Kisah di mulai dengan munculnya seorang gadis SMP yang baru saja keluar dari rumahnya untuk bersiap menuju sekolah. Gadis itu bernama Camelia Reana Narendra, yang biasa di panggil Caca.
Ketika Caca sudah sampai di sekolahnya, ia sangat di sambut hangat oleh warga sekolah. Caca di kenal sebagai murid yang baik, teladan, cantik, dan juga multi talenta. Kini usia Caca sudah menginjak umur 16 tahun, memang lebih tua daripada sepantarannya. Ketika sedang mengerjakan tugas dari gurunya, Caca dipanggil oleh salah satu guru entah apa itu alasannya. Perlahan Caca mengetuk pintu ruang guru, dan mulai masuk kedalamnya untuk menanyakan alasan ia dipanggil.
Ternyata ia dipanggil untuk mengajak beberapa guru PPL dari kampus setempat untuk berkeliling memperkenalkan lingkungan sekolah.
"Mari kak ikut saya" ucap Caca sembari mengumbar senyum yang manis.
Caca mulai melangkahkan kakinya keluar ruang guru tersebut, dan berkeliling diikuti guru PPL dibelakangnya. Guru PPL tersebut terdiri dari 3 pria dan seorang wanita. Keempat guru PPL tersebut bernama Arga, Mahes, Rika, dan Andi.
Beberapa hari kemudian, lebih tepatnya 13 hari setelah kedatangan mereka. Pihak sekolah mengadakan kemah untuk seluruh warga sekolah di sebuah bukit yang cukup terkenal di daerah sana. Seluruh siswa dari kelas 7 sampai 9 terlihat sangat antusias mengikuti acara kemah tersebut. Ketika hari sudah gelap, seluruh murid dibagi menjadi 5 kelompok untuk berkeliling di 5 api unggun yang berada di antara tenda tenda di sana. Para guru pun termasuk guru PPL juga dibagi menjadi 5 bagian untuk masuk ke tiap kelompok para murid. Kira-kira tiap kelompok berisi 60 murid dan 5 guru. Caca mendapat kelompok 3, yang berarti Caca sekelompok dengan Arga dan Mahes.
Tiap kelompok diberikan sebuah lagu yang harus dinyanyikan bersama-sama, setelah acara menyanyi bersama, kini saatnya mendengarkan sebuah renungan malam. Biasa, renungan itu berisi tentang orangtua kita yang selalu menemani kita setiap saat, banyak suara tangisan para murid yang memecah keheningan di bukit tersebut. Hampir semua murid yang disana menangis, kecuali Caca seorang. Caca hanya duduk beralaskan koran bekas dan memeluk kakinya. Ia hanya melamun memandangi api unggun yang ada didepannya, sesekali ia pun melirik beberapa temannya yang sibuk menangis. Caca pun berdiri dan meminta izin kepada salah satu guru untuk istirahat lebih cepat karena kini tubuhnya sedang tidak bagus.
Ia memasuki sebuah tenda yang berisi 2 buah matras lipat yang sudah ia dan teman se tenda nya siapkan. Beberapa menit kemudian datanglah Arga salah satu dari guru PPL yang mengajar disana. Ia duduk disebelah Caca, dan menanyakan keadaanya sekarang ini. Caca pun hanya mengangguk pelan ketika ia ditanyai seperti itu oleh Arga. Tak menunggu lama, datanglah lagi Mahes mendatangi tenda Caca dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menanyakan keadaanya sekarang ini. Caca yang merasa tidak enak karena sampai didatangi 2 orang guru pun mulai mengeluarkan keluh kesahnya kepada dua orang tersebut.
1 jam kemudian, acara di luar tenda yang awalnya api unggun, kini sudah berubah menjadi jurit malam. Caca pun yang merasa mulai mengantuk pun meminta ijin kepada kedua kakak PPL yang menemaninya disana. Caca membaringkan tubuhnya perlahan di sebuah matras yang ukurannya cukup besar dan muat untuk 4 orang. Caca pun ahkirnya mulai memasuki ruang mimpinya. Diluar itu, Mahes dan Arga yang menemaninya pun duduk di pinggir matras yang di tiduri oleh Caca tersebut.
Tiba-tiba ada seorang murid yang datang masuk ke tenda Caca dan dirinya. Pada awalnya dia ingin tidur di sebelah Caca, namun karena Arga yang mengisyaratkannya untuk menginap di tenda lain, makannya ia pun hanya mengambil bantal dan selimutnya.
Caca tiba-tiba terbangun dan merasakan ada yang menghimpit badannya dari kanan dan kiri, setelah di cek ia mendapati kakak PPL yaitu Arga dan Mahes sedang tertidur di sebelahnya, dan kini ia berada di tengah-tengah mereka. Karena tidak ingin mengganggu tidur mereka, pelan-pelan Caca mulai berdiri, berjalan keluar tenda dan menuju kamar mandi untuk buang air. Selesai buang air, ia langsung kembali ke tenda nya, dan berbaring lagi di tengah-tengah kedua guru itu.
1 bulan tidak terasa, kini mahes dan Arga sudah membulatkan tekadnya untuk menembak Caca agar menjadi pacarnya. Saat seluruh sekolah sedang istirahat, yang beradà di kelas hanya Arga dan juga ia sendiri. Arga pun langsung menghampiri Caca yang sedang menyantap bekal makan siangnya dan duduk disebelahnya.
"Ca, mau jadi pacar gw?" ucap Arga yang sedang menatap Caca.
Caca yang mendengar itupun lantas menoleh ke arah Arga.
"K..kakak nembak Caca?" ia masih mematung mendengar perkataan Arga barusan.
Arga hanya mengangguk sambil tersenyum. Karena suasana kelas dan sekitarnya sepi, Arga memanfaatkan keadaan tersebut. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Caca, dan tak lama kemudian ia pun langsung menyambar bibir yàng imut dan berwarna merah muda itu dengan bibirnya. Ia mulai melumat lembut bibir mungil Caca, Caca yang masih polos pun hanya diam ketika bibirnya dicium. Caca langsung mendorong dada Arga, dan berlari secepat mungkin menuju kamar mandi sekolah. Ia bercermin sembari memikirkan kejadian barusan, pipinya memerah seperti tomat ketika mengingat nya.
"I..itu aku di..cium" ucap Caca sambil memegang bibirnya itu.
"S..sadar ça, sadar, hufttt tenang itu aku belum jawab, tenang"
Caca lantas melihat ke arah jam tangannya, dan ternyata jam sudah menunjukan bahwa waktu istirahat selesai. Saat hendak keluar dari kamar mandi, ia melihat Mahes salah satu guru PPL yang mengajar disana sedang menunggunya di depan pintu kamar mandi.
"E.. eh kak Mahes" ucap Caca sambil tersenyum kikuk.
Melihat Mahes yang berjalan mendekatinya, ia pun berjalan mundur untuk menjaga jarak dengan Mahes. Namun sepertinya Caca tidak bisa melanjutkan nya, karena kini belakang ia persis adalah tembok. Mahes yang melihat Caca terpojok pun tetap berjalan mendekatinya, Ia mengukung Caca, dan mulai menatap matanya dalam.
"Jadi pacar gw ca" ucap Mahes dengan suara berat yang sedikit serak.
Sekali lagi ia mendengar perkataan itu yang awalnya keluar dari mulut Arga, kini keluar dari mulut Mahes.
"Em.. anu kak, Caca.... eumhhhh-!!"
Belum selesai melanjutkan kalimatnya, bibir mungil Caca langsung di cium dan di lumat sedikit kasar oleh Mahes. Seperti yang ia lakukan tadi, ia hanya diam saja dan tidak membalas ciumannya. Karena tidak dibalas ciumannya itu, lantas Mahes melepasnya.
"Kenapa nggak di bales?" tanya Mahes.
"Ngga tau caranya..." ucap Caca sambil menunduk tidak berani menatap Mahes. Caca pun langsung berlari meninggalkan Mahes dan masuk ke kelas dengan wajah yang merah merona. Arga pun yang melihat Caca pipinya merah hanya terkekeh kecil.
Tidak terasa waktu sudah berjalan selama 8 tahun. Kini Caca sudah tidak tahu lagi keadaan kedua pria tersebut sejak 8 tahun yang lalu ketika mereka sudah berhenti menjadi guru percobaan disana.
Saat ini, Kampus yang dulu menjadi kampus yang menjadi tempat sekolah Arga dan Mahes sedang mengadakan reuni besar-besaran bahkan sampai mengundang salah seorang musisi wanita yang cukup terkenal di seluruh negeri. Para alumni kampus tersebut mengadakan acara reuni di sebuah gedung utama pertunjukan yang ada di kampus tersebut. Para alumni semuanya terlihat mengenakan pakaian formal, yang pria mengenakan jas, sedangkan yang wanita mengenakan dress bernuansa putih & abu-abu. Dan juga para alumni di sana hampir saling tidak mengenali satu sama lain, ya karena mereka terahkir kali bertemu di kisaran umur 20 tahun an, sedangkan sekarang umur mereka sudah hampir 30, bahkan ada juga yang sudah menikah dan mempunyai anak, tak sedikit pula yang masih jomblo sampai sekarang.
Ahkirnya lampu di gedung itu semua dimatikan, dan sebuah lampu sorot menyorot seorang wanita berambut pirang yang pendek sudah siap dengan pianonya untuk membawakan sebuah lagu. Wanita itu tampak anggun dengan gaun putih selutut yang ia kenakan dan juga high heels berwarna hitam yang jika dilihat sangat cocok untuk dirinya.
Akhirnya perlahan-lahan nada yang dikeluarkan dari piano tersebut bertambah banyak, dan menjadi sebuah lagu yang sangat indah untuk didengarkan. Ada beberapa orang yang familiar dengan lagu yang dibawakan oleh pianis tersebut. Sehingga beberapa orang tersebut ahkirnya menatap lekat sang pianis yang sedang membawakan lagunya tersebut.
Beberapa menit kemudian setelah lagu selesai dibawakan, kini saatnya sang pianis tersebut memperkenalkan dirinya kepada para tamu-tamu disana.
"Halo semuanya, apakah kalian menikmati pertunjukan yang saya bawakan hari ini?, saya bersyukur bisa hadir sebagai pengisi acara di acara alumni kakak senior, juga berterimakasih sudah mengijinkan saya membawakan lagu barusan, Sebelumnya perkenalkan nama saya Franseca kakak alumni bisa memanggil saya Frans ataupun Seca, Terimakasih" Ucap lembut wanita itu.
Yaps, wanita itu adalah Caca, ia saat ini sudah menjadi seorang musisi yang dikenal cantik, imut dan sifat baik hatinya. Dulu ia adalah seorang gadis yang lucu, dan juga memiliki sifat kekanak-kanakan, namun saat ini yang orang lain lihat hanyalah sifat yang dewasa, mandiri, dan sopan, ya walau kadang sedikit ceroboh jika dirinya sudah panik.
Kini acara itu sudah berubah menjadi acara makan-makan. Ada yang sibuk membahas masa-masa ketika mereka masih kuliah dulu, ada yang sibuk menggosip, ada yang makan bersama keluarga kecil yang sudah dibangunnya, juga ada yang sibuk memilih-milih makanan yang tersedia. Saat Caca sibuk membawa makanan dan minumannya ketika ingin kembali ke tempat duduknya, tampaknya ia tak sengaja menabrak seseorang, yang membuat jas orang tersebut basah oleh air yang ia bawa. Karena panik, ia langsung meletakan makanannya di sembarang meja dan mencoba mengeringkan jas orang tersebut menggunakan tisu yang ia bawa.
"Emm... aduh, maaf ya kak, maaf banget nih jadi basah jas kakak" ucap Caca dengan nada sedikit panik sambil mencoba mengeringkan jas tersebut tanpa menoleh ke orangnya sekalipun.
"Nggak papa ko Ca" ucap orang tersebut.
Ia yang mendengar orang itu memanggilnya Caca lantas mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah orang tersebut. Betapa kagetnya bahwa yang ia temui adalah Mahes, kakak PPL yang dulu suka padanya.
"K..Kak M..Mahes" ucap Caca terbata-bata.
Masih syok dengan keadaan itu, seorang pria lagi mendatangi mereka berdua yang membuat dirinya terkejut sekali lagi.
"Ca..?" ucap orang yang menghampiri mereka berdua.
"E..eh ada Kak A...Arga juga" ucap Caca sambil tersenyum kikuk. Caca yang syok dengan keduanya itu sempat berpikiran untuk kabur, namun sepertinya terlambat. Karena kedua tangannya sudah dipegang oleh kedua pria yang pernah menyukainya itu. Dan kedua pria tersebut langsung memeluk Caca dari sisi kanan dan kirinya sehingga membuat mata orang-orang yang ada di gedung itu menatap kearahnya. Kedua orang itu menyalurkan rasa rindunya yang selama ini telah dipendamnya.
"Kak, bisa tolong lepasin Caca, Caca 1 jam lagi ada penerbangan" Ucap Caca dengan nada sedikit terpaksa.
Kedua orang itu lantas melepaskan pelukannya, dan menatap Caca untuk mengetahui alasan kenapa ia mau pergi. Lalu Caca pun menjawab.
"Maafin Caca ya, Caca mau nglanjutin S2 di London, maafin Caca ya, Caca pergi dulu" dengan buru-buru ia langsung pergi menuju bandara untuk pergi ke London demi pengobatannya bukan untuk melanjutkan S2 nya. Kenapa Ia mengatakan itu, karena ia tidak ingin kedua pria tersebut khawatir akan keadaanya saat ini.
Caca sudah mengidap penyakit tumor otak yang telah ada bersamanya sejak kelas 1 SMP, dan kini penyakitnya sudah ada di stadium ahkir.
1 tahun kemudian sebuah kabar duka muncul dari dunia musik, dan hampir seluruh dunia kaget karena kabar duka mendadak ini. Nyatanya sesosok musisi wanita muda tersebut meninggal di umur yang sangat muda, yaitu 23 tahun. Sudah tertebak jika yang meninggal adalah Caca, wanita yang sangat disayangi oleh Arga dan Mahes. Mereka berdua pun yang mendengarnya langsung memesan tiket pesawat menuju ke London untuk menemui jasad dari sosok wanita yang sangat mereka cintai. Mereka dulunya mengira jika mereka akan bertemu sesosok Caca yang bahagia karena telah menyelesaikan s2 nya di London, tapi malahan yang ia temui adalah sosok Caca yang sudah tergeletak tak bernyawa di kasur rumahsakit. Bahkan tubuhnya saja masih dipenuhi oleh alat-alat medis. Setelah proses pemandian jenazah, kini tubuh Caca sudah terbungkus rapi oleh sebuah gaun putih, dan jika dilihat jasadnya, wajahnya sedikit tersenyum. Ia sangat cantik saat ini, ia mengenakan gaun putih polos sederhana namun terkesan imut, jepit kupu-kupu yang ada di kepangan rambutnya juga menambah kesan manis dalam dirinya saat ini. Arga pun sampai memesan peti khusus berwarna putih dengan renda-renda yang mengelilinginya, tak lupa ada beberapa hiasan not balok berwarna emas yang terlihat di setiap sisi peti mati tersebut.
Dan disini kisah Caca, sang musisi wanita muda berhenti-
terimakasih yang sudah membaca, semoga menghibur ฅ^•ﻌ•^ฅ