Selena, begitu orang-orang memanggilnya. Selena berati bulan, bulan selalu bersinar dikala malam. Namun, apakah orang-orang membutuhkan rembulan jikalau matahari ada untuk beraksi?
Ia duduk termenung menatap hamparan ombak laut yang menabrak dinding karang. Membawa hawa dingin air laut ke tepi pantai. Lembayung cahaya jingga mengisi kehampaan angkasa yang ditinggal pergi sang mentari.
Barisan pasir pantai yang bertaburan di bibir pantai, terpantul berkilau dimakan buih-buih ombak. Jeritan para anak-anak yang saling berkejaran membentuk rentetan bayangan yang selaras dengan pasir pantai.
Tergeletak album foto di pangkuannya, berisi foto-foto jadul yang ditinggal pergi sang pemilik. Senyum sendu air muka membuat suasana menjadi kalbu.
"Mah, Pah." Lirihnya menyapa angin-angin yang menerbangkan para makhluk bersayap mendekati ujung laut.
"Tugas Saya sebagai Kakak sudah selesai, mereka menerima Hemera dengan penuh tangan terbuka." Ombak-ombak itu saling berkejaran menghibur Selena yang termenung sendirian.
"Mah Pah, katanya Selena tidak pantas bernapas disini. Jadi bisakah Selena ikut kalian." Ia tersenyum tipis menggegam erat album foto yang ada di pangkuannya.
Dirinya gelap tanpa penerangan, dingin tanpa penghangat, dan sepi tiada berpenghuni. Arah jalannya berantakan, tidak ada penghantar yang menuntunnya berjalan dikala gelap.
Selena merapikan rambutnya yang bertebaran diterpa angin laut. Ia lupa membawa ikat rambut yang biasa dijadikannya gelang.
"Pakek punya Saya." Seorang pemuda duduk disampingnya memberikan gelang ikatan rambut.
Selena mengambilnya, menata rambutnya dan mengikatnya rapi.
"Sendirian? menyendiri? menunggu seseorang." Suara berat terdengar dari sampingnya. Mereka sama-sama duduk memandang langit yang sama.
Pikiran yang terbentang tak ada ujungnya, membawa kedua insan ini berlayar menepi untuk berhenti. Mengambil napas untuk beristirahat meninggalkan beban yang ada menekan pundak melepasnya berenang bersama buih-buih ombak menjadi air laut.
"Sendirian, menyendiri, menunggu sang Thanatos menjemput dengan kedamaian." Selena mengangkat kedua alisnya menghirup udara air laut yang menyegarkan.
Pemuda itu tidak terkejut dengan jawaban Selena, itu malah membuatnya tersenyum.
"Thanatos tidak ditunggu manusia, Ia yang menunggu." Jelasnya.
"Hidup begitu sulit, Kita selalu berakhir dengan harapan. Manusia selalu diberi pilihan tetapi kenyataannya menunggu dipilih." Selena menutup album foto yang sedari tadi Ia buka, memasukannya ke dalam tas.
Tangannya mengambil sebuah kamera. Membidik beberapa panorama. Termasuk panorama pemuda yang ada di sampingnya. Bulu matanya yang lentik membuatnya terpaku.
"Dan Aku salah satu yang kau pilih untuk kau foto?" Sebuah gaya peace dengan senyum hangat Ia berikan didepan kamera Selena.
Deburan ombak masih beriuh ruah dengan air laut. Dua insan itu hanya saling diam menatap cakrawala jingga yang terbentang memenuhi ujung laut. Diam membisu bergelayut dengan pikirannya masing-masing.
"Pacar Saya meninggalkan Saya pergi jauh." Sahut pemuda itu setelah beberapa saat terdiam. Bola matanya mengatakan kalau itu adalah perpisahan yang membuatnya terpuruk.
"Kenapa Anda mengatakannya kepada Saya?"
"Karena Kita adalah dua orang asing yang berputus asa dan Kita mungkin tidak akan bertemu lagi."
Mereka berdua bersitatap mencari jawaban atas pikiran mereka masing-masing.
"Ya Anda benar."
"Tapi itu juga sudah lama sekali, Saya bisa hidup tanpa Dia hanya saja cerita tentang Kita tidak bisa pergi jauh." Hembusan napas pelan keluar dari pemuda itu. Raut mukanya mengatakan Ia sudah selesai dengan cerita itu, namun cerita mereka tetap akan terbingkai rapi di memorinya.
Selena mengangguk paham, Ia kembali teringat dengan alasannya kemari. Pertikaiannya antara saudara, Hemera selalu merebut apa yang Ia punya. Termasuk merebut orang yang Ia sayangi.
Perasaan yang sudah Ia tanam kuat dihatinya terhanyut lepas begitu saja. Mengalah adalah kebiasaan yang Ia lakukan. Membiarkan hasrat yang diinginkan adiknya terpenuhi. Membuang cinta yang sudah Ia tata baik-baik untuk sang kekasih.
"Saya mau pergi jauh, ku harap Thanatos segera membawa Saya." Mereka saling berbagi senyum hangat, duka dan tawa terdengar di tepi pantai sore itu.
Membawa kedua insan ini melebur mengadu nasib yang sama. Menertawakan diri sendiri yang kalah menghadapi sang pembuat garis takdir. Bertukar rasa sakit yang paling dalam, melepas ikatan sesak yang menjalar.
Percikan rasa asmara mulai menyulut relung hati. Debaran halus mulai terasa tatkala salah satu melihat senyum manis yang terbit di bibir itu. Menghapus rasa sesak yang sebelumnya membelenggu dada. Senyum hangat itu membuat hatinya nyaman dan hangat.
Gelap petang mulai terbentang, menampakkan bintang terang yang tergantung di langit barat laut. Dendangan musik orkestra terdengar di bibir pantai. Lampu-lampu temaram yang menyala di tenda-tenda cafe, Menambah relungan hati yang terpendam meraung-raung untuk dimuntahkan.
Cerita yang semakin seru membuat keduanya lupa waktu. Selena yang lupa akan Thanatosnya dan pemuda itu yang lupa akan cerita rasa sakitnya.
"Apakah Kamu masih menunggu Thanatos menjemputmu?" pemuda itu menatap dalam mata Selena, jari-jarinya bergerak menyelipkan anak rambut yang berterbangan ke belakang daun telinga Selena.
Yang ditatap mematung, mata keduanya terkunci. Selena yang sadar lalu memalingkan pandangannya menuju pantai. Pemuda itu tertawa renyah. Suara tawa itu tertangkap jelas di telinga Selena. Pipinya samar-samar merona.
"Thanatos akan tetap menjemput ku." Selena berdehem menjawab sang pemuda.
"Hmm mengapa tidak menunggu Thanatos menjemputmu sambil menatap bintang yang bersanding dengan bulan di langit?"
Selena menatap laki-laki yang disampingnya ini dengan mengkerut kan kedua alisnya. Apa hubungan dirinya dengan para bintang?
Astraios tersenyum menatap Selena seperti itu. Ekspresi itu menurutnya sangat lucu senyuman dengan wajah polos dan dahi berpikir dengan kedua alis menyatu.
"Panggil Saya Ios." Jelasnya, Ia berdiri mengulurkan tangannya ke depan Selena yang masih duduk. Selena memiringkan kepalanya meraih tangan itu ragu dan mengikuti Ios.
"Seperti bulan yang hanya bersinar dikala malam yang gelap, bintang akan selalu bersinar bersanding dengan bulan menunggu sang Helios menampakkan diri dari persembunyiannya." Senyum Selena tidak dapat disembunyikan mendengat rentetan aksara romantis yang keluar dari bibir tebal itu.
"Bulan dan Bintang akan tetap bersinar bersama, semua orang akan selalu menunggu kedatangan mereka. Walaupun ada matahari yang beraksi dikala siang, tetapi ada remang terang yang membawa kedamaian dikala malam."
Keduanya berjalan beriringan, kedua tangan yang terpaut dan jari-jari erat yang saling menggenggam. Membawa mereka saling menuntun berjalan menuju tuju yang ditempuh. Menyeret cerita yang membawa rasa, rasa yang bisa jadi nyata, bisa jadi luar biasa.
Niat putus asa yang tadinya terlilit kuat sekarang mengendur membentuk jalinan kasih yang terpaut. Pertemuan yang tidak sengaja itu membawa mereka berdua berikrar sumpah setia hingga nyawa yang memisahkan. Berbagi napas di atap yang sama.
Untaikan kisah yang terajut berbelit-belit menyisakan harmoni indah di hari tua. Menyuarakan harap yang dilangitkan agar tetap bersama. Berharap sang semesta memberi restu.
Terukir senyum merekah di bawah langit biru, saling bersandar menempati tempat paling nyaman. Menautkan jari-jari mereka yang tersemat cincin di jari manisnya. Jiwa ini sudah menjadi satu kesatuan.
Astraios mengangkat tangan Selena. Kecupan singkat di telapak tangan Selena, membuat Selena merona. Rona yang merembet di pipi Selena membuat Astraios tersenyum hangat.
"Aku mencintaimu Selena."
Tidak ada yang namanya kebetulan, jalan untuk menuju akhir takdir yang tertulis sangatlah beragam. Bunga dandelion akan selalu terbang dan berakhir di tempat yang tepat untuk kembali mekar.