Sebelumnya, seorang pria yang bernama Hasbi Pradipta berpikir, bahwa ia bisa selalu memeluk erat seorang wanita yang dia nikahi dan yang pernah memberi kebahagiaan dalam hidupnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Hasbi yang dulu statusnya hanya seorang buruh bangunan, kini telah menjadi kepala bagian. Berkat dukungan dari istrinya, tak lama kemudian pria itu memberanikan diri untuk membuat perusahaan konstruksi sendiri.
Kini, perusahaannya semakin maju pesat. Namanya pun tak lagi asing dikalangan pembisnis terkenal. Karena kesuksesan tersebut berpihak kepada Hasbi, godaan terhadap dirinya pun semakin besar.
Malam itu, Hasbi yang merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang tengah terlelap tidur di ranjang mereka, ia memandangi wajah Agni Gayatri, istrinya. Pria itu lantas mengernyit sambil lalu sesekali menghela napas. Ia menyadari, kini istrinya semakin menua. Tubuh yang dulunya langsing, sekarang sudah berisi. Kulitnya pun tidak halus lagi.
Jika dibandingkan dengan sejumlah wanita cantik di sekelilingnya, Agni hanyalah seorang wanita desa yang biasa saja. Keberadaan istrinya itu mengingatkannya pada masa lalu yang begitu sederhana.
Hasbi kemudian berpikir, pernikahan ini sudah mencapai titik akhirnya. Tak menunggu lama, dia langsung mengambil ponselnya, lalu mentransfer uang senilai dua milliar ke rekening Agni supaya istrinya tersebut dapat hidup nyaman di pusat kota Jakarta. Hasbi bukanlah seorang pria yang tak berperasaan. Ia merasa kurang tenang jika tidak mengatur kehidupan Agni selanjutnya.
Esok harinya, Hasbi pada akhirnya mengutarakan niatnya untuk bercerai dari Agni. Tatapan wanita itu tampak begitu tenang ketika tengah duduk di hadapan suaminya. Agni juga tak menyanggah sepatah kata pun saat mendengarkan alasan perceraiannya.
Namun, mereka yang telah menikah hampir delapan tahun lamanya, Hasbi tahu betul tentang istrinya. Ia tahu bahwa tatapan tenang Agni, sebenarnya menyimpan rasa perih yang teramat dalam di hati.
Kemudian, hari yang telah ditentukan untuk berpisah pun tiba. Hari itu, sesuatu terjadi pada perusahaan Hasbi. Lantas, ia menghubungi Agni dan menyuruhnya agar menunggu di rumah sebentar. Hasbi menjanjikan kepada Agni bahwa siang hari sekembalinya dari kantor, dia akan membantu Agni untuk mengemasi barang-barangnya sebelum menempati rumah baru yang telah dibelinya untuk Agni. Dan delapan tahun pernikahan mereka berakhir sampai di sini.
Sepanjang pagi saat Hasbi berada di kantor, sebenarnya hatinya sangat gelisah. Oleh sebab itu, ia bertekad harus cepat menyelesaikan pekerjaannya. Lima jam setelah dipastikan urusan pekerjaannya selesai, ia segera kembali ke rumah pada siang hari sesuai janjinya kepada Agni. Akan tetapi, apartemen mewah itu tampak sepi. Agni ternyata telah pergi. Di atas meja makan, Hasbi mendapati kunci rumah yang ia belikan untuk Agni, surat perceraian yang sudah Agni tanda tangani, buku tabungan yang nilainya dua milliar, dan sepucuk surat yang ditulis oleh Agni untuk dirinya.
Ini adalah surat pertama yang ditulis Agni untuk Hasbi. Dengan tak sabar, Hasbi membuka surat itu dan membacanya.
‘Mas Hasbi, surat perceraian kita sudah kutandatangani sebelum Mas Hasbi menandatanganinya terlebih dulu. Dan ketika Mas Hasbi membaca surat ini, aku sudah pergi, kembali ke kampung asalku yaitu ke rumah orang tuaku. Semua baju-baju Mas Hasbi sudah kusetrika dan tertata rapi di lemari. Selimut tebal yang biasa Mas Hasbi pakai, juga sudah kucuci, dan sudah dijemur. Aku menaruh selimut itu di dalam lemari bagian rak bawah. Saat musim hujan tiba, jangan lupa mengeluarkannya karena udara semakin dingin.
Semua sepatu untuk pergi ke kantor sudah kusemir. Sepatu-sepatu olahraga dan santai pun, juga sudah kutata rapi di rak sepatu. Kemeja dan jas di lemari bagian atas, kaos kaki, serta ikat pinggang di laci bawah. Oya, saat beli beras, belilah dengan merek punel di toko milik Abah Hong.
Setiap hari sabtu, Bibi Sarah akan datang untuk bersih-bersih. Jangan lupa memberikan gajinya setiap akhir bulan.
Lalu, jika ada baju yang sudah tak terpakai, berikanlah kepada Bibi Sarah agar mengirimkannya ke kampung halamannya. Keluarganya pasti sangat senang dengan baju-baju itu. Tapi yang terpenting adalah, setelah aku pergi jangan lupa minum obat. Lambung Mas Hasbi kurang sehat. Aku sudah menyuruh orang membelikan Mas Hasbi obat lambung yang terbaik. Dan seharusnya obat itu cukup untuk enam bulan ke depan.
Sedangkan kunci apartemen, aku menitipkannya kepada receptionist karena Mas Hasbi selalu lupa membawa kunci saat ke luar apartemen. Dan yang terakhir, aku sudah memasak makanan kesukaan Mas Hasbi, sambal goreng kentang ati. Saat tiba di rumah, cepatlah makan. Jangan sampai telat makan.’
Setiap huruf yang ditulis Agni sangat tidak rapi. Namun, setiap katanya bagaikan peluru yang menusuk secara bertubi-tubi sampai ke ulu hatinya. Pandangannya yang tertuju pada makanan kesukaannya di atas meja, tiba-tiba mengingatkan Hasbi delapan tahun lalu—dia berdiri di antara tumpukan semen.
Tidak jauh dari tumpukan semen tersebut, terdengar suara merdu yang berteriak memanggil namanya sambil membawakan rantang, berisikan nasi dan sambal goreng kentang ati. Hal itu mengingatkannya akan suara yang membawa kebahagiaan. Mengingatkannya akan rasa puas setelah memakan masakan istrinya, juga mengingatkannya akan masa di mana Hasbi mengucapkan sumpah, “aku akan membuat istriku bahagia.”
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Hasbi berbalik untuk ke luar dari apartemennya, menuruni lift dengan tak sabaran menuju parkiran mobil, dan segera melajukan mobilnya setelah sebelumnya dia masuk terlebih dahulu.
Selang empat puluh lima menit berlalu, akhirnya Hasbi sampai ke stasiun kereta. Matanya menajam saat berlarian ke sana ke mari untuk mencari Agni. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang tatkala mendapati Agni hendak masuk ke kereta menuju kampung halamannya.
Sebelum Hasbi kehilangan sosok wanita yang telah menemani dalam suka dan dukanya selama ini, ia harus menghentikan kepergian Agni. Dengan nada yang tinggi, Hasbi berkata, “Kamu mau ke mana? Aku begitu lelah bekerja setengah hari ini. Aku juga sudah sangat lapar. Tidak ada nasi di rumah. Istri macam apa kamu membiarkan suaminya kelaparan? Keterlaluan. Ayo, kita pulang!”
Agni yang terdiam dan sudah berlinang air mata, ia mengikuti suaminya dari belakang untuk kembali pulang ke kediaman mereka. Perlahan-lahan, air matanya menjadi bunga mekar.
Akan tetapi, Agni tidak mengetahui bahwa Hasbi yang berjalan di depannya juga sedang menangis. Ketika perjalanan dari apartemen menuju stasiun kereta, ia sangat ketakutan—takut tidak menemukan istrinya lagi.
Lantas, Hasbi merutuki kebodohannya. Begitu bodoh hendak mengusir istri sendiri. Ternyata kehilangan istri yang baik hatinya, sama saja seperti kehilangan tulang rusuk, begitu sakit. Istri yang baik akan menemani suaminya hingga sukses dan kaya raya. Namun, setelah sukses, janganlah berpaling dari sosok istri yang sepenuhnya mendukung suami, serta janganlah menganggapnya tidak lagi berguna.
Dari pengalaman itulah, hubungan Hasbi dan Agni semakin erat setiap harinya. Suara derai hujan kini melebur dalam kehangatan kebersamaan mereka, serta calon putra yang kini tengah bermukim di rahim Agni.
-T A M A T-
Disarankan sambil mendengarkan lagu Ost. Anna & The king - How Can I Not Love You.