"Malam akan hilang pagi akan mejadi tulang. Bulan yang bersinar paling terang akan membawa kekacauan".
Yah! begitulah kata orang-orang ketika berkunjung ke desaku. Aku tinggal di sebuah desa yang berada di pinggiran hutan. Saat matahari bersinar dengan terang kalian akan melihat suatu pemandangan indah menakjubkan. Namun, jika matahari sudah tidak nampak kegelapan akan menyelimuti yang membuat pemandangan menjadi lebih mencengkam.
Berkaitan dengan sebuah mitos yang beredar para tetua melarang seluruh warga untuk keluar malam pada waktu bulan purnama. Pasalnya setiap kali ada orang yang keluar malam dia kembali dengan kondisi yang sangat mengerikan. Tubuhnya tercabik-cabik, kurus kering, matanya hilang, organnya hilang, bahkan ada yang sudah menjadi tulang. Waktu itu banyak warga yang berpikir kalau itu ulah dari hewan buas mengenal desa ini tak jauh dari hutan, namun setelah di telusuri lebih lanjut ternyata tidak ada jejak hewan buas yang ditemukan.
Mitos ini sebenarnya sudah ada sebelum desa ini terbentuk. Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang tinggal di wilayah ini. Hidup mereka begitu sederhana namun memiliki kebahagiaan yang besar. Waktu itu saat sang istri tengah mengandung anak pertamanya sebuah kejadian mistis terjadi.
Setiap hari ketika sang istri bangun ia melihat sosok nenek berambut putih panjang tengah mengawasinya dari atap rumah. Pada saat mau mandi dia melihat seekor ular putih besar mengitari sumur. Ketika hendak menjelang malam dia melihat sesosok laki-laki besar yang wajah serta tubuhnya seakan-akan mau jatuh. Karena merasa stress sang istri meminta sang suami untuk meninggalkan tempat ini bagaimanapun caranya.
Waktu itu sang suami hanya menanggapi perkataan sang istri dengan santai. Ia tidak melakukan apapun dan memaksa sang istri untuk menahannya sedikit lagi. Entahlah apa yang telah dipikirkan suaminya.
Saat menjelang malam tiba-tiba perut sang istri sakit. Sakit yang amat tak tertahankan. Karena tidak tahan sang istri ingin meminta tolong kepada suaminya. Namun apa yang telah ia lihat membuat tubuhnya lemas.
Sang istri melihat sang suami bersetubuh dengan sosok entah itu apa. Karena kakinya lemas ia tidak bisa bergerak dan jatuh terduduk. Ia menatap wajah suaminya. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan?". Ucap sang istri sambil menahan rasa sakit.
Terlihat dari wajah suaminya senyuman lebar yang sangat mengerikan. "Tumbal, hanya dengan mengorbankan anak yang kau kandung kita akan hidup lebih baik. Apa kamu tidak mau hidup kita menjadi lebih baik?".
"A-apa maksudmu? tumbal? kamu ingin menumbalkan anak ini?". Ucapnya gemetar.
"Benar, tidak apa-apa istriku. Kamu masih bisa memiliki anak lagi setelah ini". Mendengar jawaban dari suaminya sang istri sangat marah,sedih dan juga kecewa.
Terlihat sosok wanita itu menghampiri sang istri. Ia menyentuh perutnya yang sudah membesar. Awalnya dia menyentuh dengan lembut namun lama kelamaan entah mengapa ia mencengkram perut sang istri dengan kencang membuatnya meringis kesakitan.
Sang suami yang melihat sang istri kesakitan serta ada darah yang bercucuran dari perutnya ia mulai ketakutan dan merasa kasihan. "Nyai apa yang anda lakukan? istri saya kesakitan tolong hentikan". Namun kata-kata yang ia ucapkan tidak digubris sama sekali.
Perlahan-lahan perut sang istri menjadi rata. Terlihat sosok yang di panggil nyai itu melahap bayi yang istrinya kandungan. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.
Saat matahari terbit cahaya yang berada di luar mulai memasuki celah-celah rumah. Sang suami melihat sang istri terus menangis. Ia sedih karena bayinya telah hilang, tapi sepertinya bukan. Saat sang suami membuka bajunya alangkah terkejut saat dia melihat perut sang istri sudah terkoyak.
Ususnya terburai kemana-mana. Dengan wajah shock sang suami terdiam dan air matanya jatuh. Ia bahkan tidak berpikir ini semua akan terjadi. Ia tidak tahu konsekuensi yang akan istrinya terima.
Tahun demi tahun berlalu. Kondisi istrinya mulai melemah karena setiap tahun berganti ia harus mengandung dan merasakan rasa sakit berulang kali ketika Nyai mengambil bayinya. Sang suami yang tidak tega melihat penderita sang istri memutuskan membunuhnya.
Di hari yang sangat tepat, bulan purnama terlihat sangat indah. Saat ia menunju kamar ia melihat sang istri sudah di makan oleh beberapa sosok menyeramkan. Ahhh, sangat sulit untuk menjelaskannya. Waktu sang suami mendekat sang istri berkata "Ini masih belum selesai, konsekuensi yang kau perbuat akan terus mengalir dalam tanah yang subur ini". Begitulah ucapan terakhir sang istri yang meninggalkan luka yang amat dalam kepada suaminya.
The End~