audio room.
Ada juga sahabatnya yang sering nongkrong di audio room hampir setiap malam, memilih untuk menghubungi nomornya menanyakan kejelasan atas berita tersebut.
Lagi-lagi tidak ada jawaban darinya. Bahkan ada juga yang mengirimkan pesan untuk menanyakan kejelasan berharap ada balasan dari sahabat atau keluarganya yang mungkin memegang ponselnya.
Sama saja tidak ada balasan, meski nomor WhatsApp online. Sampai keesokan harinya, ada sebuah chat masuk dari nomor Joe yang menjawab pertanyaan salah satu sahabatnya.
"Iya Joe sudah meninggal, kemarin pukul 14.35 dan dikebumikan pukul 17.46" dengan melampirkan sebuah foto orang yang sedang membawa keranda.
Karena merasa ada yang janggal, sahabatnya pun menghubungi nomor tersebut untuk mendengarkan penjelasan secara lebih detail.
Tut ... Tut ... Tut ...!
Lumayan lama telepon tidak diangkat, sampai pada akhirnya ada yang mengangkat suara laki-laki yang sepertinya tengah berada di pinggir jalan sama persis seperti saat mereka bertemu di audio room beberapa waktu yang lalu. Terdengar suara kendaraan beberapa kali lewat.
"Hallo, ini dengan siapa?" tanya Rocky teman dekat dari dunia halu si Joe.
"Aku teman dekatnya, ini siapa?"
"Aku Rocky, temannya di online. Kalau boleh tau, bagaimana kronologi meninggalnya? Dia sakit apa? Maaf bukannya kami tidak percaya, hanya saja kami ingin tau yang sebenernya, biar bagaimanapun kami sudah emnganggap Joe seperti keluarga kami sendiri," ucap Rocky menjelaskan maksudnya.
"Joe meninggal karena gagal jantung ... dia meninggal di perjalanan menuju Rumah Sakit," jawabnya.
"Meninggal dalam perjalanan atau di Rumah Sakit? Karena kami dengarnya dia meninggal di Rumah Sakit," sahut Rocky.
"Di ... di Perjalanan menuju Rumah Sakit," jawabnya dengan sedikit gugup.
"Kenapa ponselnya ada di kamu? Bukankah Joe punya istri dan anak?"
"Sebelum meninggal Joe sudah mewasiatkan warisannya untuk salah satu panti asuhan di kotanya ... ."
"Lalu bagaimana dengan istrinya?"
"Istrinya siang ini dijemput pihak keluarganya, ia menangis dan tidak sadarkan diri karena tidak kuat melihat kepergiannya yang secara mendadak ... ." jawabnya.
"Lalu kenapa bisa warisannya untuk panti? Bukankah masih ada ahli warisnya?"
"I ... Itu sudah menjadi wasiat Joe, kami tidak bisa mengganggunya ...!"
"Sebenarnya mas ini siapanya Joe? Kok tau semua tentangnya?"
"Aku teman dekatnya tapi sudah seperti saudar sendiri,"
"Oh, eh lupa tadi Joe meninggal jam berapa?"
"Jam 17.46, ma ... maksudku jam 14.35 dan dikebumikan jam 17.46,"
"Jam berapa tadi? Aku tidak jelas mendengarnya,"
"Jam 14.35 meninggal, dan dikebumikan jam 17.46 ...!" jawabnya lagi dengan gugup.
"Oh, ya sudah!"
Telepon dimatikan, Rocky tau jika itu adalah suara Joe. Meski suaranya dibuat-buat untuk mengelabuinya.
***
Sementara itu, berdasarkan penyeledikan dari pihak yang lain (masih dari teman online).
Kebohongan perlahan terbongkar, tentang masalah waktu runtutan kejadian yang tidak masuk akal. Yaitu waktu kematian dan dikubur yang berjalan begitu cepat.
Jika Joe benar-benar meninggal di Rumah Sakit rasnaya tidak mungkin waktu meninggal dengan proses pemakaman berjalan dalam waktutu yang cukup singkat.
Pasti ada tahapan yang harus mereka lewati lebih dulu, seperti pasien yang meninggal di ICU biasanya tidak bisa langsung dipindahkan ke ruang jenazah.
Biasanya mereka akan membiarkan sekitar 10-20 menit di sana untuk memastikan pasien sudah benar-benar meninggal. Dan kemudian dari pihak ruang jenazah akan menjemputnya, setelah itu keluarga pasien juga harus mengurus administrasi untuk pengambilan jenazah.
Terlebih lagi ada beberapa keanehan yang terjadi, antara lain:
Yang pertama adalah orang yang mengaku sebagai teman dekat Joe, ia mengirimkan satu foto seorang pasien dengan baju khas pasien di ruang ICU yang berbaring di atas bed dengan kepala yang diikat kain kassa tanpa kain yang menutupi jenazah.
Biasanya pasien yang sudah meninggal, setelah dilepas semua peralatan yang menempel di tubuhnya, mereka akan mengikat jenazah dengan kain kassa di beberapa bagian antara lain : dua ibu jari kaki, kedua lutut, dua pergelangan tangan pasien diatas perut, dan kepala (dari dagu sampai ujung kepala). Kemudian setelah pasien diikat, tenaga medis akan segera menutupnya dengan kain entah itu selimt atau sprei untuk membungkusnya.
Yang Kedua adalah Joe meninggal di tengah pandemi, rasanya tidak mungkin jika teman yang bukan keluarga inti dari pasien atau jenazah bisa masuk ke dalam ruang ICU untuk mengambil gambarnya dengan bebas.
Yang ketiga, sebelumnya saat Rocky menghubungi nomor Joe, teman dekatnya mengatakan Joe meninggal dalam perjalanan, lalu bagaimana bisa pasien baru yang dengan keadaan sudah meninggal bisa berada di ruang ICU?
Yang keempat, sang detective Wasabi akhirnya beraksi dengan melacak foto di poin 1, foto tersebut di temukan di sebuah berita salah satu situs resmi yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai Mbah Gugel, foto sama persis, hanya di crop di bagian kepala hingga dada.
Karena masih penasaran, akhirnya sang detective melacak foto yang lainnya, yaitu saat beberapa orang yang sedang membawa keranda jenazah, itupun detictive temukan di Mbah Gugel.
Dan mulai dari situlah, kami tidak percaya lagi dengan adanya kabar tersebut.
Lalu bagaimana dengan nasib Joe saat ini? Kata teman dekatnya yaitu Rocky ... Joe masih gentayangan di aplikasi tersebut dengan nama barunya. Dan sudah tidak berani menyapanya lagi, meski begitu mereka beberapa kali bertemu di audio room. Dan lagi-lagi Rocky mengenali si pemilik suara tersebut.