Seperti permulaan semua kisah lainnya, aku adalah seorang anak desa, atau tepatnya bukan desa. Karena terhitung hanya 21 penduduk di tempatku tinggal.
Aku tinggal dengan keluargaku, ibu, dan dua adik kecil. Kami hidup bahagia dan paling beruntung karena anggota keluarga kami yang paling banyak di tempat itu.
Kami 21 orang yang terlantar di pinggiran sungai besar kota terbengkalai. di sebarang tempat kami tinggal, berdiri benteng tinggi sebuah kota yang hanya bisa kami pandang dari kejauhan, karena seumur hidup kami tak mampu membayar biaya kependudukan yang mahal disana.
Kami hidup damai dan berkecukupan. Tapi dari ratusan hari selama setahun, datang hari yang selalu kami takuti. Hari yang membuat jumlah kami semakin sedikit.
Hari itu sudah dekat, itulah yang membuatku mengalami cemas berat beberapa hari terakhir.
Orang-orang sudah saling bergosip kali ini giliran keluarga kami yang diambil.
Tapi saat hari itu tiba, atau tepatnya malam itu tiba. Saat kami, 20 penduduk meringkuk ketakutan di dalam rumah kayu reyot, terdengar suara erangan.
Kami yang sedari tadi tak tidur mengintip dari sela dinding kayu yang banyak berlubang. Udara dingin membuat bulu kuduk berdiri.
Empat laki-laki dewasa bersiap keluar, membawa kain yang disambungkan seperti tali. Mereka akan menangkap dan mengikat orang kerasukan di luar sana.
Aksi mereka berlangsung singkat, tanpa membuahkan hasil. Orang kerasukan itu berlari ke arah kota terbengkalai.
"Carli lari kesana!" adikku yang berusia lima tahun berbisik sambil menunjuk arah kota terbengkalai.
Empat laki-laki dewasa itu kembali dengan peluh di kening dan leher.
"Carli dirasuki roh yang amat jahat. Jika dia mati di kota terbengkalai, itu pertanda aman untuk kita. Tapi jika dia kembali setelah menyerap banyak roh jahat lainnya, aku tak tahu apa yang akan kita hadapi nanti." Jack, salah satu dari empat orang dewasa itu memperingatkan kami.
Malam itu kami memutuskan saling berhimpitan, tidur bergiliran, membiarkan separuh terjaga.
Saat itulah, saat giliran yang berjaga tertidur karena kantuknya, denting jam kota seberang sungai samar-samar terdengar, Carli muncul dengan baju penuh robekan. Matanya hitam sepenuhnya, bahkan guratan hitam menjalar di sekitar matanya. Kukunya panjang dan runcing.
Carli mengendus-endus, menyisir lubang-lubang dinding kayu dengan mata hitam terbelalaknya.
Kami semua bergetar ketakutan, termasuk adikku yang lima tahun mulai menangis tertahan dalam pelukan ibu. Jack dan tiga laki-laki dewasa lainnya memegang kayu, bersiap pada kemungkinan terburuk.
Carli yang kami kira masih sibuk mengendus tiba-tiba tak terasa kehadirannya. Lalu sedetik kemudian suara gesekan kulit dan tanah terdengar di ujung rumah reyot itu.
Lihatlah, Carli masuk melalui lubang yang hanya cukup selingkaran badan. Kepala dengan wajah menyeramkan itu muncul. Dagunya bahkan berdarah saat dipaksa bergesekan dengan tanah.
Tubuhnya yang kami kira akan muncul dengan keadaan tengkurap berputar menjadi telentang. Bahkan terdengar suara "krekk" di lehernya.
Jack memimpin di depan, bersiap memukul Carli yang sudah jadi makhluk mengerikan.
Seperti nasihat Jack dalam menghadapi kejadian yang jarang terjadi bahkan pada kami yang selalu menghadapi fenomena kerasukan dan kematian ini, kami berusaha menenangkan pikiran, membuang pikiran-pikiran berat.
Carli sudah berdiri sempurna, dengan postur bengkok karena leher yang sudah patah.
Carli menyeringai dengan gigi-gigi yang menghitam. "Akuuu akan melahap jiwa kalian yang lemaahhh" Suara Carli atau makhluk di dalamnya terdengar menakutkan.
Semua orang menatap jeri namun masing-masing sudah meneguhkan hati, termasuk adikku yang lima tahun.
Aku bergetar, peluh menetes di kening. Pikiran buruk memenuhi otakku. Ibu dan kedua adikku terbesit bergantian di benak.
"Tidak boleh!" teriakku dalam hati saat membayangkan Carli atau makhluk di dalamnya melahap jiwa mereka.
Sebelum aku menyadari orang-orang terpekik menatapku, Carli sudah berdiri di belakangku. Kuku-kuku panjangnya sempurna menyentuh leherku.
Aku ingin berteriak, tapi tertahan di kerongkongan. Pikiran kalutku seperti terkumpul mendadak. Seperti awan hitam pekat yang bahkan mengganggu pandangan.
Rasa sakit di sekujur tubuh menyusul setelahnya. Meskipun aku sudah tak merasakan tangan Carli yang siap mencekikku, pandanganku semakin hitam. Teriakan dan erangan bersahutan di telingaku.
Aku sudah tak merasakan kaki yang berpijak ke tanah, seperti berenang di udara kosong.
Beberapa detik setelah semua sensasi itu sempurna membuat tubuhku lemah, aku tersadar dan melihat pemandangan yang sebelumnya kulihat, wajah cemas orang-orang dan keluargaku.
Kakiku masih berpijak di tanah. Tubuh Carli tergeletak, entah apa yang terjadi.
Aku hendak memeluk ibu dan adik-adikku. Tapi yang terjadi kedua tanganku yang berkuku panjang berusaha merobek apa yang kulihat. Mulutku mengerang tak karuan.
"Aaa benar, aku sudah bukan pemilik diriku!" gumamku dalam hati.
Darah muncrat kemana-mana. Satu persatu orang yang biasa kulihat setiap harinya tergeletak dengan banyak luka.
Hingga tersisa ibu dan adik-adikku. Detik terakhir sebelum aku melayangkan cabikan, aku berhasil memejamkan mata. Air mataku menetes deras.
Sama seperti sebelumnya aku tak lagi merasakan pijakan kakiku di tanah. Bedanya tubuhku terasa ringan, bahkan aku merasa sedikit mengantuk. Itulah ingatan terakhirku sebelum merasakan bahwa keberadaanku perlahan menghilang.
***
Laki-laki remaja berdiri diatas tembok raksasa pelindung kota. Memandang kota terbengkalai di seberang sungai besar yang mulai dibangun ulang.
Tiga buldoser tampak sibuk menghancurkan bangunan-bangunan tua. Tak terlewat rumah-rumah kayu di pinggiran sungai.
Remaja itu menghela nafas, tersenyum tipis namun penuh arti, sambil menggumamkan sebuah nama.
"Ellen"