Meski hari sudah berjalan setengah dari perjalanannya. Tapi sosok terik sang surya masih juga enggan menyapa, atau sekedar melirik untuk sedikit memberi kehangatan pada raga raga dibawahnya. Ia lebih suka menikmati tidur di peraduannya hingga sesiang ini. Membiarkan yang biasanya menahan sengatan terik nya, kini harus menahan hawa dingin yang tak kunjung reda.
Suryo melirik jam di tangan kirinya. Pukul tiga belas kurang seperempat. Suryo melenguh, menghembuskan nafas kuat-kuat ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua telapak tangannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekedar menciptakan kehangatan meski ia tahu, itu hanya sesaat.
Di luar masih terlihat hujan yang belum juga reda. Suara gemuruhnya, bersahutan dengan ramai riuh orang-orang disekitarnya. Orang-orang itu seakan tak memperdulikan rasa dingin siang ini. Mungkin karena sudah terbiasa, atau lebih tepatnya, memaksa untuk tidak merasakannya.
Sudah hampir satu jam berlalu sejak kedatangannya ke tempat ini. Tapi kereta yang ia tunggu belum juga tampak tanda-tanda kedatangannya. Terlambat mungkin! Hanya itu yang seakan menjadi penjelasan yang terlanjur menjadi kebiasaan, dan biasanya hanya mengumpat lah, yang bisa dilakukan lalu kembali menunggu, sampai tak lagi terhitung berapa kali telah mengumpat.
Suryo masih duduk di tempat ini, di kursi ini, sejak hampir sejam yang lalu. Berkali-kali ia pun mengumpat, sama seperti orang-orang di sekitarnya, tapi bukan karena keterlambatan kereta, melainkan karena tangannya tanpa sengaja menyentuh bahu kursi tempatnya duduk yang terbuat dari besi. Padahal ia tahu, kursi itu dinginnya mungkin dua kali lipat dari dingin es batu yang sering ia ambil dari kulkas.
Hari ini adalah hari terakhirnya di kota ini. Kota kelahirannya, juga kota yang membesarkannya dan mengajarkannya arti kehidupan. Namun sejak lima tahun yang lalu, ia tak lagi jadi bagian kota ini. Kedatangannya ke kota ini kali ini, hanya sekedar berkunjung ke makam orang tuanya. Suryo yatim piatu, orang tuanya meninggal sejak usianya empat tahun. Setelah itu ia dibesarkan oleh kakeknya, ayah dari bapaknya, karena hanya itu keluarga yang ia punya. Dan karena juga, keluarga dari ibunya pun sudah meninggal semua.
Orang tuanya meninggal karena kecelakaan, lalu kakeknya pun, satu-satunya keluarga yang ia punya, menyusul kedua orangtuanya tiga tahun setelahnya. Suryo pun benar-benar sebatang kara. Untungnya, bekas majikan almarhum bapaknya mau mengadopsinya, menyekolahkannya hingga tamat SMA.
Pak Kasun beliau lah orang yang berbaik hati mau menanggung hidup juga pendidikannya sepeninggal orang tua dan kakeknya.
Beliau punya anak gadis semata wayang, Rianti namanya. Usianya 2 tahun di bawahnya.
Sejak Suryo tinggal di rumah Pak kasun, ia dan Rianti selalu menghabiskan waktu bersama, bermain selayaknya anak-anak seumuran nya kala itu.
Suryo dan Riyanti seakan tak mau pisah satu sama lain. Bahkan hingga Suryo tamat SMA dan menjadi pegawai di salah satu pabrik di kota ini, dirinya dan Rianti pun semakin enggan untuk terpisahkan.
Awalnya, ia menganggap Rianti tak ubahnya adiknya sendiri, sebagaimana Pak Kasun memintanya ketika pertama kali mengadopsinya. Tapi sejak usia remaja, perasaan itu berangsur-angsur berubah. Sayang antara kakak beradik, menjadi rasa sayang antara laki-laki dan perempuan. Dan siapa sangka, cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Rianti pun memiliki perasaan yang sama dengan Suryo kala itu.
Hari demi hari mereka jalani kisah asmara itu tanpa sepengetahuan Pak kasun. Bukan Suryo takut jika Pak kasun tahu. Tapi ia tak ingin dibilang tak tahu diri karena sudah dibesarkan juga di sekolahkan, tapi masih juga minta anak gadis semata wayangnya.
Tapi yang namanya bangkai, lama-kelamaan pun pasti akan tercium, serapat apapun itu. Pak Kasun pada akhirnya pun mengetahui hubungannya dengan Rianti. Pak kasun yang biasanya bijaksana meski sedikit keras, benar-benar terlihat murka begitu Suryo mengakui hubungannya dengan Rianti.
Seperti dugaan Suryo. Cacian makian meluncur deras dari mulut Pak Kasun untuknya. Suryo hanya bisa tertunduk. Bagaimanapun Suryo menyadari dirinya lah yang salah. Dan semua itu pun, ia selesaikan lima tahun lalu.
Dan lima tahun lalu juga di stasiun kereta ini, Suryo benar-benar membulatkan tekadnya untuk melupakan semua, untuk melupakan Rianti, juga caci maki bapaknya, Pak Kasun, orang yang dengan sukarela membesarkannya, menghidupinya, menanggung hidupnya, menyekolahkannya, tapi harus ia balas dengan kemurkaan karena menuruti egonya.
Tepukan tangan di pundak kanan Suryo menyadarkannya dari lamunannya siang ini. Sepintas Suryo masih memandang lalu-lalang orang-orang yang masih sibuk dengan urusannya, para pedagang asongan yang sibuk merayu mempromosikan dagangannya, juga para calon penumpang yang mengumpat menendang botol minuman. Sebelum akhirnya ia menoleh.
Untuk sepersekian detik jantungnya serasa berhenti, lalu berdetak tak beraturan. Rasanya ada yang terasa berdesir dalam ulu hatinya. Sebuah sengatan terasa menjalar di seluruh tubuhnya. Darahnya pun terasa sempat membeku, lalu mencair hingga tak ada lagi darah di tubuhnya. Tubuhnya terasa lemas, bibirnya kelu, hanya tatapan mata terasa hidup dan tak sejenak dapat ia alihkan kan.
Lelaki usia lima puluhan tahun dengan postur tubuh yang belum berubah sejak lima tahun lalu dengan kumis tipis yang memperjelas guratan senyumnya, kini berdiri di hadapan Suryo.
"Nak Suryo, Apa kabar?" Sapanya memecah keheningan dan membangunkan Suryo dari alam bawah sadarnya.
"Bbb...baik, Pak." Karena tubuhnya yang mendadak bergetar, membuat suaranya pun terbata menjawab sapaan lelaki itu. Lelaki itu hanya tersenyum, lalu melangkah mengambil duduk tepat di sebelahnya.
"Dari nyekar makam orang tuamu?" Tanya lelaki itu lagi. Aku kemudian mengangguk.
"Ke makam simbah juga." Suryo menambahkan jawabannya. Untuk kedua kalinya, lelaki itu hanya tersenyum, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Bapak sendiri bagaimana kabarnya?" Tanya Suryo kepada lelaki itu begitu ia mulai mampu menguasai keadaannya.
"Ya, seperti yang kamu lihat, Sur!" Jawab lelaki itu datar, bahkan dengan nada suara yang terdengar berat.
"Bapak minta maaf soal yang waktu itu ya, Sur. Tidak seharusnya Bapak mencaci-maki mu seperti itu." Lanjut lelaki itu tanpa basa-basi.
Suryo sekali lagi seperti terlempar ke masa lima tahun lalu di mana ketika itu lelaki di sebelahnya ini dengan sorot mata penuh kemarahan meluapkan emosinya pada Suryo. Ya, lelaki yang kini berada di sebelahnya tak lain adalah Pak Kasun, ayah Rianti.
"Saya yang seharusnya minta maaf, Pak." Balas Suryo mencoba mencari celah lepas dari bayang masa lalu itu.
"Selama lima tahun ini. Apa kamu sudah menikah, Sur?" Pertanyaan yang tiba-tiba dari Pak Kasun itu, kembali membuat jantung Suryo berdebar. Suryo hanya menggelengkan kepalanya ringan tanpa berkata apapun. Pak Kasun terlihat tersenyum.
"Lain kali mampir lah! Itu juga rumahmu, Sur. Rianti selalu ingin tahu kabar kamu." Ucap Pak Kasun kemudian.
Suryo mencoba menguatkan hatinya mendengar nama Rianti yang keluar dari bibir Pak kasun.
Tiga tahun setelah kepergiannya. Rianti sudah dinikahkan dengan anak Pak Kades desa sebelah. Suryo ingat betul bagaimana Karyo l, tetangga desanya, menceritakan tentang kemeriahan pesta pernikahan Rianti dan anak Pak kades itu.
"Bagaimana kabar Rianti, Pak?" Tanya Suryo kemudian.
Pak Kasun mendadak terdiam. Suryo pun tak berani menatapnya. Hanya suara desah nafasnya yang berat yang sampai ke telinga Suryo saat ini.
"Rianti kabarnya baik. Dia sekarang ngajar di PAUD." Cerita Pak Kasun dengan suara yang terdengar begitu berat.
"Syukurlah!" Gumam Suryo lirih hampir hampir tak terdengar.
"Rianti sudah bercerai dengan suaminya." Sambung Pak Kasun yang berterus terang, membuatku sedikit terbelalak dan menoleh ke arah Pak Kasun.
"Ke...kenapa bercerai, Pak?" Tanya Suryo tak sekedar ingin tahu alasan perceraian Rianti, tapi juga ingin menutup rasa penasarannya saat ini.
Pak Kasun menghela nafas dalam, "Suami yang bapak pilihkan, ternyata bukan laki-laki yang tepat untuk Rianti, Sur. Dan itu sebuah kesalahan terbesar dalam hidup bapak." Ucap Pak kasun dengan suaranya yang terdengar serak dan semakin berat.
"Maksud bapak?" Tanya Suryo kemudian, seolah meminta penjelasan lebih.
"Laki-laki itu, ternyata telah beristri. Bahkan lebih dari satu." Kini Pak Kasun terdengar terisak.
Aku tak ingin lagi bertanya lebih jauh. Apa yang diutarakan Pak Kasun, sudah cukup bisa aku terjemahkan saat ini.
"Maafkan Bapak dulu, Sur." Lagi-lagi kata-kata itu yang Pak Kasun ucapkan pada Suryo.
"Sudahlah, Pak! Saya pun sudah melupakannya." Jawab Suryo mencoba menenangkan Pak Kasun. Kini tangannya menyentuh dan mengusap lutut Pak kasun.
"Apa kamu masih mencintai Rianti, Sur?" Tanya Pak Kasun sembari menatap tajam kearah Suryo.
Suryo tersentak dengan pertanyaan itu. Untuk sekelebat pandangannya beradu dengan tatapan mata Pak Kasun terhadapnya.
Jika Suryo boleh jujur, sampai detik ini pun, dia belum sepenuhnya bisa melupakan Rianti.
Sekali lagi Suryo menghela nafasnya, "Saya sudah bisa menerima kenyataan, Pak. Seperti kata bapak dulu. Alangkah lebih pantasnya, Rianti menjadi adik saya, seperti harapan bapak." Dengan tenang dan tanpa ragu Suryo pun mencoba mengingatkan Pak Kasun akan ucapannya pada Suryo dulu.
"Bukankah kamu belum menikah, Sur?" Tanya Pak Kasun kemudian.
"Belum, Pak." Jawab Suryo lirih.
"Kalau kamu memang belum menikah, dan masih mencintai Rianti. Bapak akan sangat merestui jika kamu mau kembali tetap di kota ini, Sur." Ucap Pak Kasun nampak bersungguh-sungguh.
Untuk sejenak Suryo terdiam. Hatinya bergejolak. Dari ekspresi wajahnya jelas memperlihatkan sebuah kegelisahan.
Tapi Suryo segera tersadar dan kembali pada niat awalnya. Dengan tanpa ragu, Suryo meraih tangan lelaki yang dulu dengan sukarela membesarkan dan menyekolahkannya itu, dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Beribu maaf, Pak. Memang saya belum menikah. Akan tetapi, di kota tempat saya tinggal sekarang, saya sudah menemukan pengisi hati saya, Pak. Sebagai anak, saya mohon restu bapak saja. Bulan depan kami akan menikah."
Pak Kasun terdiam, pandangannya menerawang. Suryo menyadari itu dan seketika dalam hatinya terasa ada sebuah ganjalan yang tak dapat ia definisikan. Apa dirinya lagi-lagi telah menyakiti hati Pak Kasun? Timbul pertanyaan itu dalam hatinya.
"Maafkan saya, Pak. Ucap Suryo lirih, mengimbuhi.
"Sudahlah, Sur! Bapak pasti merestuimu." Ucap Pak Kasun yang juga terdengar lirih sembari melempar senyum ke arah Suryo meskipun Suryo tahu, Pak Kasun saat ini seolah terpaksa saja melengkungkan bibirnya.
Untuk sejenak, Suryo dan Pak Kasun terdiam, sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Sebelum akhirnya, suara sirine stasiun membuyarkan pikiran mereka. Suryo melirik jam di tangan kirinya, tepat pukul satu. Tepat seperti lima tahun lalu, ketika ia pergi membawa penyesalan dari kota ini.
Suryo menghela nafas, lalu beranjak dari duduknya. Setelah terlebih dahulu berpamitan pada Pak kasun, Suryo bergegas ke pintu kereta berdesakan dengan para penumpang yang sudah sejak tadi menunggu.
Dari dalam kereta, Suryo masih menyempatkan melihat Pak Kasun lewat kaca jendela kereta. Pak Kasun terlihat tengah berjalan gontai meninggalkan kursi tempatnya duduk bersama Suryo beberapa menit yang lalu.
Kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun kereta siang ini. Hujan deras terus mengguyur. Hembusan angin yang sesekali menyeruak, menerbangkan bau anyir tanah yang basah, menemani perjalanannya untuk melupakan masa lalu.
********* tamat *********
Klaten.
Senin, 29 Februari 2016
13.00
********* notes *********
Terima kasih untuk yang sudah sudi meluangkan waktunya mampir disini.
Jangan lupa, mampir juga di tulisanku yang lain.
BROMOCORAH
Terima kasih.
Salam Rahayu 🙏