Cinta tak selamanya bahagia dan tak selamanya indah. Cinta itu seperti misteri yang tak bisa kita prediksi kapan cinta itu datang, kapan cinta itu pergi, kapan kita akan bersama, dan kapan kita terpisah. Apakah cinta itu selamanya akan menetap di hati tiap-tiap pasangan? Apa malah berbalik meninggalkan pengkhianatan dari tiap-tiap pasangan?
Seperti kisah cintaku bersama lelaki yang sudah lima tahun aku berpacaran dengannya. Aku, Salwa indira akan menjalani hubungan serius ke jenjang pernikahan bersama Satria Arjuna, calon suamiku. Dia yang bekerja sebagai tentara yang akan selalu siap kapan saja menjalankan tugas kepada negara. Satria pernah berjanji padaku akan selalu setia padaku sampai maut memisahkan.
"Salwa, besok aku akan pergi melaksanakan tugas negara, aku harap kau menjaga hatimu untukku. Maka aku akan tenang jika jauh darimu," pesan Satria kepadaku.
"Tenang saja, aku akan selalu menjaga hatiku untukmu, kau tahu itu!" ucapku pada Satria.
"Setelah aku kembali, aku akan melamarmu. Do'akan aku agar aku cepat pulang, dan do'akan cinta kita agar Allah merestui kita dalam ikatan pernikahan," pesan Satria yang membuat aku benar-benar semakin yakin dengan ucapannya.
"Pasti, aku selalu menyebutkan namamu di setiap do'aku dalam hubungan kita. Jika kita ditakdirkan bersama, maka Allah akan mempersatukan kita. Satu pesanku yaitu kita harus percaya pada Allah dan selalu berprasangka baik pada-Nya. Maka hati kita akan tenang selama jarak memisahkan kita," pesanku pula pada Satria.
"Ya, akan aku ingat pesan kamu, Salwa calon istriku," ucap Satria dengan mencuil hidungku pelan.
"Ih, kamu apaan sih, aku malu deh," ujarku dengan mengulum senyumanku.
Hubungan kami begitu baik dalam tiga bulan ini, tapi ada satu hal yang membuatku sedikit terbesit pikiran-pikiran yang entah membuatku gelisah. Saat aku membuka salah satu media sosial Satria, aku dikejutkan dengan foto Satria bersama wanita cantik yang berseragam putih, wanita itu adalah seorang dokter, tertera dalam keterangan yang di upload oleh wanita itu.
Jujur saat itu aku benar-benar cemburu dan air mata pun jatuh saat aku melihat foto mereka. Walaupun foto itu sekedar foto biasa tapi aku tetap ingin menangis sekencang-kencangnya.
Saat malam, Satria meneleponku menjelaskannya padaku tentang foto itu, dan ternyata wanita itu adalah dokter yang bekerja untuk merawat tentara yang sedang sakit. Aku pun mengerti hingga aku sadari enam bulan berlalu, hubunganku mulai sedikit merenggang karena Satria jarang meneleponku.
Dari sinilah kesetiaan mulai diuji, seberapa pentingkah aku di hatinya? Seberapa besar tanggung jawabnya saat dia berjanji padaku? Apakah Satria akan setia dan menepati janjinya padaku? Atau malah akan beralih ke hati yang lain? Apalah dayaku yang hanya seorang wanita sederhana dan bekerja dengan pakaian biasa tidak berseragam dinas seperti wanita cantik yang berfoto dengan Satria itu.
Di seberang sana, tempat Satria bertugas. Satria sedang gelisah dengan perasaannya yang mulai tak menentu.
"Aku mencintai Salwa dengan segenap hati dan jiwaku. Aku tak ingin kehilangannya, wanita yang baik dan telah berkorban untukku saat dulu aku sedang sulit, Salwa selalu ada. Tapi kenapa ada godaan yang datang menghampiriku, wanita cantik dengan pekerjaan yang menjanjikan kemakmuran hidup, sedangkan Salwa hanya wanita sederhana dengan pekerjaannya sebagai karyawan biasa, tapi Salwa lebih menenangkan hatiku. Ya Allah, jangan biarkan godaan itu berlangsung lama padaku, karena aku tak ingin menyakiti wanita yang sedang menungguku untuk menjadi imamnya," gumam Satria sembari menatap foto Salwa di layar ponselnya.
Banyak pengalaman dari tiap-tiap orang yang pernah merasakan cinta. Dan banyak juga kenangan yang tersimpan dari tiap-tiap orang atau pasangan yang pernah merasakan entah itu kenangan manis atau pahit.
Hingga genap satu tahun, Satria pulang ke tanah kelahirannya. Saat itu pula aku dan Satria akan betemu. Di rumahku, tepat di hari yang kami nanti-nantikan ini.
"Salwa, apa kau menjalani tugasmu dengan benar?" tanya Satria menatapku penuh keseriusan.
"Tugas? Maksudmu?" tanyaku bingung.
"Aku menjalani tugasku di sana dan kau menjalani tugasmu di sini," jelas Satria padaku.
"Aku di sini menjalani tugasku dengan baik, seperti saat kau pergi dan saat kau kembali pun masih sama dan tak ada yang berubah," jawabku dengan kata yang sengaja aku buat sedikit membingungkan.
"Aku senang mendengarnya, Salwa. Aku juga menjalani tugasku di sana dengan baik. Tapi entahlah, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, mungkin kau tak akan menyukainya. Sebelumnya aku meminta maaf padamu, Salwa. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyebut namamu dalam do'aku, tapi satu nama yang lain tidak bisa aku lupakan, Salwa. Maafkan aku telah menyakitimu, Salwa!" Satria berbicara cukup banyak padaku, seketika hatiku rapuh dan ingin rasanya aku marah padanya tapi aku adalah wanita yang tegar, aku harus menerima sebuah kenyataan pahit sekalipun tersakiti.
Air mataku pun perlahan jatuh. Satria mendekatiku dan menghapus air mataku dengan jemari tangannya yang begitu hangat aku rasakan. Aku tak habis pikir jika mungkin hubunganku akan berakhir sampai di sini.
"Mungkin ini sudah takdinya dan aku tak bisa memaksamu untuk memilihku. Kini saatnya aku mengikhlaskanmu, Satria!" ucapku putus asa.
"Kamu mau tahu siapa wanita yang sering aku sebut namanya selain nama kamu dalam do'aku? Dua wanita itu adalah ... Kau dan almarhumah ibuku," ucapnya sambil berbisik di telingaku.
Deg
Aku pun terkejut dan sangat bersalah sudah berpikiran buruk pada Satria. Sungguh aku meminta maaf padanya.
"Maafkan aku, Satria. Aku sudah bersal...," ucapku langsung dipotong oleh Satria.
"Sssttt ... aku tahu kamu sedang gelisah. Berpikir kalau aku akan memilih cinta yang lain, bukan? Tapi nyatanya aku hanya ingin kamu Salwaku. Setiap aku ingin berpaling darimu, aku selalu mengingatmu, mengingat janji kita. Kau yang begitu baik, sopan, selalu ada saat aku terpuruk dan setia menungguku walau banyak cobaan yang datang, maka dari itu aku tak akan pernah tergoda dengan wanita lain," ucap Satria menenangkan hatiku.
"Satria maafkan aku, aku bersalah padamu!" ucapku dengan sesal.
"Tidak usah minta maaf karena kita berdua sama-sama salah. Aku sudah membuatmu bersedih sedangkan kau berpikiran buruk tentangku, jadi kita impas, bukan?" ujar Satria lalu tersenyum padaku.
"Hahaha...!!" kami tertawa bersama.
Satria menggenggam kedua tanganku dengan erat.
"Salwa Indira, aku mencintaimu," bisik Satria kepadaku.
"Satria Arjuna, aku juga mencintaimu," aku pun membalas cintanya.
Satria meraih kotak kecil di saku celananya lalu membukanya perlahan di hadapanku. Kotak itu berisi cincin permata yang sangat cantik.
"Will you marry me?" akhirnya Satria melamarku.
"Yes ... i will," aku menerima lamaran dari Satria.
Satri benar-benar menepati janjinya padaku. Kesetiaannya, kejujurannya dan tanggung jawabnya adalah sifat lelaki yang paling ingin wanita miliki.
Cinta tidak bisa dipaksakan. Jika sudah berakhir, maka kita harus merelakan. Jika masih berjalan sesuai dengan keinginan kita, maka bersyukurlah. Tak semua orang mempunyai keberuntungan dalam percintaan, pasti ada lika-liku di dalamnya. Kita tidak tahu kapan itu terjadi, tapi Tuhan tahu segalanya.
-----END-----
Inilah karyaku, semoga kalian terhibur.
Terima kasih bagi yang sudah mampir dan membacanya🤗😃