Ada legenda yang mengatakan, bahwa di zaman dahulu, di tahun 1800-an pernah hidup seorang pembunuh berantai paling kejam sepanjang sejarah peradaban manusia.
Nama pembunuh itu adalah Jack the Ripper dan identitas serta penampilannya tak pernah terungkap hingga saat ini.
Pembunuh berantai terkejam itu tak pernah ditemukan, tetapi ada beberapa pembunuhan kejam yang seolah memberitahu kalau keberadaan Jack the Ripper itu benar-benar ada dan terlibat dalam pembunuhan kejam itu.
Dan kini, seorang pria yang mengaku sebagai seorang detektif mendapatkan sebuah surat yang menyatakan bahwa legenda itu benar-benar ada dan Jack the Ripper benar adanya dan ia membunuh orang-orang di balik layar.
“Aku masih belum percaya, Jack the Ripper itu benar-benar ada? Pasti bohong...” detektif itu menggaruk kepalanya. Ia kemudian melirik surat yang ia letakkan di kursi sebelahnya sambil bergumam, “Kalau benar bagaimana? Apakah aku akan mendapatkan hadiah?”
Di masa lalu, kepolisian Inggris dibuat pusing oleh berbagai pembunuhan kejam berantai yang tidak diketahui siapa pelakunya.
Karena rata-rata korban pembunuhan tewas dengan kondisi tubuh tercabik, si pelaku pun dipanggil Jack the Ripper. Alasan kenapa Jack dipakai itu tidak diketahui.
Detektif itu melajukan mobilnya menuju hutan lebat dimana hutan lebat itu adalah alamat pengirim surat misterius yang ia terima beberapa hari lalu.
“Sudah isi suratnya yang tidak masuk akal, sekarang alamat pengirimnya pun amat tidak masuk akal. Hutan? Pasti pengirimnya berniat mempermainkanku...” detektif itu menghela napasnya.
Matahari mulai bergerak ke arah barat ketika detektif itu sampai di tengah-tengah hutan, dimana sebuah rumah besar berdiri.
Penampilan rumah itu terlihat amat klasik, menunjukkan bahwa rumah itu sudah berdiri sebelum detektif itu lahir, mungkin saja sebelum kakek dari ayahnya lahir.
“Hah? Apakah pengirim surat ini bercanda? Rumah ini terlihat sudah ditinggalkan sejak sebelum Perang Dunia pertama terjadi...” detektif itu mengeluarkan ranselnya yang berisi senter, makanan, buku, minuman, alat tulis, dan pistol untuk membela diri, “Kalau salah artinya aku sudah membuang lebih dari dua Poundsterlingku yang berharga...”
Ia memasuki rumah itu dengan senter yang sudah tergenggam di tangan kanannya, dengan tangan kirinya yang memegang surat itu.
Rumah itu memang memiliki penampilan klasik dan beberapa bagiannya sudah ada yang rapuh, ditambah dengan suasana hutan yang gelap membuat rumah itu terlihat menyeramkan.
Detektif itu sedikit bergetar saat melihat rumah itu, tetapi demi uang untuk mengembalikan lebih dari satu Poundsterlingnya yang hilang karena pergi ke hutan yang berada di pedalaman Inggris, ia pun memaksakan dirinya untuk mengetuk pintu.
Baru mengetuk sekali, pintu rumah sudah roboh dan itu saja sudah cukup membuat jantung detektif itu hampir copot.
Suasana di dalam rumah lebih, lebih, lebih seram dibandingkan di luarnya. Barang-barang kuno yang pastinya dulu terlihat mewah, lantai yang sudah pecah-pecah di beberapa bagiannya, rak yang dipenuhi oleh buku yang sudah berdebu, serta pencahayaan yang tidak ada sama sekali membuat suasana semakin seram.
Detektif itu menelan ludahnya dan berteriak, “Halo, apakah ada orang?”
Setelah detektif itu berteriak menanyakan keberadaan orang-orang, satu buku jatuh dan sekali lagi detektif itu dibuat terkejut oleh benda yang jatuh.
Setiap benda yang ada di lokasi kejadian adalah barang bukti, jadi detektif itu mendekati buku itu dan mengeluarkan sarung tangannya.
Ia membersihkan debu yang menempel di sampul buku itu dan terlihatlah judul buku itu benar-benar membuat detektif itu terkejut bukan main.
Lima rakyat biasa dan Jack the Ripper, itulah judul buku itu.
“Jack... The... Ripper?” detektif itu amat terkejut, sebelum ia merasakan pusing yang teramat sangat setelah ia berpikir yang aneh-aneh tentang buku itu.
Belum ada membaca halaman pertama buku itu, ia menjatuhkannya dan ia jatuh terbaring di atas lantai berdebu rumah itu.
Untuk selanjutnya, ia dibawa ke kisah di dalam buku itu, buku yang menyimpan tentang rahasia kehidupan gelap sang pembunuh berantai terkejam sepanjang sejarah peradaban manusia.
***
Seorang pria dengan pakaian kusut berwarna hitam menatap ke rumah besar yang terlihat bercahaya di depannya sambil meletakkan kedua tangannya, “Jadi, inikah kediaman Nyonya Weissman?”
Nyonya Weissman adalah seorang bangsawan ternama di Inggris di masa lalu yang memegang nama suaminya yang meninggal karena pengkhianatan rekannya sendiri.
Seluruh kekayaan suaminya jatuh ke tangannya dan hobinya adalah membagi-bagikan hartanya kepada para rakyat biasa yang membutuhkan.
Tetapi hanya sedikit orang yang mengetahui cara apa yang diperlukan agar rakyat biasa bisa menerima sedikit hartanya.
Dan kini, pria itu yang dulunya bekerja sebagai seorang detektif palsu mencoba untuk mencari tahu cara apa yang diperlukan agar orang-orang bisa menerima sedikit hartanya.
“Ada urusan apa kau kemari?” tanya seorang pelayan yang memiliki wajah garang.
Kita akan memanggil pria detektif palsu ini dengan panggilan Detektif saja. Detektif menggaruk kepalanya dan berkata, “Aku mendengar kalau Nyonya Weissman akan membagikan hartanya hari ini, jadi aku ingin datang untuk meminta sedikit hartanya agar aku bisa memakainya membayar hutangku pada Tuan Barelle...”
Yah, Detektif memakai nama Tuan Barelle karena orang itu adalah seorang bangsawan yang senang meminjamkan hartanya untuk selanjutnya ia minta kembaliannya.
“Ah, kebetulan Nyonya sedang menerima tiga orang lainnya. Beliau akan menyiapkan permainannya setelah satu orang datang lagi...” pelayan itu berkata dan tak lama, ia melihat seorang pria kurus datang dengan wajah super tirus, “Baru juga disebut, sudah datang satu peserta lagi...”
Pelayan itu menghampiri pria kurus itu dan berbicara sebentar sebelum ia membawa pria itu masuk ke rumah bersama Detektif.
***
“Ya, kalian adalah lima orang selanjutnya yang akan menerima sedikit hartaku...” wanita bertubuh besar dengan wajah yang memakai riasan tebal berkata sambil melipat tangannya, “Dan untuk mendapatkannya, kalian harus melakukan sesuatu.”
Wanita bertubuh besar itu adalah Nyonya Weissman, pemilik rumah itu sekaligus orang yang mengadakan pembagian harta itu.
Ada lima orang yang duduk di depan meja besar yang diatasnya terdapat berbagai makanan yang mengeluarkan aroma yang amat sedap.
Si pria kurus tadi memakan banyak sekali makanan, hingga Detektif hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Yah, sepertinya rekan kita sedang kelaparan, tetapi kita tidak akan berlama-lama. Aku akan memulainya dengan perkenalan pekerjaan kalian sebelumnya...” Nyonya Weissman tersenyum lebar, membuatnya tidak terlihat lebih cantik, “Mulai dari si perempuan berkacamata itu...”
“Emm, aku adalah seorang dokter yang kehilangan pekerjaanku...” perempuan itu mengenalkan diri.
“Kita akan memanggilnya dengan nama Dokter.” Nyonya Weissman tersenyum tipis, “Selanjutnya...”
“Aku adalah tukang kebun yang diusir dari kediaman tuanku karena aku tak sengaja memecahkan pot berharganya...” seorang pria dengan janggut tipis dan memakai topi jerami lebar berkata.
“Kita memanggilnya dengan nama Tukang Kebun.”
Detektif menyimpulkan, Nyonya Weissman meminta lima orang yang akan meminta hartanya mengenalkan pekerjaan terdahulu mereka karena ingin tahu alasan lima orang itu mengapa mereka meminta harta padanya. Alasan lain mungkin karena ingin menyembunyikan identitas masing-masing orang, Detektif tidak tahu detailnya.
“Aku adalah pengangguran yang ingin mencari uang untuk pengobatan nenekku...” seorang pria yang memakai pakaian yang robek di sana-sini berkata, “Aku ini orang yang sering beruntung loh...”
“Kita panggil dia dengan Pengangguran.”
“Aku adalah seorang detektif yang berhutang pada Tuan Barelle...” Detektif mengenalkan dirinya dan Nyonya Weissman memanggilnya dengan panggilan Detektif.
“Akwu adwalah seworang penganggwuran ywang swedikit bweruntwung...” dengan mulut yang masih terisi penuh, pria kurus itu berkata. (Aku adalah seorang pengangguran yang sedikit beruntung...)
“Kita panggil dia dengan Pria Beruntung.”
“Karena kita sudah saling kenal dengan nama panggilan masing-masing, maka ini adalah saatnya kalian mengenal siapa musuh kalian...” Nyonya Weissman mengangkat tangannya, “Silahkan masuk, Pencabik...”
Seorang pria bertubuh tinggi jangkung masuk ke ruang makan dan ia memakai jas berwarna hitam panjang hingga lututnya yang terbuka, menampilkan pakaiannya di dalamnya yang lumayan rapi.
Tetapi sayangnya, dibalik penampilannya yang lumayan rapi, di sabuknya tersarung beberapa pisau kecil.
Mata Detektif melebar, terlebih saat ia dan empat orang lainnya mendengar nama pria jangkung itu.
“Perkenalkan, namaku adalah Jack dan aku biasa dijuluki Jack the Ripper...”
***
Mereka berlima dipindahkan ke sebuah reruntuhan sebuah kediaman tua yang ada di sisi lain hutan itu. Mereka dipindahkan melalui gua kecil di bawah rumah besar Nyonya Weissman menuju tujuan mereka.
Sebelum dipindahkan, Nyonya Weissman menjelaskan sebuah peraturan permainan yang akan dilalui oleh lima orang itu untuk bisa menerima sedikit harta Nyonya Weissman.
Peraturannya sederhana, mereka berlima dipaksa menyelamatkan diri dari kejaran Jack the Ripper yang akan memburu mereka kemudian menghabisi siapapun yang ditemuinya.
Mereka harus berhasil lolos dari reruntuhan itu selama seminggu, lebih cepat lebih baik.
“Mendengarnya saja sudah membuatku merinding...” Dokter memeluk dirinya sendiri, “Apakah kita bisa lolos dari kejaran pembunuh itu?”
“Harusnya sih bisa, kita belum mencobanya...” Detektif menggelengkan kepalanya, merasa kalau keputusannya mencoba mencari tahu tentang rahasia dibalik pembagian hrta oleh Nyonya Weissman itu adalah salah.
“Kau benar...” Pengangguran melirik ke sampingnya, “Tapi aku masih penasaran, terowongan ini akan tembus sampai mana?”
“Entahlah...” Pria Beruntung bersiul kecil, “Sepertinya keberuntunganku kali ini tidak akan berlangsung lagi...”
Mereka berlima terus berjalan hingga mereka akhirnya berhenti karena di depan mereka, jalan terbelah menjadi lima.
“Eh?” Mereka berlima terdiam saat melihat lima jalan itu.
“Berpencar saja...” Pengangguran memisahkan diri dan berjalan ke ujung kiri seorang diri.
Mereka saling tatap sebelum pergi arah yang berbeda-beda, menuju arena pertarungan yang menentukan kehidupan mereka selanjutnya.
***
Detektif berjalan naik dan melihat kalau ia berada di dalam sebuah rumah yang tidak memiliki jendela kaca. Ia pun berjalan menuju lubang tempat seharusnya sebuah jendela kaca diletakkan.
“Hmm, sepertinya aku harus berkeliling dulu...” Detektif mengelus dagunya, “Setidaknya perlu waktu agar aku bisa menguasai daerah ini sembari aku kabur dari kejaran Jack the Ripper.”
Sejujurnya Detektif tidak percaya dengan keberadaan Jack the Ripper, tetapi melihat Pengangguran sedikit takut saat melihat pria jangkung bertopi tinggi dengan jas hitam sepanjang lutut, Detektif harus mempercayai kalau saat ini ia terlibat dalam permainan yang lumayan mematikan.
“Permainan ini bukan hanya syarat bagi kami, melainkan ujian apakah kami bisa mempertahankan nyawa kami di era yang keras ini...” begitulah kesimpulan yang bisa Detektif tarik dari semua hal yang sudah terjadi.
Ia melompati lubang kemudian berlari menyusuri lapangan luas ditumbuhi oleh rumput-rumput yang tingginya selutut.
Karena hari masih siang, Detektif bisa melihat sekitarnya dengan mudah. Alasan lain kenapa ia ingin berkeliling adalah untuk mencari empat orang lainnya untuk diajak bekerjasama.
Menurutnya, bekerja sendiri-sendiri melawan Jack the Ripper itu adalah hal tergila yang pernah ada di dunia karena untuk melawan Jack the Ripper, diperlukan kemampuan yang lebih tinggi dari pria itu.
Perkiraan Detektif, Jack the Ripper memiliki pengetahuan anatomi tubuh manusia dan kelincahan yang lumayan tinggi karena bisa dibilang, Jack the Ripper adalah buronan nomor satu di Inggris saat ini dan ia berhasil lolos hingga rumah ini.
Yang masih menjadi pertanyaannya, kenapa Nyonya Weissman tidak melaporkan Jack the Ripper ke polisi, melainkan mengajaknya bergabung dalam permainannya?
Detektif menggelengkan kepalanya, untuk saat ini ia harus fokus ke permainannya karena ia berhasil bertemu dengan Dokter.
“Detektif?” Dokter menunjuk Detektif dan yang ditunjuk mengangguk. Dokter menghembuskan ilega lalu berkata, “Kurasa permainannya sudah dimulai...”
Mereka bergerak lagi, berkeliling arena sembari membicarakan tentang cara mereka lolos dari Jack the Ripper si pembunuh berantai itu.
***
Hari mulai gelap saat keduanya berhasil bertemu dengan Tukang Kebun yang juga memikirkan cara yang sama dengan mereka.
“Menurutku, akan lebih baik kalau kita berkumpul dulu untuk memikirkan caranya...” Tukang Kebun menunjuk suatu arah, “Setidaknya tadi aku tak sengaja melihat pria topi tinggi yang disebut Jack the Ripper sedang melakukan sesuatu yang cukup mengerikan...”
Sembari bercerita, Tukang Kebun menutup mulutnya, terlihat menahan mualnya akibat ia menceritakan apa yang ia lihat.
“Oke, dari ceritamu kita sudah tahu kalau pria jangkung topi tinggi itu adalah Jack the Ripper yang asli...” Detektif melirik ke belakangnya, “Untuk selanjutnya, kita harus memikirkan cara untuk pergi menuju pintu keluar reruntuhan ini...”
Dokter dan Tukang Kebun mengangguk. Detektif mengangguk dan ia berkata, “Aku punya sedikit rencana untuk menemukan Pengangguran dan Pria Beruntung...”
***
Hari sudah benar-benar malam saat ketiganya berjalan keluar dari satu bangunan kemudian berlari bersamaan menuju arah yang ditunjukkan oleh Tukang Kebun.
Reruntuhan itu hanya diterangi oleh cahaya dari lentera yang jarak jangkau cahayanya lumayan pendek, tetapi itu saja sudah cukup untuk ketiganya berlari di kegelapan malam.
“Halo, tikus-tikus kecil, mau pergi kemana kalian?” secara tiba-tiba, dari atas turun seorang pria berjas hitam panjang dengan topi tinggi serta topeng yang terlihat menyeramkan di mata ketiganya. Satu lagi yang membuat pria itu terlihat menyeramkan adalah pisau yang ia pegang diselimuti oleh darah berwarna merah.
“Sial...” Detektif menarik pistolnya dan mengarahkannya ke pria itu, tetapi entah kenapa ia tidak bisa melakukannya.
“Lari!” Dokter dan Tukang Kebun sudah lebih dulu lari bahkan sebelum Detektif memintanya.
Detektif tak memiliki pilihan lain selain menyimpan pistolnya lagi dan berbalik kemudian berlari secepat mungkin, menjauhi pria berjas hitam panjang itu.
“Mereka kenapa? Aku hanya memegang pisau dapur saja, apa itu terlihat menyeramkan?” pria itu mengangkat pisaunya, “Eh iya, ada darah...”
***
Ketiganya berhenti di dekat sebuah tong besar sambil mengatur napas mereka yang memburu akibat berlari menyusuri reruntuhan itu.
“Apa-apaan Jack the Ripper itu?! Kenapa dia bisa muncul dari atas dan mengejutkan kita?!” Tukang Kebun berteriak keras.
“Sstt, kecilkan suaramu, Jack the Ripper bisa menemukan kita...” Dokter menyuruh Tukang Kebun mengecilkan suaranya, tetapi suaranya juga keras dan bisa didengar dari jarak jauh juga.
“Eh, ada tiga orang lainnya, kukira sudah mati...” seorang pria bertubuh kurus muncul dan membuat jantung ketiganya hampir copot kalau saja mereka tidak melihat orang itu
“Pria Beruntung!” ketiganya berseru.
“Yo...” seorang pria berjas panjang hitam bertopi tinggi berjongkok di atas sebuah lampu jalan.
Saat keempatnya melihat ke atas, mereka terkejut dan berlari lagi, menjauhi lampu jalan itu.
***
“Hah...” keempatnya berlari ke sebuah bangunan besar dan langsung saja, Pria Beruntung menghajar Detektif, Dokter, dan Tukang Kebun bergantian hingga ketiganya jatuh terduduk.
“Apakah kalian bodoh? Apa kalian tidak tahu kemampuan Jack the Ripper?” Pria Beruntung membentak ketiganya.
Ketiganya menggeleng dan Detektif berdiri dan bertanya, “Memangnya kau tahu?”
“Aku tidak tahu pastinya, tetapi aku mengira-ngira, kalau kemampuan uniknya adalah kelima inderanya amatlah tajam...” Pria Beruntung berkata, “Aku bisa bertemu dengan kalian karena kelima inderaku yang sedikit terlatih...”
“Oke, sekarang, apakah kau memiliki suatu informasi?” tanya Detektif.
“Aku menemukan sebuah gerbang besar di dekat pohon besar. Aku menduga kalau gerbang itu adalah pintu keluar reruntuhan ini...” Pria Beruntung berkata, “Tapi saat aku berniat menyelidiki lebih jauh, Jack the Ripper datang dan mengejarku...”
“Sial sekali nasibmu, Pria Beruntung...” Tukang Kebun menepuk punggung Pria Beruntung.
“Hih, mananya Pria Beruntung? Beruntung tapi kenapa dikejar Jack the Ripper?” Dokter menggelengkan kepalanya.
“Itu saja sudah cukup...” Detektif berdiri dan melihat ke luar bangunan, “Seharusnya dalam situasi gelap begini Jack the Ripper tidak bisa menemukan kita...”
“Hei, apa kau tidak tahu kisah Jack the Ripper?” Pria Beruntung bergetar, “Dia itu dikenal menghabisi korbannya saat tengah malam, jadi dalam kegelapan malam yang diterangi oleh lentera begini, ia bisa menemukan kita dalam waktu singkat...”
“Apa kalian berpikir kalau kalian bisa lolos dariku meskipun malam hari sekalipun?” suara berat seorang pria terdengar dan saat itulah, keempatnya langsung melompati jendela dan berlari menuju pohon besar yang dimaksud Pria Beruntung.
***
Tanpa sadar, kejar-kejaran seperti itu terjadi selama seharian penuh, hingga bulan memilih bersembunyi dan matahari terbit, tetapi suasana hutan masih saja gelap.
“Yah, tidak mudah untuk menemukan pohon besar yang dimaksud...” Detektif menyeka keringatnya yang mengucur hingga membasahi seluruh mukanya, “Kita dikejar-kejar Jack the Ripper selama semalaman penuh...”
“Yah, karena kalian bersamaku jadi kalian tidak dibunuh...” Pria Beruntung meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, “Jadi kalian harus berterima kasih padaku!”
Pria Beruntung tertawa lepas dan tak lama, suara tawa yang amat nyaring terdengar dan saat itulah, seorang pria berjas panjang hitam bertopi tinggi dengan topeng di wajahnya mendarat dan menarik dua pisaunya.
“Halo, tikus kecil...” pria itu mengetukkan pisaunya di topengnya, “Sudah selesai kaburnya?”
Detektif maju sambil mengeluarkan pistolnya, “Kalian segera keluar, biar aku yang menahan Jack the Ripper...”
Pria itu tersenyum lebar, “Hohoho, kupuji keberanianmu...”
Detektif mengangkat pistolnya dan menembakkan peluru yang melesat cepat dan Jack the Ripper menghindarinya kemudian maju.
Mata Detektif melebar saat melihat kecepatan Jack the Ripper yang terlalu cepat untuk ukuran manusia, tetapi ia lebih merasa aneh dengan kemampuannya menghindari peluru yang ia tembakkan.
Tidak ada manusia yang bisa menghindari tembakan peluru, bahkan penjahat terlincah sekalipun tidak akan lolos dari tembakan peluru, tetapi Jack the Ripper? Ia menghindarinya dengan mudah seolah peluru itu adalah bola kriket.
Detektif membidik dan menembakkan tiga peluru bergantian dan Jack the Ripper menghindarinya dengan berpindah berkali-kali.
“Sial, lincah sekali dia!” Pria Beruntung berseru, “Semangat, Detektif!”
“Bodoh! Kabur dari sini! Cepat!” Detektif berseru tanpa berbalik, “Aku mungkin tidak akan bisa menahannya lebih lama!”
Jack the Ripper berhenti kemudian menggerakkan tangan kanannya ke dalam jas hitamnya kemudian menarik tangannya lagi. Sebuah cakar besar terpasang di tangannya dan Jack the Ripper mengikatnya dengan sabuk yang terpasang di cakar besar itu.
“Apa-apaan itu?” Detektif terkejut sebelum ia menyadari kalau pembunuh itu berbalik.
“Sudahlah, membunuh kalian sebenarnya tidak memberikanku apapun...” Jack the Ripper mengangkat tangannya yang memakai cakar besar, “Tapi bohong...”
Ia berbalik lagi dan maju, membuat Detektif terkejut dan ia melompat mundur, tetapi jarak jangkau cakar besar itu teramat luas, hingga cakar itu mengenai perutnya sedikit.
Perutnya langsung terluka lebar akibat cakaran Jack the Ripper dan Detektif bergerak mundur.
“Hei, aku sudah berhasil menyelesaikan bagianku!” Tukang Kebun berseru sebelum ia membuka gerbang dan berlari keluar.
“Satu orang!” suara teriakan entah darimana terdengar dan membuat mata Jack the Ripper melebar di balik topengnya.
Dokter berlari mendekati Detektif dan membantunya berdiri sementara Pria Beruntung mengambil batu yang ia kumpulkan sebelumnya dan melemparkannya ke arah Jack the Ripper.
“Sial!” Jack the Ripper menarik pisau bedahnya yang ia biasa pakai membunuh korbannya di London kemudian melemparkannya ke tiga orang itu dan mendarat di punggung Detektif.
Tiga orang itu melewati gerbang dan bukannya mengejarnya, Jack the Ripper berhenti dan melepas topengnya.
Terlihat wajah tua di balik topeng itu dan ia tersenyum tipis, “Biarlah...”
Seorang wanita muncul di sebelahnya dan bertanya, “Kenapa kau melepaskan empat orang itu sementara kau membunuh satu lainnya?”
“Yang kubunuh tidak memiliki niat untuk berjuang dan bekerjasama dengan yang lainnya, sementara yang lainnya sepakat bekerjasama agar bisa lolos dari tanganku...” Jack the Ripper mengarahkan cakarnya ke wanita itu dan berkata lagi, “Kalau kau mempertanyakannya lagi, kubunuh kau...”
"Apa kau lupa dengan perjanjian kita?" wanita itu menaikkan telunjuknya, "Jika kau bisa membunuh tiga orang yang meminta sedikit harta Nyonya Weissman, maka kau bisa terus bersembunyi. Kalau tidak, kejahatanmu bisa disebarkan oleh Nyonya Weissman dan kau tidak akan bisa selamat dari tangan polisi."
Jack the Ripper menurunkan cakarnya dan tangan kirinya merogoh kantong jasnya kemudian mengeluarkan sesuatu, “Nih, aku punya oleh-oleh...”
Sesuatu yang hampir berbentuk bulat diletakkan di tangan wanita itu dan Jack the Ripper berkata lagi, “Itu jantung...”
Wanita itu melebarkan matanya dan ia melemparkan jantung itu ke wajah Jack the Ripper sambil berseru, “Dasar pembunuh bodoh!”
***
Dokter menarik pisau yang menancap di punggung Detektif sambil berkata, “Bertahanlah, Detektif!”
Detektif terus merintih kesakitan, pisau bedah itu menancap cukup dalam di punggungnya dan Dokter mencabutnya seperti mencabut pisau yang menancap di buah apel saja.
“Untuk sementara, gunakan kain yang kusimpan di kantongku...” Tukang Kebun menyerahkan selembar kain dan Dokter mengambilnya kemudian melipatnya dan menekan luka Detektif.
“Untuk saat ini kau harus menahan sakitnya, aku akan melilit pinggangmu dengan kain...” ujar Dokter sebelum ia merasakan pusing dan jatuh pingsan.
Pria Beruntung dan Tukang Kebun juga begitu, kecuali Detektif yang sudah kehilangan kesadarannya sejak lama.
***
“Hah! Apa yang terjadi?!” Detektif bangun dan ia melihat sekelilingnya, “Ah, masih di rumah tua...”
“Apa yang kau lakukan disini?” seorang pria yang membawa kapak bertanya sambil menaikkan alisnya, “Ini adalah rumah terkutuk, kenapa kau diam disini?”
Detektif bangun dan ia melihat dua orang polisi berdiri di dekatnya, dengan tangan mereka yang sudah diletakkan di pinggang mereka.
“Apa yang kau lakukan di hutan yang terlarang ini?” tanya polisi itu.
Detektif berdiri dan berkata, “Aku berhasil menemukan identitas asli Jack the Ripper!”
“Hah? Apa maksudmu?” polisi yang lainnya bertanya, “Darimana kau bisa mengetahui identitas pembunuh itu sementara rumah ini tidak menyimpan sesuatu yang penting?”
“Ada!” detektif itu membungkuk dan menemukan kalau buku yang sebelumnya ia temukan berubah menjadi album foto.
“Mana?” pria berkapak bertanya, “Mana buktinya?”
Tangan detektif itu bergetar, “Apa maksudnya ini?”
Detektif itu memegangi kepalanya dan tak lama, ia merasa kebingungan.
“Kenapa aku ada disini? Apa yang kulakukan disini?” detektif itu memegangi kepalanya lebih kuat.
Tak jauh dari sana, di balik sebuah pintu yang terbuka sedikit, bayangan hitam mengintip sambil tertawa kecil, “Hihihi, kau sudah masuk ke jebakanku...”