๐๐ฆ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ณ๐ข๐ฌ๐ถโ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ.
Judul : Now and Forever
Genre : Romance
Rate : Teen
Latar : Jepang
Penulis : Sya Yunjie
(14/08/2021)
Cinta pertama itu seperti pohon sakura yang tumbuh di antara semak belukar dan tanah tandus. Yang tetap merekah merah, ketika sekelilingnya hitam. Yang tetap berdiri kokoh ketika tanah bumi mulai runtuh.
Benar-benar murni serta polos. Tetap bersikukuh menancapkan akar, meski sudah ditindas oleh ribuan memori baru.
Cinta pertamaku adalah dirimu. Di usia delapan belas kemarin, akhirnya aku jatuh kepada kamuโseorang guru menawan, yang lahir di hari ke tujuh belas dari bulan Agustus. Kamu, pria pembenci sake dan rokok, karena katamu takut menularkan pengaruh buruk padaku.
Penyuka sastra juga karya seni. Bukan pria kaku tapi cukup pendiam. Seseorang yang setia tapi juga menatap lurus realita.
Ah โฆ ternyata aku masih mengingat banyak hal tentangmu. Pantas merasa rindu.
Apa bisa kita bertemu sekali lagi?
๐๐ช ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข. ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ช๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฃ๐ฅ๐ช. ๐๐ถ๐ฌ๐ถ, ๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ข๐ต, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ธ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ข๐ฃ๐ข๐ฅ๐ช.
๐๐ช๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข.
.
Sudah lima tahun, sejak aku lulus dari salah satu SMA di Kyoto. SMA kecil di distrik Kamigyo, tak jauh dari aliran Sungai Kamogawa yang selalu bernuansa tenang. Tepian sungai Kamogawa, yang menjadi saksi bagaimana besarnya perasaanku padamu dulu.
Dulu, seperti perempuan paling melankolis di dunia, aku sering bercerita pada arus sungai yang tak hidup. Tentang kamu. Tentang teduhnya matamu. Tentang bagaimana cara kamu berdiri menerangkan sastra di depan papan tulis, yang bagikuโterlihat sungguh sangat keren. Juga tentang bagaimana caramu menggendongku ke UKS, padahal aku hanya pura-pura pingsan supaya tidak ikut kelas olahraga.
"Nakal."
Begitu olokmu padaku. Melakukan kecurangan sedikit saja sudah kamu bilang nakal. Lalu bagaimana kamu menyebut pikiranku yang liarnya lebih tak terkendali saat melihat sosokmu?
Lupakan.
Hari ini, setelah lima tahun, aku melewati Sungai Kamogawa lagi. Berjalan sembari menggendong ransel seperti anak SMA lagi. Tersenyum sinting, terbayang masa lalu yang sudah banyak tertindih memori baru. Dulu pun aku suka melamun. Memang seperti orang gila. Tapi bersyukur kamu penyebabnya.
Masa SMA itu indah. Apalagi cinta pertama yang coba mengemasnya menjadi kenangan tak terlupa. Seperti benih baru. Masih sangat polos. Mudah terombang ambing, mudah meledak, juga mudah terluka.
Ingat? Dulu aku pernah coba memaksamu menciumku di tengah lapangan, hanya karena aku cemburu pada guru wanita yang agresif mendekatimu.
Haha. Dan selalu dewasa, kamu hanya tersenyum. Menjelaskan kalau hubungan kita sangat istimewa hingga tak sembarang orang boleh tahu. Karena memang, hubungan spesial antara guru dan muridโsedikit tabu.
"Maaf, sudah menyeretmu dalam hubungan seperti ini, Hisa."
Berkata seperti itu, seolah kamu orang paling egois di hubungan ini. Padahal aku yang lebih tak tahu diri.
Menengok kanan dan kiri, perlahan aku menyeberang jalan. Kebutuhan mendaftar kerja, membuatku harus mengunjungi lagi SMA ini. Sekolah sejuta rasa. Tempatmu mengajar. Tempatku belajar. Tempat kita pernah dipertemukan dengan perasaan paling salah.
Baru selangkah melewati gerbang depan, nuansanya sudah membuat nostalgia.
"Konnichiwa, Ayano-san." Tersenyum, aku menyapa selamat siang satpam sekolah.
"Haik, konnichiwa onee-san. Siapa? Sepertinya saya kenal." Satpam umur empat puluhan itu berpikir sejenak. "โฆ ah! Hisa-chan?"
"Haha anda mengingat saya? Padahal sudah lima tahun lalu sejak saya lulus. Ayano-san memang hebat."
Pria Ayano menepuk bahuku hangat. "Tidak-tidak, saya cuma mengingat anak yang berprestasi cemerlang sepertimu. Bagaimana University of Tokyo? Luar biasa pastinya?"
"Iya, betul-betul pengalaman luar biasa," terangku sembari tersenyum. "Syukur, saya baru saja lulus kuliah dua bulan lalu."
"Wah fresh graduate. Lalu sekarang apa tujuanmu kemari Hisa-chan? Apa jangan-jangan merindukan Ryoma Sensei?"
Aku terkesiap sejenak. Saat nama yang melekat di pikiran itu disebut secara gamblang.
Ryoma Sensei?
Ah โฆ lebih dari sekedar rindu aku merasakanmu.
"Wah Ryoma Sensei masih mengajar di sini?" Aku coba bersikap santai. Aslinya hati kejang seperti demam. "Saya kemari hanya ingin mengurus berkas untuk persiapan kerja. Dan saya harapโhanya itu yang hendak saya lakukan. Bukan lain-lain."
Satpam bernama belakang Ayano mengizinkanku masuk lingkungan sekolah. Gedung, lapangan, aroma, suasana, bahkan semilir anginnya terasa sama seperti lima tahun lalu. Nostalgia masa-masa kasmaran.
Pelan, aku melangkah melewati lorong kelas yang masih ramai siswa-siswi. Teras teduh yang menyediakan tempat duduk di depan kelas, sedikit menggelitik hatiku.
Aku ingat kamuโRyoma Sensei, lima tahun lalu pernah duduk termenung di sana. Seperti orang tak punya kerjaan, berpura-pura membaca buku sastra Inggris, padahal kau guru sastra Jepang. Sejatinya, kamu hanya sedang menungguku yang tengah menunaikan piket bersih-bersih. Rela menunggu hampir setengah jam, demi mengajakku ke pameran seni setelahnya.
Ah โฆ lalu aku sempat komplain.
"Sensei, kenapa kita tidak pergi ke bioskop saja kalau memang ingin berkencan?! Romantis seperti cerita-cerita temanku dengan pacar mereka. Memakan popcorn rasa karamel, atau berkeliling di taman penuh bunga. Pergi ke pameran, hanya menonton benda diam itu kuno! Jangan bilang, pacaran orang dewasa memang membosankan seperti ini?!"
"Bukan, aku hanya mengajakmu ke tempat yang aku suka. Bukan seperti ini pacaran orang dewasa. Apa kamuโingin tahu pacaran orang dewasa, Hisa?"
Setelah anggukan kecilku hari ini, aku tak pernah lagi mengolok tentang gaya pacaran orang dewasa. Karena ternyata aku menyukainya lebih dari apapun.
Tak perlu ruang bioskop, tak perlu taman dengan ribuan bunga. Hanya di dalam remang mobilmu, dengan seluruh pergerakanmu yang lembut tapi membakar seperti bara api. Sudah mampu membuat seluruh tubuhku bergetar suka.
Meski keesokan harinya, kamu mengucapkan "maaf" lebih dari seratus kali.
.
Kini suara maaf mu yang super lembut masih mendengung di telinga. Bahkan setelah lima tahun.
Saat aku kembali berjalan menuju ruang kepala sekolah, dengan ketukan hak dewasa. Ruangan office kepala sekolah masih sama dan aku mengingatnya. Hanya saja, kepala sekolahnya sudah berbeda. Lelaki tua yang sangat kutakuti dulu sudah berubah jadi wanita.
Dulu sosokmu pun pernah menegurku karena banyak melontarkan sumpah serapah pada kepala sekolah tua itu. Hahaโwalau pada akhirnya, Sensei juga mengaku membenci lelaki itu karena tingkahnya yang egosentris.
Melamun banyak hal dalam ruang kepala sekolah, sampai tahu-tahu berkas yang ku butuhkan sudah siap. Kepala sekolah wanita sangat cekatan menyiapkan. Meski wajahnya sangat judes. Rautnya seolah ingin segera mengusirku karena menganggu acara bersantainya, menegak secangkir teh hijau.
Maka setelah semua selesai, aku segera melangkah pergi. Namun di ambang pintu ruang kepala sekolah, langkahku terhenti tiba-tiba. Seseorang hampir menubrukku. Dan berkas yang ku perjuangkan hampir jatuh berserakan. Ingin memaki, tapi tetap sadar aku hanya alumni sekolah ini.
"Gomenasai." Lapang dada, aku meminta maaf lebih dulu.
"Tidak-tidak. Saya yang salah. Maaf, saya buru-buru ingin menemui kepala sekolah. Kamuโeh Hisa-chan?!"
Aku mendongak, menatapnya segera.
Berharap dia Sensei? Maaf bukan.
Kalau itu kamu. Aku pasti sudah tahu sejak jarak kita lima meter jauhnya. Sehingga tak ada kesempatan untuk scene kesandung manja, seperti film picisan. Aku pasti lebih pilih membeku di tempat, seraya menahan segala gejolak liar yang sangat ingin menerkammu.
Jadi yang hampir menabrakku ternyata Mayumi Sensei. Wanita yang aku benci sampai langit ke tujuh di masa sekolah.
Kalau kalian ingat, di awal aku pernah menyinggung tentang guru agresif yang mendekati Ryoma Sensei. Nah, dia orangnya.
"Iya, Mayumi Sensei. Lama tidak bertemu."
"Ah โฆ Hisa-chan. Aku merindukanmu." Mayumi Sensei memelukku erat. "Kamu murid yang sangat aku banggakan. Bagaimana kuliah di Universitas Tokyo? Sekarang sudah kerja di mana? Ah! Kamu harusnya baru lulus ya? Wahโfresh graduate. Selamat ya!"
Waw. Panjang kali lebar. Mayumi Sensei memang ramah. Tapi kebiasaan berisik dan sifat agresifnya membuatku benci setengah mati! Apalagi dia coba mendekati kekasih rahasiaku dulu.
Apa sekarang masih?
Aku segera berlari pergi, setelah menjawab semua pertanyaan Mayumi Sensei. Rasa sesak tiba-tiba meluap. Jangan tanya kenapa, karena jelas semua ini mengingatkanku tentang kamu. Oh Tuhan, aku sungguh merindukanmu. Dan cinta kita yang belum selesai sepenuhnya.
Berjalan setengah kesal, karena alasanku datang ke sekolah ini (untuk meminta salinan ijazah) sudah selesai. Tapi aku tak kunjung bertemu denganmu di sini. Seolah dunia memang tak rela kita berhubungan.
Aku tahu persis dimana jalan menuju gerbang keluar sekolah. Tapi karena kesal, aku lebih pilih berjalan memutar. Melewati taman belakang dekat perpustakaan.
Bel berbunyi nyaring dengan tiga ketukan. Aku terpaku sejenak. Menatap pohon sakura yang sudah mulai kering, karena musim semi kembali pamit. Tepat di sanding taman, bangunan paling klasik berdiri kokoh.
Aku mengingatnya. Pesan paling rahasiamu yang ditulis rapi di atas kertas manila biru.
๐๐ช ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข. ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ช๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฃ๐ฅ๐ช. ๐๐ถ๐ฌ๐ถ, ๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ข๐ต, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ธ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ข๐ฃ๐ข๐ฅ๐ช.
๐๐ช๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข.
-๐๐บ๐ฐ๐ฎ๐ข ๐๐ต๐ด๐ถ๐ฎ๐ช
Dulu, hampir satu minggu aku memecahkan arti dalam tulisanmu itu. Sebagai bocah kelas dua belas SMA, awalnya kupikir itu hanya coretanmu yang iseng ditaruh di atas mejaku. Sampai akhirnya entah dapat ilham dari mana, aku menangkapnya. Pesanmu yang sangat tersembunyi seolah kamu benar-benar tak ingin ketahuan sedang kasmaran dengan murid ingusan.
Satu paragraf singkat itu, yang terdiri dari lima kalimat tak sambung. Menunjukkan waktu. Waktu dimana aku harus menemuimu. Ketika matahari terik memancar dan murid mulai berserah pulang. Tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi.
Kemudian pesan lainnya. Adalah tempat di mana aku harus menemuimu. Tertulis jelas di awalan kata setiap kalimat. Awalan kata tersebut yang jika di sambung akan berbunyi, Di Tempat Yang Banyak Buku.
Perpustakaan. Sepulang sekolah.
Meski sudah satu minggu lebih aku baru memecahkannya. Tapi kamu benar-benar menunggu di sana ketika aku datang.
"Aku mencintai kamu," katamu waktu itu. Tiga kata sederhana. Namun perlu ditempa supaya tahu makna sebetulnya.
Katakanlah aku memang kekanak-kanakan waktu itu. Persepsi Cinta antara kita jauh berbeda. Jangan samakan pemikiran remaja delapan belas, dengan pria dua puluh delapan yang jauh lebih matang.
Pun itu juga yang menjadi alasan kita berpisah.
Waktu itu, secara mengejutkan, kamu melamarku di hari kelulusan. Tepat setelah aku menyampaikan pidato sebagai lulusan terbaik. Dan dengan sadar diri, aku menolak lamaranmu secara langsung.
"Hisa, aku berhubungan denganmu karena ingin serius. Aku harap, kamu tidak menganggapnya main-main."
Banyak pemikiran menyerang secara bersamaan. Tidakkah kamu sadar, aku memang benar-benar masih remaja. Banyak angan yang masih ingin ku raih. Terperangkap dalam ikatan pernikahan adalah sesuatu yang aku belum siap.
Meski kamu pun berjanji tak ingin mengekang setelah menikah, aku tetap belum bisa membayangkan hidup terikat dengan orang lain. Hingga kita berdebat banyak untuk masalah ini. Kamu dengan masalah usiamu. Lalu aku dengan keegoisan tak ingin terkekang.
Dan realita, seolah mendukung kita untuk berpisah. Ketika hubungan kita tak baik-baik saja, aku mau tak mau harus pergi ke Tokyo demi kuliah.
Kemudian waktu berlalu begitu saja. Aku melewati banyak hari baru bersama orang-orang baru. Lalu memutus semua kontak denganmu.
Meski tetap saja, pesan terakhirmu terus berdengung di pikiran.
"Baiklah Hisa, pergilah sejauh mungkin untuk sekarang. Raih semua yang ingin kamu raih. Tapi pulanglah saat sudah waktunya pulang. Sampai ujung waktuku, aku akan coba menunggumu."
.
Hari ini, setelah lima tahun, di waktu yang sama seperti hari itu, aku mengulangi langkah. Seratus persen dengan gaya dewasa, tidak lagi kekanak-kanakan. Pintu kaca yang tak tertutup rapat penanda ruang ini belum terkunci. Aroma kayu-kayuan bersatu dengan kertas. Deret bangku yang semuanya kosong.
Perpustakaan ini mengingatkan semua hal tentangmu. Tak ada yang berubah. Semua dekorasinya masih sama seperti lima tahun lalu.
Di ambang pintu kaca, aku hampir terisak. Perpustakaan ini kosong. Tak ada lagi pria berkacamata yang menungguku di bawah jendela besar, kukira. Setelah akhirnya suara serak terdengar dari balik rak buku.
"Berapa kali sudah saya bilang, jangan datang ke perpustakaan setelah bel pulang berbunyi. Waktu yang sial untuk melakukan aktivitas di sini." Terdengar sedikit lebih berat, tapi aku tahu itu suaramu. Mau berubah seperti apapun, sesuatu dalam diriku akan selalu tahu kalau itu kamu.
Jantung berdegup kencang sejalan dengan ritme nafas. Aku melangkah menghampiri suara dibalik rak tinggi.
"Maaf, kalau sial lalu apa yangโanda lakukan di sini."
Aku tak tahu harus memanggil apa dan bagaimana. Kamu, anda, kau, Sensei, atau siapa? Karena dibalik rak itu benar-benar dirimu. Sikap kekanak-kanakan yang masih tak mau hilang dariku, adalah gugup saat bertemu denganmu.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Otakku kelu tak bisa berpikir. Hanya terpaku, menyadari betapa besar rasa rindu padamu.
Kamu, yang sedang bersandar di samping rak buku itu menoleh. Sensei, menengadah. Melihatku yang sudah terisak tanpa kendali.
"HeiโHisa?"
Bisa-bisanya kamu terkejut dengan cara yang paling menawan. Segera menenggelamkan raut ke telapak tangan. Memperlihatkan batang tembakau yang terapit di antara jari tengah dan telunjuk. Entah sejak kapan, kamu mulai merokok.
"Sensei akuโ"
"Hisa, apa yang kamu lakukan di sini?" Pertanyaan sama yang ingin aku ungkapkan padamu.
Tapi aku yang tengah bergetar tak bisa menjawab apapun selain, "Aku merindukanmu."
Sepotong kata-kata kosong, akan terdengar indah kalau diucapkan dengan sungguh. Begitu katamu ketika dulu, pertama kali aku mengucapkan "I love you" padamu. Yang pelafalannya saja aku pelajari selama dua hari lebih, supaya terlihat fasih berbahasa inggris.
Sekarang, aku mengucapkan kata serupa, tanpa persiapan. Bahkan kata itu meluncur tanpa keinginan. Terdengar serak dan parau. Dan nampak sekali tidak sungguh-sungguh. Namun yang membuatnya berbeda, ini bukan sekedar kata-kata kosong. Tak lagi ingin membuatmu terkesan dengan pelafalan, aku hanya ingin mengungkapkan perasaan.
Iris matamu yang membelakangi cahaya tampak melebar sejenak. Dihapus paksa oleh senyum yang selalu dewasa. Tolong, sikap dewasamu yang lihai mengendalikan apapun, kadang membuatku sakit.
"Kamu pasti sedang meminta salinan ijazah atau beberapa berkas untuk persiapan kerja ya? Hisa, sejak dulu aku tahu masa depanmu pasti cerah. Ngomong-ngomong bagaimana Universitas Tokyo?"
Jauh sekali kamu melencengkan topik. Tapi maaf, keinginanku untuk menyampaikan perasaan lebih besar saat ini. Sosokmu yang duduk bersimpuh itu, tiba-tiba ingin aku miliki seutuhnya, lagi.
"Aku hanya merindukanmu."
"Lupakan tentang masa lalu. Aku terkejut kamu sudah menjadi wanita dewasa sekarang. Dimanaโpasanganmu?"
"Apa Sensei tidak dengar? Aku merindukanmu. Aku masih menyukaimu."
"Hisaโah."
Tidak peduli apapun, aku menubruk tubuhmu erat. Seperti kehilangan semua beban ketika berhasil menangis di ceruk lehermu. Aroma rempah, serta menthol begitu menenangkan. Seperti sudah di rumah. Aku pulang.
Lima tahun lamanya berkelana. Betapa letihnya aku, karena masih menempatkanmu sebagai rumah. Rumah yang sungguh aku rindukan, namun disisi lain takut untuk pulang.
"Kamu pikir lima tahun waktu yang singkat?" Suara berat terdengar jernih di samping telinga. "Hisa, aku juga manusia biasa."
Apa maksudmu berkata begitu?
"Aku hanya sedang mencari bekal untuk bisa sejajar denganmu. Untuk bisa berpikir dewasa sepertimu. Aku ingin benar-benar pantas ada di sampingmu, Sensei."
Telapak tangan hangat menangkup bahu bergetar. Aku melihat iris mata yang teduh di balik kacamata. Lekat, menyaksikan bagaimana air asin juga perlahan turun dari pelupuk matamu.
"Kamu sungguh sangat egois. Membiarkan aku menunggu selama setengah dekade, lalu sekarang kembali dan dengan entengnya berkata 'aku merindukanmu'." Tarikan nafas panjang, membuat dadamu mengembang. Aku akui kamu seorang pengatur emosi yang baik.
"Wahai Hisa, rasa rinduku padamu jauh lebih besar. Aku sangat yakin dengan itu, karena aku rela menyiksa diriku sendiri dalam sekolah yang penuh kenangan bersamamu. Dengan harapan, ketika kamu ingin kembali, seorang muridku Hisa tak perlu sulit mencari. Aku menunggumu di sini sampai ujung batasku."
Tangan hangatmu yang masih sama seperti dulu, menangkup pipiku basah. Sampai tak sengaja, sebuah logam melingkar di jari manis menggesek rahangku perih.
"Hisa, maaf. Lima tahun sudah diluar batasku."
Saat mataku bergulir, menangkap bagaimana apiknya cincin itu melingkar di jari manismu. Aku tersadar. Sensei, kamu ternyata bukan lagi rumah untukku.
Ah โฆ.
Bagaimana tak menangis kalau begini. Meminta maaf karena terlalu lama pergi juga sudah tak berguna. Memelukmu seerat mungkin supaya kau tak pergi pun, sudah sia-sia.
Takdir yang memisahkan kita? Kurasa bukan. Memang sepertinya Tuhan yang terlalu sayang padamu, sampai akhirnya menjauhkanmu dari orang-orang pengecut sepertiku. Doa yang selama ini kamu panjatkan untuk mendapat pasangan hidup terbaik, sudah dikabulkan.
Maaf, aku terlalu labil untukmu. Maaf, aku tidak cukup dewasa untuk bersanding denganmu. Maaf, sudah melarikan diri. Dan maaf, sudah mengecewakan.
Ryoma Sensei. Setidaknya setelah pertemuan yang terakhir ini, aku paham kalau cerita kita sudah selesai. Tak ada lagi angan semu yang memperkeruh otakku tiap melakukan aktivitas. Tidak ada lagi pertanyaan bodoh seperti, "apa kamu masih menungguku di sanaโ? Di perpustakaan sekolah, setelah bel pulang berbunyi." atau yang lebih tidak masuk akal, "apa kamu masih menyimpan tiga kata sederhana itu untukku?"
Walau setelah kehilangan semua teka-teki itu, aku linglung seperti orang tak punya tujuan hidup.
"Hisa satu penyesalan paling besar di hidupku, adalah tak membiarkanmu mencium bibirku di lapangan sekolah, waktu kemarin kau cemburu dengan seorang guru wanita."
Sesuatu mengoyak tangisku karena akhirnya tahu, Mayumi Senseiโguru agresif yang sangat tidak kusukai karena mengejarmu dulu. Menjadi pendamping hidupmu sekarang.
"Hei Hisa, bagaimana pun akhir cerita ini. Bagiku, kamu tetap pemenangnya."
Dan Ryoma Sensei. Bagiku kamu lebih dari sekedar pemenang.
Mencintaimu adalah hal paling indah semasa hidupku. Bukan sekedar kata kosong, cinta padamu bukanlah sesuatu yang obsesi. Yang membuatku ingin memilikimu seutuhnya dari ujung jari kaki sampai rambut. Atau ingin memerangkapmu dalam sebuah ruangan kedap suara lalu menikmati sosokmu dari pagi sampai petang.
Seperti yang kamu ajarkan, Sensei. Cinta sebenarnya adalah sesuatu yang melulu tentang pengorbanan. Pengorbanan waktu, pikiran, perasaan, atau apapun. Selama membuatmu bahagia, aku tak masalah berkorban apapun.
Bahkan jika pilihan terbaik bagimu adalah meninggalkanku. Aku tak masalah.
Terimakasih sudah menjadi guru yang mengajariku banyak hal. Lebih dari sekedar materi.
Tiga kataโah empat kata terakhir untukmu.
"Aku mencintai kamu, selalu."
.
.
Catatan penulis :
Playlist untuk cerita ini,
First Love - Utada Hikaru
Lagu lama, tapi bisa buat aku sesenggukan tiap dengernya.
Terimakasih sudah membaca.
#Akumencintaimu