Di dunia yang luas ini, banyak hal yang memiliki pasangan. Gak perlu jauh-jauh misal, 2 mata, 2 tangan, 2 kaki, dan 2 telinga. Yang beda adalah 2 hati 'Aku dan kamu'.
Namaku Putra raja, yang masih sendirian. Aku masih seorang siswa dari sekolah SMA.
'2 Hati' kata yang berarti berpasangan. Kalo ditanya 'apakah kamu punya pasangan?' jawabku belum.
Pasanganku masih belum bersamaku. Tapi calon pasanganku sudah sering bersamaku.
Dia adalah Putri, seorang gadis yang ramah, ceria, dan baik. Dia merupakan tetanggaku dan dia juga merupakan teman perjalananku menuju ke sekolah.
Dari sekolah SD, SMP, dan sekarang SMA. Dari sering bersama membuat kami akrab.
Rasa suka yang ku miliki dengannya sudah terpendam dari SMP. Tapi aku belum pernah mengucapkannya. Rumahku dengan rumahnya tidaklah jauh cuma berjarak 200± Meter saja. Keluarga kami juga akrab dalam berkunjung.
Rasa suka yang mendalam ini, aku berharap dapat segera ku ucapkan. Tapi pada saat berbicara soal cinta, ku selalu gugup dan grogi.
Saat aku pergi ke sekolah, kami selalu bertemu dipersimpangan jalan.
“Hai Putri, selamat pagi.” ucapku saat bertemu dengannya.
“Hai Put, pagi. Wah ada yang beda nih?” ucap Putri denganku.
“Hah...Apa ada yang aneh denganku?” sambil mengecek seragamku.
"Apakah apa yang jelek dalam penampilanku hari ini?" Batinku.
“Tidak ada diseragam, tapi itu. Gaya rambutmu, berbeda dengan yang kemarin hihi,” ucap Putri sambil memasang wajah mengejek.
Aku lupa kemarin habis potong rambut jadi sekarang rambutku lebih pendek.
“Oh rambut, gimana makin gantengkan aku?” ucapku sambil meperbaikin gaya rambutku.
“Bagus sekali. Tapi masih lebih ganteng kalo kamu botak," kata putri sambil nyengir tersenyum.
Senyuman dia membuatku terdiam dan ikut tersenyum juga. Kami lanjut berjalan ke sekolah dan mengobrol tetang cerita dirumah.
***
Pulang dari sekolah, kami selalu membeli minum sebelum pulang. Jarak rumah ke sekolah 2 Kilo meter, gitu juga sebaliknya jarak sekolah ke rumah.
Kami selalu berjalan melewati jalan yang nyaman. Dibawah pohon yang berjejer dan angin yang sejuk.
“Putri, mau beli apa nih?” tanyaku.
“hmm... beli aqua aja biar gak haus nanti” jawabnya.
Jadi aku pun membeli 2 botol aqua. Dia cuma membeli roti dan potato kentang. Kami pun lanjut jalan pulang.
Didalam perjalanan, kami selalu bercerita tentang hal yang aneh. Misal berharap bisa terbang, punya Doraemon, atau memiliki kemampuan super.
Langkah demi langkah sangat terasa saat bersamanya. Aku selalu senang saat bersamanya. Setiap malamku berharap mimpi bersamanya. Semua hal yang membuatku lelah terasa lenyap saat bersamanya, mungkin karena rasa sudah ingin bersamanya.
Sampainya kami dijalan perpisahan. Ini membuatku merasa jauh dengannya.
Tapi tidak apa-apa, mungkin setelahku mengucapkan rasaku padanya bisa mengurangi tidak rela ini.
Kami pulang ke rumah masing-masing.
“Putri sampai besok ya,” ucapku.
“Iya putra yang selalu ku ingat” jawabnya sambil tertawa kecil.
Aku tersipu akan jawaban itu.
Sampai rumah bukan berarti kami putus komunikasi. Ku sering chat dengannya. Kami juga jarang membahas apa yang kami bicarakan di chat.
Ting!!
Aku mengambil hpku.
“Putra, besok pagi aku duluan ya. Soalnya ada sedikit urusan. Gak papakan?” Isi chatnya.
“Gak papa kok Putri,” jawabku tanpa rasa curiga.
Keesokan harinya. Ku berjalan seperti biasanya tapi terasa sepi tanpa dia.
Sampai disekolah. Aku lebih lambat berjalan saat tanpanya. Kelas ku dengan dia sama tapi kalo pengetahuan masih pintar dia dibandingkan dengan ku.
Pagi masih masih membuat sekolah sejuk. Masuk gerbang dan menuju ke ruang kelas. Aku melihat melihat Putri dibelakang kelas.
Aku mau menyapanya dan bertanya urusan apa yang membuatnya pergi pagi.
Akan tetapi, terdengar suara orang yang diajak mengobrol. Aku terdiam dan mundur perlahan. Untung dia belum melihatku datang tadi.
Aku masuk ruang kelas dan ingin mengintipnya.
Aku penasaran dengan siapa dia mengobrol. Dari balik kaca yang sudah dioles cat, yang membuat dari luar gak kelihatan saat aku mengintip.
Aku sedikit terkejut, saat melihatnya sedang mengobrol dengan cowok lain. Dari dalam aku gak bisa mendengarkan apa yang mereka bilang.
Entah kenapa, hatiku terasa nyesek yang tak enak. Aku tak tau sedang berpikir apa, yang pasti aku sedih.
Melihat dia dekat dengan cowok lain membuat rasa yang tak enak didada.
Untungnya ruang kelas masih sepi. Jadi gak ada orang yang melihatku mengintip mereka.
Aku pun duduk di kursiku. Rasa kecewa mengalir, moodku berubah seketika jelek. Bunga segar menjadi layu.
***
Setelah pulang sekolah aku pergi dengan cepat tanpa menunggu untuk bertanya.
Rasa kecewa tetap terasa dalam hatiku saat pulang.
"Pada kenyataannya, Putri pergi pagi karena ada hal yang perlu dibawa ke rumah neneknya. Karena masih terlalu pagi setelah pergi dari rumah neneknya. Dia memutuskan pergi beli jajan dan menuju sekolah. Saat disekolah masih pagi, masih belum banyak yang datang. Ada seorang yang duduk di teras belakang kelas. Karena masih belum ada orang, jadi Putri kesana untuk mengobrol. Obrolan mereka tentang pelajaran bahasa Indonesia tentang cerpen lucu. Makanya saat mengobrol Putri tersenyum. 15 menit kemudian datang Putra dan terjadilah kayak yang di atas."
***
Sampai dirumah aku hanya diam. Bayangan yang tadi pagi selalu terlintas. Kenapa begini, apa karena aku sudah terlalu suka dengannya.
Malam ini hp pun tidak aku mainkan karena masih sedih. Bodohnya aku tidak bertanya dulu malah mengikuti alur hati yang sedih ini.
Keesokan harinya saat pergi ke sekolah. Saat kami bertemu dijalan biasanya. Ku hanya tersenyum dan menyapanya saja.
Saat menuju ke sekolah sedikit canggung rasanya karena sepi.
“Kenapa dia tak mau berbicara denganku? apa karena sudah punya pacar.” Batinku.
“Putra kok diam aja, chat kemarin juga gak dibaca. Apa dia lagi sakit gigi?” batin Putri.
Waktu terus berlalu sampai kami sampai disekolah.
Saat diruang kelas kami melakukan urusan sendiri. Aku kadang" memandang dia. Saat dia menatap balik aku langsung pura" gak tau.
Aku sedikit bicaranya saat itu. Dia juga sedang mengobrol dengan temannya.
Pulang sekolah kami juga gak banyak belanja, cuma beli air aja.
Dalam perjalanan pulang, aku juga gak banyak bicara kayak hari lalu.
“Putra, kamu kenapa sih? dari pagi gak ada suaranya?” tanya putri.
“Gak papa kok. Bukan seperti biasanya begini,” ucapku.
“Isch, kamu sakit gigi ya? pendek amat bicaranya. Kalo sakit bilang aja Putra,” ucap Putri.
“Astaga, malah dibilang sakit gigi dong. Kalo aku sakit gigi udah gak sekolah. Tadi pagi aja jajan aku, masak sakit gigi sih.” jawabku yang tanpa sadar lagi berusaha gak banyak omong.
“Terus kalo gak sakit, kenapa kamu beda hari ini?” tanya Putri.
“Gak ada yang beda kok.” Ucapku cepat.
“isch, kalo gitu kenapa kemarin kamu gak balas chat aku?” tanya Putri.
"Emang dia ada chatkah? kenapa gak ada notif?" batinku.
“Kemarin hpku mati malamnya,” jawab pendekku.
“Dah lah, gak asik ngomong sama kamu," ucap Putri sambil memasang wajah cuek.
Kami pun berpisah ditempat biasa tapi tak seperti biasanya.
Sampai dirumah aku langsung mengambil hp. Ternyata hpku dalam mode tenang, jadi gak terdengar notif.
Aku terdiam saat membaca chat yang dikirimnya.
Dalam chat itu dia menjelaskan kenapa pergi pagi sekali. Dia juga bertanya kenapa aku kemarin gak banyak bicara.
Selesai membaca aku merasakan kecewa yang mulai memudar. Kenapa dia memberitahu aku alasannya pergi pagi, padahal aku tak bertanya.
"Jadi dia bukan pergi pacaran, masih ada harapan" batinku. Ku tak menjawabnya. Aku mau bicara langsung dengannya kenapa aku gak banyak bicara.
Keesokan harinya. Dijalan seperti biasanya aku menunggunya. Dia pun datang
“Hai, pagi Putra,” sapa Putri.
“Hai juga Putri” jawabku.
“Lama nunggu ya?” tanya Putri.
“Gak kok. Hehe...” jawabku sambil senyum.
“Kenapa kamu hari ini?” tanya Putri dengan wajah bingung.
“Gak kenapa, cuma mau minta maaf soal chatnya yang gak dibaca” jawabku.
“Hah... gak papa kok, biar aja.” ucap Putri.
“Jadi gak enak loh Putri,” ucapku canggung.
“Udah gak papa, nih malah beda lagi sama yang kemarin. Kemarin muka cuek sekarang gini lagi. Jadi aneh,” ucap Putri bingung.
“Hehe... maaf yang kemarin aku gak enak hati, mood gak bagus,” ucapku.
“Kenapa emangnya?” tanya Putri.
“Maaf karena kemarin ya, karena gak banyak omong atau gak ada penjelasan membuat mu jadi bingung. Aku hanya...” ucapku terputus.
“Hanya apa ?” ucap Putri dengan penasaran.
“Aku hanya, bisa dibilang sedih, kecewa saat melihat mu pagi kemarin dekat dengan cowok lain” ucapku dengan nada mengecil.
“Hah... waktu kemarin pagi itu? aku cuma ngobrol cerita cerpen lucu aja. Karena gak ada orang banyak makanya aku ngobrol. Selain itu gak ada urusan lagi. Memang kenapa, kamu kok bisa sedih?” ucap Putri sambil bertanya.
“Aku... cuma. Apa ya...” jawabku gugup.
“Kenapa nih?” tanya Putri semakin penasaran.
“Aku gak suka kamu dekat dengan cowok lain.” jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Kamu cemburu ya,” ucap Putri.
“Ya” jawabku cepat.
Dia diam karena jawabku yang cepat.
“Ya, aku cemburu melihat mu dekat cowok lain. Aku kecewa saat kamu dekat dengan cowok lain. Aku sebenarnya memiliki rasa terhadapmu. Aku menyukai mu dari SMP sampai sekarang. Aku mencintaimu. Tapi aku gugup, tak berani mengungkapkan perasaanku, aku selalu grogi apabila bicara soal cinta. Aku juga berharap cepat mengucapkannya sebelum aku tak ada waktu dan aku menyesal. Jadi itu yang membuatku sedih, karena kamu dekat cowok lain dan aku kira kamu pacaran dengannya. Makanya aku cemburu...” ucapku panjang tak henti.
“Jujur aku mencintaimu dan aku sangat berharap kamu jadi pacarku. Maukah kamu jadi pacarku Putri?” segala kekuatan berkumpul di satu titik untuk memunculkan keberanian ini.
Dia terdiam saat mendengar semua ucapanku itu.
Perlahan dia mulai bicara.
“A...aku. Maaf...” ucapnya.
Aku diam membeku.
“Maaf aku tidak bisa menolaknya. Aku mau jadi pacarmu.” lanjut jawabnya sambil tersenyum.
Aku semakin membatu tak percaya mendengar jawabannya. Terasa seperti mimpi yang selalu ku harapkan. Rasa senang, lega, bahagia mengalir didalam hatiku. Sejuknya Angin menjadi saksi ucapan cintaku pada dia.
Tamat.
🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih dan ingat like ya bila suka.
#Akumencintaimu.