Perang tanding itu akhirnya mempertemukan dua kekuatan yang selama ini menguasai jagad persilatan. Dari sisi putih diwakili oleh Sri Utari. Sementara dari sisi hitam, Sri Utami yang jadi wakilnya.
Sepasang anak dara yang sesungguhnya dua bersaudara sejak dalam kandungan, kembar, tetapi memiliki karakter yang sangat bertolak belakang.
Sri Utari, si bungsu, adalah sosok yang lembut, tenang, dan sangat mudah berempati. Sementara sifat dan perangai sang kakak, Sri Utami, si sulung, kebalikan dari sang adik:kasar, tempramen, sinis.
Apakah semua ini karena pola asa-asih-asuh yang diterima oleh keduanya?
Sangat terbuka kemungkinan karena beberapa tahun menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, mereka terpisah oleh karena keadaan yang tidak mungkin mereka hindarkan. Tetapi diawal usia masa kanak-kanak, sesungguhnya mereka: dibesarkan, didik, dan diasuh oleh orang yang sama dan dengan cara yang persis sama.
Sri Utami, si sulung, setelah terpisah dari sang adik, masa tumbuh kembangnya disesaki dengan gaya didikan yang dipenuhi dengan semua kemewahan, bertabur keserakahan, dan intrik: saling sikut, bunuh, dan serang adalah hal yang jamak.
Lain hal dengan si bungsu, Sri Utari. Si bungsu dibesarkan dan didik dalam kesederhanaan, mengalah, ringan tangan dan selalu mengutamakan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi.
Yang satu dipersenjatai dengan sikap yang mudah mencurigai dan memusuhi. Sementara satunya lagi dipersenjatai dengan sikap selalu berprasangka baik dan welas asih.
Keduanya sangat-sangat jauh berbeda.
Seperti yang diutarakan sebelumnya, diawal-awal tumbuh kembang mereka, sesungguhnya mereka berdua mendapatkan perhatian dan rasa kasih yang sama. Rasa kasih dan perhatian yang tulus, dicurahkan seluruhnya dan sebanyak-banyaknya oleh sang maha guru sendiri, Resi Gunadarma.
Sang resi, seorang lelaki tua yang memilih melajang seumur hidupnya, memiliki satu niat tulus dalam menjalani hidup, ingin membaktikan seluruh hidupnya untuk melindungi semua anak-anak yang terlantar: yang dibuang atau ditinggal mati orangtua mereka baik oleh karena perang maupun kejahatan.
Dan sesungguhnya, Sri Utami serta Sri Utari itu bagian dari penderitaan tersebut. Sepasang dara kembar ini terpisahkan dari kedua orang tua mereka, beberapa pekan setelah mereka terlahir ke dunia ini.
Kedua orang tua mereka meregang nyawa di sebuah hutan belantara, golok para begal telah menumpahkan darah ayahandanya, sementara ibundanya memilih mengakhiri hidupnya, sesaat setelah tubuhnya dihinakan oleh para begal-begal itu, sang ibunda meregang nyawa dengan menusukkan sebilah belati tepat ke dada kirinya.
Oleh para begal kedua anak dara ini, yang awalnya mereka kira adalah bagian dari harta kekayaan yang tersimpan dalam sebuah kotak papan, tetapi setelah dibuka, sungguh tak ada rasa kaget yang tergurat di wajah mereka, cuma rasa kesal yang sambil lalu, setelahnya bersepakat untuk membuang kedua anak dara itu. Dari bubungan atas tebing, kotak papan yang berisi kedua anak dara itu dicampakkan begitu saja ke dalam aliran sungai yang mengalir deras dibawahnya.
Untungnya, sebelum kotak papan itu menghantam bebatuan kali, dari balik rerimbun pepohonan, dengan begitu tiba-tiba, seorang berjubah putih meloncat terbang menyelamatkan kotak papan tersebut. Kini siapa yang dapat menyangka kalau hari ini mereka harus saling: berhadapan, berjibaku serang, melumpuhkan, mengalahkan, bahkan tak tertutup kemungkinan menghabisi; Bila hari ini kedua orangtua mereka ada diantara mereka kira-kira kecamuk apa yang bakal melanda hati dan pikiran mereka, akan seberapa remuk, akan seberapa hancur, sungguh tak ada yang bisa membayangkan. Namun, jika ini adalah jalan yang dikehendaki oleh sang takdir itu sendiri, siapa juga yang dapat mencegahnya!? Adakah manusia yang bisa mencegahnya, jangan kata manusia, bahkan dewa-dewa di khayangan pun tidak akan mampu, begitu ucap sang Resi pernah menelisik jauh hingga ke sanubari salahsatu dari kedua anak dara ini, ia kembali hanya untuk menuntut haknya, yang merasa pantas untuk memiliki sesuatu yang sesungguhnya tak pantas ia miliki, meski harus menumpahkan darah seseorang yang tak pernah berhitung ketika menjaga, mengasuh, mendidik, merawatnya hingga kelak tumbuh menjadi remaja. Oleh karena sesuatu yang ia rasa pantas untuk ia miliki kini seseorang yang menjadi bagian dari dirinya pun harus ia habisi.
Masing-masing kedua anak dara itu sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Di sekitar mereka, kanan-kiri dan muka belakang, telah berkalang tanah puluhan orang. Pada langit yang buram ratusan burung-burung bangkai terbang rendah dan bersiap-siap segera melesat turun lalu kemudian berpesta. Dihantam pasang gelombang angin yang datang bagai deru ombak debu abu beterbangan.